
"Can I call you baby?" Anna tampak bertanya dengan menyanyikan sebagian lirik lagu yang berjudul "At My Worts", sontak membuat Reksa seketika mengangkat sebelah alisnya. Namun, ia juga dengan sigap menanggapinya.
"NO!" tegas Reksa seraya bergegas pergi.
"Baiklah, Sayang." Lagi-lagi Anna memancing Reksa, sehingga Reksa yang baru saja akan memutar knop pintu tampak membalikkan badan kembali, lalu menghampirinya.
Reksa berjalan sambil melemparkan tatapan menusuk yang membuat Anna seketika mundur beberapa langkah. Namun, hal itu tak membuat Reksa menghentikan langkahnya hingga ia tiba tepat di depan Anna.
Kali ini Anna yang langkahnya dibuat terhenti oleh Reksa yang tiba-tiba menyentuh lengannya dan mencengkeramnya dengan sangat kuat.
Tatapan Reksa masih sama. Seketika ia mendekatkan wajahnya ke wajah Anna. "Jangan berani membantah perkataanku, kalau kau ingin hidupmu tenang!" ucapnya penuh penekanan.
"O-oke. Maaf, saya hanya bercanda," gugup Anna seraya menatap takut wajah Reksa. Bersamaan dengan itu, jantungnya juga berpacu dengan cepat, sehingga membuatnya kewalahan dalam mengendalikannya.
Dengan sigap dan sedikit kasar, Reksa melepaskan tangannya dari lengan Anna. "Ikut aku sekarang, dan jangan pernah berbuat macam-macam lagi!" tegasnya, lalu berjalan menghampiri pintu ruangan itu kembali.
Anna tampak mengatur napasnya beberapa saat, sebelum ia memutuskan untuk mengikuti langkah Reksa. Diperlakukan seperti itu oleh Reksa membuatnya nyaris kehabisan oksigen. Entah kenapa ia selalu merasa kesulitan untuk mengendalikan debar jantungnya, ketika dihadapkan dengan Reksa sedekat itu.
Dia kaku sekali.
Setelah Anna berhasil menetralkan perasaannya, ia pun segera pergi mengejar Reksa yang sudah melangkah cukup jauh. Ia tampak berjalan dengan sedikit tergesa-gesa. Sungguh ia tidak ingin melihat Reksa kembali murka hanya karena ulahnya yang melambat.
Berhasil ia dapat menyusul Reksa, ketika pria itu baru saja memasuki lift. Ia pun segera mengambil alih tempat dan berdiri tepat di samping Reksa.
Suasana di dalam lift itu tampak hening. Hanya mereka berdua yang berada di dalamnya, tanpa kata dan suara. Anna memundurkan badannya satu langkah, sehingga ia dapat memperhatikan Reksa yang kala itu tengah berdiri tegak dari belakang.
Lagi-lagi Anna terhipnotis oleh pria yang memiliki tinggi sekitar 185 cm. Ternyata Reksa lebih keren jika diperhatikan dari belakang seperti itu. Badannya yang sangat kekar dan proporsional membuat pikiran Anna berimajinasi. Rasanya bahagia sekali jika ia memiliki kekasih setampan dan segagah Reksa Angkasa, pikirnya.
__ADS_1
Belum sempat ia menyudahi imajinasinya, tiba-tiba bunyi lift kembali menyadarkan pikirannya. Seketika ia mengerjap kaget.
Pintu lift kemudian terbuka. Tanpa menunggu komando, Reksa langsung keluar dari sana dan diikuti oleh Anna di belakangnya. Ia melangkah dengan pasti disertai tatapan yang lurus ke depan, dan bahkan ia tak menyahuti beberapa karyawan yang menyapanya.
Anna masih dalam posisi yang sama, mengekori Reksa dari belakang. Berbeda dengan Reksa, ia justru tampak mengedarkan pandangan ke beberapa arah. Sungguh ia merasa tidak percaya diri dengan kegiatannya yang harus berdekat-dekat dengan Reksa, dan lagi karena pakaian yang ia kenakan, seolah begitu banyak pasang mata yang tengah menatapnya.
Bahkan, ia tidak berani memposisikan dirinya berjalan di samping Reksa. Ia cukup tahu diri untuk tidak bersejajar dengan pria yang derajatnya lebih tinggi darinya, bahkan jika dilihat dari segi apa pun itu.
Reksa tampak sedikit mempercepat langkahnya, sehingga membuat Anna kewalahan mengimbanginya.
Anna pun berusaha mengejar ketertinggalan. Namun, tetap saja, heels yang ia kenakan membuatnya kesulitan untuk mengejar langkah Reksa yang telah lebih dulu keluar dari gedung perkantoran itu.
Reksa tampak menghampiri mobilnya yang sudah terparkir tepat di depannya. Tampak Hans yang berdiri di samping mobil itu. Hans lalu membuka pintu depan dan mempersilakan Reksa masuk.
Reksa tampak duduk di jok kemudi, lalu menyalakan mesin mobilnya, sebelum Anna berhasil masuk ke dalam mobil itu. Ia memang memiliki banyak pesuruh ataupun supir yang bisa membantu mengantarkannya kemana pun yang ia inginkan. Namun, untuk hal ini ia memutuskan untuk menyetir sendiri. Sebenarnya bisa saja ia meminta Hans ataupun supir yang lain untuk mengantarnya bertemu dengan sang kakek, tetapi tidak ia lakukan. Lagi pula, ia memang menyukai kegiatan menyetir sendiri dibandingkan memakai jasa supir lainnya.
Tak lama kemudian, Hans juga membukakan pintu mobil untuk Anna. Anna pun segera masuk dan duduk di samping Reksa.
"Maaf," lirih Anna seraya memutar bola matanya seolah kesal dengan Reksa yang selalu mempermasalahkan hal sepele menurutnya.
Reksa baru saja membuka mulutnya ingin melayangkan protes. Namun, ia sengaja mengurungkan karena tidak ingin memperpanjang. Ia pun segera mengemudikan mobil yang mesinnya sudah sedari tadi dinyalakan.
"Mas, nanti di sana kita akan bertemu dengan siapa saja?" tanya Anna di tengah-tengah perjalanan mereka. Ia tampak menoleh ke samping, memperhatikan Reksa yang masih fokus menyetir.
"Kakek dan Om Riko, mungkin tante Marsha juga," jawab Reksa tanpa mengalihkan fokusnya dari arah kemudi.
"Om dan tantenya Mas Reksa?" Anna masih menatap Reksa seolah menuntut jawaban.
__ADS_1
"Menurutmu?" balas Reksa menunjukkan sikap dingin seola malas menjawab pertanyaan Anna.
"Menurutku sih iya," jawab Anna sekenanya. Sepertinya ia sengaja memancing sikap dingin Reksa, padahal ia tahu bahwa pertanyaan itu adalah cara Reksa untuk mengakhiri pembicaraan mereka yang seharusnya tidak perlu ia tanggapi.
Reksa tampak berdecak. "Tumben sekali kau—"
"Memakai bahasa yang tidak formal?" potong Anna yang lagi-lagi membuat Reksa berdecak. Namun, tetap tidak ingin mengalihkan perhatiannya kepada wanita yang sedari tadi duduk di sampingnya.
"Tidak sopan memotong pembicaraan orang seperti itu," ujar Reksa datar.
Anna menghela napas pendek, lalu berkata, "Sebetulnya, saya belum pernah memotong pembicaraan orang, tetapi berhubung akhir-akhir ini saya melihat Mas Reksa sering melakukannya, jadi ya ...." Anna sengaja menggantungkan ucapannya.
Ulahnya kali ini nyatanya berhasil membuat Reksa menoleh ke arahnya, sehingga membuat ia menerbitkan senyumannya. Namun, seketika ia mengakhiri senyuman itu tatkala Reksa membalasnya dengan tatapan tajam, meskipun tidak berlangsung lama.
Reksa memfokuskan kembali wajahnya ke depan, setelah melihat ekspresi Anna yang tiba-tiba menciut melihatnya.
"Tidak punya pendirian sekali!" umpat Reksa. "Jadi orang itu harus konsisten, kau tidak perlu mengikuti orang lain yang menurutmu salah atau membuatmu tidak nyaman," jelasnya.
Anna menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok mobil. "Pernah saya berusaha untuk konsisten, tetapi seseorang malah memaksa saya dan merusak segalanya," sindirnya.
"Itu artinya kau tidak konsisten," balas Reksa tanpa merasa bersalah.
Anna tampak mengangkat kembali punggungnya, lalu menghadapkan badannya ke arah Reksa. "Tapi dia memaksa saya dengan memanfaatkan kekuasaan dan kekayaan yang dia miliki, padahal saya sudah berulang kali menolaknya, apa itu salah saya?" keluhnya menatap serius wajah Reksa.
--------------------------
Hai, Readers!
__ADS_1
Mohon bantu like and comment novelnya ya🙏🙏
Happy Reading.