
Wangi bunga menyerbak di penciuman Varya. Gadis itu membuka matanya yang berlensa navy. Ia merasa tertidur di atas kasur yang sangat nyaman. Saat ia duduk, ternyata ia melihat dia berada di atas rerumputan hijau. Tapi entah mengapa rerumputan itu bagai kasur yang lembut.
Di sekelilingnya Varya melihat bunga-bunga yang bermekaran dengan indah. Mata Varya berbinar-binar di penuhi dengan kekaguman. Varya mengetik salah satu bunga yang berwarna merah. Bunga itu begitu harum hingga Varya begitu nyaman menghirup aromanya.
"Varya..."suara lembut seseorang membuat Varya melihat ke sekelilingnya.
Tidak ada orang di sana, Varya kemudian berdiri mencari asal darimana suara itu datang. Ia berjalan jauh hingga menemukan seorang lelaki yang membelakangi dirinya.
Saat Varya ingin bertanya itu siapa, ia tak bisa mengeluarkan suaranya. Ia seakan bisu, padahal mulut nya terus bergerak namun suara itu tak kunjung keluar.
Sampai tiba-tiba lelaki itu bergerak ingin berbalik, jantung Varya berdegup kencang menanti siapa yang memanggil lembut dirinya. Di saat detik-detik berharga itu datang Varya tak tau mengapa dirinya terjatuh lalu dunia nya gelap.
DEG!
Varya membuka kedua matanya lagi, ia mencoba mengumpulkan kesadarannya. Varya merasakan kepalanya menyentuh sesuatu yang empuk. Dan benar saja saat ia menoleh ia melihat sebuah dada bidang terpampang di sana.
Varya segera menjauh, lalu melihat ternyata itu milik Finix yang masih memejamkan matanya. Jadi dari tadi ia bersandar di dada Finix?! Rona merah pada pipi Varya langsung muncul. Ah, bukan kah ini kurang sopan? Ia sangat malu sekarang. Apakah Finix mengetahuinya?
Saat Varya melihat lelaki itu sekali lagi, pandangan mereka bertemu. Ternyata Finix sudah bangun, Varya yang salah tingkah menoleh ke jendela.
"Apakah tidur anda nyenyak Yang Mulia? Maafkan saya yang seenaknya pindah ke samping anda" Varya mencoba menenangkan dirinya agar rona di pipinya cepat hilang.
"Ah~ tak apa! Ini juga kesalahanku yang mudah tertidur. A-aku pasti telah merepotkan mu Finix, jadi tidak usah di pikirkan lagi"Varya menundukkan kepalanya, ia tak berani melihat Finix karena malu.
"Apakah anda baik-baik saja Yang Mulia? Apakah leher anda sakit?"khawatir Finix melihat tingkah Varya yang aneh.
"Tidak... Terima kasih sudah menopang kepalaku." Ucap Varya malu-malu. Finix hanya tersenyum bertanda ia tak apa melakukan itu.
Tiba-tiba kereta berhenti membuat Varya terkejut. Ia melihat ke jendela, mereka masih di hutan. Jadi mengapa kereta berhenti? Apakah ada yang terjadi?
__ADS_1
"Saya akan memeriksanya Yang Mulia. Saya mohon untuk tidak keluar" Varya mengangguk mengerti akan perkataan Finix.
Setelah beberapa saat Finix keluar ada kegaduhan yang terjadi. Varya penasaran, tapi ia tidak boleh turun dari kereta seperti kata Finix.
SAK!
Sebilah belati menancap di pintu hingga ujungnya tembus ke dalam. Untunglah tidak mengenai Varya. Gadis itu terbelalak kaget melihat benda tajam itu. Sepertinya kereta mereka sedang di serang. Varya takut sekarang tangannya bergetar. Ia kemudian mengambil belatinya dari bawah tempat duduknya.
Varya harus bersiap jika nanti ada yang menyerangnya. Tidak. Varya tidak boleh takut! Dia sudah belajar ilmu berpedang hingga tangannya terluka dan Varya bahkan pernah merasakan kematian, jika ia takut lagi sekarang maka ia akan mengalami hal yang sama.
Pintu Itu terbuka lalu nampak seorang lelaki sangar yang melihat Varya.
"Boss kami menemukan seorang gadis di sini!" Teriak nya membuat Varya langsung memasang kuda-kudanya.
Ia ingat bahwa Finix berkata pada nya untuk mengandalkan pertahanan dari pada penyerangan. Orang itu mengangkat pedangnya dan ingin menyerang Varya. Jantung Varya berdetak lebih kencang, keringat nya bercucuran. Sekarang ia harus yakin untuk menahan pedang itu dengan belatinya. Varya yakin dia bisa.
TUSK!
"Yang Mulia! Anda baik-baik saja?" Tanya seseorang itu yang ternyata adalah Finix. Refleks Varya membuang belatinya dan memeluk Finix, dia takut.
Ternyata Varya belum terbiasa akan hal ini. Ia memeluk erat Finix tanpa sepatah katapun yang terucap dari mulut nya. Finix yang merasakan getaran dari tubuh gadis itu mencoba menenangkannya untuk sesat. Finix melihat lagi kelemahan Varya yang tak bisa ia tunjukkan kepada orang lain. Finix sadar bahwa gadis itu sangat rapuh, ia hanya memasang tameng saat dirinya berhadapan dengan musuhnya.
Menjadi pura-pura kuat di saat dirimu lemah itu adalah hal yang sulit. Bahkan untuk berdiri sendiri saja sangat sulit. Jadi bagaimana dengan beban besar yang dipikul oleh Varya? Itu benar-benar bukan hal mudah.
Tak selang berapa lama, Varya merasa lebih tenang dan masalah penyerangan sudah dibereskan. Tak ada korban yang terluka karena Finix sudah memilih orang-orang yang biasa menangani hal seperti ini.
"Yang Mulia, Kita harus melanjutkan perjalanan hingga menemukan kota terdekat terlebih dulu. Dari peta sepertinya satu jam lagi kita akan tiba di kota tersebut. Mari naik lagi ke kereta"ajak Finix namun Varya tak berkutik.
"Ah!" Kejut Varya saat Finix tiba-tiba mengangkatnya.
__ADS_1
Finix kemudian menaruh Varya di kursinya. Ia melihat gadis itu yang sudah sadar. Varya menatap Finix kesal.
"Finix! Tak baik membuat orang terkejut seperti ini kau tau?"ucap Varya kesal. Finix hanya terkekeh melihat wajah gadis itu sangat menggemaskan.
"Maafkan saya Yang Mulia... Saya siap menerima hukuman anda"ucap Finix mencoba menahan tawanya. Ini memang bukanlah hal yang sopan tapi Finix tak punya pilihan lain.
Jika mereka lama di sini, maka semakin lama mereka sampai. Ia tak ingin melihat Varya yang tak nyaman beristirahat di kereta.
"Cepat jalankan kereta, aku akan menghukum mu saat tiba di penginapan."
"Baiklah Yang Mulia..."turut Finix.
Saat Finix ingin keluar, Varya menahannya. Finix melihat Varya dengan kebingungan.
"Mengapa kau pergi?"
"Bukankah anda menyuruh untuk menjalankan keretanya?"tanya Finix bingung.
"Kau akan ke sini lagi kan?" Tanya Varya memastikan Finix kembali bersamanya di kereta.
Finix kemudian tersenyum lembut pada Varya. Gadis itu tampaknya masih takut dengan kejadian barusan. Ia harus menenangkan gadis itu lagi sampai keberanian nya kembali.
"Tentu saja Yang Mulia. Jika anda ingin saya di sini maka saya akan di sini namun sebaliknya, jika anda ingin saya pergi maka saya akan pergi"
"Tentu saja, aku ingin pengawal terbaik ku di sini. Bukankah kau sudah berjanji akan melindungi ku? Kau tidak lupa kan?"
"Mana mungkin saya melupakan sumpah saya Yang Mulia" Finix tersenyum manis pada Varya membuat gadis itu merasa tenang sekarang.
"Terima kasih..."
__ADS_1
...To Be Continued ...