Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 18


__ADS_3

"Kau membuat kesalahan lagi! Sudah ku katakan untuk terus menjaga Reina! Bagaimana kau bisa kehilangan dia!?" Kesal seorang lelaki.


Varya bersembunyi di balik tembok, ia tak sengaja mendengar percakapan tersebut. Ia ingin pergi tetapi rasa penasaran masih menghantuinya. Sura lelaki yang ia dengar ini berbeda saat bertemu dengan nya ini lebih dingin, padahal itu adalah orang yang sama.


TUSK!


Suara tebasan pedang, Varya kembali mengintip. Alangkah terkejutnya dia melihat pemandangan itu, dimana lelaki berambut perak itu berlumuran darah segar dengan mayat yang sudah ada di depannya. Tanpa sadar badan Varya bergetar, keringat nya bercucuran. Ia harus pergi sekarang sebelum lelaki itu menyadari kehadirannya.


Namun itu terlambat, tatapan mereka tak sengaja bertemu. Varya dengan cepat membalikkan badannya, saat ia ingin melangkah suara dingin itu membuat kakinya berhenti bergerak.


"Putri anda di sini?!" Varya berbalik lagi dan melihat lelaki itu menghampiri nya dengan sebilah pedang yang dipenuhi darah segar.


Lelaki itu semakin mendekat, Varya pun semakin memundurkan tubuhnya. Aura itu sangat mencekam, Varya begitu takut sampai mulutnya menjadi bisu. Lelaki itu berjalan dengan cepat hingga akhirnya tak ada jarak di antara mereka.


"Sepertinya anda melihat yang tak seharusnya anda lebih Putri~"


DEG!


Varya membuka matanya, ternyata itu adalah mimpi. Dia menghela nafas lega, keringat Varya masih mengalir. Lelaki yang di mimpinya itu tak lain adalah Leon. Itu kehidupan pertamanya, sejak saat itu dia percaya bahwa yang ia lihat itu sifat asli Leon sebenarnya. Dia orang yang berbahaya, bahkan saat makan malam semalam ia membuat Varya tak nyaman dengan keramahan palsunya itu.


Alhasil Varya memuntahkan kembali makanan di kamar mandi. Hari ini ia sudah membuat janji dengan laki-laki itu untuk membicarakan hal penting, Varya tak bisa menyia-nyiakan waktunya karena waktunya tidak sebanyak perkiraan.


Varya memanggil pelayan untuk membantunya bersiap, ia tak boleh membuat raja menunggu. Jika tidak mungkin ada nyawa yang melayang di sana. Varya bersiap lalu segera sarapan di kamar. Ia juga memanggil Reina dan Finix untuk makan bersama seperti biasanya.


Setelah selesai Varya langsung menuju ke ruang yang telah disediakan. Ia pergi bersama dengan Finix yang menjadi pengawal pribadinya. Mereka sampai di depan ruangan, penjaga lalu membuka pintu ruangan itu. Di sana sudah ada Leon yang menyeruput kopi nya.

__ADS_1


"Salam untuk Pemimpin agung Ferlya yang damai~" Varya membungkuk hormat.


Leon menerima nya lalu menyuruh Varya untuk duduk di kursi depan nya. Pelayan menuangkan teh untuk Varya terlebih dahulu.


"Saya merasa sangat terhormat karena Yang Mulia telah meluangkan waktu berharga anda untuk menemui saya sebentar. Saya sangat berterima kasih untuk hal itu"


"Tentu saja aku selalu memiliki waktu untuk seorang putri yang akan menjadi bagian dari Ferlya juga nanti. Dan bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk tak bersikap formal pada ku"


"Maafkan saya Yang Mulia jika itu keinginan anda maka saya akan melakukannya" Leon tersenyum pada Varya.


"Tanpa menunggu lagi aku akan membicarakan tujuan ku. Aku ingin kau mendatangani surat perjanjian damai dengan Astra tanpa adanya ikatan hubungan dengan ku dan tuan Dirto"


"Ah~ apakah kau tak ingin menjadikan hubungan mu sebagai perdamaian dan murni cinta? Tentu saja aku akan mendatangani nya. Bawakan surat itu sekarang pada ku"


TING!


Leon menaruh cangkirnya dengan kasar. Ia terkejut mendengar hal itu langsung dari bibir gadis itu. Sebelumnya ia sudah mendengar laporan dari Dirto, ia berpikir bahwa itu hanya candaan. Karena ia tau bahwa Varya begitu mencintai Dirto, hingga mau membujuk ayah nya untuk merestui hubungan mereka.


"Maaf Putri, tapi ini tidak lucu


"Aku tidak bercanda. Yang ku katakan itu benar dan tentu saja aku akan memberikan sesuatu padamu yang sepadan untuk tetap menjalin hubungan kedua kerajaan" Varya menyeringai membuat mata Leon membulat.


Leon tak percaya ia melihat Varya seakan melihat orang yang berbeda. Dia bukan seorang gadis kutu buku dan penakut, dia telah berubah.


"Hahaha, baiklah aku akan mempertimbangkan nya jika hal yang kau berikan memang sepadan tetapi jika tidak seperti kau sudah tau apa yang akan terjadi putri" Leon menyeringai ke Varya, itu membuat Varya takut namun dirinya mencoba mengendalikan ekspresi nya.

__ADS_1


"Mungkin ini sedikit lancang tapi aku mengetahui masalah yang terjadi sekarang di Ferlya, kalian sedang menghadapi krisis perluasan daerah perbatasan serta membutuhkan dana untuk pembangunan pelabuhan baru bukan?"


"Lalu?" Tanya Leon menunggu apa yang akan diberikan oleh gadis itu.


"Aku akan memberikan sedikit wilayah di perbatasan untuk Ferlya, dan untuk masalah dana ini mungkin pertaruhan. Kau tau gunung di sebelah selatan Ferlya? Itu adalah gunung es yang jarang orang datangi karena kondisi yang tak memungkinkan. Tapi saat ini adalah kondisi dimana gunung es tak terlalu dingin karena musim panas kali ini berbeda dari biasanya. Jika kalian pergi ke gunung itu sekarang kalian bisa menemukan banyak mineral yang berharga di sana. Ah~ Tentu saja jika informasi yang aku berikan ini benar dan kalian berhasil, tentu saja Raja Ferlya harus mendatangani surat yang aku berikan ini" Varya memberikan kode kepada Finix lalu Finix segera membuka pintu.


Saat itu Reina masuk dengan membawa gulungan kertas di atas nampan. Varya kemudian menyuruh Reina memberikan kertas itu pada Leon langsung. Tatapan Leon dan Reina bertemu, Leon seakan terhipnotis dengan lensa keemasan itu.


Mereka terdiam cukup lama dalam dunianya masing-masing. Varya tersenyum melihat hal itu, seperti yang dia rencana kan. Leon berhasil jatuh cinta pada Reina saat detik itu juga. Kini tinggal memainkan peran Varya di sini.


"Ekhem" deheman Varya membuat mereka berdua tersadar.


Wajah Reina bersemu merah, dan Leon dengan cepat mengambil gulungan itu lalu membacanya. Lelaki itu juga tak bisa menyembunyikan ekspresi nya. Reina segera berdiri di belakang Varya, bersama dengan Finix.


"Maafkan pelayan ku yang tak sopan pada mu Leon" ucap Varya membuat Leon salah tingkah.


"Ah! Tidak apa-apa. Aku sudah mengetahui isi surat ini. Aku akan mendatangani setelah informasi yang kau berikan benar. Jika itu salah, maka aku ingin kau tetap memberikan daerah di perbatasan dan tak ada pemutusan hubungan dengan Dirto. Apakah kau setuju Putri?"


"Ya, tentu saja. Ini pertaruhan ku, jadi ku harap kau dengan cepat memeriksa itu. Aku tak ingin terlalu lama menunggu~"


"Baiklah. Kau harus menikmati liburanmu di Ferlya sambil menunggu. Ku harap kau puas dengan Ferlya" Leon melirik Reina, ia tertarik dengan gadis itu.


"Terima kasih banyak Yang Mulia Raja~"


...To Be Continued...

__ADS_1


__ADS_2