
Begitulah setiap hari rumah tangga Anastasia dan Angkasa, kelakuan Anastasia semakin menjadi dia benar-benar tidak mau menghormati Angkasa sebagai suaminya.
"An, badan aku nggak enak boleh minta tolong belikan obat di apotek," pinta Angkasa.
"Haduh nyusahin banget sih, aku tuh mau berangkat mas!" Maki Anastasia.
"Ini kan hari Minggu, kamu mau kemana? kenapa bawa koper besar?" tanya Angkasa.
Anastasia menghela nafas kemudian dia mendekati Angkasa yang tengah duduk di sofa.
"Aku mau ke Bali mas, aku kerjaan disana," jawab Anastasia sambil memperlihatkan surat palsu yang telah dibuat oleh Richard.
Angkasa segera membuka surat yang ditunjukkan oleh sang istri tapi entah mengapa dia tidak percaya pada surat tersebut. Firasat Angkasa mengatakan ada hal lain yang disembunyikan istrinya.
"Kamu nggak liburan bersama bos kamu itu kan?" terka Angkasa.
Sontak Anastasia marah, dia tidak terima jika Angkasa menuduhnya berlibur dengan Richard yang pada kenyataannya memang begitu.
"Mas! aku tuh kerja cari uang bukan berlibur seperti yang kamu tuduhkan," maki Anastasia.
"Heran aku sama kamu, bisa-bisanya memiliki pikiran sekotor itu." Bibir Anastasia terus nerocos tanpa mau berhenti.
"Gimana aku nggak punya pikiran seperti itu, kamu sering pergi dengan bos kamu, setiap aku menginginkannya kamu selalu menolak, aku ini suami kamu An, meksipun kere tapi aku yang berjuang mati-matian demi kamu," sahut Angkasa.
Anastasia berdecak kesal, dia yang tidak tau terima kasih malah menyepelekan apa yang Angkasa berikan untuknya. Padahal apa yang telah diberikan Angkasa jauh lebih dari apa yang berikan oleh Richard.
"Alah. Berkorban gitu aja lebay, banyak tuh suami-suami lain yang melakukan lebih dari apa yang kamu lakukan mas, jangan merasa jadi hero kamu," timpal Anastasia.
Angkasa hanya bisa menghela nafas, percuma berdebat dengan istrinya. Kembali lagi sebaik apapun Angkasa di mata Anastasia Angkasa tidak berkontribusi apa-apa bahkan Anastasia menganggap Angkasa sebagai parasit.
Tanpa berkata apa-apa, Angkasa pun beranjak hendak pergi meninggalkan perdebatan mereka yang belum usai, dia enggan sekali berdebat lebih lama lagi mengingat tubuhnya yang kurang fit.
"Kebiasaan! pasti pergi. Dasar nggak guna, mampus sana sekalian! enek banget lihat suami yang seperti parasit seperti kamu!"
Ucapan sang istri bak belati yang menusuk hatinya, tak hanya fisiknya yang sakit namun hatinya juga terluka. Lisan yang seharusnya Anastasia jaga malah digunakan melukai orang yang sudah berjuang mati-matian untuknya.
"Keterlaluan kamu An," gumam Angkasa dengan mata yang membasah.
Dalam kamarnya Angkasa melihat foto kenangan mereka, dia merindukan istrinya yang dulu, dimana masih ditemukan kebaikan tidak seperti saat ini.
"Aku tak tau kedepannya rumah tangga kita seperti apa An. Kamu selalu menomorsatukan uang, jabatan dan juga bos kamu itu. Bagimu dia seperti dewa yang selalu kamu puja sedangkan aku yang telah berjuang untuk kita nggak kamu pandang." Angkasa bermonolog dengan sendirinya sendiri.
Waktu cepat berlalu, sakit Angkasa semakin parah bahkan tubuhnya sampai menggigil.
__ADS_1
Dirinya yang tidak bisa apa-apa akhirnya meminta bantuan temannya untuk membelikannya obat.
"Angkasa, Angkasa. Kamu tuh seperti orang yang gak punya istri," ejek Bayu.
"Dia ada kerjaan di pulau Bali Bay," sahut Angkasa.
"Jauh banget," timpal Bayu.
"Iya Bay, nggak tau dia tuh sibuk sekarang kadang pulang juga larut malam."
Angkasa menceritakan kesibukan sang istri pada temannya, bukan berniat menjelekkan sang istri tapi Angkasa lebih curhat mengenai pekerjaan istrinya.
Dari cerita angkasa Bayu sudah menduga kalau Anastasia ada hubungan dengan bosnya. Normalnya orang bekerja tetap pulang tepat waktu, kalaupun harus lembur tidak sampai larut malam apalagi sampai dini hari.
"Coba kamu cari tahu Angkasa, Apa benar istri kamu ada pekerjaan disana atau jangan-jangan dia telah merencanakan liburan dengan atasannya," saran Bayu.
Angkasa nampak terdiam, dari awal dia juga merasa kalau ada yang tidak beres dengan pekerjaan istrinya yang mendadak.
"Apa aku harus ke Bali? jelas nggak mungkin Bay," sahut Angkasa.
"Haduh bodoh kok dipelihara, kamu kan bisa ke kantornya," timpal Bayu.
Entah kenapa Angkasa tidak memiliki pikiran sampai ke situ, selama ini dia selalu percaya dengan Anastasia sehingga dia tidak ke kantor istrinya untuk mengecek bagaimana dan seperti apa pekerjaan Anastasia di kantor.
Saran Bayu terus berkeliaran dipikiran Angkasa, apa mungkin Anastasia ada hubungan dengan bosnya? seperti kecurigaannya selama ini?
Di sisi lain, Anastasia dan Richard yang baru tiba di hotel langsung saja melakukan cocok tanam, Anastasia terus bergoyang di atas Richard bak penari striptis, dengan desa-han yang terus keluar dari mulut Anastasia membuat Richard semakin semangat menyodoknya dari bawah.
Tubuh Anastasia kini menjadi singgahan Richard yang membutuhkan pelepasan. Memang begini keuntungan melakukan hubungan dengan istri orang kalau ada apa-apa ada suaminya yang bertanggung jawab.
Anastasia benar-benar mengobrol kehormatannya pada Richard tanpa dia tau jika Richard tidak benar-benar mencintainya. Janji-janji manis Richard hanya untuk menggaet Anastasia supaya masuk ke dalam perangkapnya.
"Terus sayang. Oh.... Nikmat sekali." Desa-han Richard menggema saat miliknya dijepit oleh Anastasia.
Melihat Richard dirundung kenikmatan olehnya, Anastasia kini yang mengambil alih, dia semakin cepat menaik turunkan tubuhnya karena ingin Richard segera mendapatkan pelepasan sama seperti dirinya.
Sepuluh menit berlalu tapi Richard masih belum mendapatkan pelepasannya padahal punggung Anastasia sudah kram dan encok.
"Mas aku lelah," kata Anastasia lalu ambruk di atas dada Richard.
Tak ingin berhenti terlalu lama Richard segera mengubah posisi mereka, dirinya kini memompa dengan cepat karena sebentar lagi dia akan segera mendapatkan pelepasannya.
Tanpa rasa kasian, tangan Richard meremas bukit kembar milik Anastasia, itu sering dia lakukan saat akan mendapatkan pelepasannya.
__ADS_1
"Ohhhhh," de-sahnya.
Setelah proses tune up selesai, Richard merebahkan diri di samping Anastasia, kali ini dirinya benar-benar puas dengan service yang telah diberikan Anastasia.
"Besok kita akan pindah ke resort yang indah, di sana kita bisa bercinta saat sunset di pinggir kolam yang berbatasan dengan samudra," kata Richard.
Anastasia nampak antusias, dia sudah tidak sabar untuk segera pindah resort.
Dari cerita Richard dia sudah membayangkan percintaan panas mereka esok harinya.
"Ah aku tidak sabar mas," sahut Anastasia.
*********
Keesokan harinya Angkasa ijin tidak masuk karena tubuhnya masih belum fit, daripada memaksakan diri yang nanti ujungnya dia malah tidak fokus.
Saat rebahan dia terus kepikiran Anastasia yang pergi ke Bali, selain itu ucapan Bayu temannya juga melayang-layang yang membuatnya semakin tak tenang.
"Apa aku cek saja kebenarannya?" gumam Angkasa.
Angkasa yang ingin tau kebenaran istrinya pergi ke kantor Richard untuk membuktikan apa yang terjadi sebenarnya.
Setibanya di kantor Richard, Angkasa segera masuk namun satpam menghalaunya.
"Mohon maaf pak, saya adalah suami Anastasia, saya ada keperluan sedikit." Dia mencoba menjelaskan.
Setelah debat akhirnya Angkasa diperbolehkan untuk masuk oleh satpam yang bertugas.
"Mohon maaf mbk, apa ibu Anastasia ada kerjaan diluar pulau?" tanya Angkasa.
"Mohon maaf pak, bukannya ibu Anastasia melakukan cuti selama seminggu," jawab resepsionis.
"Cuti?"
"Iya ibu ijin cuti untuk alasannya saya kurang jelas," jelas resepsionis.
"Apa Pak Richard masuk?" tanya Angkasa lagi.
"Mohon maaf selama seminggu ke depan pak Richard tidak masuk kantor karena ada bisnis di pulau Bali," jawab resepsionis.
Dunia Angkasa seakan runtuh, kebohongan sang istri membuatnya tak percaya. Selama ini dia selalu percaya dengan Anastasia meski ada sedikit rasa curiga.
Dnegan langkah lemas Angkasa keluar kantor, hatinya seperti ditusuk belati, dia tidak menyangka kalau istrinya tega mengkhianatinya. Orang yang selama ini dia cintai dengan segenap jiwa dan raganya tega membagi cinta dengan orang lain.
__ADS_1
"Tega kamu An, membohongi aku yang telah berjuang untuk kamu," gumam Angkasa.
"Tak cuma hidupku yang kamu sakiti An, tapi juga hatiku. Baiklah as you wish. Aku berhenti sekarang, aku akan membebaskan kamu." Angkasa bermonolog dengan dirinya sendiri.