
Aula pesta terlihat sangat ramai, banyak tamu yang berdatangan. Bagaimana tidak, hari ini adalah hari ulang tahun putri tunggal raja Astra. Tentu saja mereka tak boleh melewatkan hal itu. Terlihat seorang lelaki dengan angkuhnya berjalan memasuki aula, setelah sekian lama, ia akhirnya bisa masuk ke dalam istana lagi. Orang-orang berbisik melihat kedatangannya, dia adalah tunangan Putri Astra yaitu Dirto. Malam ini ia pastikan akan membujuk Varya untuk kembali padanya di depan orang ramai. Pasti gadis itu tak menolak.
'Hei lihatlah, dia datang sendirian. Apakah rumor itu benar dia telah di campakkan' bisik salah satu tamu yang berhasil terdengar di telinga Dirto. Ia menyeringai, entah siapa yang berani menyebarkan rumor itu ia pasti akan menghukumnya.
Matanya melirik sekeliling, hingga ia berhenti pada seorang pria berambut perak. Tampaknya lelaki itu sedang asik berbincang dengan orang di depannya. Saat Dirto ingin menghampirinya, suara terompet berbunyi.
'Keluarga Kerajaan memasuki aula!' Umum seorag lelaki membuat semua orang di sana menghentikan aktivitasnya.
Raja dan Ratu masuk dengan anggunnya, semua orang di sana menunduk hormat kecuali raja-raja lain. Pusat perhatian tertuju pada seorang gadis yang menyusul, ia menggandeng seorang lelaki yang gagah dengan setelan pakaian senada. Dirto membulatkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang dia lihat. Sekarang tunangannya sedang menggandeng lelaki lain, yang sebelumnya diketahui sebagai pengawal pribadinya.
Mereka kemudian duduk di singgahsana, gadis berambut dark blue itu masih berdiri karena dialah tokoh utama hari ini. Gadis itu tersenyum manis, membuat kecantikannya tampak sangat memikat hati.
"Hadirin sekalian, saya Varya de Astra mengucapkan terima kasih pada anda semua yang telah menghadiri acara saya malam ini. Sungguh saya sangat terhormat kepada tamu yang jauh bisa menyempatkan diri untuk hadir di sini. Semoga perjamuan yang telah saya siapkan mampu membuat anda semua nyaman. Demi kemakmuran Astra, mari kita bersulang!" Gadis itu mengangkat gelasnya, diikuti oleh semua orang di sana. Itu juga merupakan tanda dimulainya pesta.
Musik mulai dimainkan, orang-orang penting mulai mengantri untuk memberikan hadiah kepada sang putri. Varya tampak puas dengan suasana pesta yang telah dia persiapkan. Hingga masuklah sesi dansa, Varya tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melirik Finix yang berada di sampingnya, lelaki itu tampak paham apa yang dimaksud gadis itu.
"Yang Mulia, bolehkan anda memberikan dansa pertama untuk saya?" Finix mengulurkan tangannya, Varya menganggukkan kepalanya lalu menerima uluran itu.
Varya dan Finix menuju ke lantai dansa, mereka memberi salam satu sama lain. Semua orang di sana tak bisa melepaskan pandangan dari mereka, apalagi dengan tarian yang sempurna itu. Banyak juga yang berbisik-bisik, karena tarian pertama biasanya dilakukan oleh tunangan sang putri. Tetapi tidak dengan malam ini, Varya lebih memilih untuk berdansa dengan pengawalnya dari pada tunangannya.
Varya menyeringai mendapati Dirto dengan wajah yang sangat kesal. Tak ada yang perlu ia takuti lagi, malam ini ia akan memberikan pukulan telat kepada lelaki itu.
"Yang Mulia, anda tidak boleh memalingkan wajah saat sedang melakukan dansa" Varya kembali menatap wajah Finix. Lelaki itu sangat tampan hari ini, tak sia-sia ia memesankan baju untuk nya. Meski awalnya Finix tak mau menerimanya karena harganya yang terbilang mahal.
__ADS_1
"Maafkan aku Tuan Finix. Aku hanya tak sabar menanti jatuhnya seseorang malam ini" Senyum Varya.
"Saya rasa itu akan menjadi kado terindah untuk anda."
"Tentu saja. Aku sangat bersyukur semua berjalan sesuai keinginan ku." Varya memutar badannya mengikuti iringan musik.
Tak terasa Varya berhasil menarikan satu lagu dengan Finix. Mereka saling menunduk hormat, Varya juga tak menyadari bahwa seseorang menghampiri dirinya.
"Varya, bisakah aku meminta waktu mu sebentar?" Ucap Dirto yang ternyata sudah ada di hadapan Varya.
"Tuan, anda sudah bertindak tidak sopan!" Finix menatap tajam Dirto.
"Hey, itu bukan urusan mu. Dia tunangan ku!"
"Cukup Finix" Varya berjalan mendekati Dirto. Lelaki itu tersenyum puas karena mengira Varya membela dirinya.
"Ah, aku melupakan sesuatu. Finix tolong bantu aku!" Finix mengerti, detik selanjutnya musik berhenti dan lampu mati, hanya satu lampu yang mengarah pada Varya.
"Hadirin sekalian! Maafkan saya yang lupa memberikan suatu pengumuman penting malam ini. Harap di dengarkan baik-baik, mulai detik ini Aku, Varya de Astra putri dari kerajaan Astra memutuskan pertunangan ku dengan Dirto Axia. Dan sekarang Tuan Dirto dilarang menginjakkan kaki ke istana lagi dengan alasan apupun!" Semua terdiam hening, Dirto tak percaya dengan situasi ini.
"Tidak! Kau tidak bisa memutuskan ini. Astra dan Ferlyia akan berperang lagi jika ini terjadi" Sanggah Dirto. Varya terkekeh kecil, ia mengambil gulungan kertas yang diberikan Reina.
"Aku sudah membuat perjanjian dengan Ferlyia, dimana kami tetap dalam perdamaian meski hubungan mu dan aku sudah tidak ada. Kau sangat tidak sopan, maka dari itu aku melarang mu untuk ke istana lagi, Dirto! Sekarang pergilah, atau kau akan diseret secara paksa."
__ADS_1
"Tidak Varya! Kau berbohong benarkan raja Ferlyia" Dirto melirik lelaki itu, namun dengan cepat Leon memalingkan wajah nya.
"Pfft" Varya rasanya ingin tertawa sekarang. Lalu ia melirik Finix untuk membereskan semua.
"Ah, satu hal lagi Dirto. Di surat ini juga mengatakan bahwa kau bukan lagi bagian dari Ferlyia. Eum, jadi jangan pernah mengusik raja Ferlyia lagi. Kau mengerti?" Varya memalingkan wajahnya. Dirto diseret pergi oleh pengawal.
Suasana itu terlihat ricuh, Varya hanya mampu meneguk segelas wine kemenangan nya. Tinggal beberapa langkah lagi, ia tak kan membiarkan lelaki itu hidup meski kehidupan nya sudah hancur.
"Saya tak menyangka anda melakukan pertunjukan itu hari ini Putri." Ucap Leon yang menghampiri Varya.
"Apakah anda sedang resah sekarang?" tanya Varya balik. Leon hanya terkekeh kecil.
"Mana mungkin hal itu terjadi. Lagi pula aku akan membawa sesuatu yang penting setelah pulang dari sini. Aku harap kau menepati janji mu" Varya kini yang terkekeh.
"Anda benar-benar tidak sabaran. Karena saya bukan majikan yang kejam saya akan memikirkan nya nanti. Saya juga tak mungkin membiarkan pelayan kesayangan saya terus bersedih bukan?" Varya meneguk wine nya lagi.
"Aku berterima kasih pada mu. Aku akan membuat hubungan kedua kerajaan ini sesuai dengan yang kau inginkan putri."
"Wah, saya sangat terhormat. Silahkan nikmati jamuannya saya harap anda nyaman di Astra" Varya pamit undur diri.
Ia tak hanya pergi dari Leon tetapi juga meninggalkan aula sementara. Sesampainya di tempat yang tak ada orang, Varya terduduk lemas di lantai.
"Huff... ini melelahkan"
__ADS_1
...To Be Continued...