
Azan subuh berkumandang aku bergegas bangun, perut terus berbunyi dengan sangat keras semalaman aku tidak makan.
Kubuka pintu ternyata masih sangat sepi di jam segini biasanya dikampung ku sudah ramai orang lalu lalang.
Mau tidak mau aku harus menunggu sampai harinya terang sambil memegangi perutku.
Jam di dinding terasa seolah-olah tidak bergerak, 1 menit menjadi penantianku yang sangat panjang.
Aku berjalan menelusuri jalan mencari makanan sambil menggendong tasku, akhirnya kutemukan dan tempatnya tidak jauh dari sekolah.
''Buk, satu ya!'' gumamku dan duduk.
''Tunggu sebentar ya...,'' Ia melayani satu demi satu pelanggan yang sudah antri.
Disini hanya aku perempuan semua pembelinya laki-laki, tapi aku tidak ada pilihan lagi jika berjalan lebih jauh lagi mungkin aku akan pingsan.
''Kamu sekolah didepan ini ya? Makan saja dengan tenang orang-orang disini tidak akan mengganggumu,'' Ujar ibuk penjual lalu meletakkan makanan di hadapanku.
''Iya buk...terimakasih!''
08.45 aku sudah berada di dalam kelas dengan perut yang kenyang juga hati yang senang.
''Kenapa kamu mematikan telpon?''
''Adrian! Maksudmu?''
__ADS_1
''Samira... owh pagi-pagi hmm...hmm...hmm!'' Gumam Ika meledekku.
''Ika diam!''
''Tadi malam saat ku telpon kenapa telponnya di matikan? apa tidak boleh sekedar menjadi teman.'' ia lalu duduk di sampingku.
''Pasti maulah! siapa sih yang bisa menolak cowok sekeren kamu, uhh...'' Ujar ika.
''Aku mengantuk, lagian kenapa harus menelpon ku ditengah malam, apa tidak ada waktu yang lain.''Gumamku.
''Maaf! Aku hanya memastikan kamu baik-baik saja, karna semalam kamu sanga lelah.''
''Cie...cie... Ada yang perhatian nih!'' Ujar ika yang dari tadi mendengar obrolan kami.
''Aku bisa menjaga diriku sendiri, jadi tidak perlu repot-repot mengkhawatirkan ku.''
''Boleh ko! Setiap waktu juga kamu telponnin malah aku senang...'' Ucap ika lalu melompat kegirangan.
''Bukan kamu!'' ujarnya adrian lalu pergi.
''Samira, kenapa sih! Kamu bisa kasar seperti itu? Liat tuh dia jadi sedih tau...''
''Tuh sana kamu temanin aja sekalian pdkt,'' gumamku dengan nada kesal.
...****************...
__ADS_1
Waktu berjalan dengan sangat cepatnya hari demi hari kulewati. Begitu juga dengan Adrian selama 6 bulan ia tak henti mendekatiku.
Akhirnya aku luluh juga melihat perjuangnya, senen sepulang sekolah ia mengajakku jalan-jalan menjelajahi kota, dan dihari itu juga kami resmi pacaran.
Aku sangat bahagia mendapatkan laki-laki sebaik Adrian, pertemanan ku dengan ika pun mulai renggang. Entah apa yang terjadi padaku sehingga semua waktuku hanya untuk Adrian, seolah-olah tidak ada orang lain selain dia di dunia ini.
''Kamu baik-baik ya! aku pulang dulu,'' Ucap Adrian setelah mengantarkan ku ke kosan.
Kalian tahu! Sebenarnya aku tidak ingin berpisah darinya, bersamanya duniaku dan hidupku sempurna.
''Ia... Hati-hati!'' kulambaikan tanganku.
kejadian di hari ini tidak bisa kulupakan, aku senyum dan tertawa sendiri mengingat wajahnya.
Kring...kring...kring...
''Halo!''
''Ini ibu, uang mu untuk bulan ini sudah dikirim ya, nak! jaga diri dan rajin belajar!''
''Ia bu, aku pasti akan selalu ingat nasihat ibu,''
Setiap bulan orang tuaku selalu mengirimkan uang, terkadang terlambat. Tapi walaupun begitu aku tetap berusaha menghemat uang ku.
Orang tuaku berharap aku bisa mengangkat derajat mereka, juga menjadi motivasi untuk adik-adikkku.
__ADS_1
Kata ibu jika aku gagal maka adik-adikku juga tidak akan berhasil, mereka akan mencontoh perbuatan yang ku lakukan.
Bersambung