Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 05


__ADS_3

Pagi ini seperti yang dikatakan Varya kemarin, ia akan berlatih pedang di hari pertamanya. Varya sudah bersiap dengan pakaian yang membuatnya mudah bergerak serta rambut yang kuncir.


Finix menjemput Varya pagi-pagi sekali, pelayan pribadi tidak mengetahui kemana Varya pergi. Gadis itu hanya mengatakan ada tempat yang akan ia kunjungi, hanya berdua dengan pengawal pribadinya.


Kini Varya sudah ada di lapangan yang dia siapkan di belakang rumah Finix. Ia sangat tak sabar untuk mempelajari ilmu yang menarik ini. Finix sudah memperingatkan Varya sekali lagi, bahwa mungkin ia akan mengalami luka kecil di telapak tangannya. Tentunya Varya sudah siap dengan hal itu.


"Yang Mulia, kita akan memakai pedang kayu terlebih dahulu untuk mempelajari hal dasar. Jarang ada yang menggunakan pedang sungguhan ketika latihan. Jadi, kita akan memegang pedang sungguhan ketika anda sudah mahir nanti"


"Ya, baiklah" Varya mengambil pedang kayu yang diberikan Finix. Pedang itu lumayan ringan saat dipegang.


"Yang Mulia, tolong pegang pedang anda dengan kuat agar ia tak lepas saat diayunkan." Varya menuruti apa yang dikatakan Finix.


Ia memegang pedang dengan menggunakan kedua tangannya dengan erat. Finix yang melihat itu menggelengkan kepalanya.


"Permisi Yang Mulia, saya akan memperbaiki kuda-kuda anda sekarang" Finix memegang kedua tangan Varya dari belakang. Membuat gadis itu membulatkan matanya untuk sesaat.


Kemudian Finix mulai memperbaiki postur badan Varya, ia mencoba untuk mengurangi sentuhan sedikit mungkin. Setelah merasa pas, Finix menyuruh Varya untuk mengayunkan pedang itu ke kiri dan ke kanan.


Agar terbiasa dengan ayunan, Finix menyuruh Varya melakukan hal itu sebanyak 25 kali. Hingga akhirnya pedang itu terlempar dari tangan Varya.


"Yang Mulia!" Finix dengan cepat menghampiri Varya yang sudah kelelahan.


"Ayo kita istirahat sekarang!" Ajak Finix disertai anggukan kepala gadis berambut dark blue itu.


Varya terduduk lemas di kursi, bahunya sangat sakit sekarang. Padahal dia hanya mengayunkan, tetapi rasanya lelah sekali. Tak lama Finix datang dengan membawa teko teh dan cemilan.


"Silahkan diminum terlebih dahulu Yang Mulia. Ini memang berat untuk pemula, terlebih lagi untuk wanita. Apakah kita cukupkan sampai sini saja?" Tanya Finix setelah menuangkan teh ke dalam cangkir.


"Tidak. Aku harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Ini bukanlah apa-apa, aku pasti akan segera terbiasa" optimis Varya, lalu meminum teh itu.

__ADS_1


Varya merasa lebih ringan setelah meminum teh lemon itu. Rasa lelahnya terasa hilang sedikit demi sedikit. Finix tersenyum melihat tekad besar yang dimiliki gadis itu.


"Ouh ya, Finix apakah kau bisa melakukan pekerjaan di luar ini? Maksud ku apakah kau bisa menjadi bayangan ku?"


Finix membulatkan matanya mendengar hal itu, ia tak menyangka tiba-tiba Varya menawari pekerjaan yang memang dia sangat ahli dalam hal itu. Bayangan yang dimaksud adalah menjadi mata-mata Varya, ini pekerjaan yang sulit tapi jika sudah terlatih ini menjadi makanan sehari-hari.


"Mengapa anda tiba-tiba menawarkan hal seperti itu Yang Mulia?"


"Entahlah, aku melihat kau berpotensi di bagian itu. Kau tau Finix? Aku masih tak percaya kau hanya penjual kayu bakar. Aku sudah membaca ribuan buku selama hidup ku. Dan aku cukup tau fisik dari setiap pekerjaan seseorang" Ucap Varya dengan santainya.


"Anda sungguh hebat, Yang Mulia. Namun saya hanya bisa menuruti apapun kemauan anda. Apakah ini juga ada di dalam kontrak?"


"Tidak! Ini pribadi dariku dan tentu saja dengan upah pribadi juga. Aku berani bertaruh, ini hal yang sangat cocok untuk pengawal baru ku"


"Baiklah Yang Mulia, mari kita bicarakan topik menarik ini sekarang" seringai Finix yang tak sabar dengan apa yang direncanakan gadis itu.


_______________


Ia berhasil menerobos masuk ke kediaman Duke Lawrence. Misi yang diberikan oleh Varya yaitu mengawasi setiap gerak gerik Duke. Serta mencari tau segala informasi di sana.


Finix sekarang menyamar sebagai pelayan. Ia sengaja berjalan mengelilingi Mansion itu dengan mudahnya. Tak ada yang curiga karena dia sangat terampil di bidang itu.


Finix tiba-tiba berhenti di dekat taman, ia bersembunyi dibalik tembok. Di sana ia melihat seorang gadis berambut pirang dan lelaki berambut kecoklatan sedang menikmati tehnya. Mereka tampak asik membicarakan suatu hal yang menarik.


Tentu saja Finix tak melewatkan kesempatan itu, ia tau siapa gadis itu. Varya sudah memberi tahu orang-orang yang harus Finix awasi. Dengan langkah pelan Finix mencoba mendekat sedekat mungkin tanpa menampakkan dirinya.


"Dirto... Sering lah ke sini. Aku pasti selalu ada untuk menghibur mu. Kau tau? Akhir-akhir ini gadis itu sangat aneh, dia seperti orang yang berbeda. Kau ingat bukan apa yang dia lakukan padaku terakhir kali? Kemarin dia juga merebut gaun ku, lalu mengancam ku dengan kata-kata yang menakutkan. Dirto aku takut, apakah kau bisa meninggalkan gadis itu sekarang?" Rengek gadis berambut pirang itu sambil memeluk lengan lelaki itu.


"Aku juga merasa ada yang aneh dengan nya. Tetapi ini belum saatnya Grace, tenanglah bukan kah aku sudah mengatakan bahwa aku hanya mencintai mu? Bersabarlah sedikit lagi, rencana kita pasti akan berhasil" ucap lelaki itu dengan lembut.

__ADS_1


"Br*ngs*k kau Dirto!"maki Finix.


Kemudian karena kondisi yang tidak aman, dia segera pergi meninggalkan tempat itu dan menuju ke arah istana untuk melaporkan hasil pengawasannya kepada sang majikan.


__________________


Varya membuka mata navy nya. Tampaknya ini sudah siang hari. Ia duduk lalu merenggangkan otot-otot nya. Dan gawatnya ia telah melewatkan sarapan nya.


Varya memanggil pelayan untuk membantu nya mandi lalu bersiap. Tak lupa ia menyuruh koki untuk membuat makan siangnya. Hari ini pun ia tak mau keluar dari kamar, pelayan mengatur meja untuk Varya menyantap makanannya.


Saat makanan sudah tersaji. Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya, ternyata itu adalah Finix. Varya langsung menyuruh lelaki itu untuk masuk ke kamarnya.


"Selamat Siang Yang Mulia. Apakah saya mengganggu makan siang anda?"


"Tidak. Apakah kau baru kembali dari tempat itu?"


"Tentu saja Yang Mulia. Saya membawa berita yang sangat penting untuk anda"


"Baguslah, sebelum itu duduklah di sana. Makan lah terlebih dulu, aku akan mendengarkan nya setelah ini" pinta Varya menyuruh Finix untuk duduk di kursi di depannya.


Finix duduk dengan canggung, ia tak pernah duduk satu meja dengan bangsawan terlebih lagi ini putri kerajaan. Varya menyantap makanannya lalu melihat Finix yang terdiam dalam duduknya.


"Mengapa kau hanya diam? Apakah kau tidak suka dengan makanan nya?" Tanya Varya polos.


"Maaf putri tetapi saya segan menikmati makan siang dengan Anda"


"Makan lah! Ini perintah! Kalian tunggu apalagi siapkan untuk pengawal ku" ucap Varya pada pelayan-pelayan itu.


Dengan cepat pelayan pergi menyiapkan alat makan untuk Finix. Karena ini juga perintah, Finix mau tak mau harus memakannya. Meski canggung tetapi ada rasa bahagia di kala itu. Finix tersenyum melihat gadis itu yang lahap dengan makanan nya. Entah kapan terakhir kali ia menikmati makanan nya dengan seseorang. Finix lupa, entahlah hal itu juga tak penting untuk nya.

__ADS_1


...To Be Continued ...


__ADS_2