Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 09


__ADS_3

Di sebuah ruangan nampak seorang gadis yang sedang menikmati teh nya. Ia menikmati setiap detik nya dengan nyaman sebelum suara ketukan pintu terdengar. Gadis itu menaruh cangkirnya dengan anggun lalu menyuruh pelayan untuk membuka pintu.


Pintu itu terbuka, seorang lelaki masuk dan menarik kursi untuk duduk di depan sang gadis.


"Apakah aku sudah mengizinkan mu untuk duduk tuan?"ucap dingin gadis itu.


"Ha? Bukankah kita sudah biasa seperti ini Varya? Aku mengerti itu candaan mu"


"Apakah wajahnya terlihat bercanda tuan Dirto Axia?"lelaki itu terkejut untuk sesaat. Dirto kemudian mengalihkan pandangannya pada lelaki berambut hitam yang berada di belakang gadis itu.


"Varya, apakah kita tidak berbicara berdua saja hari ini?" Tanya Dirto melihat Varya membawa masuk pengawalnya.


"Tidak" jawab Varya singkat dan padat.


"Varya, jika aku mempunyai kesalahan pada mu aku minta maaf. Ayolah, aku tak ingin kau marah lagi. Aku cukup tersiksa tidak bertemu dengan mu dalam waktu lama. Kita juga perlu mendiskusikan pernikahan kita"


"Kurasa kau perlu mengubur dalam-dalam pembicaraan pernikahan itu, karena itu adalah hal yang tidak akan terjadi!" Varya memasang wajah datar nya.


Dirto sangat terkejut akan hal yang dikatakan oleh gadis itu.


"Varya! Itu bohong bukan? Kau pasti bercanda. Ini tidak lucu Varya! Ini adalah ikatan kedua kerajaan kita tidak boleh main-main akan hal itu"


"Aku tidak berniat untuk menjelaskan lebih lanjut atau berniat untuk melanjutkan obrolan yang panjang dengan mu, yang pasti aku hanya memperingati mu untuk jangan pernah menunjukkan wajah mu di istana ku lagi." Varya bangkit dari duduknya, ia benar-benar muak berada satu ruangan dengan manusia yang ia benci.


"Tidak Varya! Aku bahkan tidak tau apa alasan ku. Setidaknya kau harus menjelaskan nya, Varya aku sangat mencintaimu. Kau tau bukan? Kita saling mencintai" Dirto mencoba menahan lengan Varya namun sebelum itu terjadi Finix dengan sigap menahan tangan Dirto.

__ADS_1


"Kau! Beraninya pengawal kotor seperti mu menyentuh ku!"


"Saya hanya bertugas untuk melindungi Putri" jawab Finix dengan tatapan tajamnya.


"Melindungi? Aku tak akan menyakiti Varya. Kami saling mencintai!" Perkataan Dirto membuat perut Varya mual. Ia benar-benar tak bisa menahan diri lagi sekarang


"Cukup! Kau ingin tau alasannya bukan Tuan Axia! Aku akan memberitahu mu sekarang, AKU TIDAK MENCINTAI MU LAGI!" kilatan amarah kini muncul di mata Varya membuat Dirto gemetar. Ia belum pernah melihat sosok gadis itu yang seperti orang berbeda.


"Surat pembatalan pertunangan akan segera tiba pada mu. Jadi duduk dan tunggu lah dengan baik waktu itu tiba" Varya langsung pergi dari sana.


Finix melepaskan tangan Dirto dari cengkeraman nya dengan kasar lalu mengikuti Varya. Dirto meringis melihat pergelangan tangan nya yang memerah. Ia takkan menyangka akan ada gangguan seperti ini dalam rencananya.


Dirto tak percaya Varya yang lebih kini menatapnya bagai makhluk yang harus dimusnahkan. Ini hal yang aneh, Dirto tidak akan membiarkan gadis itu lepas dan merusak rencananya.


"Kau tak kan bisa lepa dari ku Varya, aku yakin sebentar lagi kau akan kembali memohon cinta kepada ku. Mari kita lihat sampai mana keangkuhan mu bertahan"


"Haah.. hahh..."Dada Varya sesak sekarang, Finix dengan cepat menggendong gadis itu karena lututnya sudah tak berdaya menopang tubuh mungilnya. Tak ada orang di sekitar sana saat itu, hingga tak ada orang yang melihat kondisi lemah Varya selain Finix


Finix dengan cepat membuka pintu kamar terdekat di sana. Ia membaringkan Varya di kasurnya. Dengan cepat Finix mengambil obat yang sudah disiapkan lalu memberikan nya pada Varya.


Finix membantu Varya untuk meminum obat itu. Setelah merasa obatnya sudah bereaksi, Finix menghela nafas lega. Varya kembali berbaring lalu memejamkan matanya.


Mereka melakukan ini secara diam-diam. Agar tak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya Varya mempunyai trauma pada tunangannya.


Varya sudah menduga hal ini terjadi, sejak saat ia memutuskan untuk bertemu dengan Dirto. Ia sangat ingin melawan trauma ini dengan menghadapi orang itu langsung. Tetapi dia ingat ini bukanlah hal yang mudah.

__ADS_1


Varya merencanakan hal-hal untuk mengantisipasi jika terjadi sesuatu padanya. Ia mempercayakan itu pada Finix. Ia mengatur hal itu dengan sempurna agar Varya bisa melangkah maju untuk tahap selanjutnya dari bagian rencananya.


Jika ia terus tak berani untuk menemui Dirto, ia yakin trauma nya tak kan sembuh. Dan rencananya tentu tak kan berjalan lancar. Varya sudah mengatakan akan trauma nya pada Finix namun ia tak mengatakan penyebab hal itu terjadi. Finix yang mengerti hal itu tak kan mencari tau lagi, ia sangat menghormati apapun keputusan gadis itu.


Finix menatap wajah gadis itu yang tertidur pulas. Ia diperintahkan untuk membangunkan Varya dua jam kemudian dimana efek trauma itu hilang. Finix kadang berpikir bahwa Varya terkadang menjadi dua orang yang berbeda.


Tapi Varya yang asli adalah seorang gadis yang lemah yang berjuang untuk sesuatu yang ingin dia gapai. Ia berusaha keras untuk menjadi seorang Putri yang ingin dihormati oleh rakyat nya. Ia juga ingin mengalahkan semua musuhnya.


Varya adalah seorang gadis dengan ambisi yang besar. Mungkin ke depannya Varya tak kan ragu mempertaruhkan nyawanya demi tujuan nya. Finix yang sudah melihat sebulan ini bagaimana perjuangan Varya, membulatkan tekadnya untuk terus melindungi gadis itu. Bukan hanya semata-mata karena kontrak, namun karena Finix merasakan adanya persamaan di antara mereka.


...2 JAM KEMUDIAN...


"Yang Mulia, anda harus bangun sekarang"Finix menyentuh bahu Varya, Finix sudah mendapatkan ijin untuk hal itu.


Varya membuka kedua matanya lalu mencoba bangun dari tidurnya. Itu tidur yang singkat tapi rasanya tubuh Varya lebih nyaman dari biasanya. Varya mulai mengumpulkan kesadaran, ia memandang sekelilingnya lalu menemukan Finix di samping kasurnya.


Wajah lelaki itu sangat teduh, Varya merasa nyaman setelah melihat dirinya. Varya sangat bersyukur Finix dapat melakukan apapun untuk dirinya. Ia merasa aman jika terus bersama Finix.


"Finix terima kasih. Kau bukan sekedar pengawal ku, kau juga partner ku. Kesetiaan mu bukan hanya di atas kertas saja, aku mengapresiasikan hal itu" Varya tersenyum kepada Finix.


"Saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk anda Yang Mulia. Saya akan selalu berada di samping anda. Saya adalah pedang anda yang sesungguhnya Yang Mulia" Varya menatap Finix dengan penuh kekaguman, ia merasa bodoh melewatkan kehidupan pertamanya tanpa bertemu dengan orang ini.


"Aku bangga kepada diri mu kesatria ku."puji Varya membuat Finix tersenyum manis.


"Ah~ Apakah kau mematahkan tangan si br*ngs*k itu tadi?"

__ADS_1


...To Be Continued ...


__ADS_2