Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 25


__ADS_3

"Ayah, Ibu aku pulang" Varya langsung memeluk kedua orang tua yang menyambut nya.


Mereka sudah sampai di Astra saat pagi. Ratu dan Raja tentu saja tak melewatkan kesempatan itu untuk menyambut anak semata wayangnya. Varya memeluk erat mereka, ia sangat merindukan ayah dan ibunya.


"Ayah, Ibu ayo kita masuk dulu ke dalam karena aku ingin membicarakan sesuatu yang penting" Varya langsung menarik tangan keduanya untuk masuk ke istana.


Sesampainya di ruang yang tidak ada orang Varya langsung mengeluarkan gulungan kertas dari sebuah kotak yang ia bawa. Ia lalu menyerahkan itu kepada Raja untuk dibaca. Raja membulatkan matanya setelah selesai semua isi yang ada di sana.


"Benarkah ini Varya? Kau tidak menipu ayah kan" Tanya Raja yang tak percaya dan menyerahkan surat itu ke Ratu.


Ratu yang telah membaca itu sempat syok sesat. Bagaimana anaknya bisa mendapatkan sebuah surat perjanjian penting itu? Padahal selama ini Varya hanyalah anak manja yang tak mau keluar dari istananya dan hanya berkutat dengan bukunya saja.


"Tentu saja Ayah. Ini adalah oleh-oleh yang sangat berharga bukan? Jadi ayah tak perlu mengkhawatirkan apa-apa lagi. Sekarang cukup fokuskan ke acara ulang tahun ku saja. Dan aku punya permintaan sedikit" Varya terkekeh kecil, ia sangat bahagia sekarang ini.


"Baiklah Nak... Lakukan apa yang kau mau, Ayah dan ibu akan ada bersama mu" Raja mengusap kepala Varya, ia tak menyangka anaknya akan tumbuh dewasa secepat itu.


_____________________________


Reina sedang menunggu Varya di kamarnya. Ia diantarkan Finix ke sebuah kamar yang lumayan besar, Finix berkata bahwa kamar itu miliknya sekarang. Reina masih tak menyangka bahwa sekarang dia benar-benar tinggal di istana.


Saat memasuki Astra, Reina berdecak kagum akan kerajaan yang aman dan damai itu. Rasanya sangat tentram jika dia berada di sini. Reina tak sabar untuk mengelilingi istana jika Varya mengijinkan nya.


Apakah istana Leon lebih besar dari ini? Reina tak sempat untuk berkeliling saat di sana. Dan mengapa ia tiba-tiba mengingat Leon lagi. Jika Varya tau, dia pasti akan mengusili Reina lagi.


"Reina, kau sedang apa?" Tanya Varya yang baru membuka pintu.

__ADS_1


"Ah! Yang Mulia saya sedang menunggu kedatangan anda" Reina bangun dari duduknya.


"Reina kemarilah!" Varya mengajak Reina ke taman belakang.


Di sana sudah ada pasukan yang melakukan perjalanan ke Ferlya kemarin, mereka pasukan yang Reina sewa dan mereka haru segera pergi hari ini. Reina merasa bingung akan kejadian itu karena Varya tak memberitahu hal itu padanya.


"Terima kasih telah membantu ku. Aku harap kalian puas dengan upah yang ku berikan" Ucap Varya pada mereka.


"Tentu saja Yang Mulia. Itu bahkan sudah lebih dari cukup. Kami merasa sangat terhormat dapat membantu anda, benarkan semua?" Ucap Rey sebagai perwakilan.


"Benar! Terima kasih Yang Mulia!" Ucap mereka serentak. Jumlah mereka sekitar dua puluh orang.


"Ah, aku pasti akan memanggil kalian lagi suatu saat nanti. Semoga kalian selalu di dalam kebahagiaan" Varya tersenyum manis dengan harapan yang ia katakan.


Mereka kemudian pamit pergi dari sana secara diam-diam karena mereka sudah dilatih untuk hal itu. Finix memandangi kepergian mereka dengan bangga, ia tak menyangka bahwa mereka bisa berkembang secepat ini.


"Kita pasti akan bertemu mereka lagi. Meski mereka tidak melakukan pekerjaan yang baik, tapi mereka adalah manusia yang baik"Finix tertegun mendengar hal itu.


Ia memandangi Varya dengan senyum yang merekah. Gadis itu selalu dapat menilai orang dengan baik sekarang. Ia berharap bisa selalu di samping gadis itu dan melindungi senyum manisnya.


_____________________________


Varya sedang menikmati makan malam bersama keluarganya untuk pertama kali setelah kembali ke Astra. Varya banyak menceritakan bagaimana liburannya di sana. Ia juga bercerita bagaimana ia bertemu dengan Reina.


Raja sudah menyetujui bahwa Reina diperbolehkan untuk menjadi pelayan pribadi Varya. Ia juga diberikan izin untuk gelar yang dia pakai. Varya sangat senang akan hal itu, ia juga akan mempersiapkan segala hal untuk ulang tahunnya yang ke dua puluh satu.

__ADS_1


"Varya bagaimana dengan patner ulang tahun mu nanti?" Tanya Ratu.


"Eum, itu masih ku pikirkan. Yang jelas bukan tunangan ku ibu" Jawab Varya sambil tersenyum manis.


"Kau harus memilih patner yang tepat Varya. Karena dengan nya kau akan melakukan dansa pertama mu" jelas ratu lagi, Varya tampak berpikir keras. Lalu menemukan jawaban dari pertanyaan Ratu.


"Ah~ Aku sudah tau ibu. Itu akan menjadi rahasia ku. Jadi ibu tunggu saja pesta yang penuh kejutan itu" Varya terkekeh menanti bagaimana pestanya itu.


Raja dan Ratu hanya menggeleng kan kepala mereka, Varya akhir-akhir ini tampak begitu aktif tidak seperti biasanya. Tetapi itu sebuah kemajuan juga baginya, karena dia berharap menjadi pemimpin Astra.


Setelah selesai makan, Varya tidak langsung masuk ke kamar ia ingin pergi ke perpustakaan terlebih dahulu. Tentu saja di temani oleh pengawal setianya, Finix. Varya mencari banyak buku yang ia perlukan. Finix dengan sigap membantu membawakan buku-buku tebal itu.


"Finix apakah kau baik-baik saja? Kita akan membawa semua buku itu ke kamar. Kurasa itu akan berat." Khawatir Varya melihat tumpukan buku yang dibawa Finix.


"Tentu saja saya tak apa Yang Mulia. Otot saya bukan hanya pajangan saja" Finix sangat percaya diri membuat Varya tertawa.


"Menginap lah di istana malam ini. Aku akan membutuhkan mu besok pagi, terlebih lagi kau pasti sangat lelah untuk berjalan pulang" Ucap Varya sambil berjalan di samping Finix, ia juga membawa dua buah buku di tangan nya.


"Jika itu keinginan anda, tentu saja saya tak bisa menolak" Finix berbicara di balik tumpukan buku.


"Apakah semua keinginan ku memang harus kau laksanakan? Meski keinginan ku buruk sekali pun?" Finix kali ini tampak bingung untuk menjawab apa.


"Hey Finix! Kau tidak boleh mengerjakan perintah yang buruk bagi mu. Jika itu sesuatu yang salah maka katakanlah itu salah. Kau bukan pengawal ku saja tetapi kita ini patner. Apakah kau lupa?" Varya mengerutkan dahinya. Finix terkekeh kecil, meski ia tak melihat wajah Varya sekarang tetapi ia yakin bahwa gadis itu sangat menggemaskan.


"Baiklah Yang Mulia. Kita adalah patner yang baik"

__ADS_1


"Tentu saya kita adalah patner yang paling hebat! Yang akan membawa Astra ke masa depan yang lebih baik" Varya sangat bersemangat, ia tampak seperti anak kecil sekarang, sangat menggemaskan.


...To Be Continued ...


__ADS_2