Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 31


__ADS_3

"Yang Mulia! Saya akan merindukan anda" Reina memeluk erat Varya.


Hari ini ia akan ikut dengan Leon dan mulai tinggal bersamanya di Ferlya. Ini memang hal yang sangat berat, terlebih lagi jika menjadi ratu di sebuah kerajaan. Varya hanya mengelus rambut Reina, dia baru sebentar bersama gadis itu tetapi takdir menyuruh dirinya untuk segera melepaskan gadis itu.


"Aku juga akan merindukan mu Reina. Aku akan selalu mengirimkan surat, dan ku harap kau ingat apa yang pernah ku katakan pada mu" Gadis yang telah dibanjiri air mata itu hanya mengangguk pelan.


Varya melepaskan pelukan lalu mengusap kepala Reina. Leon yang di sampingnya merangkul gadis bersurai merah yang akan menjadi pendamping hidupnya. Reina menangis seakan ia takkan pernah bertemu Varya selamanya.


Sudah waktunya Reina pergi, ia melambaikan tangannya dari dalam kereta. Varya hanya tersenyum manis sambil membalas lambaian tangannya. Reina kembali duduk saat melihat Varya yang telah hilang dari pengedaran nya.


"Jika kau mau kita bisa sesekali berkunjung ke sini" Leon tersenyum manis menenangkan gadisnya.


"Terima kasih Leon. Semalam aku bermimpi bahwa nanti Putri akan segera menemukan kebahagiaan nya. Aku berharap semoga mimpi itu jadi kenyataan" Leon menggenggam tangan Reina, ia mengangguk pertanda bahwa ia juga mendukung harapan Reina itu.


Ketika suasana indah itu berlangsung tiba-tiba kereta berhenti tanpa pemberitahuan. Pengawal yang sedang menaiki kuda langsung melaporkan keadaan pada Leon.


"Yang Mulia, seseorang telah menghalangi jalan. Dia bersikeras untuk tidak menyingkir sebelum bertemu dengan anda"


"Siapa orang bodoh itu?" Tanya Leon dengan nada kesal.


"Itu... Tuan Dirto!" Ucap Pengawal itu dengan ketakutan.


"Bawa dia kemari! Si tidak berguna itu, beraninya menghalangi jalan ku!" Pinta Leon yang langsung dilakukan oleh laki-laki berbaju besi itu.


Leon turun dari kereta, ia meminta Reina untuk tidak turun dari kereta apapun yang terjadi. Reina hanya bisa menuruti meski dia sangat gelisah saat ini.


"Apa yang kau inginkan lagi?" Leon menatap sinis laki-laki yang berada di depannya.


"Hey! Bukan ini perjanjian kita? Mengapa kau mengkhianati ku?" Leon menyeringai, ia melihat Dirto dengan kasihan.


"Aku hanya membuang apa yang sudah tak berguna lagi untuk ku. Perjanjian apa? Mengapa kau bisa mempercayai orang yang bahkan telah membunuh saudaranya sendiri" Dirto membulatkan matanya tak percaya.

__ADS_1


Selama ini dia terus mengabdikan dirinya pada Leon yang tak lain kakak biologis yang tak diketahui orang lain. Leon menjanjikan akan membantunya mendapatkan kerajaan sebagai tanda terima kasih untuk nya. Dan sekarang Leon mengatakan sudah membuangnya. Bukankah itu lelucon yang buruk?


"Brengs*k! Aku akan memberitahukan dunia tentang perbuatan mu serta hubungan darah kita!" Murka Dirto, Leon hanya terkekeh geli.


"Aku akan memberikan mu kesempatan untuk pergi dari hadapan ku sekarang! Jika sampai aku melihat mu menginjak kaki lagi dimana tempat ku berpijak aku akan menghabisi mu! Adik yang tak tau diri!" Kecam Leon dengan sorot mata yang menyala.


Dirto terpaksa mundur kali ini, tetapi ia takkan membiarkan Leon hidup tenang. Apalagi Varya yang telah mempermalukan dirinya. Ia tak kan memaafkan mereka, takkan pernah meski ia mati sekalipun.


_________________________


Di sebuah taman di dalam istana terlihat Varya sedang menikmati tea timenya. Suasana tenang yang telah lama ia rindukan. Rumah di mana ia bisa beristirahat dengan nyaman. Walaupun ada pekerjaan yang dia tinggalkan seperti membuka semua surat lamaran yang kembali berdatangan.


"Ah, Finix. Apakah kau sudah mencari tau siapa yang menyebarkan rumor tentang kita?" Tanya Varya pada Finix yang berdiri di samping nya.


Hubungan Varya dan Finix seperti biasanya. Seolah tak ada yang terjadi diantara mereka. Masa kontrak Finix pun hampir habis, tentu saja Varya sangat menyayangkan hal itu. Ia tak bisa memaksa Finix untuk terus bersamanya.


"Rumor itu tak lain di sebarkan oleh Lady Lawrance, Yang Mulia" Varya sudah menduga, dia kembali meminum teh nya.


"Saya sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi pergerakan Duke Lawrance" Lapor Finix lagi.


"Bagus. Kita akan menunggu apa yang akan dilakukan Duke. Ah, bagaimana dengan latihan pedang kita? Tangan ku sudah rindu untuk mengayunkan pedang kesayangan ku" Riang Varya yang tak sabar memegang pedang nya.


"Anda bisa melakukannya kapan pun Anda mau, Yang Mulia"


"Aku akan mulai mengunjungi rumah mu lagi besok Finix. Mohon bantuannya!" Ceria Varya membuat Finix tersenyum.


.


.


.

__ADS_1


.


Begitulah rencana Varya sampai hari ini tiba. Padahal ia kemarin sangat bersemangat, tetapi sekarang malah keringat dingin bercucuran. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya terengah-engah.


Bagaimana tidak? Sekarang posisinya dengan Finix begitu dekat. Finix memegang tangan Varya dari belakang seakan ia sedang memeluk gadis itu sekarang. Hal ini dulu adalah hal biasa karena Finix membenarkan posisi tubuh Varya. Namun, sekarang hal ini benar-benar tidak bisa dibiarkan. Karena sudah tumbuh perasaan diantara mereka berdua.


'Semoga suara jantung ku tak dapat dia dengar! Oh, aku harus fokus sekarang! Fokus lah Varya, fokus!' Batin Varya yang meronta-ronta.


Berbeda dengan Finix yang benar-benar fokus sekarang. Ia sangat serius dalam mengajari Varya. Dia tak boleh mengecewakan gadis itu.


"Apakah Anda sudah mengerti sekarang?"tanya Finix setelah menjelaskan panjang lebar. Sedangkan Varya tak mendengar satupun itu, ia sibuk mendengar degup jantungnya.


"Ah, lebih baik kau mempraktekkan nya dulu. Lagi pula sudah lama aku tak melihat kemampuan berpedang mu yang indah itu. Ini, pakai lah pedang ku" Varya melepaskan diri lalu memberikan pedangnya pada Finix.


Pedang itu begitu ringan, Finix mengayunkan nya dengan gampang membuat Varya berdecak kagum. Andai dia bisa seperti Finix dan bisa menjadi pendamping hidupnya.


"Eh?!" Varya sadar apa yang ia pikirkan. Lagi-lagi pikiran konyol muncul pada dirinya.


Perasaan saat bersama Dirto dulu dia tidak sampai seperti ini. Lalu mengapa sekarang berbeda? Apa karena dia menyembunyikan perasaannya? Ini memalukan, padahal Finix bersusah payah mengajarinya.


Varya menunduk kan kepalanya. Ia mencoba meyakinkan diri, saat ia mengangkat wajahnya. Bukan malah keyakinan bertambah melainkan ia semakin buyar. Wajah Finix berada tepat di depannya. Itu sangat dekat, sama seperti malam itu.


Kejadian malam itu kini kembali berputar di kepala Varya. Pipinya memerah seperti kepiting rebus. Ia segera memalingkan wajahnya.


"Yang Mulia, anda baik-baik saja?". Tanya Finix polos.


"Te-Tentu. Ayo kita istirahat dulu!" Varya segera berlari meneduh.


Finix yang merasakan keanehan, beberapa detik kemudian baru tersadar.


"Sial apa yang kulakukan!"

__ADS_1


...To Be Continued ...


__ADS_2