
"Selamat datang wahai pemberontak! Apakah kalian siap untuk mati sekarang?" Varya menyeringai melihat tikus yang berada di kerajaan kini masuk ke dalam perangkap.
"Huh mati? Kau yang akan mati gadis lemah? Apakah kau sudah memeriksa keadaan kedua orang tua mu saat ini?" Seringai Dirto tak mau kalah.
"Pftt. Apakah kau mengkhawatirkan orang tua ku Dirto? Tentu saja mereka baik-baik saja di Ferlya"
"Apa! Ferlya!" Kejut Dirto. Dia bahkan tak dapat informasi bahwa mereka tidak ada di istana.
"Persetan dengan mereka! Karena kau akan mati Varya, lalu mereka juga akan menyusul mu khehe" Varya berdiri, ia melangkah turun menghampiri mantan tunangannya itu.
"Aku mati? Bukankah itu diri mu sendiri? Ah~ Kau pasti mengira semua berjalan sesuai dengan rencana mu. Tapi itu hanya ada di mimpi mu." Varya melangkah semakin dekat. Dirto langsung mengeluarkan pedangnya dan menodong Varya.
Benar, ini seperti Deja Vu untuk nya. Di masa lalu ia terduduk lemas dengan pedang yang diarahkan pada dirinya. Varya gadis lemah yang malang, tapi tidak kali ini.
"Baiklah, jika itu mau mu. Aku sudah sangat menantikan hari ini tiba, dimana darah mu membasahi pedang ku. Ah~ Ini sangat menyenangkan" Varya menarik pedangnya, tak lupa mengarahkan pada lelaki di hadapannya.
Dulu dia gemetar, trauma, seakan lelaki ini adalah mimpi buruknya. Penyakit yang harus segera dia buang dari hidupnya. Lihatlah sekarang Varya dengan berani menodongkan pedang ke arahnya. Seberapa keras Varya berjuang tiada yang tau kecuali dirinya sendiri.
Tangis luka hampir menjadi kebutuhan nya sehari-hari. Berusaha lepas dari belenggu masa lalu yang menyesakkan. Yang hampir saja membuatnya tidak bisa bernapas. Hari ini, di tempat yang sama Varya akan menebas masa lalu itu dan menghilangkan untuk selamanya.
TRANG
Dirto mulai mengayunkan pedangnya, dia berusaha menyerang Varya. Gadis itu dengan luwesnya menghindar. Dirto membulatkan mata saat gadis itu benar-benar seperti orang yang berbeda.
Varya mencoba mencari celah, untuk tebasan pertama dia mulai dengan menusuk paha Dirto.
__ADS_1
"Akh!" Jerit lelaki itu kesakitan.
Varya beralih ke bagian selanjutnya, tangan Dirto tangan yang berani membunuh dia dan kedua orang tuanya. Tangan yang menyentuh Varya selama ini. Tangan berdosa yang tak kan Varya ampuni.
SREP!
Tangan itu berhasil terpotong sambil menggenggam pedang. Dirto lagi-lagi menjerit kesakitan, ia berguling-guling di lantai karena kesakitan.
"Grace tolong aku!!!" Teriaknya namun tak mendapat respon apa-apa.
Saat ia melirik ke belakang ternyata kedua orang tadi sudah tidak ada. Tinggal dirinya sendirian di sana. Sangat menyakitkan, darah nya terus mengalir.
"Aku akan mengakhirinya. Aku akan mengakhiri masa lalu yang mengerikan ini, yang menghantui diri ku selama ini. Kau tak pantas mendapatkan kematian yang terhormat Dirto. Andai saja kau tak memperlakukan diri ku seperti ini, mungkin kau akan menjadi perdana menteri yang baik untuk Ferlya. Dan kau tau bahkan tak seorang pun ada di detik Kematian ini. Sama seperti diri ku di masa lalu yang hanya bisa pasrah akan keadaan ini. Aku Varya De Astra dengan ini menghukum mu atas kejahatan yang telah Dirto Axia lakukan selama ini!" Dirto seperti melihat mata Varya yang menyala saat itu. Ia merasakan kebencian yang amat mendalam pada gadis aku.
"Ku mohon.... Maafkan aku... Varya... Aku bersumpah tak akan muncul lagi dari mu..." Lirih Dirto yang berlinang air mata.
TUSK!
Varya berhasil menusukkan pedangnya pada jantung Dirto. Lelaki itu menjerit kesakitan, Varya mencabut pedangnya membiarkan darah itu mengalir. Di detik selanjutnya lelaki itu sudah menutup kedua matanya.
"Selamat tinggal cinta pertama ku... Aku berharap kau bisa menjadi orang yang lebih baik di kehidupan selanjutnya" Tanpa sadar air mata Varya mengalir.
Lelaki yang telah memberikan nya kebahagiaan sekaligus yang merenggut nyawanya sudah tiada lagi. Varya membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri. Tidak, seharusnya dia tertawa sekarang bukan menangis. Dia meratapi mayat di hadapannya dengan iba.
GREP!
__ADS_1
Seseorang menarik Varya ke dalam pelukannya. Sontak pedang di tangan gadis itu terjatuh ke lantai. Ia tau siapa orang itu, orang yang memberikan keamanan pada dirinya.
"Kau berhasil Varya..." Lirih Finix membuat tangisan Varya pecah.
Varya bersumpah ini adalah tangisan melepaskan masa lalu dari dirinya. Dia berjanji akan menjalani hidup dengan baik sekarang. Dia akan menjadi pemimpin yang baik untuk rakyat nya serta pendamping yang baik untuk Finix. Bibirnya kelu, tak dapat mengatakan sepatah kata pun. Finix membiarkan itu, dia juga mengerti akan apa yang Varya rasakan saat ini.
_______________________
Pagi ini Astra dihebohkan dengan pemberontakan yang terjadi semalam. Pihak istana mengkonfirmasi benar adanya pemberontakan yang dilakukan oleh Duke Lawrance. Keluarga itu pun akan segera di eksekusi saat Raja dan Ratu kembali. Rakyat sangat syok mendengar hal itu.
Di istana Varya sibuk mengurusi berkas yang berdatangan. Padahal dia belum tidur semalaman. Dia juga sudah mengirimkan pesan di Ferlya. Mengenai mayat Dirto dia juga sudah mengawetkan nya dan mengirimnya ke kampung kelahirannya bersamaan dengan surat itu. Varya juga masih punya hati, dia berharap tak ada lagi penyesalan di masa lalunya.
"Varya... Makan lah dulu. Kau harus beristirahat, lihatlah kantung mata itu" Finix datang dengan membawa nampan berisikan roti selai dan susu. Varya menaruh pena dan kertasnya, dia beralih ke sofa di sana.
"Finix, aku merasa tubuh ku di penuhi dengan bau darah?" Manja Varya sambil memeluk Finix.
"Tidak. Kau sangat harum, tak ada bau yang tak menyenangkan pada mu" Finix mengecup pucuk kepala Varya. Gadis itu tentu sangat senang atas perlakuan tersebut.
"Kau tau akan banyak hal yang perlu kita urus ke depan. Apakah kau mau tetap bersama ku? Kau tau kan bahwa kau itu penyemangat dan penghilang rasa lelah ku" Manja Varya lagi memeluk Finix erat.
"Tentu saja. Tapi sekarang kau harus beristirahat. Jika kau sakit semua yang kau rencanakan akan terganggu, jadi tidur lah sekarang aku akan menemanimu di sini" Usul Finix. Dan benar Varya benar-benar lelah mungkin tak apa memejamkan matanya sebentar di pelukan sang kekasih.
Tak lama kemudian Varya tertidur dengan lelap hingga mendengkur kecil. Itu sangat menggemaskan bagi Finix. Gadis itu langsung teridur tanpa menyentuh makanan nya sedikit pun.
Finix masih teringat kejadian semalam, ia menyaksikan Varya membunuh mantan tunangannya sendiri. Tak bisa ia lupakan mata gadis itu sungguh penub dengan kebencian serta luka yang sedari lama ia pendam.
__ADS_1
"Mulai saat ini, aku bersumpah tak kan membiarkan diri mu tersakiti oleh apapun lagi di dunia ini"
...To Be Continued ...