
"Selamat datang Ratu Astra!" Sambut wanita itu dengan penuh senyuman.
"Maaf baru datang sekarang Reina" Senyum Varya yang begitu menawan. Aura yang dipancarkan gadis itu sungguh mempesona layaknya seorang pemimpin.
"Hallo Velrya, kau begitu cantik hari ini. Maafkan bibi baru datang ya" Varya memegang tangan kecil milih bayi mungil yang memiliki rambut merah muda di gendongan Reina.
Velrya De Ferlya nama yang sengaja disamakan dengan nama Varya. Karena itu permintaan Reina yang begitu mengagumi sang Ratu Akan sekarang. Bayi itu sudah berusia lima bulan, dia begitu menggemaskan dengan dominan mirip sang ayah.
Velrya tersenyum riang melihat wajah Varya. Sosok yang selalu membuat nya tersenyum riang, mungkin itu efek gen yang dimiliki oleh ibunya.
"Rey, tolong berikan kotak itu!" Lelaki itu dengan sigap memberikan sebuah kotak berwarna putih di tangan Varya.
Kotak itu terbuka, di sana terdapat kalung yang sangat manis dengan permata Ruby. Mata Reina berbinar melihat kalung kecil itu. Varya tersenyum manis, ia sangat senang melihat respon ibu dan anak itu.
"Ini untuk mu Velrya... Semoga kau menjadi gadis yang manis dan anggun. Sama seperti permata Ruby ini" Mata Reina kini berkaca-kaca. Gadis berambut dark blue itu selalu terlihat tulus padanya bahkan sekarang pada bayi kecil itu.
Varya sekarang menjadi sosok wanita yang dapat berdiri sendiri. Setelah naik menjadi Ratu Varya banyak melakukan perubahan. Ia juga berhasil memperkuat wilayah Astra. Tak lupa dengan kerja sama yang semakin luas antar negara. Varya kini menjadi sosok yang sempurna tanpa ada yang tau bahwa sekarang ada suatu celah dalam dirinya yang tak bisa disentuh oleh siapapun kecuali orang 'Itu'.
______________
Kini Varya sudah berada di depan makam seseorang. Ia membawa setangkai mawar putih. Varya ingin berdamai dengan masa lalu yang selesai. Ia meletakkan bunga itu, dan menatap nisan yang tertulis nama seseorang.
"Takdir itu mengerikan... Dulu nama mu itu terukir di hati ku. Tetapi sekarang nama mu sudah terukir di batu nisan." Gumamnya sambil memegang ukiran nama itu.
"Kau tidak salah. Hanya lingkungan mu saja yang membuat mu begini. Tak ada yang salah di antara kita, aku begini juga ada sebab dan pastinya kau lah yang menerima akibat. Terima kasih... Telah memberikan cinta dan luka... Kau juga telah memberikan ku kematian dan kehidupan..." Varya terus memandangi batu itu. Ia teringat sosok yang tersenyum menggandeng tangannya. Namun sosok itu juga yang menusuk Varya dengan tangannya.
"Tenanglah di sana. Semoga di kehidupan selanjutnya kau dapat menjadi orang yang baik untuk menebus dosa-dosa mu di kehidupan ini... Selamat tinggal..." Varya bangkit lalu pergi dari sana.
Kuburan yang tak jauh dari istana Ferlya. Dia dimakamkan dengan layak meski kematian nya yang begitu menyakitkan. Varya tak kan menyesal, tak ada keputusan yang benar-benar dia sesali.
__ADS_1
Sudah setahun Varya menghadapi kesendirian lagi. Lebih tepat nya itu kekosongan hati. Dia terus menjalankan tugas tanpa memikirkan hal lain. Sekarang sudah musim semi, dimana bunga-bunga mulai bermekaran. Varya sedang menunggu seseorang yang berjanji akan kembali saat ini. Seseorang yang bagaikan sebuah mimpi panjang untuknya.
.
.
.
.
Desiran ombak di pantai begitu menggelitik. Suara burung-burung yang kembali pulang menemani waktu terbenamnya matahari. Cahaya kemerahan muncul di langit-langit pantai, membuatnya tampak sangat indah. Perlahan cahaya itu hilang digantikan dengan rembulan yang perlahan naik ke atas.
Rambut berwarna dark blue itu berkibar sehelai demi sehelai oleh angin malam. Sudah sedari tadi ia duduk di pasir memandangi lautan yang berada di depannya. Dinginnya malam dengan gaun yang tak berlengan tak menggetarkannya. Bahkan pengawalnya tak bisa mengusik waktu tenangnya itu.
Gadis itu seolah merasakan Deja Vu. Dia pernah ke tempat ini dengan seseorang dan menikmati kesejukan angin malam. Rasanya saat itu jantungnya berdebar dengan kencang tetapi dia belum menyadari perasaannya. Rindu. Satu kata yang dapat mendeskripsikan perasaannya sekarang.
Sejak malam itu, laki-laki itu seakan hilang ditelan bumi. Meninggalkan nya sendirian berpegangan pada janji. Dia terus menunggu tanpa tau pasti lelaki itu akan kembali. Air matanya mengalir membasahi pipi. Tangis dalam diam menunjukkan betapa pedih hatinya saat ini.
Langit malam berbintang. Taburan bintang menyinari kegelapan, indah bagaikan pernak pernik di sebuah lukisan. Gadis itu berdoa di dalam hatinya, ia berharap bintang-bintang mampu membantu mempertemukan dirinya segera dengan sosok lelaki yang begitu ia cintai.
Mata gadis itu tertutup, berdoa dengan penuh keyakinan bersamaan air mata yang masih mengalir. Angin kembali berhembus, bulu kuduknya berdiri namun ia tak mau itu menjadi peganggu dalam doanya.
Tiba-tiba sebuah kain muncul menutupi tubuhnya dari belakang. Wangi yang menyerbak berhasil masuk ke penciuman nya. Wangi yang begitu ia kenal dan ia rindukan selama ini. Matanya terbuka, ia belum berani untuk menoleh ke belakang takut akan kehancuran akan ekspetasi dirinya.
"Varya..."
DEG!
Jantungnya berdegup kencang, ia segera menoleh. Matanya membulat melihat sosok lelaki yang baru saja ia sebut dalam doanya. Tangannya yang bergetar menyentuh wajah itu, benar ini bukan mimpi. Sosok itu terlalu nyata, lelaki itu tersenyum dengan indahnya.
__ADS_1
"Syukurlah! Syukurlah!" Varya langsung memeluk lelaki itu. Dia sangat bersyukur doanya terkabul. Tangisannya pecah, lelaki itu terkekeh sambil mengusap kepala gadis itu lembut.
"Maafkan aku membuat mu menunggu lama" Ucapnya, Varya mencoba melihat wajah lelaki itu. Dia masih sama, masih menjadi sosok yang dia kenal.
"Darimana saja kau selama ini?! Mengapa kau tiba-tiba saja pergi, Finix!" Teriak Varya mengeluarkan semua perasaan yang dia pendam.
Finix tersenyum singkat lalu menjelaskan semua yang terjadi. Varya menutup mulutnya, ia tak menyangka bahwa Finix benar-benar menjadi seseorang yang berhasil dalam waktu satu tahun. Dia membeli sebuah pulau di Ferlya lalu mengembangkan potensi minyak bumi di sana. Dia juga bekerja sama dengan Ferlya, hingga dia berhasil mendapatkan gelas Viscount yang sangat terkenal. Varya pernah mendengar hal ini dia juga bertanya pada Leon siapa orang itu namun lelaki itu tampaknya tak mau memberitahu Varya.
Ternyata inilah alasannya, dia sudah bekerja sama dengan Finix. Dan sekarang Finix sudah menjadi orang yang terpandang hingga ke penjuru negeri dalam waktu yang singkat. Finix berdiri lalu berlutut di hadapan Varya, membuat gadis itu tampak kebingungan. Ia mengeluarkan kotak kecil lalu membukanya, mata Varya berbinar melihat kilauan kecil dari benda itu.
"Bukankah aku berjanji saat menemui mu, aku sudah punya keberanian yang sangat besar sekarang. Varya De Astra, sosok pemimpin yang sangat dihormati serta membawa banyak perubahan bagi negeri ini. Bersedia kah kau menikah dengan ku dan menjalani hidup mu dengan diri ku selamanya?" Air mata yang tadi mengering kini kembali menetes, bukan sedih ini adalah air mata haru.
"Tentu saja Finix!" Varya langsung mencium bibir lelaki itu dengan lembut.
Pantai itu lagi-lagi menjadi saksi bisu bagi cinta mereka. Yang awalnya tumbuh kini menjadi puncak nya. Malam yang sunyi menjadikan momen itu sebagai hal yang paling berharga di dunia ini.
Finix sudah kembali, sejak dia mulai menghilang. Rey menggantikan tempat nya untuk menjaga Varya. Mereka juga sudah berhenti menjadi pembunuh bayaran dan mendapatkan pekerjaan yang lebih pantas. Kehidupan yang pahit kini tergantikan dengan berbagai hal yang manis.
Sama seperti hari ini dimana langit Astra begitu cerah. Dua orang akan mengikat janji suci untuk selamanya di depan banyak orang. Pemimpin kesayangan mereka akan segera memiliki pendamping yang selama ini dia diidamkan. Mereka bergenggaman tangan, dengan perpaduan baju putih serasi antar keduanya.
"Saya bersumpah akan selalu mencintai dan melindungi Varya De Astra sebagai istri saya, bahkan dengan saya akan berkorban nyawa deminya" Ikrar Finix dengan suara yang lantang.
"Saya bersumpah akan selalu mencintai dan merawat Finix Erden sebagai suami saya selamanya" Ikrar Varya sekarang mereka sudah sah menjadi suami istri.
Finix mencium pucuk kepala Varya lalu sorakan dari rakyat terdengar membuat rona merah di wajah Varya muncul. Tak cukup dengan itu Finix mengangkat tubuh Varya, gadis itu tampak begitu terkejut.
"HARI INI AKU UMUMKAN BAHWA VARYA ADALAH MILIK KU SELAMANYA!" Teriaknya menambah sorakan penonton. Varya terkekah karena lelaki itu benar-benar menepati janjinya.
Berawal dari balas dendam, kini ia berhasil menemukan sosok yang benar-benar mencintai dengan tulus. Terkadang terlalu naif itu memang tak baik, kita juga harus tau bagaimana kejamnya dunia dan memikirkan kesalahan orang lain yang terkadang tak dapat dimaafkan dengan percuma. Takdir terus berputar, namun hanya cinta yang dapat merubah semuanya.
__ADS_1
...**END...
HUAAA AKHIRNYA END. MOHON MAAF JIKA TIDAK SESUAI DENGAN EKSPETASI KALIAN, KARENA INI CERITA SAYA BUAT DENGAN SEBAIK MUNGKIN. CEK PROFIL UNTUK CERITA TERBARU** :)