Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 35


__ADS_3

Sudah seminggu sejak kepergian Ratu dan Raja ke Ferlya diam-diam. Varya yang menyuruh mereka untuk berlibur di sana. Dia sudah mengirimkan surat kepada Leon agar menjaga orang tuanya dan menjemput di perbatasan. Alasan yang diberikan Varya hanya agar orang tua nya beristirahat, tetapi maksud sebenarnya adalah ada suatu kejadian yang akan menggemparkan Istana nanti.


"Sepi sekali istana ini..." Varya menghela nafas panjang.


"Bukankah ada aku di sini?" Ucap Finix yang berada di samping gadis itu.


"Benar. Kau yang terbaik!" Varya memeluk Finix dengan posisi duduk sedangkan Finix berdiri.


Di sisi lain Varya juga lelah menyelesaikan tugas menggantikan ayahnya. Semua pelayan bahkan tak tau raja dan ratu tidak ada, yang mereka ketahui majikan mereka beristirahat di ruangan tertentu. Sulit? Tentu tidak ada orang yang menyamar menggantikan mereka. Varya juga tak terlalu kesusahan menyelesaikan berkas yang menumpuk bagaikan gunung.


"Varya... Sudah saatnya. Apakah kau yakin bahwa aku tak perlu ikut?" Tanya Finix tak yakin dengan rencana Varya. Gadis itu hanya tersenyum percaya diri.


"Tentu saja. Awasi saja aku dari kejauhan kau mengerti?" Finix mengangguk meski ia tak yakin dengan rencana sang kekasih.


Varya segera menuju kamarnya untuk bersiap-siap, ada orang yang sangat penting yang akan dia temui. Ia tak sabar untuk melihat respon gadis itu saat rencananya tak berjalan sesuai dengan yang dia inginkan.


.


.


.


.


Seorang gadis berambut pirang menunggu dengan anggunnya, ia sesekali mengedarkan pandangannya mencari seseorang yang telah lama dia tunggu.


"Ck! Kurang ajar! Beraninya dia membuatku menunggu!" Gumam nya kesal.


Gadis itu berdiri saat orang yang ia tunggu tiba. Gadis itu menunduk hormat, lalu memberikan salam. Orang itu menyuruhnya untuk duduk setelah itu.

__ADS_1


"Maafkan aku membuat mu menunggu lama Lady Grace" ucap gadis berambut dark blue dengan bahasa yang sopan.


"Saya baik-baik saja Yang Mulia Putri" Ucap Grace dengan nada memaksa.


'Sialan! Kau pasti sengaja' batin Grace yang kesal namun ia akan menahannya untuk hari ini.


Pelayan datang lalu menyusun cemilan serta menuangkan teh ke gelas mereka masing-masing. Setelah pelayan pergi barulah Varya memulai pembicaraan.


"Ada apa yang membuatmu datang menemui ku Lady?" Tanya Varya, kali ini ia belum menyentuh teh maupun cemilan nya.


"Saya hanya ingin meminta maaf kepada Yang Mulia atas perlakuan saya yang sudah kurang ajar selama ini. Saya menyesali perbuatan saya Yang Mulia" Ucap Grace dengan nada memelas, pandangan nya hanya tertuju ke gelas teh milik Varya.


"Eum~ Aku tidak tau harus berkata apa. Aku juga orang yang tak murah hati hingga memberikan maaf dengan sepele. Bagaimana menurut mu Lady?" Seringai Varya yang sempat memancing emosi Grace, namun lagi-lagi ia menahannya.


Grace lalu mengeluarkan sebuah kotak putih dari kantung yang dia bawa. Varya menerima lalu membukanya, terlihat lah kalung bermata safir yang sangat indah.


"Baiklah akan aku terima, Lady" Varya menyerahkan kotak itu pada pelayan.


"Yang Mulia, sepertinya teh anda mulai dingin. Izinkan saya menuangkan yang baru" tawar Grace yang langsung berdiri memegang teko kaca itu.


Grace hanya diam, membiarkan gadis itu berbuat sesuka hatinya. Grace tersenyum manis saat cangkir itu sudah penuh dan kembali duduk.


"Lady, entah apa yang membuat kau berubah aku benar-benar bersyukur. Setidaknya itu menjadi harapan indah bagi Duke Lawrence" Varya mulai mengangkat cangkirnya, Grace tersenyum manis melihat itu.


"Saya sangat senang atas pujian anda Yang Mulia" Seringai Grace saat melihat gelas itu hampir menyentuh bibir Varya.


"Pftt" Grace membulat matanya saat cangkir itu ternyata menjauh.


"Jika kau senang atas pujian ku, seharusnya kau tidak meracuni ku, Grace"

__ADS_1


SYURR


Teh itu sengaja di buang oleh Varya ke tanah. Grace tak percaya gadis itu tau akan rencananya. Varya hanya tertawa melihat Grace yang panik.


"Sialan! Cepat serang dia!" Pinta Grace lalu banyak orang yang keluar dari semak-semak menyerang Varya. Bahkan pelayan di sana pun mencoba menyerangnya.


"Ckck! Inilah yang aku suka dari mu Grace, Kebodohan mu itu membuatmu begitu menawan" Seringai Varya, ia lalu mengeluarkan pedangnya yang berada di bawah meja.


Grace tak menyangka gadis di hadapannya memegang pedang. Semua orang tadi mencoba menyerang Varya, dengan mudahnya Varya menghindar. Ia mengeluarkan pedangnya, lalu menancapkan bilah tajam itu kepada mereka satu persatu.


"Ti-tidak mungkin!" Gumam Grace tak percaya melihat orang-orang suruhan nya kini tergeletak di tanah dengan lumuran darah.


Grace mencoba untuk kabur dari sana tetapi seseorang mengunci tubuhnya dari belakang membuatnya tak bisa bergerak. Hawa di belakang nya membuat bulu kuduknya berdiri, menakutkan itu sangat menakutkan hingga mulut Grace kelu. Ia juga tak bisa menoleh melihat siapa yang berada di belakangnya.


"Jika anda sampai bergerak maka pedang ini akan memutuskan urat nadi Anda!" Grace menelan saliva saat sebilah pedang berada di depannya. Tak lama kemudian kepalanya mulai terasa berat perlahan namun pasti mata gadis itu mulai tertutup dan ia kehilangan kesadarannya.


Varya terus menyerang mereka, tak ada yang hidup. Ia bahkan bisa menangkap orang yang mencoba untuk kabur. Gaun indahnya lagi-lagi berlumuran darah, ck itu tidak bagus. Varya sudah sangat ahli karena ada Finix yang tak henti mengajari nya sejak kejadian malam 'itu'. Varya juga tak segan membunuh orang yang ingin membunuhnya karena begitulah dasarnya.


Bunuhlah orang itu sebelum dia membunuh mu!


Kalimat yang kini menjadi prinsip Varya. Ia mengedarkan pandangan, banyak mayat di sana dan itu ulahnya. Jika tidak maka dialah yang akan tergeletak di sana tak berdaya. Varya sudah meyakinkan diri bahwa inilah jalan yang harus dia tempuh. Suci? Tentu saja itu sebuah kata yang tak bisa dia gunakan lagi bukan?


"Kerja bagus Yang Mulia" Varya menoleh melihat Finix yang tersenyum manis padanya. Ia memeluk lelaki itu untuk meredakan emosinya sesaat. Ia tak peduli jika orang-orang melihatnya, Varya membutuhkan ketenangan.


Varya lalu melihat Grace yang sudah pingsan, dia digendong oleh Rey. Varya mengacungkan jempolnya pertanda bagus. Ia melepaskan diri dari Finix lalu kembali berdiri tegak. Varya mengarahkan pedangnya ke atas. Matahari mulai terbenam, angin dingin mulai menyentuh kulit Varya. Ia rasa inilah saatnya, dimana kehancuran akan tiba.


"Atas tindakan penyerangan keluarga kerajaan, tangkap seluruh keluarga Lawrence sebelum fajar tiba!"


...To Be Continued ...

__ADS_1


__ADS_2