Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 29


__ADS_3

"Reina. Apakah kau digigit serangga? Ada bercak merah di leher mu?"


"Eh?!" Reina segera menutupi lehernya. Varya terlihat kebingungan atas sikap gadis itu.


"A-ah iya ini... Semut! Saya digigit semut Yang Mulia hehe" Ucap Reina dengan nada canggung.


Varya mengiyakan sebelum sesaat dia menyadari sesuatu. Eh?! Tidak mungkin! Pikir nya. Tapi dia curiga akan tingkah laku Reina, padahal Varya ingin beristirahat hari ini. Dia tak punya pilihan selain menemui laki-laki tak beradab itu.


"Reina setelah ini ikut aku menemui Raja Ferlya" Reina membulatkan matanya, ia melihat Varya yang sedang menyantap makanan nya.


'Gawat!'


_________________________


"Jadi Yang Mulia, apakah anda tidak sabar? Hingga berani menyentuh pelayan saya sebelum waktunya"


"Mwahahaha" Leon tertawa membuat Varya kesal tetapi ia berusaha untuk tak menunjukkan nya.


"Reina jelaskan apa yang terjadi?" Pinta Varya, Leon berhenti tertawa ia melirik Reina yang menunduk.


"Putri, aku hanya sedikit menggodanya. Lagi pula dia akan segera menjadi milik ku bukan?" Varya menggeleng pusing, ia memang tidak bisa melarang Leon. Reina juga tampak nya sangat menyukai dia.


"Yang Mulia, tolong perlakukan Reina dengan hormat. Saya tidak mau akibat tindakan anda dia dicela oleh orang lain, dia adalah orang yang sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri" Reina melihat Varya, perkataan itu mampu menghangatkan hatinya.


"Aku mengerti Putri. Setelah aku membawanya ke Ferlya, kami akan segera melangsungkan pernikahan" Leon tersenyum ke arah Reina yang kini bersemu.


"Jika begitu, bagaimana anda akan menghadapi pertanyaan dari rakyat anda Yang Mulia? Bukankah sudah banyak anak bangsawan yang ditawarkan untuk menikah dengan anda? Bagaimana jika Reina dicelakai di sana?" Pertanyaan beruntun itu Varya lontarkan, ia tak mau Reina bernasib sama seperti masa lalu.

__ADS_1


Gadis itu berhak mendapatkan kebahagiaan dan kebebasan. Ia takkan membiarkan siapapun untuk menyakiti nya bahkan Leon sekali pun. Leon tampak berpikir keras, ia sudah siap menanggung semua tapi ia juga tak bisa selalu bersama dengan Reina.


"Aku bersumpah akan melindungi nya dengan nyawa ku Putri... Aku akan membuat dia menjadi gadis paling bahagia di dunia ini..." Reina tersentuh melihat kedua orang itu yang sangat peduli pada dirinya.


"Terima kasih..." Ucap Reina dengan air mata yang mengalir.


Leon segera bangun dari duduknya lalu memeluk gadis itu untuk menenangkan nya. Varya merasa kehadiran ia di sana tak dibutuhkan, ia memutuskan keluar dan meninggalkan Reina bersama Leon.


Varya mengingat jelas bagaimana sorot mata Leon saat bersumpah tadi. Varya pernah mendengar hal itu dari Dirto namun nyatanya itu tak sama. Ia menyadari bahwa tak ada ketulusan di mata Dirto tak seperti Leon. Lelaki berambut perak itu nampaknya begitu mencintai Reina seolah gadis itu menjadi tujuan hidupnya.


Itu tak berbeda dari masa lalu, hanya saja sekarang Reina dapat menatap mata Leon dengan berani. Tak ada rasa ragu di sana, untunglah Varya berhasil menemuinya lebih dulu. Sepertinya sudah saatnya ia melepaskan Reina dari pengawasan nya. Gadis itu juga pasti tak sanggup untuk jauh lagi dari Leon yang merupakan takdir hidupnya.


Lantas bagaimana dengan Varya? Takdir Varya apakah akan berjalan baik kali ini? Siapa yang akan menjadi pendamping hidupnya nanti? Apakah ia akan sendirian selamanya? Atau mungkin dia akan bersama dengan Finix?


"Eh! Apa yang ku pikirkan!?" Rutuk Varya, ia tak menyangka akan terlintas Finix di pikiran nya lagi. Padahal dia sudah melupakannya tadi.


"Aku penasaran" gumam Varya di balik telapak tangannya.


"Yang Mulia..."


DEG!


Suara lembut itu, suara yang sangat familiar yang berhasil menyentuh bagian terdalam Varya. Gadis itu menurunkan tangannya lalu nampak lah laki-laki berambut hitam dengan lensa merah yang menatap nya dengan lembut.


"Finix..." Keduanya berhasil terdiam untuk beberapa saat.


Hingga suasana canggung menerpa keduanya, rasanya terlalu malu untuk memulai pembicaraan terlebih dahulu. Varya rasanya ingin menghilang saja sekarang. Tidak! Dia harus menghadapi nya dan mencari alasan yang tepat.

__ADS_1


"Aku mabuk semalam!"


"Saya mabuk semalam!"


Ucap mereka bersamaan, entah mengapa mereka memikirkan hal yang sama dan terjadi lah keheningan lagi diantara keduanya. Mungkin ini akan menjadi keheningan yang sangat panjang jika Reina tak datang.


"Yang Mulia, Finix. Mengapa anda berdua berdiam di sini? Dan jarak diantara kalian begitu jauh. Apakah terjadi sesuatu?" Ucap Reina dengan polosnya.


"A-ah tidak! Reina kau sudah selesai?" Tanya Varya mengalihkan pembicaraan.


"Iya Yang Mulia. Saya sangat berterima kasih kepada anda yang telah membantu saya selama ini. Anda juga mengkhawatirkan diri saya. Sedangkan saya tak bisa membalas apapun untuk anda" lirih Reina, ia sangat merasa bersalah karena tak bisa membalas kebaikan Varya yang sudah banyak memberikan segala hal untuk nya.


"Reina, kau sudah seperti adik ku sendiri. Kau bisa membalasnya kapan pun kau mau dan jika kau tak membalasnya juga tak apa. Yang terpenting aku bersyukur kau bisa tersenyum bahagia sekarang" Reina memeluk Varya, ia bersyukur telah dipertemukan dengan gadis baik itu.


Jika tidak ada Varya, ia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya nanti. Bahkan mungkin tak ada masa depan baginya. Ia berjanji suatu saat akan membalas kebaikan Varya dengan cara apapun itu.


Finix yang merasa tak dianggap hanya menatap dua gadis itu dengan sendu. Di satu sisi itu adalah suasana haru dan di satu lain ia merasa bahwa jelas Varya menghindari nya. Itu sangat tak nyaman, tetapi ia tidak bisa pergi dari sisi gadis itu. Sudah kewajiban nya untuk melindungi Varya yang merupakan putri kerajaan ini.


"Finix, ayo! Mengapa kau melamun? kita harus makan siang bersama bukan?" Finix membulatkan matanya saat mendengar ajakan dari Varya. Tak ada rasa kebencian dari gadis itu, hanya ada senyuman di wajahnya seperti biasanya.


"Baiklah Yang Mulia!" Finix segera menghampiri Varya.


Seolah mereka tak pernah melakukan hal yang sempat terjadi. Mereka kembali tersenyum dengan canda dan tawa seperti biasanya. Tak ada lagi kecanggungan di sana, karena Varya tau bahwa satu hal itu tak boleh menjadi hambatan baginya dan Finix.


Varya juga berharap Finix tak tau apa yang ada di pikirannya. Dan berharap bahwa Finix tak mendengar betapa kencang nya detak jantung Varya saat bersamanya. Melupakan cinta pertama itu memang sulit namun cinta yang baru berhasil memasuki ruang yang ada di hati Varya. Itu tidak sopan tetapi untuk Finix itu baik-baik saja.


...To Be Continued ...

__ADS_1


__ADS_2