
Reksa tampak membuka pintu ruangannya, lalu mendudukkan Anna di sofa yang sebelumnya menjadi tempat terakhir perbincangan mereka. Kali ini Andre sudah tidak berada di sana, entah ke mana perginya pria itu.
"Kau diam di sini!" pinta Reksa dengan penuh penekanan, lalu ia berjalan menuju meja kerja dan membuka lemari yang berada di bawah meja itu.
Anna memperhatikan Reksa dari kejauhan. Tampak Reksa yang mengeluarkan sebuah tas dari lemari itu. Tas yang sangat tidak asing lagi baginya. Seketika ia menerbitkan senyumannya, ketika Reksa membawa tas itu ke hadapannya.
"Ini tasmu, dan kau lakukan tugasmu hari ini dengan baik!" tegas Reksa seraya memberikan tas itu kepada Anna.
Tentu saja Anna meraihnya dengan suka cita. Ia nyaris tidak percaya jika Reksa akan dengan mudah memberikan tas miliknya, setelah ia menolak permintaannya.
Tampaknya, Reksa sudah menyerah dengan segenap usaha yang ia lakukan untuk memaksa Anna mengikuti perintahnya. Ternyata sikap konsisten Anna mampu meluluhkan hatinya, sehingga ia bersedia untuk mengembalikan tas itu tanpa syarat yang lain.
"Terima kasih," lirih Anna seraya meraih tas itu dari tangan Reksa.
"Apa kau ingin berusaha kabur kembali dariku, setelah mendapatkan tas itu?" tanya Reksa yang masih berdiri sambil menatap Anna dengan sinis.
"Ti-tidak," jawab Anna gugup, karena memang ia masih belum berhasil menetralkan perasaannya kembali.
Jantungnya masih saja berdebar kencang, solah-olah ia masih merasakan sentuhan tangan Reksa yang begitu lembut terasa di tangannya, meskipun kenyataannya tidak. Sepertinya, itu akan menjadi hal yang sulit untuk ia lupakan. Pertama kali disentuh oleh pria yang sangat ia kagumi, tanpa pembatas apa pun.
"Lantas, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Reksa masih tidak ingin melepaskan tatapan menusuknya, sehingga membuat Anna semakin gugup dan takut.
"Tidak perlu menatap saya seperti itu. Saya pasti melakukan apa yang Mas minta!" teriak Anna reflek, ketika menyadari tatapan Reksa yang masih belum berubah.
__ADS_1
"Kau masih berani menmbentakku?" Reksa semakin mempertajam tatapannya, sontak membuat Anna seketika menciut menurunkan tatapannya.
"Maaf," lirih Anna tidak berani menatap Reksa kembali.
"Jangan pernah ulangi lagi!" tegas Reksa, lalu mendaratkan tubuhnya di sofa.
Kini mereka sudah duduk berhadapan. Reksa menatap Anna yang masih menundukkan kepala. Sepertinya, tingkahnya kali ini benar-benar telah membuat Anna mati kutu. Dalam hati, tidak ada sedikit pun niat untuk menindas wanita di depannya. Hanya saja, sikap Anna telah membuatnya meradang dan terpaksa harus membalasnya dengan sikap tegas, berharap Anna tidak akan lagi bersikap seperti itu terhadapnya. Ia sangat tidak menyukai wanita yang selalu bersikap kasar, terlebih lagi berani membentaknya.
"Dia sangat kasar sekali, kasihan pria yang menjadi jodohnya nanti," gumam Reksa dalam hati sambil masih menatap Anna.
Sungguh, Anna adalah wanita yang lugu dan lemah lembut. Namun, melihat perlakuan Reksa terhadapnya, membuat ia seketika ingin berubah menjadi terlihat lebih kuat, dengan menunjukkan sikap tegasnya . Padahal, sebelumnya ia tidak pernah membentak orang seperti itu, terlebih lagi membentak orang yang lebih tua darinya.
Alih-alih mengajak Anna berbicara kembali, Reksa malah mengeluarkan handphone dari dalam saku jasnya, kemudian ia tampak sibuk dengan handphone di genggamannya, tampaknya ia masih enggan untuk mengajak Anna berbicara kembali.
Setelah beberapa saat ia memainkan jarinya pada layar handphone itu, tiba-tiba ia menempelkan benda itu ke telinganya. Sudah dipastikan, apa yang akan ia lakukan. Tampak Anna yang diam-diam memperhatikannya.
Setelah itu, Reksa meangkhiri panggilannya, lalu memasukkan kembali handphone itu ke dalam saku jasnya.
Ia kembali menatap Anna, sehingag membuat Anna yang kala itu masih diam-diam memperhatikannya seketika mengerjap kaget dan secepat kilat menundukkan kepalanya kembali.
Anna masih belum berani mendongakkan kepalanya, menatap balik pria di depannya. Pun dengan Reksa yang juga masih bertahan dengan sikapnya untuk tidam mengajak Anna berbicara.
Suasana ruangan menjadi hening seketika.
__ADS_1
Reksa tampak menyandarkan punggungnya, lalu menyilangkan kakinya. Ia masih belum beralih fokus dari sosok wanita di depannya. Tatapan yang ia lemparkan dengan sangat intens, nyatanya membuat Anna yang sempat memperhatikannya secara diam-diam, kembali tersadar dan semakin bertahan untuk tidak mendongakkan kepala, menatapnya. Setelah ia merasa puas dengan kegiatannya. Akhirnya, ia pun kembali membuka suara.
"Apa definisi uang menurutmu?" tanya Reksa tiba-tiba yang sontak membuat Anna sedikit terlonjak.
"Hh?" Anna tampak memberanikan diri untuk menatap Reksa sejenak, lalu seketika menciut kembali. Ia pun terpaksa menurunkan tatapannya lagi.
"Anna, kau mendengarku?" tanya Reksa.
Pertanyaan Reksa kali ini berhasil membuat jantung Anna berdegup hebat. Bagaimana tidak? Ini kali pertama Reksa menyebut namanya dan rasanya berbeda sekali, dibandingkan dengan orang lain yang memanggilnya seperti itu, entah kenpa.
Anna memberanikan diri untuk mendongak kembali, meskipun dengan perasaan yang masih gugup dan takut.
"Menurut saya, uang bukanlah segalanya," jawab Anna yang sontak membuat Reksa semakin membulatkan mata. Jawaban yang sangat munafik. Bagaimana mungkin uang dikatakan bukan segalanya, sedangkan untuk makan saja membutuhkan uang, pikirnya.
Namun, Anna belum selesai dengan jawabannya. "Tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa kita akan mati jika hidup tanpa uang," imbuh Anna yang sontak membuat Reksa meneduhkan kembali tatapannya.
"Lantas, kenapa kau menolak cek itu?" tanya Reksa penasaran.
"Mm ... saya pasti punya alasan untuk menolak itu," jawab Anna. "Untuk menjadi sukses, tentunya butuh proses, dan saya tidak ingin hidup dengan segala fasilitas mewah dan uang yang melimpah, tetapi hasil dari pemberian ataupun belas kasihan orang lain. Untuk mecapai itu semua, saya butuh kerja keras, dan itu yang akan saya lakukan, bukan menerima uang secara cuma-cuma," lanjutnya yang membuat hati Reksa sedikit bergetar. Ia tidak menyangka bahwa ia memiliki definisi hidup yang sama seperti Anna.
Mendengar jawaban Anna, sudut bibir Reksa sedikit terangkat. Baru saja ia akan menanggapi wanita di depannya, tetapi Anna telah lebih dulu melanjutkan perkataannya.
"Uang memang tidak bisa menjamin kebahagiaan seseorang, tetapi uang menjamin kesejahteraan hidup seseorang. Itulah mengapa uang menjadi prioritas utama dalam hidup. Bahkan, uang menjadi penyemangat di saat mereka sudah merasa lelah bekerja. Bukan untuk kebahagiaan, tetapi kesejahteraan," ujar Anna sedikit memberi jeda. "Mungkin bagi Mas, mencari uang itu mudah, sehingga Mas bisa dengan mudah pula menghabiskannya, tetapi bagi saya yang serba kekurangan, bisa makan dan punya tempat tinggal saja sudah lebih dari cukup," jelasnya kemudian dengan mata yang sedikit berkaca-kaca, mengingat pahitnya hidup yang sudah ia lewati selama ini.
__ADS_1
Jawaban Anna membuat Reksa tersadar bahwa ia hampir salah memanfaatkan uang yang ia miliki. Ternyata benar. Anna bukanlah wanita matre yang mudah tergiur dengan sejumlah uang yang banyak. Ia menyesal telah memperlakukan Anna seperti barang yang bisa dengan mudah ia beli pakai uang.
Seketika perhatian mereka teralihkan, ketika terdengar suara ketukan pintu di dalam ruangan itu.