
Hari ini adalah hari kepulangan Varya, ia mampir ke istana terlebih dulu untuk pamit pada Raja Ferlya. Leon tak lupa menghadiahkan banyak barang sebagai cendera mata untuk Varya bawa pulang. Tak terasa ia sudah setengah bulan di sini. Dan di bulan depan Varya mengadakan pesta ulang tahunnya. Pesta itu direncanakan sebagai pesta ulang tahun Varya terakhir di istana, tetapi sekarang Varya tak kan menjadikan itu pesta terakhirnya.
"Terima kasih atas sambutan Anda selama kami berada di Ferlya. Kerajaan anda benar-benar mengagumkan. Saya akan menyiapkan tempat untuk anda di Astra. Saya akan menunggu kedatangan anda Yang Mulia" Varya menunduk hormat.
"Tentu saja ini tak seberapa Putri. Aku pasti akan segera datang ke Astra dan membawakan hadiah yang terbaik untuk mu" Leon tersenyum lalu melirik Reina yang ada di belakang Varya. Reina yang menyadari itu hanya menunduk malu.
Varya lalu naik ke kereta, lalu mereka mulai melakukan perjalanan pulang. Banyak hal yang terjadi di Ferlya, ia berharap suatu saat bisa ke sana lagi. Rencana Varya berhasil berjalan mulus tanpa kendala apapun.
Ia juga sudah mengajari Reina banyak hal tentang kerajaan. Gadis itu juga cepat tanggap, ia sudah menyiapkan rencana untuk nya dan sudah membeli sebuah gelar.
"Reina, jika ada seseorang yang meremehkan nanti. Kau tidak perlu mendengarkannya, jika sampai ia menyakiti mu kau hanya perlu membalas nya, tenang saja aku selalu ada bersama mu kau mengerti?"
"Tentu saja Yang Mulia. Tuan Finix juga sudah mengajari saya bela diri. Saya tidak akan menjadi gadis yang lemah lagi" Reina tersenyum manis meski tampak kesedihan di matanya.
Varya menduga itu karena perpisahan dengan Leon, tampaknya Reina sudah sangat jatuh hati padanya. Tetapi Varya belum saatnya menyerahkan Reina ke tangan Leon, ia akan melihat bagaimana perkembangan Reina di Astra nanti. Apakah gadis itu memang sudah bisa berdiri sendiri atau masih menjadi seorang gadis yang lemah?
Varya sekarang melihat dirinya ada pada Reina, dan sekarang mereka sama-sama berjuang untuk menjadi seseorang yang mampu berdiri sendiri tanpa bantuan dari orang lain.
_____________________________
BRAK!
Semua yang ada di meja kayu itu jatuh berhamburan ke lantai. Seorang lelaki sedang marah hingga melampiaskannya ke benda sekitarnya. Ia begitu kesal karena tak kunjung mendapatkan balasan dari kerajaannya.
"Ah! Apa yang di lakukan oleh laki-laki sialan itu sekarang?! Dia bahkan tak membalas surat ku lagi setelah aku bilang bahwa Varya memutuskan pertunangannya. Apa dia bermaksud untuk tak peduli lagi!?" Lelaki itu adalah Dirto, mantan tunangan Varya meski itu belum resmi.
Ia terselimuti kegelisahan sekarang, bahkan ia tak bisa menginjakkan kakinya di istana Astra karena perintah Varya. Ia juga sudah mendengar bahwa sekarang gadis itu tak ada di istana. Saat dia kembali Dirto akan mencoba untuk menemui nya lagi dan membujuk nya untuk tak membatalkan pertunangannya.
__ADS_1
Rencana yang telah lama ia susun ini tak boleh sia-sia. Dirto sudah memimpikan tahta sejak lama, di Ferlya dia tak bisa naik ke tahta karena dia adalah anak haram dari seorang pelayan. Ia terpaksa menjadi tangan kanan Leon dan Leon menjanjikan bahwa Dirto bisa mendapatkan tahta di Astra dengan menikahi Varya.
Tetapi kejadian aneh terjadi, gadis itu seolah menjadi orang lain. Ia bahkan menatap Dirto dengan penuh kebencian, sial! Apakah dia harus membunuh gadis itu sekarang dan merampas paksa tahta?!
Dia juga mempunyai dukungan Duke Lawrance, pasti dia dengan mudah menjalankan rencananya. Tetapi ini bukan waktu yang tepat terlebih lagi Varya akan mengadakan pesta ulang tahun bulan depan.
Ah, dia mendapatkan ide. Dia akan mencoba membujuk gadis itu di depan orang ramai. Pasti gadis itu akan luluh dengan sikap romantis Dirto saat itu. Benar, itu rencana yang sempurna sekarang Dirto akan menyiapkan semuanya.
"Aku akan membuat mu bertekuk lutut lagi pada ku Varya"
____________________________
Varya sudah dua hari melakukan perjalanan. Hari ini mereka beristirahat di hutan. Varya memanfaatkan waktu itu untuk berlatih dengan pedang barunya.
"Anda yakin akan menggunakan pedang itu langsung Putri?" Tanya Finix tak yakin, namun gadis itu tampak sangat bersemangat.
Finix memasang pertahanan, ia melatih Varya untuk menyerang. Dan dasar-dasar penyerangan sudah Finix ajarkan. Setelah merasa siap gadis itu menyerang Finix.
TRANG!
Finix berhasil menahan serangan Varya. Ia juga sangat kuat dalam memasang pertahanan. Varya menyerangnya secara beruntun. Pedang di tangannya terasa sangat ringan.
TRANG!
Pedang Varya berhasil terlempar. Varya mengangkat tangannya sebagai tanda menyerah. Itu begitu melelahkan tetapi terasa menyenangkan juga. Sudah lama ia tak berlatih dengan Finix.
"Anda ternyata sudah lebih baik dari sebelumnya. Itu sangat bagus Yang Mulia" Puji Finix membuat mata Varya berbinar.
__ADS_1
"Benarkah? Syukurlah, ini berkat Blue Sea ku ini. Dia benar-benar sangat ringan. Aku tak rugi menghabiskan seluruh uang saku ku selama sebulan" Varya memasukkan pedang itu kembali ke sarungnya.
Varya dan Finix duduk sebentar di bawah pohon yang rindang. Hutan ini terasa sangat damai, namun lebih baik mereka tak terlalu lama meninggalkan rombongan. Varya mengajak Finix untuk kembali, ia sudah lapar dan ingin menikmati makan siangnya.
Finix mengiyakan, mereka lalu kembali. Saat kembali ternyata banyak orang yg sedang beristirahat, termasuk Reina. Ia tertidur di dalam kereta kuda. Pasti sangat melelahkan bagi gadis itu, ia mengalami pengalaman yang sangat berat di hidupnya.
"Yang Mulia, makanan sudah siap. Apakah saya boleh membangunkan Reina?" Varya menggeleng kepalanya.
"Tidak apa-apa, biarkan aku yang membangunkan nya" Finix mengerti lalu meminta izin untuk pergi terlebih dahulu.
Varya masuk ke dalam kereta, ia menemukan lengan Reina. Gadis itu tampak nya sangat terlelap.
"Reina... Bangun! Ayo kita makan siang!" Gadis itu menggeliat mendengar namanya di panggil.
Ia membuka matanya perlahan, saat kesadaran nya belum terkumpul semua, di matanya tampak seorang lelaki yang sedang ia rindukan.
"Leon..." Gumam nya. Varya merasa kebingungan saat itu.
"Hey Reina! Bangun lah ini aku Varya bukan Raja Ferlya" Reina membulatkan matanya. Sekarang kesadarannya sudah kembali sepenuhnya.
"Hah! Eh! Mohon maafkan saya Yang Mulia" Reina bersikap kikuk sekarang membuat Varya tertawa.
"Hahaha. Sudah lah, ayo kita makan. Memikirkan Raja Ferlya tak kan membuat mu kenyang Reina" Sontak rona merah muncul di pipi Reina.
"Ti-tidak Yang Mulia anda salah paham!!"
...To Be Continued ...
__ADS_1