
Pesta ulang tahun itu berlangsung dengan meriah. Namun, para tamu yang hadir asik mencari keberadaan sang tokoh utama hari ini. Tak lama setelah pidato Marquis berakhir, Bella muncul bersama Varya.
Semua orang menyambutnya dengan tepukan tangan. Bella yang menjadi pusat perhatian tentu membungkuk badan hormat kepada para hadirin.
Bella lalu menyampaikan sepatah, dua kata pada acara itu. Varya mengambil posisi yang agak jauh dari keramaian. Ia tak ingin membagi perhatian dengan Bella. Gadis itu yang harus menjadi pusat perhatian hari ini bukan dia. Meskipun kehadiran Varya di luar dugaan orang-orang.
Varya menyandarkan punggungnya di dinding. Dia bukan tipe orang yang menyukai tempat ramai. Di sini bahkan ia merasa sesak. Padahal kerajaan adalah tempat dimana keramaian akan ada.
"Yang Mulia, silahkan minumannya"Finix menyodorkan wine kepada Varya.
"Ah~ aku tidak suka wine. Cari kan saja jus buah untuk ku"pinta Varya yang langsung dituruti oleh pengawalnya itu.
Varya memang tak suka wine, tetapi ada kala ia harus meminum hal itu contohnya di acara perjamuan besar kerajaan, dan kadang ia meminumnya saat ia mengalami stress berkepanjangan.
"Hm~" gumam Varya ketika melihat tiga orang gadis menghampiri dirinya.
Gadis paling depan tampaknya adalah pemimpin mereka dan gadis itu pula yang sangat suka berurusan dengan Varya.
"Salam untuk Yang Mulia Putri Astra" tunduk hormat mereka serentak.
Varya hanya membalas dengan anggukan kepalanya. Kini Varya mengatur posisi tubuh dengan bagus. Ia harus memposisikan diri agar bisa dihargai bukan?
"Kami sangat senang bisa melihat Yang Mulia datang ke sini. Bukan kah ini suatu keajaiban? Yang Mulia Putri menghadiri sesuatu yang tak resmi." Ucap gadis berambut pirang yang tak lain adalah Grace Natalie Lawrence.
"Kalian benar~ tapi bukan kah suatu keharusan untuk menghadiri ulang tahun seorang teman?"
"Apa? Teman?" Grace bingung, karena Varya sama sekali tak pernah memiliki teman.
"Ah~ jadi kau berpikir bahwa aku Putri Astra tak memiliki seorang teman? Kau ingin menghina ku Lady?" Varya memicingkan matanya membuat Grace dan dua pengikut nya terkejut.
"Maafkan saya Yang Mulia. Tetapi saya hanya mendengar rumor bahwa anda tak mempunyai teman selain tunangan anda. Ups" Grace terkekeh kecil setelah mengatakan hal itu.
"Bagaimana dengan kalian?"
__ADS_1
"Kami? Apakah kami teman anda?" Tanya Grace mencoba menahan tawanya.
"Tentu saja tidak. Kalian adalah bawahan ku bukan?" Sekarang giliran Varya terkekeh kecil.
Grace terlihat kesal akan hal itu. Namun saat ini Grace mencoba mengendalikan emosinya. Ia tak ingin mempermalukan dirinya di depan publik sekarang.
"Pfttt" Varya hampir tak bisa menahan tawanya. Untung lah mereka tak mengundang perhatian.
Rasa kesal semakin memuncak membuat Grace memikirkan rencana jahatnya. Ia sengaja menghalangi jalan seorang pelayan yang sedang lewat sambil membawa segelas wine. Hingga pelayan itu tak sengaja menjatuhkan minuman itu ke gaun merah muda Varya.
"Ma-maafkan sa-saya Yang Mulia! Saya melakukan kesalahan!" Teriak pelayan itu, kini perhatian tertuju pada mereka.
Varya menatap tajam Grace, ini terlalu kekanak-kanakan untuk nya. Varya berjalan mendekati Grace, ia menatap lekat-lekat gadis itu.
"Lady... Apakah anda ingin mengakui permintaan anda dan meminta maaf?" Tanya Varya dengan nada halus nya.
"Ha? Memangnya apa yang sudah saya lakukan Yang Mulia? Pelayan itu yang salah karena tak berhati-hati. Lalu apa hubungannya dengan saya?" Elak Grace dengan tenang.
Grace sangat yakin bahwa Bella akan membelanya dan Varya pasti akan malu dengan sendirinya. Terlebih Varya tak punya siapa pun yang mendukungnya, pikir Grace.
"Apa yang anda katakan Lady? Saya menyaksikan sendiri anda lah yang membuat pelayan itu jatuh hingga membuat gaun Yang Mulia Putri kotor." Grace membulatkan matanya, ia tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"A-apa yang kau katakan Bella?!"
"Saya hanya mengatakan yang sebenarnya, bahkan ada juga saksi selain saya di sini" Grace mulai panik melihat sekelilingnya yang menatapnya tajam.
Ia melihat Varya yang menyeringai sekarang. Gadis berambut pirang itu berhasil terpojok.
"Jadi bagaimana lady? Atau kau perlu aku untuk menyampaikan pada Duke atas tingkah laku mu ini?".
"Tidak Yang Mulia.! Saya mohon maaf, ini murni kesalahan saya dan saya menyesal"ucap Grace sambil menunduk malu.
"Ah~ Kau bukan minta maaf kepada ku, namun kepada pelayan itu" Varya menunjuk pelayan yang jatuh tadi.
__ADS_1
"Mengapa harus kepada pelayan?"
"Apakah kau ingin melanggar perintah ku!" Varya meninggikan suaranya.
"A-ku minta maaf pada mu."ucap Grace kemudian langsung pergi dari sana.
Varya tersenyum melihat langsung gadis itu yang tak imbang ia pasti sangat malu sekarang. Teman yang ia percaya mengkhianatinya. Itu adalah karmanya, dan Varya lah yang akan menjadi karma baginya seumur hidupnya.
"Bella, aku harus pamit. Hal yang kau lakukan tadi, benar-benar membantu ku. Semoga kita bisa berteman dengan baik ke depannya"
"Tentu saja Yang Mulia. Saya akan selalu ada untuk anda"Bella menunduk hormat.
Varya kemudian melangkah pulang. Ia harap kejadian tadi bisa menjadi peringatan bagi bangsawan lainnya untuk tak meremehkan dia lagi dengan seenaknya.
Ini baru permulaan saja, ia harus menjalani hari yang lebih panjang lagi. Dan dia harus terus menguatkan dirinya untuk terus berjuang meski sendirian itu menyakitkan.
"Yang Mulia!" Teriak seseorang membuat Varya terhenti di lorong gelap itu.
"Finix...." Varya melihat lelaki itu berlari menuju ke arahnya dengan segelas minuman bewarna oranye.
"Mengapa anda langsung pergi? Saya sudah dari tadi memegang minuman untuk anda?" Varya tak menyangka bahwa Finix masih membawa minuman yang ia minta tadi.
"Silahkan diminum Yang Mulia, anda sudah sangat lelah berjuang sampai hari ini. Terima kasih atas kerja keras nya" Finix tersenyum kepada Varya.
Varya tertegun mendengar kalimat yang keluar dari mulut lelaki itu. Bagaimana bisa Finix tau ia begitu lelah saat ini? Dan kata terima kasih itu sungguh menyentuh bagian yang tak pernah di sentuh oleh siapa pun pada diri Varya.
"Haha, pengawal ku yang imut" Varya terkekeh lalu mengambil minuman itu.
Ia meneguk minuman itu dengan sekali tegukan, membuat Finix tersenyum lega. Sikap Varya sekarang seperti anak-anak, sangat menggemaskan bagi Finix. Benar dugaan nya, Varya masih gadis yang rapuh tapi ia seakan tak mau dunia mengetahui hal itu. Ia sangat menantikan hal apa lagi yang akan dilakukan gadis berambut dark blue itu, seakan kini Astra akan berada dalam genggamannya.
"Ayo kita pulang. Kita harus berjuang lagi untuk besok!"
...To Be Continued ...
__ADS_1