
"Varya..." Gadis itu berbalik, nampaklah seorang lelaki yang terengah-engah.
"Finix!" Teriaknya riang.
Finix tak percaya dengan apa yang dia lakukan lihat, gaun tidur gadis itu yang berwarna putih kini bercorak merah. Ia memegang sebuah pedang dengan darah segar yang mengalir dari sana. Tanpa perlu menunggu lama lagi ia menghampiri gadis itu dan memeluk erat. Varya yang terkejut refleks menjatuhkan pedangnya ke lantai.
"Syukurlah... Syukurlah..." Lirih Finix yang kini merasa lega, gadis itu baik-baik saja.
Varya dapat merasakan debaran jantung lelaki itu, sepertinya dia sangat khawatir. Varya membalas pelukannya lalu mengusap punggung Finix dengan lembut.
"Tenang lah Finix... Aku baik-baik saja" Ucap Varya lembut. Beberapa detik kemudian Varya kembali terlonjak kaget karena Finix mengecup pucuk kepalanya dengan lembut.
Rona merah kini muncul di pipi Varya. Wajahnya sangat panas sekarang, seharusnya ia gelisah sekarang karena telah membunuh orang tetapi hatinya berkata lain.
"Aku bersumpah akan melindungi mu selamanya..." Finix melepaskan pelukannya ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat.
Entah suasana malam yang sunyi, tanpa di sadari Finix mencium bibir gadis itu dengan lembut. Kali ini dia sadar akan apa yang dia lakukan. Varya juga membalas ciuman itu dan mengalungkan tangannya di leher Finix.
Sulit untuk dideskripsikan bagaimana malam itu. Antara mengerikan dan menghangatkan dikarenakan terjadi dua hal yang bersamaan. Mungkin bisa dikatakan habis gelap terbitlah terang. Ya seperti itulah keadaan saat itu, kedua insan yang akhirnya luluh dengan perasaan masing-masing. Yang sadar bahwa saat inilah waktu yang tepat bagi keduanya untuk mengungkapkan perasaan, tak perlu menunggu besok atau beberapa detik lagi.
"Aku mencintaimu Varya..."
"Aku juga mencintaimu Finix..."
_______________________________
Pagi tiba, mayat yang tadi berada di kamar Varya sudah disingkirkan. Raja dan Ratu yang mendengar kejadian tersebut sangat syok. Mereka tak menyangka bahwa hal itu akan menimpa putri mereka satu-satunya.
__ADS_1
"Varya... Ibu sangat khawatir hiks" Ratu masih memeluk Varya. Tubuhnya masih gemetar karena khawatir akan keselamatan putrinya.
"Ibu... Aku baik-baik saja. Untung lah ada Finix yang datang tepat waktu, kita harus memberikan penghargaan untuknya Ayah" Varya melirik Raja yang masih dengan mata berkaca-kaca.
Sebenarnya Varya membohongi kedua orangtuanya, ia sengaja mengatakan bahwa Finix yang menyelamatkannya. Ia belum mau memberitahu mereka tentang kemampuan nya. Kejadian itu ia beritahukan saat subuh, meski kejadian itu berlangsung tengah malam tadi. Varya tak ingin menimbulkan kebisingan, ia juga membereskan mayat itu lalu istirahat sebentar dengan Finix sebelum subuh tiba.
"Terima kasih Sir Finix. Aku akan memberikan penghargaan untuk mu karena telah menyelamatkan putri kami" ucap Raja, Finix tentu sangat terhormat untuk itu meskipun hal itu tak sepantasnya dia dapatkan.
Dan ada satu hal yang tak ada diketahui oleh siapapun tadi malam. Bahwa Varya dan Finix sudah menjalin hubungan dengan rahasia. Menyembunyikan hubungan ini bukan usul dari Varya tetapi Finix, dia mengatakan akan memantaskan diri dulu untuk Varya. Ketika tiba waktunya dia akan dengan bangga nya memperkenalkan dirinya bahwa dia adalah orang yang paling mencintai Varya.
Varya kemudian pamit untuk istirahat. Dia juga sudah mengganti kamarnya supaya lebih aman. Varya duduk di sofa yang sangat empuk, pelayan menyajikan teh sesuai dengan permintaannya. Rasanya lelah sekali, padahal semalam ia tidur sangat nyenyak. Tapi muncul pembunuh sialan itu, Varya sudah meminta Finix untuk mencari tau siapa dalang di balik ini.
Mungkin ini akan sulit karena jika ada pembunuh bayaran maka gulid yang dipekerjakan sangat menjaga rahasia klien mereka. Varya menduga ini ulah Dirto, sama seperti kejadian di masa lalu.
"Finix bisakah kau duduk di samping ku?" Finix tentu saja bisa, dia langsung duduk di samping gadis itu.
PLUP
"Finix... Jika ke depannya aku akan membunuh seseorang lagi, apakah kau akan tetap bersama ku?" Tanya Varya tanpa membuka mata.
"Tentu saja. Aku akan terus bersama mu hingga ke neraka sekali pun" Jawab Finix dengan dialog informal. Mereka hanya berdua jadi tidak ada yang mempermasalahkan hal itu.
"Kau tau Finix... Ada seseorang yang sangat ingin ku tusuk dengan pedang ku... Tetapi pedang ku terlalu berharga untuk membunuh dirinya yang sangat hina. Bagaimana menurut mu?"
"Tak apa. Lakukan apa yang kau inginkan, kau bisa menggunakan pedang ku atau diri ku untuk membunuh semua orang yang kau ingin kan Varya. Jadikanlah aku pedang mu..." Finix mengelus rambut dark blue Varya yang begitu indah.
"Terima kasih Finix... Telah mencintai ku dengan tulus... Kesayangan ku... Cinta ku... Jangan pernah meninggalkan ku" mata Varya terbuka, ia melihat wajah Finix yang berada di atasnya.
__ADS_1
Mata merah Finix yang begitu indah, apalagi saat ia menatap Varya dengan penuh cinta. Ah, tidak ada lagi kebahagiaan yang lebih indah dari ini. Bersama Finix adalah tempat ternyaman baginya, aroma bunga yang ada pada lelaki itu seakan membuat Varya begitu candu padanya.
CUP
Finix mengecup kening Varya, lalu ia tersenyum manis nan lembut. Varya dapat mengatakan bahwa senyuman itu lebih manis dari madu dan gula, terlebih lagi itu hanya untuk dirinya. Varya tak sabar untuk mengungkapkan pada dunia bahwa lelaki ini miliknya dan diciptakan untuk nya.
"Ah~ Mengapa kita bertemu lebih cepat?"
______________________________
"AKHH! SIAL!" Teriak seorang lelaki yang sangat frustasi akan hidupnya.
Kali ini dia gagal lagi, rencana untuk segera menyingkirkan gadis itu gagal. Gadis yang sangat angkuh hingga menatap dirinya dengan jijik. Lelaki itu sangat membencinya, dia tidak bisa menunggu lagi. Dia harus segera membunuh gadis itu dan menjadi Raja Astra segera. Itu mimpinya tak kan dia biarkan seorang pun merusaknya!
"Dirto ada apa? Ruangan ini berantakan lagi?" Seorang gadis masuk ke ruangan yang sangat berantakan itu. Ini sudah ke berapa kalinya, dia juga tak tau.
Dan ruangan ini penuh dengan bau obat-obatan. Serta aroma alkohol yang menyerbak. Tampang laki-laki itu yang sangat berantakan, gadis itu hanya menghela nafas panjang.
"Dirto, apakah rencana tidak berjalan lancar lagi?" Tanya gadis itu sambil melipat kedua tangannya.
"Itu bukan urusanmu!" Ketus lelaki itu.
"Hey! Aku adalah tunangan mu. Dan ini rumah ku, ayah ku lah yang kini menyokong mu. Apakah kau lupa itu?" Marah gadis itu tak terima.
"Huh. Aku mengerti, jadi keluarlah sekarang!" Pintanya, gadis tadi hanya menggelengkan kepalanya. Dia sudah pusing sekarang ini.
"Ah, Ayah memanggil mu. Kurasa kau harus segera menemui nya" ucap Gadis itu sebelum ia keluar dari sana.
__ADS_1
"Lawrence itu lagi! Ck!"
...To Be Continued ...