Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 08


__ADS_3

"Akh!" Varya meringis kesakitan saat Finix mengoleskan obat di telapak tangannya yang terluka.


Sudah 2 Minggu Varya berlatih pedang, meski itu tak rutin. Tetapi Varya sudah bisa memegang pedang dengan benar dengan hasil tangan penuh luka kecil.


"Saya rasa hari ini sampai di sini saja Yang Mulia. Kita akan berlatih lagi saat telapak tangan anda sudah membaik. Tidak baik bagi tangan yang cantik ini terluka lebih dalam lagi" Ucap Finix sembari menutup kotak obatnya.


"Aku sebenarnya masih ingin lagi, ini bukan apa-apa untuk ku. Namun aku tak ingin membuat khawatir orang tua ku nanti" Varya melihat telapak tangannya yang di perban.


Ia sudah menyuruh Finix untuk mendapatkan obat yang penyembuhannya cepat. Varya tak peduli semahal apapun itu dia akan membelinya. Tetapi ia tak menyangka malah Finix yang meracik obat itu sendiri, lelaki itu berkata bahwa ia sering membuat obat itu saat ia terluka dan hasil nya benar-benar efektif. Meski mulanya ia hanya melakukan uji coba pada diri sendiri.


Varya bersyukur akan hal itu, ia tak salah memilih orang nya. Varya pasti akan memberikan upah yang setimpal pada lelaki berambut hitam itu nanti.


"Yang Mulia apakah Raja dan Ratu tak menanyakan luka anda itu?"


"Tidak. Aku belum sempat bertemu mereka. Kami sibuk dengan urusan masing-masing, ada saat kami sempat bertemu di meja makan. Saat itu luka ku belum separah ini, jadi aku bisa mengatasinya dengan baik. Aku akan membuat alasan untuk tak mengikuti makan malam yang akan datang sampai tangan ku sembuh." Jelas Varya, baru kali ini ia menjadi anak yang tak menurut pada orang tuanya.


Ada perasaan khawatir pada diri nya, tetapi Varya tak punya pilihan lain. Ia akan menjadi anak pembangkang untuk menyelamatkan keluarga nya.


"Semoga anda tak bertemu dengan Raja dan Ratu untuk saat ini"


"Ya semoga saja" Harap Varya, ia tak ingin bertemu dengan mereka dulu.

__ADS_1


"Yang Mulia saya mendengar Marquis sekarang berhasil membuat suatu proyek pada tanah yang baru ia dapatkan. Katanya Lady Bella yang ada di balik semua itu. Semua orang memuji nya sekarang" Lapor Finix setelah mendengar perbincangan publik akhir-akhir ini.


"Kau benar, dia melakukan apa yang kita katakan dan lihatlah sekarang ia berhasil. Dia terus mengirimi ku surat terima kasih sejak saat itu. Dan sebentar lagi kita akan melihat kemurkaan Lady Grace yang manis." Seringai Varya mengingat Grace sudah kehilangan satu pengikutnya.


"Anda benar-benar hebat Yang Mulia, mampu memperhitungkan semua dengan baik. Bahkan anda tau dimana kita bisa mendapatkan surat itu. Banyak sekali koin emas yang kita hambur kan untuk itu" sebenarnya Finix yang mendapat surat itu di pelelangan ilegal. Ia menghabiskan uang yang diberikan Varya untuk itu. Finix yang menyukai uang sangat menyayangkan hal itu.


"Tidak apa, itu setara dengan kesetiaan yang diberikan Marquis Frod kepada ku. Sekarang tinggal ke rencana selanjutnya Finix, kita harus membuktikan eksistensi seorang calon pemimpin kepada rakyat. Ini sebuah rencana berbahaya, ku harap kau bersiap menghadapi jalan kita ke depannya"


Varya sudah menyiapkan sebuah rencana yang mana rencana itu yang membuat dia akan diakui sebagai pewaris tahta sesungguhnya. Dan hal itu juga akan menjadi alasan untuk pemutusan tali pertunangan nya. Rencana ini sangat beresiko karena saat rencana ini gagal maka Varya juga akan kehilangan semua usaha serta kerjaan nya.


"Tentu saja Yang Mulia. Sudah tugas saya untuk melindungi sang Putri Mahkota"


_______________


"I-IBU!" Teriak Varya saat mendapati Ratu yang berada di kamarnya.


Bukankah tadi ia baru berharap untuk tak bertemu dengan orang tuanya? Sekarang dewi keberuntungan tak berada di pihaknya. Untunglah Varya memakai sarung tangan putih, hingga perbannya tak terlihat.


"Varya, kenapa kau baru pulang sekarang? Apakah kau terlalu sibuk dengan Lady Frod?" Tanya Ratu.


Varya mengatakan pada pelayan bahwa ia pergi ke kediaman Bella hari ini. Saat dia keluar ia kadang tak mengatakan kemana, hari ini ia menggunakan alasan itu agar tak dicurigai. Varya juga sudah meminta bantuan Bella untuk mengurus hal itu.

__ADS_1


"Ah, tadi kami sedikit lupa waktu ibu. Aku minta maaf karena membuat ibu menunggu." Sesal Varya dengan kebohongannya.


Ratu kemudian menyuruh Varya untuk duduk bersama nya terlebih dahulu. Ratu kemudian membaringkan kepalanya Varya di pangkuannya, membuat Varya sedikit terkejut.


"Putri ku sudah sebesar ini... Apakah kau sekarang masih kesepian nak?" Tanya Ratu sambil mengelus rambut panjang Varya.


"Bagaimana aku bisa kesepian? Ayah dan ibu ada bersama ku... Aku selalu mendapatkan kasih sayang kalian yang terkadang banyak orang yang iri melihatnya. Ibu tau? Aku sangat beruntung bisa terlahir sebagai Putri Ibu dan ayah."Varya merasa seakan rasa lelahnya hilang sekarang.


Mendapatkan hal seperti ini benar-benar membuatnya bersyukur bisa mengulang waktu lagi. Cinta orang tuanya tak bisa menggantikan apapun di dunia ini. Maka dari itu Varya betah untuk selalu berada di istana walaupun tanpa memiliki teman.


"Bukan kah kau juga mempunyai cinta mu nak? Yang tak akan membuat mu kesepian, yang selalu membuat hari mu bersemangat" Varya tersenyum kecut mendengar hal itu.


"Itu.... Dulu ibu, perasaan ku berubah seiring berjalannya waktu. Aku tersadar, bahwa belum ada kasih sayang yang mampu dia berikan sebesar kalian berikan kepada ku. Aku juga sadar tak bisa menjalani suatu hubungan dengan perasaan seperti ini ibu. Aku... Akan menikahi orang yang akan memandang diri ku sebagai pendamping hidupnya, bukan sebagai alat untuk melahirkan keturunannya."jelas Varya, Ratu sesaat terdiam lalu tersenyum.


"Jika itu memang pilihan mu, maka lakukanlah nak. Kami tak punya alasan untuk membiarkan putri kami yang sudah dewasa ini memaksanya melakukan hal yang tak ia ingin kan. Putri cengeng ku ini sudah dewasa sekarang, kau pasti melalui segala hal di hidup ini sayang" Varya bangun, lalu menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Namun, jika kau merasa lelah akan semua masalah mu. Kau boleh berlari ke pelukan ibu, sama seperti saar kau kecil dulu..." Ratu tersenyum dengan lembut, mampu membuat Varya tak bisa menahan air matanya.


PLUK!


Varya langsung membenamkan dirinya ke pelukan ratu. Ia yakin sekarang tak ada hal yang perlu diri takuti lagi, karena hal inilah yang sangat ia ingin lindungi. Tak boleh ada seorang pun yang berani menghancurkan kebahagiaannya bahkan takdir sekali pun.

__ADS_1


...To Be Continued ...


__ADS_2