Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 16


__ADS_3

Finix membuka pintu kamar Varya, di sana sudah ada Varya dan Reina yang sedang menikmati makan malam. Menyadari akan kedatangan Finix, Varya menyambut nya dengan senyuman hangat.


"Finix! Apakah tidur mu nyenyak?" Tanya Varya sambil tersenyum.


"Tentu saja. Itu berkat Yang Mulia" Finix menunduk hormat sebagai tanda terima kasih.


"Wah, anda benar-benar putri seperti dalam dongeng yang diceritakan ibu saya, saat saya masih kecil" kagum Reina. Varya hanya terkekeh melihat tingkah polos gadis itu.


"Tentu saja, beliau bahkan lebih baik dari pada putri-putri dalam dongeng. Lihat betapa cantiknya beliau ini" ucap Finix membuat Varya malu.


"Anda benar, tuan pengawal. Saya bahkan hampir menyangka bahwa saya bertemu dengan bidadari sekarang." Reina tersenyum dengan polosnya.


"Ayolah! Berhenti menggoda ku, mari lanjutkan makan malam nya. Finix ayo segera duduk. Kita isi perut kita terlebih dahulu" pinta Varya.


Finix menarik kursi lalu duduk, ia tak heran dengan sikap Varya sekarang. Varya memperlakukan Finix bukan hanya sekedar bawahan saja tetapi patner juga. Perasaan baru ini membuat Finix merasa lebih nyaman dan dihargai.


Setelah mereka selesai makan, Varya langsung ingin memulai pembicaraan serius. Cukup dengan mereka bertiga yang ada dalam ruangan itu.


"Reina, aku melihat mu seperti kau sudah terbiasa menjadi bangsawan dengan etiket yang benar-benar telah di kuasai. Apakah kau pernah diajari hal itu sebelumnya?" Tanya Varya yang melihat Reina tadi.


"Sebenarnya saya belum pernah mempelajari ini. Tetapi saya pernah melihat ini di mimpi ku. Dimana saya memakai gaun yang bagus dan mempelajari etiket-etiket bangsawan. Apakah yang saya melakukan nya dengan benar?"

__ADS_1


"Tentu, itu sudah sangat sempurna. Apakah di dalam mimpi mu kau melihat saat mempelajari hal itu kau sedang berada dimana?"


"Eum, saya tak begitu ingat. Tetapi saya hanya tau itu seperti berada dalam mansion yang besar" jawab Reina singkat, Varya tak mau menanyakan hal itu lebih lanjut. Ia tak ingin membuat Reina merasakan sakit saat mengingat mimpinya.


"Reina, bisakah kau menceritakan sedikit tentang dirimu? Aku tak butuh banyak, mungkin cukup sepatah dua patah kata saja. Aku ingin mengenal mu agar bisa terus membawa mu bersama ku"


"Sebenarnya aku adalah anak angkat dari sepasang suami istri yang miskin di sebuah desa terpencil. Mereka mengatakan menemukan diriku di hutan saat mereka sedang mencari kayu bakar. Mereka tidak bisa mempunyai keturunan maka menemukan aku adalah suatu anugerah bagi mereka.


Mereka menghidupi ku dengan kerja keras. Aku begitu bahagia hidup dengan mereka walaupun kami hidup pas-pasan. Hingga suatu hari bencana melanda desa kami saat aku berusia tujuh belas tahun, tepat nya dua bulan lalu. Desa dan rumah ku mengalami kebakaran, aku dan ibu berhasil selamat namun ayah tertimpa reruntuhan rumah. Saat ayah sudah tiada ibu sakit-sakitan, itu adalah masa yang sangat sulit untukku. Hingga akhirnya ibu menyusul ayah, aku yang kehilangan arah.


Lalu diseret dengan paksa orang-orang yang mengerikan, mereka menjual ku ke pelelangan budak. Aku merasa menderita, hingga suatu malam aku bermimpi. Dan mimpi itu berhasil membuat ku melarikan diri dari penjara itu. Saat aku berlari di kegelapan malam hanya kalung ku yang mampu menuntun arah ku. Kini aku benar-benar percaya bahwa mimpi ku benar, menuntun diri ku padamu. Gadis di dalam mimpi ku..." Varya dengan lembut menyapu air mata Reina setelah ia selesai dengan cerita panjang nya.


Varya tau apa yang dirasakan oleh gadis itu saat ini. Di kehidupan sebelumnya ia sangat pendiam, mungkin ini lah sebabnya. Meski Reina mendapatkan cinta dan kekuasaan tetapi susah untuk pulih dari lukanya.


"Tidak apa Reina. Itu tidak masalah untuk ku, selama diri mu nyaman kau boleh mengatakan apa saja hal yang kau inginkan. Kau sudah bertahan selama ini pasti sulit, tenanglah sekarang kau aman bersama ku. Terima kasih sudah percaya pada ku" Varya memeluk gadis itu dengan penuh kasih sayang, ia seperti memeluk adik perempuan nya sekarang.


Reina yang merasakan kehangatan itu tak bisa lagi menahan air matanya. Ia membalas pelukan itu dengan erat hingga tangisan nya pecah. Fini yang melihat itu tersenyum, ia melihat pemandangan yang sangat mengharukan sekarang. Ia melihat lagi sosok Varya yang lain sekarang.


Varya yang biasanya tegas dan kuat kini menjadi lemah lembut dan sangat penyayang. Finix sampai bingung karena gadis itu begitu sempurna sekarang. Varya memiliki semua hal yang tak dimiliki oleh gadis biasa.


'Kau begitu luar biasa Putri Varya...'

__ADS_1


_________________


Pagi harinya Varya sudah memulai perjalanan kembali. Ia di kereta bersama dengan Reina dan Finix. Keputusan yang tepat untuk membawa Reina ke Ferlya, di sana ia akan menemukan masa depannya. Tapi kali ini Varya tidak akan membiarkan Reina diambil begitu saja oleh sang raja.


Gadis polos ini terlalu banyak mengalami penderitaan di masa lalu akibat ke egoisan raja. Ia hampir celaka berkali-kali karena kecemburuan gadis bangsawan Ferlya yang ingin menjadi Ratu. Kali ini Varya berniat untuk mengajari Reina lebih kuat bersama dirinya, baru ia akan melepaskan Reina pada orang yang mencintai dirinya.


"Wah! Yang Mulia lihat kita melewati jalan yang di penuhi bunga!" Riang Reina melihat bunga-bunga di pinggir jalan.


Saat mengatakan bunga, Varya langsung melirik Finix. Jika diibaratkan dengan bunga maka Finix adalah mawar, bunga yang dapat menyakiti orang yang tak berhati-hati dengan nya.


"Ada yang ingin anda katakan Yang Mulia?" Tanya Finix yang menyadari diri nya sudah diperhatikan.


"Tidak ada. Hanya saja, pengawal ku selalu tampak hebat setiap saat" pipi Finix merona saat mendengar hal itu membuat dirinya memalingkan wajah.


Varya terkekeh melihat tingkah Finix, lelaki itu sangat mudah untuk di goda. Wajah nya yang tersipu sangat menggemaskan. Ini adalah hal menyenangkan untuk dilakukan oleh Varya, ia ingin terus melihat Finix seperti itu.


"Yang Mulia Putri, apakah raja Ferlya menakutkan?" Tanya Reina. Varya agak terkejut karena Reina tiba-tiba menanyakan calon suami masa depannya itu.


"Entah lah, kita akan tau saat kita sampai di sana. Dan kita harus hati-hati saat bertemu dengan nya kau mengerti Reina!" Ucap Varya dengan wajah seriusnya membuat Reina membulatkan matanya.


"Siap, saya mengerti" jawab Reina dengan wajah seriusnya yang membuatnya imut.

__ADS_1


"Bagus, anak pintar" Varya mengusap kepala Reina dengan lembut nya.


...To Be Continued...


__ADS_2