
"Aku—"
"Kakek bertanya kepada Anna, bukan kepadamu!" potong kakek Kusuma saat Reksa baru saja berusaha akan menjawabnya, sontak membuat sang cucu bungkam dalam waktu sekejap.
Lagi-lagi Anna menatap bingung wajah Reksa. Entah ia harus menjawab apa. Namun, setelah ia berpikir sejenak, ia menatap kembali wajah kakek itu. Sepertinya ia sudah tahu harus menjawab apa.
"Ehem, mas Reksa ini adalah pria yang baik menurut saya. Ada hal yang memang mungkin tidak bisa dilakukan oleh orang lain, tetapi mas Reksa bisa. Beliau selalu memberikan apa yang saya butuhkan, termasuk perhatian, pengertian, serta cintanya yang begitu dalam. Beliau juga selalu membantu saya, ketika saya dalam kesulitan, sehingga saya pun tidak tahu bagaimana caranya membalas budi atas kebaikan-kebaikannya selama ini," jawab Anna panjang lebar yang sontak membuat Reksa tertegun menatapnya.
"Boleh juga jawabannya," gumam Reksa tanpa ingin berpaling dari wajah Anna.
"Mas Reksa itu seperti malaikat untuk saya. Saya bersyukur bisa mengenalnya. Bahkan, beliau tidak pernah sekali pun membentak atau memarahi saya. Beliau memang memiliki segalanya, tetapi tidak pernah memandang sebelah mata orang seperti saya yang tentu jauh tidak pantas untuk mendampinginya. Beliau juga selalu peduli dengan orang-orang kecil seperti saya ini. Saya sangat kagum terhadapnya. Kakek beruntung sekali memiliki cucu sebaik mas Reksa." Anna tampak tersenyum simpul.
Meskipun ia sendiri belum terlalu mengenal Reksa, tetapi entah mengapa hatinya seolah mengatakan "Iya" bahwa Reksa adalah benar-benar pria yang baik.
"Ya, kau benar, Nak." Kakek Kusuma tampak menganggukkan kepala sambil melemparkan senyuman khasnya. "Reksa memang pria yang baik, hanya saja terkadang dia sedikit menyebalkan. Kakek baru tahu kalau ternyata dia sebaik itu kepadamu, tetapi hati-hati saja, jika suatu saat dia berani menyakitimu, katakan kepada kakek, biar kakek yang akan menghukumnya," imbuhnya seraya mendelik ke arah sang cucu.
"Kakek ...," protes Reksa tidak melanjutkan perkataannya. Seketika wajahnya berubah masam
Reksa tampak memperhatikan Anna dan kakek Kusuma yang terkekeh melihat ekspresinya. Tanpa disadari, ia tersenyum senang melihat tawa Anna saat itu.
Setelah hampir dua jam menghabiskan waktu di rumah itu, Anna pun segera diantar pulang oleh Reksa. Di sepanjang perjalanan, mereka tidak membahas apa pun termasuk kejadian di rumah itu, hingga setngah jam berlalu. Reksa menghentikan mobilnya tepat di depan rumah mewah, tempat pertama kali ia mengantar Anna pulang.
"Terima kasih, Pak Reksa, sudah mengantar saya pulang. Saya permisi," ucap Anna hendak membuka pintu mobil itu untuk segera turun.
"Tunggu!" panggil Reksa, sontak membuat Anna menghentikan kegiatannya.
"Kenapa? Urusan saya sudah selesai, bukan?" Anna menatap heran.
"Ini punyamu?" tanya Reksa seraya menyodorkan sebuah gelang yang baru saja ia ambil dari saku celananya.
Anna menatap gelang itu sejenak. "Lho, dari mana Anda mendapatkan gelang ini?" tanyanya seraya meraih gelang itu dari tangan Reksa. "Saya sudah lama sekali mencarinya," imbuhnya kemudian.
__ADS_1
"Kau tidak sengaja meninggalkannya, setelah kecelakaan itu," jawab Reksa sambil memperhatikan Anna.
"Pantas saja saya cari-cari tidak ada. Terima kasih, Pak," lirih Anna.
"Terima kasih juga atas bantuanmu hari ini," balas Reksa.
"Pak Reksa tidak perlu berterima kasih. Sesuai perjanjian awal, ini adalah balas budi saya kepada Anda," jawab Anna tulus. "Baiklah, saya permisi, sudah malam," imbunya kemudian. Namun, lagi-lagi Reksa menghentikannya.
"Ada apa lagi, Pak Reksa?" Anna menatap lurus pria itu.
"Tolong jangan memanggilku seperti itu," pinta Reksa yang tentu membuat Anna mengerutkan dahinya.
"Lho, memangnya kenapa? Lantas, saya harus memanggil apa?" tanya Anna bingung.
"Terserah kau mau memanggil apa, yang jelas jangan panggil aku seperti itu, aku tidak suka!" tegas Reksa.
"Baiklah, Mas Reksa. Itu 'kan yang Anda mau?"
"Maaf, saya hanya menyampaikan apa kata hati saya. Anda memang sudah memperlakukan saya seenaknya, tetapi saya yakin bahwa Anda adalah orang yang sangat baik. Saya percaya itu," jawab Anna yang lagi-lagi membuat Reksa tertegun sejenak.
"Tapi, bagaimana kau bisa yakin, sementara kita baru saja saling mengenal?" tanya Reksa masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Anna. Bagaimana mungkin wanita itu bisa dengan mudah percaya kepada orang asing, pikirnya.
"Dengan Anda dua kali menolong saya, lalu mengingatkan saya untuk tidak sembarangan berbicara dengan orang asing, apa itu tidak cukup membuktikan?" tanya Anna sedikit memberi jeda. "Lagi pula, Anda tidak pernah berbuat macam-macam kepada saya. Saya rasa itu cukup untuk saya menilai seperti apa Anda di mata saya," imbuhnya kemudian.
"Baiklah, apa yang kau inginkan?" tanya Reksa.
"Tidak ada," jawab Anna dengan yakin.
"Sebagai balas budi." Reksa tampak memaksa.
"Tidak perlu. Kalau Anda membalas budi saya, lalu bagaimana saya membalas budi atas kebaikan Anda terhadap saya?"
__ADS_1
"Tapi kau telah menyelamatkanku dari perjodohan itu."
"Itu belum seberapa dibandingkan Anda yang menyelamatkan nyawa saya," jawab Anna tidak ingin kalah. "O' ya, gaun dan sepatunya akan saya kembalikan setelah saya cuci nanti," imbuhnya memberi tahu.
"Tidak perlu. Itu untukmu saja," jawab Reksa.
"Saya yakin harga gaun ini tidaklah murah, mungkin puluhan atau bahkan ratusan juta. Orang seperti saya ... mana mungkin bisa membelinya. Lagi pula, gaun ini tidak cocok untuk saya, jadi sebaiknya saya kembalikan saja," balas Anna.
Reksa terdiam beberapa saat, entah bagaimana menghadapi Anna agar tidak menolak apa pun yang ia berikan. "Keras kepala sekali dia," batinnya mulai menggerutu.
"Sayang sekali aku tidak menerima penolakan. Kau harus tahu, sedang berhadapan dengan siapa kali ini," balas Reksa yang juga tidak ingin kalah, terlebih oleh seorang wanita seperti Anna.
Anna hanya terkekeh. Ternyata pria yang kini tengah duduk di sampingnya juga memiliki sisi keras kepala yang sama sepertinya. Namun, sayang sekali pria itu tampak seolah lebih berkuasa dan benar-benar tidak bisa ditolak atau pun dibantah, sehingga ia tidak bisa berbuat banyak selain menuruti keinginan pria itu.
"Baiklah, kalau Anda memaksa. Setidaknya saya bisa menjual gaun ini, kalau suatu saat nanti saya membutuhkannya," balas Anna tidak serius.
"Terserah kau saja. Lakukan apa pun yang kau inginkan." Reksa tampak tidak peduli. Ia memalingkan wajahnya ke depan.
Anna tersenyum menatap pria yang kini telah beralih fokus. Ia tampak mengamati wajah pria itu beberapa saat. Sungguh Mahakarya Tuhan yang sayang sekali jika dilewatkan begitu saja. "Anda baik, tetapi setelah saya pikir-pikir, ternyata kakek Anda lebih baik dari pada Anda," ucapnya yang sontak membuat Reksa membulat menatapnya.
"Berani sekali kau membandingkanku dengan kakek?" protes Reksa.
"Maaf, tetapi memang seperti itulah kenyataannya," balas Anna sambil terkekeh.
"Ck!" Reksa berdecak kesal. "Tapi, tolong jangan pernah menganggap ucapan kakek, karena sebaik dan sesuka apa pun beliau terhadapmu, kita hanyalah kekasih pura-pura di depannya, dan aku tidak mungkin bisa merubah itu," celetuknya.
Seketika hati Anna seolah merasakan tertusuk benda tajam dalam waktu singkat. Perkataan pria itu sungguh sangat menyakiti hatinya.
Anna memaksakan senyumnya, sebelum ia menanggapi perkataan pria itu. "Tentu saja. Anda tidak perlu khawatir, saya cukup tahu diri untuk tidak berharap lebih. Saya permisi," jawabnya sinis. Ia pun segera membuka pintu, lalu turun dari mobil itu.
"Hey, tunggu! Bukan seperti itu maksudku!" teriak Reksa. Namun, tak lagi bisa menghentikan Anna.
__ADS_1
"Aaarrrgh, sial! Sepertinya ada yang salah dengan ucapanku!" umpat Reksa seraya memukul setir mobil di depannya.