Air Mata Penyesalan

Air Mata Penyesalan
Mudah Sekali Dibohongi


__ADS_3

"Kemarin kamu kemana mas? kenapa nggak bisa dihubungi sama sekali?" tanya Anastasia saat bertemu dengan Richard.


"Aku ada urusan keluarga," jawab Richard.


"Urusan keluarga apa? sehingga tidak sempat menerima panggilan telpon dariku?"


Anastasia terus saja memberondong Richard dengan berbagai macam pertanyaan sehingga membuat Ricard kesal dengan Anastasia.


"Kamu cerewet sekali, memangnya siapa dirimu sehingga aku harus melaporkan apa yang aku lakukan di rumah," maki Richard.


Mendengar ucapan Richard membuat Anastasia sakit hati, bagaimana bisa Richard berkata seperti itu bukankah mereka menjalin sebuah hubungan?


"Mas apa maksud kamu?" tanya Anastasia.


"Lebih baik kamu keluar sekarang karena aku ingin fokus bekerja,"


Bukannya menjawab pertanyaan Anastasia Richard malah menyuruhnya untuk keluar ruangannya, hal ini sontak membuat Anastasia tidak percaya dan bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan Richard?


Dengan perasaan yang tak karu-karuan Anastasia kembali ke ruangannya, bayangan angkasa yang selalu muncul ditambah dengan ketidakpedulian Richard membuatnya bingung dan kesal.


"Kenapa!" teriaknya.


Pikirannya yang traveling kemana-mana membuat Anastasia tidak fokus bekerja sehingga membuat pekerjaannya tidak selesai.


Tak terasa jam makan siang tiba, Anastasia memutuskan untuk pergi ke restoran namun saat menginjakan kaki keluar lobi tak sengaja matanya melihat Richard berjalan dengan seorang wanita menuju mobilnya.


Hal ini tentu membuat Anastasia sakit hati, tanpa pikir panjang dia segera mengejar Richard namun sayang mobil Richard terlah berjalan terlebih dahulu.


Apa yang Anastasia lakukan pada Angkasa dulu kini dia rasakan, hatinya kini hancur seperti hati Angkasa waktu itu.


Rasa lapar yang Anastasia rasakan hilang sudah, kini yang ada hanya rasa sakit dan kesal yang membuat dirinya tak kuasa menahan air mata yang sedari tadi ingin keluar.


"Kenapa kamu tega mas," gumam Anastasia sambil berjalan kembali ke ruangannya.


Di dalam ruangannya Anastasia menangis, kemudian dia mengambil ponsel untuk menghubungi Richard tapi siapa sangka nomornya telah diblok oleh Richard yang tentu membuatnya semakin histeris.


Hukum tebar tuai kini mulai Anastasia rasakan, dia yang dulu selalu memblokir nomor Angkasa kini merasakannya, Richard yang mungkin kesal dengan panggilan telponnya tanpa banyak kata langsung memblokir nomor Anastasia begitu pula dengan dirinya dulu saat asik dengan Richard memblokir nomor Angkasa yang terus menghubunginya.


Puas menangis, Anastasia pamit ijin pulang, dirinya beralasan kalau badannya kurang fit sehingga mau istirahat di rumah.


Sesampainya di rumah Anastasia menangis di kamarnya, dia yang kesal membuang semua benda yang ada di atas tempat tidurnya.

__ADS_1


"Beraninya kamu mempermainkan aku Richard!" teriak Anastasia.


Dirinya yang lelah berteriak dan menangis akhrinya tertidur, dalam tidurnya Anastasia memimpikan Angkasa, dalam mimpinya Angkasa datang memberikan tisu seraya mengatakan sesuatu yang pernah dia katakan dulu.


"Orang berbuat baik terhadap kita itu ada maunya An, jangan gampang percaya dengan bujukannya," pesan Angkasa lalu tersenyum.


Anastasia terbangun dari tidurnya lalu berteriak memanggil Angkasa namun Angkasa kini telah pergi dari hidupnya.


"Mas Angkasa," ucapnya sambil menangis.


Sedikit demi sedikit penyesalan mulai masuk ke dalam jiwa Anastasia, ingatan tentang Angkasa menyeruak masuk ke dalam ingatannya sehingga membuat Anastasia histeris kembali.


Tak terasa malam telah tiba, Anastasia yang merasa lapar memutuskan pergi ke dapur untuk memakan roti yang dibelinya.


Saat dia duduk di kursi makan, suara-suara Angkasa seakan terdengar di telinga Anastasia.


"An, aku masak mie instan ya. Isinya lengkap kok semua kesukaan kamu,"


"An, aku ambilkan susu ya, kalau kepedesan lebih baik minum susu jangan es,"


"An,"


"An,"


Sebenarnya bukan suara Angkasa yang dia dengar melainkan ingatan memori yang kuat tentang Angkasa yang seakan menghantuinya.


"Mas, kamu dimana mas?" Sambil menangis Anastasia memanggil Angkasa.


Anastasia ingat akan ponselnya lalu dia pun mencoba menghubungi Angkasa, berbeda dengan dulu, kini Angkasa enggan menerima panggilan dari Anastasia, dia memilih membiarkan panggilan telepon Anastasia.


"Angkat dong mas,"


Anastasia terus menghubungi Angkasa namun panggilan teleponnya tidak ada satupun yang dijawab oleh Angkasa.


"Kenapa kalian bersikap seperti ini kepadaku," teriak Anastasia.


Di sisi lain, Angkasa yang telah selesai mengerjakan pekerjaannya membuka ponselnya lalu dia mengirim pesan singkat pada Anastasia.


Beberapa saat kemudian Anastasia meminta Angkasa untuk pergi ke rumahnya, tentu hal ini membuat Angkasa heran, bukankah Richard yang selalu Anastasia andalkan? kenapa Anastasia malah menghubungi dirinya yang jelas-jelas kini mereka tidak ada hubungan apa-apa?


"Kemana kekasih kamu yang selalu kamu puja An, kenapa kamu malah meminta aku yang kini bukan siapa-siapa kamu?"

__ADS_1


Pesan singkat yang Angkasa kirim membuat Anastasia terdiam dia tak tau harus membalas apa, hingga dia memutuskan untuk tidak membalas pesan Angkasa.


Angkasa tersenyum saat Anastasia tidak membalas pesan yang dia kirim, dirinya kini bukanlah dirinya yang dulu sehingga bisa Anastasia perintah sesuka hati.


"Aku dulu pernah mencintaimu, memujamu dan memprioritaskan dirimu di atas diriku. Dulu aku yang tidak berdaya mengikuti katamu tanpa berani membantah tapi kamu malah menganggapku seperti babu hanya karena aku tidak sepadan denganmu,"


Angkasa bermonolog dengan dirinya sendiri, dia mengingat kembali bagiamana perlakuan Anastasia sehingga tak terasa air matanya jatuh mengingat bodohnya dirinya saat itu.


***********


Keesokannya di kantor, Anastasia memutuskan untuk tidak menemui Richard. Dia ingin fokus bekerja hari ini mengingat banyaknya pekerjaan yang harus segera diselesaikan.


Saat fokus bekerja, tiba-tiba Richard masuk ke dalam ruangannya, tanpa berkata apa-apa Ricard duduk di hadapan Anastasia.


"Ada yang bisa saya bantu pak?"


Anastasia berbicara secara formal dengan Richard, dirinya yang masih kesal dengan Richard enggan memanggil Richard dengan sebutan Mas.


"Kamu marah An?" tanya Richard.


"Tidak Pak, memangnya siapa saya sehingga saya harus marah kepada anda?" jawab dan tanya Anastasia.


Sebenarnya acara yang dimaksud Richard adalah acara pertunangannya dengan seorang wanita, sore itu orang tua Richard menjodohkan dirinya dengan anak temannya yang tak lain adalah teman Ricard sendiri.


Tunangan Richard bekerja sebagai designer terkenal di negara paman Sam, dia yang tidak memiliki waktu yang lama di tanah air meminta Richard eksklusif menemaninya. Tentu Richard memprioritaskan calon istrinya daripada Anastasia, sehingga dua hari terakhir ini Richard tidak ingin diganggu.


Karena tidak ingin dihubungi oleh Anastasia membuat Richard memblokir nomor anastasia.


"Lebih baik kita bekerja pak," sambung Anastasia.


Sebelum Richard dan tunangannya resmi menikah dia tidak ingin melepas Anastasia karena kapan lagi mendapatkan TPS seperti Anastasia.


"Adik sepupuku baru datang dari Amerika sehingga aku diminta mamaku untuk menemaninya jalan-jalan selama berada di sini," jelas Richard.


"Tapi mengapa kamu tidak sedikitpun menerima panggilan teleponku? bahkan kamu telah memblokir nomorku," protes Anastasia.


Richard mulai berakting kembali dengan menunjukan ponsel barunya, dia memiliki alasan agar Anastasia tidak marah dan mau memaafkannya kembali.


"Lihatlah aku beli ponsel baru, nomorku yang lama telah aku ganti,"


Richard menunjukan ponsel barunya pada Anastasia berharap kalau Anastasia mau memaafkannya dan percaya dengan apa yang dikatakannya.

__ADS_1


Mendengar bujuk rayu Richard membuat Anastasia dengan gampang memaafkan Richard kembali.


"Astaga mudah sekali membohonginya," batin Richard.


__ADS_2