
Malam sunyi ditemani dengan suara jangkrik, Varya melihat ke luar jendela nya. Indahnya langit yang dipenuhi oleh taburan bintang itu. Andai saja bintang itu bisa dipetik maka Varya akan melakukannya.
Varya masih belum bisa tidur padahal malam sudah larut. Ia ingin menikmati malam terakhir nya di Astra untuk sesat karena besok pagi ia siap berangkat ke Ferlya. Sebenarnya alasan ia juga tak tidur karena kegelisahan dirinya juga.
Ia akan melakukan perjalanan yang lumayan jauh dan itu adalah tempat musuh nya berada. Bohong jika Varya tidak takut, ia tetap memiliki sifat pengecut nya itu. Tapi, Varya ingin hidup. Ia tak boleh berlarut-larut dengan rasa takut itu. Jika sedikit salah saja ia melangkah, nyawa nya akan melayang.
TUK! TUK!
Suara ketukan pintu menyadarkan Varya dari lamunannya, memang hal yang tak sopan mengetuk pintu seseorang di tengah malam. Varya mengabaikan hal itu untuk malam ini, karena memang ada seorang yang ia tunggu. Lagi pula ini sudah larut tak ada yang tau siapa yang memasuki kamar Putri tengah malam.
Varya membuka sendiri pintu kamarnya, ia melihat laki-laki bermata merah sudah menunggu diri nya. Varya memerintahkan lelaki itu untuk segera masuk. Lalu dengan cepat Varya tutup pintu itu kembali.
"Mohon maafkan saya telah mengganggu waktu istirahat Anda Yang Mulia. Saya ingin melaporkan bahwa persiapan kita sudah selesai"ucap Finix.
"Bagaimana dengan pasukan pengawalnya?"
"Saya sudah merekrut mereka dari sebuah guild yang terpercaya. Mereka adalah orang-orang yang kuat Yang Mulia, jadi anda tak perlu mengkhawatirkan hal itu" Varya memerintahkan Finix untuk mencari orang-orang yang akan menjadi pasukan pengawal untuk perjalanannya kali ini.
Ia tak mau jika pengawal istana yang mengikutinya, karena Varya curiga Dirto menaruh orang-orang nya di antara mereka. Tentu saja Varya sudah mengurus semua itu untuk pasukan pengawal nya sementara, ia juga yakin ayahnya tak kan tau pengawal yang ia pilih itu. Varya juga telah melakukan perbincangan dengan komandan pasukan agar tak adanya masalah nanti.
Varya juga menyerahkan perjalanan ini kepada Finix untuk memimpin pasukan pengawal sepenuhnya. Ia percaya lelaki itu pasti akan melakukan hal yang terbaik untuk itu.
"Baiklah. Kau boleh pergi Finix. Kau sudah bekerja keras hingga larut malam, siapkan tenaga mu untuk perjalanan panjang kita besok" pinta Varya kepada Finix yang terlihat lelah.
__ADS_1
Varya juga sepertinya tak bisa memaksakan diri, dia harus beristirahat juga selagi bisa tidur di kasur empuknya. Varya kemudian menuju meja lalu mengambil sebutir obat dan meminumnya.
"Yang Mulia, apakah anda terus mengonsumsi itu?"tanya Finix khawatir.
Sejak pertemuan dengan Dirto, Varya terus mengonsumsi obat yang dibuat oleh Finix. Ia meminumnya saat perasaan nya mulai gelisah dan saat ia tak bisa tidur. Obat itu sekarang tinggal lima butir dari jumlah awalnya tiga puluh butir.
"Ah~ Aku menyukai obat ini. Aku bisa tenang karena nya, bisakah kau membuatnya lagi?"
"Yang Mulia, saya sudah mengatakan obat itu memiliki efek samping. Itu akan membuat jantung anda melemah, jika anda ingin bisa memegang pedang. Saya harap anda tak mengonsumsi nya lagi. Saya akan mencari tau hal yang tak memiliki efek samping untuk menyembuhkan gejala trauma anda"Varya lalu tersenyum kecut, ia tak tau apa yang akan ia lakukan terhadap trauma ini. Padahal ia sangat bertekad untuk melawan nya tetapi ia malah bergantung kepada obat.
"Ya~ Aku janji ini yang terakhir..."
________________
"Nak, jaga dirimu baik-baik. Jangan lupa untuk mengirimkan kabar jika kau sudah sampai di sana. Ayah dan ibu pasti akan merindukan mu" lirih Raja mengantar kepergian anak satu-satunya.
"Tentu saja ayah, ibu. Kalian tak perlu khawatir karena ada kesatria-kesatria hebat bersama ku apa lagi pengawal pribadi ku. Kalian sudah melihat bukan kemampuan pedangnya? Aku akan segera kembali dan membawakan oleh-oleh dari sana" Varya tersenyum manis pada orang tuanya. Mereka kemudian berpelukan untuk terakhir kalinya.
Dari kejauhan Finix menatap pemandangan hangat itu, ia iri akan sebuah kehangatan keluarga. Ia bahkan tak tau apa yang namanya keluarga. Saat ia sedang asik dengan pikiran nya, sebuah tangan menyentuh bahunya. Finix berbalik dan melihat siapa itu.
"Kau?"
"Iya bo-eh komandan" lelaki itu terkekeh ketika Finix melihat nya.
__ADS_1
"Apakah kau lupa apa yang pernah ku katakan? Panggil aku komandan sekarang, sekali lagi kau salah ucap kau ku pulangkan! Kau mengerti Rey!" Rey yang masih cengengesan hanya mengacungkan jempolnya.
Finix kemudian tersadar bahwa ternyata ia juga sudah mendapatkan keluarga di guild nya. Ia mengumpulkan orang-orang yang kehilangan tempat dan arah hidup ke guild nya. Meski pekerjaan mereka kotor namun mereka juga tau akan kesetiaan dalam pertemanan. Finix bersyukur karena bawahan nya selalu ada untuk dirinya.
"Komandan, terima kasih telah mengajak kami bersama anda. Kita tidak pernah melakukan tugas bersama-sama, jadi kami akan berusaha kerasa agak tidak menjadi beban anda"ucap Rey penuh dengan semangat.
"Tentu saja. Jika kalian beban, aku pasti takkan memilih kalian"jawab Finix membuat Rey tertawa. Perbincangan mereka tak berlangsung lama karena Varya sudah mengumumkan keberangkatan.
Varya dan Finix kemudian menaiki kereta yang sama. Finix di kereta untuk menjaga Varya lebih dekat jika terjadi sesuatu padanya di sini. Varya juga bosan jika ia terus sendirian dalam perjalanan nya.
Mereka lalu memulai perjalanan nya, Varya memiliki satu tumpukan buku di kereta. Ia mengambil salah satu dari buku itu dan membacanya. Finix yang hanya memperhatikan gadis itu tak melakukan apa pun. Ia tak ingin mengganggu Varya yang sedang asik dalam dunianya.
Finix melihat keluar jendela, mereka banyak melalui tempat-tempat di Astra. Kereta pun melaju lumayan cepat, tak lama setelah itu Finix mendengar suara buku yang tertutup.
Ia melihat Varya kembali menaruh buku itu ke tempat nya, lalu gadis itu memejamkan matanya. Padahal perjalanan baru dimulai tetapi ia merasa ngantuk. Melihat Varya yang tertidur sambil duduk dengan kepala terombang-ambing, Finix memutuskan untuk memindahkan buku-buku itu. Lalu duduk di samping Varya, ia memiringkan kepala gadis itu dengan hati ke bahunya. Nampaknya Varya begitu terlelap hingga tak sadar atas apa yang dilakukan Finix.
Sepertinya ini juga salah satu efek dari obat yang dikonsumsi oleh Varya. Ia jadi mudah ngantuk saat perjalanan. Finix berharap gadis itu tak meminum lagi obat itu. Ia menatap wajah gadis yang ada di samping nya. Gadis itu begitu cantik, tak salah dengan rumor yang beredar banyak orang yang ingin menjadi kekasihnya karena paras yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata sangking indahnya.
Tiba-tiba Finix merasakan degup jantung yang tak biasa darinya. Ia menyentuh dadanya, ia tak tau gejala apa ini. Apa mungkin dia sakit? Pikirnya. Degup itu semakin kencang saat ia menatap lagi wajah Varya. Ini aneh, ia belum pernah merasakan perasaan ini.
Karena bingung, Finix memutuskan untuk memejamkan matanya sebentar agar degup jantung nya kembali normal. Semoga saja tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.
...To Be Continued ...
__ADS_1