
"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Rico di tengah kegiatan makan siang mereka, sontak membuat Anna dan Reksa seketika beradu pandang.
Belum sempat mereka menjawab pertanyaan Rico, Melvin sudah menanggapinya terlebih dahulu.
"Menikah?" Melvin tampak membulatkan matanya seolah terkejut. "Cepat sekali. Tidak usah terlalu terburu-burulah," protesnya kemudian seolah merasa keberatan jika Reksa dan Anna akan segera menikah.
Reksa yang sudah paham betul dengan sikap Melvin segera merangkulkan tangannya di bahu Anna, menunjukkan sikap mesra di depan keluarganya seolah ingin memanas-manasi sepupunya itu. "Kita akan segera merencanakannya. Bukan begitu, Sayang?" ucapnya seraya menoleh ke samping kiri, sontak membuat Anna seketika memasang ekspresi tidak percaya dengan sikap Reksa kali ini.
"Katanya tadi tidak boleh menyentuh, tetapi dia sendiri yang menyentuhku," gerutu Anna dalam hati.
Melihat Anna yang hanya diam saja menatapnya, membuat Reksa semakin mempertajam tatapannya dan mempererat cengkraman tangannya seolah memberikan isyarat agar Anna menanggapi ucapannya, sehingga Anna langsung terkesiap karena merasa sedikit kesakitan di bagian lengan atasnya.
"Hh? I-iya, Om," ucap Anna gugup.
"Syukurlah, kami sudah tidak sabar melihat kalian segera menikah, bukan begitu, Pa?" Rico tampak menoleh ke arah Kakek Kusuma seolah menuntut jawaban.
"Tentu saja, Rico. Papa akan sangat senang, jika melihat mereka segera menikah." Kakek Kusuma tersenyum senang menanggapinya. "Dan kau Melvin, jangan pernah ganggu kakakmu, biarkan saja mereka segera menikah, setelah itu kau pun segera mencari jodoh terbaik untukmu!" tegasnya kepada Melvin.
"Ahh, Kakek ... memangnya mencari jodoh itu mudah?" balas Melvin.
"Mudah saja kalau kau punya niat," jawab Kakek Kusuma.
"Kau mau aku bantu mencarikan?" tanya Reksa tidak serius.
"Tidak perlu, aku bisa mencari sendiri!" ketus Melvin kesal, sontak membuat mereka yang ada di sana sedikit terkekeh.
__ADS_1
"Reksa, tujuan kakek dan om mengundangmu kemari karena untuk membicarakan rencana pernikahan kalian. Kakek rasa sudah tidak perlu menunggu lama lagi," jelas Kakek Kusuma yang sontak membuat Reksa sedikit terdiam. "Kau setuju, Anna?" imbuhnya seraya menatap Anna.
Mendengar ucapan Kakek Kusuma, Anna dan Reksa tampak bingung harus menjawab seperti apa. Bagaimana bisa mereka menikah dalam waktu cepat, sedangkan mereka saja tidak memiliki hubungan apa pun. Sungguh ini akan menjadi masalah baru lagi bagi merka.
"Ahh, sial! Kenapa harus soal pernikahan lagi yang dibahas?" gerutu Reksa dalam hati.
"Bagaimana Anna, kau setuju?" Pertanyaan Kakek Kusuma seketika membuat Anna tersentak.
"Hh? I-iya tentu, Kakek. Saya dan mas Reksa pun sudah membahas soal pernikahan kami sejak lama, jadi kalau memang Kakek menginginkan pernikahan itu untuk segera dipercepat, saya bersedia, tetapi keputusan tetap ada di tangan mas Reksa. Bukan begitu, Sayang?" Anna tampak mengedipkan sebelah matanya seolah sengaja ingin menggoda Reksa, sontak membuat Reksa seketika mengerjap kaget, lalu membulatkan mata seolah merasa keberatan dengan panggilan Anna terhadpanya.
Berani sekali dia memanggilku seperti itu di depan keluargaku sendiri.
"Bagaimana Reksa?" Kakek Kusuma tampak menuntut jawaban langsung dari Reksa.
"Emm ... sebenarnya aku sudah berencana untuk menikahi Anna beberapa bulan ke depan, Kek. Mungkin sekitar enam bulan lagi," jawab Reksa yang sontak membuat Kakek Kusuma menatap kecewa.
"Iya, Reksa. Sebaiknya segera dipercepat, bukankah niat baik itu, lebih baik jika disegerakan?" timpal Rico.
"Bagaimana jika kau rencanakan ulang menjadi satu bulan lagi?" Saran Kakek Kusuma kali ini tentu saja membuat Anna dan Reksa terbelalak.
"Satu bulan lagi?" ucap Anna dan Reksa kompak.
"Iya. Kenapa? Masalah buat kalian?" Kakek Kusuma tampak melipat sebelah tangannya di atas meja.
"Bu-bukan begitu, Kek. Nanti akan kita bicarakan lagi," jawab Reksa sedikit gugup.
__ADS_1
"Kapan lagi? Kakek memintamu datang kemari karena ingin membicarakan perihal pernikahan kalian," jelas Kakek Kusuma sedikit memasang wajah kecewa.
Tentu saja Kakek Kusuma kecewa. Ia yang sudah mengharapkan cucu pertamanya untuk segera menikah, tetapi sang cucu selalu saja menolak, bahkan setelah memiliki calon istri pun, Reksa masih saja berusaha mengulur waktu, pikirnya.
"Ya tapi, tidak bisa secepat itu juga, Kek. Ada beberapa hal yang harus kita persiapkan untuk acara pernikahan, dan itu akan memakan waktu yang cukup panjang," jawab Reksa sekenanya.
"Tante rasa, kalau hanya untuk mempersiapkan hal itu, tidak harus memakan waktu yang lama. Dua atau tiga minggu juga bisa selesai semua," timpal Masrha seraya meletakkan garpu dan pisau di atas piring. Sepertinya ia sudah mengakhiri kegiatan makan siangnya.
"Kalau kau mau, tante bisa membantu kalian mempersiapkannya, mulai dari undangan, gaun pernikahan, WO dan catering-nya, bagaimana?" imbuh Marsha menawarkan yang tentu membuat Reksa semakin merasa bingung harus bagaimana menanggapinya, sementara ia sangat tidak menginginkan pernikahan itu terjadi.
"Tetapi perusahaan sedang menghadapi satu proyek besar, aku tidak ingin melewatkan itu. Aku akan menikah, setelah perusahaan kita berhasil memenangkan proyek ini," tutur Reksa sekenanya.
Memang benar apa yang dikatakan Reksa bahwa perusahaannya sedang menghadapi proyek besar. Namun, sungguh bukan itu yang menjadi alasannya menolak permintaan sang kakek, melainkan ada alasan lain.
Ia tidak ingin menjalani sandiwaranya dengan Anna hingga sejauh itu, karena pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan. Biarkan Anna hanya bersandiwara sebagai kekasihnya, bukan istrinya.
"Kau ini selalu saja memprioritaskan pekerjaanmu. Kakek sudah sering katakan, bekerjalah sewajarnya. Kalau kau teru-terusan menghabiskan waktumu untuk bekerja, kapan kau akan memiliki keluarga?" protes Kakek Kusuma.
"Aku berjanji, setelah ini aku akan memenuhi permintaan Kakek untuk segera menikah." Reksa berusaha meyakinkan sang kakek. "Tetapi, bukan dengan Anna, melainkan dengan dia," batinnya melanjutkan.
Lagi-lagi Reksa teringat dengan sosok wanita yang telah membuatnya jatuh cinta sejak lama. Bahkan, ia yang tidak tahu keberadaan wanita itu tetap setia menunggu dan berharap jika suatu saat ia dipertemukan kembali dengan sosok wanita itu. Kecantikan wajah Anna nyatanya belum mampu mengalihkan perhatiannya. Hatinya masih terpatri dengan sosok yang entah ada di mana, bukan Anna yang kini berada di dekatnya.
"Om rasa pernikahan kalian tidak akan meng—"
"Om, maaf sebelumnya aku memotong pembicaraan Om," potong Reksa. "Aku tahu, Om kemari karena diminta kakek untuk membujukku agar segera menikah, tetapi aku mohon, Om paham dengan alasanku saat ini. Aku tahu Om lebih mengetahui bagaimana dunia bisnis," ucapnya seraya menatap Rico dengan penuh harap. Berharap Rico dapat membantunya untuk membujuk sang kakek.
__ADS_1
Rico tampak menghela napas, seolah tahu arti tatapan dari keponakannya. "Baiklah, Pa, sepertinya aku juga tidak bisa membujuk anak ini. Biarkan saja dia melakukan sesuka hatinya, tidak baik juga jika pernikahan dipaksakan," ucapnya memberi pemahaman kepada Kakek Kusuma.
"Kalian memang sama saja!" ketus Kakek Kusuma. Bagaimana bisa ia memiliki anak dan cucu yang sangat kompak sekali, pikirnya.