After Met You

After Met You
Terhipnotis


__ADS_3

"Tetap saja kau tidak konsisten. Kalau kau konsisten, dengan cara apa pun orang itu memaksamu, kau tidak akan berubah dan tetap pada pendirianmu," balas Reksa tidak mau kalah.


"Tapi situasinya membuat saya dilema dan tidak bisa berbuat apa-apa," ujar Anna seolah tengah curhat, padahal ia sengaja menyindir Reksa.


"Dan kau menyerah begitu saja?" Reksa tampak memandang Anna sejenak, lalu memfokuskan kembali tatapannya ke depan. "Kau memang tidak konsisten," imbuhnya seraya mengangkat sebelah sudut bibirnya, sontak membuat Anna sedikit geram.


"Bagaimana bisa dia terlihat biasa saja, setelah aku berusaha menyindirnya," batin Anna saat itu.


Anna mendengus sembari menatap sinis wajah Reksa. "Jadi, tetap saya yang tidak konsisten?" tanyanya seraya menahan emosinya.


"Ya, kupikir begitu," jawab Reksa seolah yakin.


"Tapi, saya rasa tidak. Memang orangnya saja yang tidak tahu diri, sudah tahu ditolak berulang kali, masih saja mengejar dan memaksa saya untuk mengikuti keinginannya." Anna tampak mencebikkan bibirnya, merasa kesal dengan Reksa yang masih tidak sadar juga.


Siapa sangka, ternyata Reksa sudah sedari tadi menyadari ke mana arah pembicaraan Anna. Hanya saja ia berpura-pura bahwa bukan dirinya orang yang Anna maksud. Namun, setelah ucapan Anna kali ini, emosinya pun mulai terpancing, sehingga membuatnya seketika mengerem mendadak, lalu menatap Anna dengan penuh amarah.


Bagaimana tidak? Anna sudah mencapnya sebagai orang yang tidak tahu diri. Selama ini tidak ada yang berani berkata seperti itu terhadapnya, terlebih di depannya langsung, tetapi Anna? Sungguh, wanita yang sangat menyebalkan. Oh, tidak! Bahkan, lebih daripada itu, pikirnya.


"Apa kau bilang? Kau mengataiku tidak tahu diri, ha?" Reksa tampak membelalakkan matanya menatap Anna. "Kau dengar satu hal, aku hanya berusaha konsisten dengan pendirianku, sehingga tidak mudah bagiku untuk merubah apa pun yang sudah menjadi keputusanku. Camkan itu!" tegasnya memberi tahu.


Anna sedikit tertegun, tidak menyangka jika Reksa memahami maksud dari arah pembicaraannya. "Oh, ternyata dia sadar, kupikir tidak," gumamnya dalam hati. Seketika ia menahan senyumnya.


"Saya tidak bermaksud seperti itu lho, Mas." Anna tampak mengulum senyumnya. "Baiklah, sepertinya mulai sekarang saya benar-benar harus konsisten seperti yang Mas katakan," lanjutnya datar, bahkan ia sudah tidak peduli dengan tatapan tajam Reksa yang dilemparkan kepadanya untuk yang ke sekian kalinya.


Tanpa ingin menanggapi, Reksa segera menyalakan mobilnya kembali dan melajukannya ke tempat di mana mereka akan bertemu dengan sang kakek.


Anna pun memilih bungkam dan tidak berkomentar lagi. Ia tampak membenarkan posisi duduknya menghadap ke depan, lalu menyandarkan kembali punggungnya.

__ADS_1


***


Di depan sebuah Resto bintang lima, tampak Anna dan Reksa berjalan memasuki gedung resto tersebut.


Anna masih berada di posisi yang sama seperti sebelumnya. Ia berjalan di belakang sambil berusaha mengimbangi langkah Reksa, meskipun sedikit kesulitan. Ia memang masih merasa tidak percaya diri untuk mensejajarkan dirinya dengan Reksa, karena merasa tidak pantas dan tidak ingin jika orang lain membicarakan Reksa hanya karena terlihat jalan bersama dengannya.


"Aduh, aku malu sekali berjalan dengan mas Reksa. Rasanya seperti banyak sekali orang yang memperhatikanku," gumam Anna sambil sesekali menoleh ke beberapa arah.


Ia memang sangat mengagumi dan sudah jatuh hati kepada Reksa, tetapi bukan berarti ia harus memanfaatkan situasi di tengah banyak orang seperti itu, agar terlihat seperti sepasang kekasih sungguhan. Baginya, ia terlalu rendah untuk bersanding dengan Reksa. Penampilan Reksa yang sangat gagah, tentu tidak sebanding dengan dirinya yang terlihat biasa saja.


Meskipun pada kenyataannya penampilannya sudah jauh lebih baik, setelah memakai pakaian yang diberikan oleh Reksa dan sedikit polesan make up dari Briana. Namun, tetap saja membuat dirinya minder dan merasa tidak pantas berdampingan dengan pria itu.


Reksa melangkah dengan pasti menuju sebuah meja yang sudah terdapat empat orang yang duduk di sana. Mereka tampak menerbitkan senyuman dari kejauhan, seolah senang menyambut kedatangannya.


"Selamat siang, Kek, Om, Tante, Vin," sapa Reksa, ketika sudah berada tepat di hadapan mereka. Ia tampak menatap mereka satu-persatu sembari tersenyum.


"Selamat siang," balas mereka bersamaan, kecuali sang kakek yang hanya membalasnya dengan senyuman.


Dengan sigap Reksa menoleh ke samping. "Ini Om, perkenal ...." Reksa tidak melanjutkan ucapannya lantaran tidak menemukan Anna di sampingnya. "Ke mana dia?" gumamnya.


Ia pun langsung melihat kebelakang, dan benar saja. Anna masih berada satu meter di belakangnya. "Ya Tuhan, dia lambat sekali," gerutunya dalam hati.


"Kau ini, selalu saja meninggalkan dia," gerutu Kakek Kusuma yang menyadari Anna masih tampak berjalan menghampiri mereka, sontak membuat Reksa kembali menoleh, tetapi tak berniat untuk menanggapinya.


Anna segera memposisikan dirinya di samping Reksa, setelah ia tiba di hadapan mereka. Ia tampak sedikit kikuk, bingung harus bersikap seperti apa. Ingin menyapa takut dikatakan sok akrab, tetapi jika tidak menyapa pun takut dikatakan tidak sopan.


Ia pun memutuskan untuk menyapa terlebih dahulu keluarga Reksa. Namun, baru saja ia akan membuka mulutnya, tiba-tiba Rico telah lebih dulu membuka suara.

__ADS_1


"Ini calon istrimu?" tanya Riko seraya menatap Reksa penuh tanya.


"Iya, Om. Pernkenalkan ini Anna," jawab Reksa tanpa ada rasa gugup sedikit pun, seolah Anna itu kekasih sungguhannya. "Anna, perkenalkan ini om Rico dan tante Marsha, dan itu Melvin putra mereka," ucapnya seraya memperkenalkan Anna kepada keluarganya.


Anna tampak menerbitkan senyuman, lalu menyalami Rico dan Marsha secara bergantian sambil menyebutkan namanya.


Tak lupa, Anna melakukan hal yang sama kepada Melvin, sepupu Reksa. Namun, baru saja ia akan melepaskan tangannya, tiba-tiba Melvin menahannya dan semakin mempererat pegangannya sambil menatapnya dengan begitu dalam, sehingga membuat ia sedikit salah tingkah dan bingung harus bagaimana menyikapi Melvin.


Tampaknya Anna sudah membuat Melvin terhipnotis akan kecantikannya.


Beruntung Reksa menyadari akan hal itu. Reksa tampak berdeham sehingga menyadarkan Melvin dari lamunannya. Dengan sigap Melvin segera melepaskan tangan Anna.


Setelah berkenalan dengan mereka satu-persatu, Anna pun menyalami Kakek Kusuma dengan sopan. Entah mengapa ia merasa Kakek Kusuma sudah seperti kakenya sendiri, padahal bukan.


"Bagaimana kabar Kakek?" tanya Anna setelah berhasil mencium tangan Kakek Kusuma.


"Baik, Nak. Kau sendiri?" balas Kakek Kusuma.


"Saya juga baik, Kek," jawab Anna.


"Kau pintar sekali mencari calon istri, sudah cantik, sopan pula," ucap Rico seraya menatap Reksa.


"Benar, Pa. Coba Melvin yang punya kekasih seperti Anna, Mama pasti akan senang sekali," timpal Marsha.


"Lihat Kakakmu, Melvin. Kalau mencari calon istri itu yang seperti ini, jangan seperti Rosa yang tidak tahu malu, bisanya cuma nguras uangmu saja," ledek Kakek Kusuma.


"Ahh, Kakek, tidak perlu dibahas lagi. Lagi pula Rosa juga sudah pergi entah ke mana," balas Melvin memasang ekspresi kesal, sehingga membuat kedua orang tuanya tampak terkekeh.

__ADS_1


Berbeda dengan mereka, Reksa justru terlihat datar dan tidak ingin menanggapi hal itu, sementara Anna tampak tersipu malu dibanding-bandingkan dengan wanita yang sama sekali tidak ia kenal. Namun, ia pun memilih untuk diam, tidak ingin menanggapi.


Rico tampak mempersilakan Anna dan Reksa untuk duduk. Mereka pun duduk bersebelahan di kursi kosong, berhadapan dengan pasangan suami istri paruh baya yang tak lain adalah Rico dan Marsha.


__ADS_2