Air Mata Penyesalan

Air Mata Penyesalan
Persiapan ultah Adrian


__ADS_3

Sebenarnya aku merasa berdosa telah melakukan hal itu, tapi entah kenapa aku tetap mau memenuhi keinginannya.


Entah ini cinta atau hasrat aku benar-benar tidak bisa membedakannya, aku hanya ingin melihat Adrian bahagia.


Hari demi hari berlalu, ciuman pun menjadi hal yang biasa kami lakukan, bahkan sekarang aku sudah terbiasa.


...****************...


Dua hari lagi Adrian ulang tahun, aku sangat bingung harus menyiapkan kado apa untuknya.


''Halo! ika, apa kau sibuk?'' Ku telpon Ika dengan harapan ia memberiku ide.


''Samira, ini kamu?'' Ujarnya meledekku.


''Lalu siapa lagi? aku mau menanyakan sesuatu jika kamu tidak keberatan,''


''Apa itu? sudah lama kamu tidak ingat kepadaku, apa yang terjadi? apa kekasihmu lari.''


''Diamlah... Dua hari lagi Adrian ulang tahun, tapi aku bingung harus melakukan apa?''


''Aku tau, bahkan satu sekolah pun tau, Beberapa perempuan disekolah akan menyiapkan pesta untuknya, apa kamu tidak tau?''

__ADS_1


''Tidak, Adrian tidak memberitahuku.'' Aku kesal mendengar kata-katanya nya. Meski kami sudah pacaran, tapi gadi-gadis gila itu tidak berhenti untuk mendekatinya.


''Kekasihmu juga tidak tau tentang kejutan yang di siapkan untuknya, Berikan baju atau aksesoris yang bisa ia gunakan lama sebagai kado, jika ada suatu barang yang tidak akan pernah ia lepaskan dari genggamannya,''


''Terimakasih... Sarannya!''


''Eh... Jangan tutup dulu, samira, walaupun kamu cinta mati kepada Adrian. Tapi, kamu harus ingat jangan mengorbankan kehormatanmu demi kesenangan sesaat, semoga saja yang orang-orang katakan salah.''


''Emangnya apa?'' Ujarku penasaran, apa mungkin ada yang melihatku ciuman.


''Kau dengan Adrian udah sejauh mana?''


''Samira, jangan sampai aku punya keponakan ya..., aku belum siap! Ha...ha...ha...'' Ia tertawa puas setelah mengejekku.


''Ih... Ika! apaan sih! Aku bukan orang seperti itu tau!'' Ku matikan telponnya dengan perasaan jengkel.


Meski yang Ika katakan benar tapi aku merasa kesal dengan kata-katanya, seolah-olah aku tidak bisa menjaga kehormatanku.


Sebagai sabahat memang ia berhak memberiku nasihat, apalagi ini tentang masa depanku.


Uang disakuku sudah menipis, jika harus membelikan kado sudah pasti ini tidak cukup. Hanya orang tuaku yang bisa membantuku.

__ADS_1


''Ibu, dimana? Berikan handponenya kepada ayah atau ibu,'' ternyata adikku yang mengangkat telpon.


''Pasti uang kakak habis kan, akhir-akhir ini semua uang ayah dan ibu habis untukmu, baik-baik ya... sekolahnya, aku juga ingin seperti mu bisa sekolah di tempat yang jauh.''


''Hmmm... cepat berikan handponenya kepada ibu''


''Halo samira, kamu baik-baik saja?'' Ujar ibuku dengan tutur katanya yang lembut.


''Ia, ibu aku baik-baik saja. Bu keperluan sekolahku banyak yang harus dibayar, tapi uang ku tidak cukup.''


''Besok akan ibu kirim ya... Tidak usah khawatir, yang penting kamu harus fokus belajar dan bisa membuat ibu bangga. Besar harapan ibu untuk Samira suatu saat nanti kau akan jadi permata.''


''Ibu doakan saja anakmu ini, supaya semuanya berjalan lancar tanpa ada penghalang,'' Mendengar kata-kata ibu, membuat hatiku sakit harus membohonginya, demi seseorang yang ku cintai.


''Udah ya... Belajarlah dengan giat!''


Walaupun aku tau yang aku lakukan tidak benar, tapi aku tidak bisa menentang perasaanku, sekarang Adrian adalah duniaku.


Apalagi sekarang, satu-satunya orang yang mau mendengar keluh kesah ku adalah Adrian, ia selalu memanjakanku dan menyayangiku dalam kondisi apapun.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2