
Di sebuah kantor perusahaan, tepatnya di ruangan CEO tampak Reksa Angkasa tengah sibuk dengan layar laptop di hadapannya. Entah apa yang tengah ia kerjakan pada jam makan siang seperti ini. Ketika semua pegawai berlomba-lomba untuk berburu makan siang, ia justru memilih berdiam diri di ruangan dengan segudang pekerjaan yang sebenarnya bisa ia kerjakan di luar jam makan siang.
Di tengah kegiatannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Tanpa mengalihkan fokusnya, pria itu langsung meminta makhluk di luar sana untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Masuk!" teriaknya.
Pintu itu terbuka lebar, lalu muncullah seorang lelaki tua yang usianya sudah melebihi setengah abad, sehingga membuat fokus Reksa teralihkan. Ia pun segeta bangkit dari kursi kebanggaannya.
"Kakek? Mau apa Kakek kemari?" tanya Reksa seraya mencium tangan sang kakek.
"Kenapa? Kau keberatan kakek datang kemari?" tanya kakek Kusuma dengan nada sedikit menyindir.
"Bukan begitu, Kek. Harusnya kakek istirahat saja di rumah," jelas Reksa seolah khawatir, padahal bukan itu alasan utamanya.
Jika ditanya ia merasa keberatan kedatangan sang kakek ke kantor, jawabannya adalah iya. Bagaimana tidak? Kakeknya itu selalu membahas tentang pernikahan yang sama sekali belum sempat terpikirkan di benaknya. Sungguh, itu membuatnya sangat merasa risih.
"Kau ini, selalu saja mencari alasan!" gerutu sang kakek yang tentunya sudah khatam betul bagaimana cucu semata wayangnya itu.
"Duduk, Kek," titah Reksa seraya mengalihkan pembicaraan.
Kakek Kusuma tampak menuruti perintah sang cucu untuk duduk di sofa berwarna abu-abu yang memang sengaja di desain rapi di ruangan itu. Kini mereka tampak sudah duduk di sofa.
"Kakek mau minum apa?" tanya Reksa menawarkan.
"Tidak perlu. Kakek kemari hanya sebentar, hanya untuk menyampaikan bahwa kakek sudah berencana untuk menjodohkanmu dengan putri dari salah satu rekan bisnis kita," jelas kakek Kusuma tanpa berbasa-basi, sontak membuat sang cucu sangat merasa terkejut.
"Apa? Dijodohkan?" Reksa membulatkan matanya sempurna hingga nyaris keluar.
Ia benar-benar tidak menyangka jika sang kakek berusaha sejauh itu, hanya karena dirinya yang selalu menolak, jika diminta segera menikah.
"Ayolah, Kek, ini sudah tahun dua ribu dua puluh satu, lho. Sudah tidak ada lagi yang namanya perjodohan," protes Reksa yang jelas tidak terima jika ia dijodohkan.
__ADS_1
"Kakek tidak mau tahu! Apapun alasannya, perjodohan itu akan tetap ada, kau setuju ataupun tidak, itu bukan masalah buat kakek!" tegas kakek Kusuma tidak peduli dengan apa pun alasan sang cucu.
Yang masalah itu aku, Kek!
Reksa menarik napas panjang, lalu terdiam beberapa saat seolah sedang berpikir caranya membujuk sang kakek supaya membatalkan perjodohan itu.
"Menurut Kakek, apa aku ini tampan?" tanya Reksa tiba-tiba yang langsung membuat sang kakek menanggapinya tanpa harus berpikir panjang.
"Iya," singkatnya.
"Lalu untuk apa Kakek menjodohkanku? Apa Kakek tidak percaya kalau aku bisa mencari jodoh sendiri?" Reksa tampak berusaha meyakinkan sang kakek.
"Buktinya sampai sekarang?" balas kakek yang memang tidak pernah sekali pun melihat cucunya itu membawa wanita yang dikenalkan sebagai kekasihnya.
"Ya ampun, Kakek, mana mungkin pemuda tampan seperti aku ini tidak memiliki kekasih."
"Ya sudah, Kalau memang kau sudah punya kekasih, kenalkan kepada kakek," pinta sang kakek.
Bagaimana kakek Kusuma bisa percaya kalau ia saja tidak pernah dikenalkan dengan kekasih cucunya itu.
Terlihat sekali bahwa ia tengah berbohong, sehingga tidak berani menatap wajah sang kakek. Tentu saja tingkahnya membuat kakek Kususma sedikit menaruh rasa curiga kepadanya.
"Kenalkan sekarang!" pinta kakek Kusuma penuh penekanan.
"Sekarang?" Lagi-lagi Reksa membulat kaget. Mana mungkin ia bisa mengenalkan seorang kekasih secepat itu kepada sang kakek, sedangkan ia sendiri benar-benar belum memiliki kekasih. "Lain kali saja, Kek. Sekarang dia sedang sibuk," imbuhnya lagi-lagi mencari alasan.
"Kakek tidak mau tahu!" tegas sang kakek.
Pria itu melengos sejenak, merasa bingung harus bagaimana lagi mengatasi kakeknya itu. Ia pun memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. Hal yang sudah sering sekali ia lakukan.
"Oh ya, Kek. Ada hal yang harus kusampaikan terkait perusahaan kita," ucap Reksa memberi tahu.
__ADS_1
"Jangan mengalihkan pembicaraan, kenalkan kakek sekarang juga dengan kekasihmu itu! Kalau tidak, kakek anggap itu hanya alasanmu saja agar bisa lari dari perjodohan ini!" tegas sang kakek tidak mau memberikan toleransi.
Rupanya Reksa sudah tak bisa lagi lari dari persolaan itu. Daya upaya yang sudah ia lakukan untuk mengalihkan sang kakek, nyatanya sudah tak lagi berpengaruh. Entah jalan yang sudah ia ambil itu salah atau benar, yang jelas apa pun yang ia pilih, nyatanya tidaklah membuatnya bisa lolos begitu saja dari rencana sang kakek yang memintanya untuk segera menikah.
Pria itu paham betul bagaimana sang kakek. Ia yakin bahwa sang kakek akan segera memintanya menikah dengan kekasih pilihannya, jika ia berhasil membawa siapa pun wanita yang dikenalkan sebagai kekasihnya kepada kakek Kusuma. Sungguh itu membuatnya sangat frustrasi saat ini. Namun, jika ia gagal memperkenalkan seorang kekasih, tentu saja sang kakek akan melanjutkan rencana perjodohannya. Ah, itu benar-benar membuatnya dilema.
"Dia benar-benar sedang sibuk, Kek. Kapan-kapan saja akan aku kenalkan," ujar Reksa masih berusaha mengelak.
"Baiklah kalau itu maumu," jawab sang kakek seraya bangkit dari tempat duduknya.
Seketika terbit senyuman di wajah Reksa. Ia benar-benar tidak menyangka jika sang kakek akan dengan mudah memahami alasannya. Sungguh itu membuatnya sedikit tidak percaya.
"Kakek tunggu nanti malam! Jangan sampai terlambat!"
Belum sempat ia mengakhiri kebahagiaannya, tiba-tiba ia dibuat menciut kembali. Ternyata dugaannya salah. Kakeknya tidak mungkin bisa menerima begitu saja alasan yang ia berikan, terlebih lagi sang kakek sudah tahu bahwa ia memang pandai sekali mencari alasan.
"Maksud Kakek?" Reksa bangkit dari tempat duduknya, berusaha menahan kakeknya yang hendak akan pergi dari hadapannya.
"Pak Dimas mengundang kita makan malam bersama dan berencana untuk segera mengenalkanmu kepada putrinya. Kakek pikir, itu akan menjadi awal yang baik untuk kalian berdua," jelas kakek Kusuma.
"Baiklah, aku akan turuti kemauan Kakek untuk bertemu dengan kekasihku, tetapi kumohon Kakek bersabarlah sedikit, aku akan mencoba menghubunginya." Reksa berusaha memohon agar perjodohan itu dibatalkan.
"Baiklah, kakek beri satu kesempatan lagi." Kakek Kusuma mendaratkan kembali tubuhnya di sofa itu, pun dengan Reksa.
Reksa segera mengeluarkan ponsel miliknya dari saku jas berwarna hitam yang melekat di tubuhnya. Ia tampak menggerakkan jari jempolnya di atas layar ponsel tersebut.
Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, tolong carikan aku wanita paling cantik di kantor ini yang bisa kujadikan sebagai pacar pura-pura satu malam saja. Suruh dia masuk ke ruanganku secepatnya!
Pria itu langsung menekan tombol send pada layar ponselnya. Sebuah pesan whatsapp yang ia kirim kepada Andre Mahesa. Ia pun memasukkan kembali benda pipih itu ke tempat semula.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara ketukan pintu di ruangan itu. Pemuda itu tampak menyeringai senang.
__ADS_1
Itu pasti dia!
"Masuk!" teriak Reksa dengan semringah.