
Varya melihat pantulan dirinya di cermin, ia menyeringai. Sekarang pakaiannya bukanlah gaun yang indah melainkan baju yang atasannya di lindungi oleh besi dan ia mengenakan celana agar leluasa bergerak.
"Bagaimana Finix? Apakah aku masih cantik saat mengenakan ini?" Varya berbalik menampakkan penampilannya pada sang kekasih yang baru saja sampai.
"Tentu saja kau selalu cantik dengan pakaian apapun itu, Varya~" Finix tersenyum manis.
"Terima kasih" Varya tersenyum puas. Hanya untuk saat ini saja ia bisa tersenyum, ia tak tau apa yang akan dia hadapi nanti.
Finix meraih tangan Varya lalu mengecup punggungnya. Wajah Varya merona, padahal itu sudah sering dilakukan oleh setiap lelaki yang menemuinya karena tata krama.
"Aku, akan melindungi mu. Jadi tolong jangan berbuat nekad, Varya..." Finix menatap Varya dengan cemas.
"Aku akan baik-baik saja. Kau tau bukan aku berusaha keras menunggu hari ini datang?" Varya memeluk Finix agar lelaki itu merasa tenang.
"Ah, aku mendapatkan kabar bahwa rumah Duke Lawrance sudah kosong" lapor Finix, Varya menyeringai.
"Ah~ Saatnya sudah tiba... Mari kita berpesta~"
____________________________
BRAK
Pintu terbuka, tiga orang mencurigakan masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh dua orang pasangan. Suasana gelap dengan mereka yang berpakaian serba hitam. Salah satu dari mereka memberikan aba-aba dan dua orang lainnya bersiap dengan pedang yang akan menusuk pasangan itu.
TRANG
__ADS_1
Belum sempat pedang itu tertusuk di tubuh mereka, kini pedang itu malah terpental ke lantai. Mata mereka membulat menyaksikan pasangan itu sudah berada di belakang mereka.
"AKH!" Jerit kedua orang tadi saat sebilah pedang mengiris kulita mereka secara bergantian hingga menusuk bagian vital mereka.
"Ti-tidak kalian bukan Raja dan Ratu!" Teriak satu orang yang tersisa melihat kedua temannya yang sudah tergeletak di lantai.
"Hey hey! Apa yang kau katakan? Kami adalah Raja dan Ratu masa depan. Namun, kau sepertinya tidak bisa melihatnya karena tidak ada lagi masa depan bagi mu~" seringai gadis berambut dark blue itu.
Lalu laki-laki itu menyusul kedua temannya. Sungguh menyayangkan, mereka berpikir untuk bisa membunuh seseorang malah mereka yang terbunuh.
.
.
Di penjara
Dirto segera membuka kunci, saat pintu jeruji itu terbuka Grace langsung memeluk mereka berdua. Dia sangat ketakutan sendirian di sini. Untunglah rencana mereka berjalan lancar meski ini rencana cadangan karena dia gagal meracuni Varya.
"Nak, apakah kau baik-baik saja?" khawatir Duke yang mengelus rambut putri semata wayangnya.
"Iya ayah. Aku sangat takut. Apakah kau tau? Tadi mereka mengarahkan pedang ke leher ku? Kupikir aku benar-benar akan mati hiks" ucap Grace sambil gemetar. Dirto mencoba menenangkan gadis itu.
"Tidak apa Grace. Tujuan kita akan tercapai malam ini. Dan kau boleh menusuk mereka balik. Kita harus pergi dari sini, waktu kita tidak banyak" Ucap Dirto, Grace langsung mengangguk. Ia percaya bahwa mereka akan berhasil malam ini dan besok ia pasti akan melihat kepala Varya tergantung di alun-alun.
Mereka pergi dengan terburu-buru dari sana. Anehnya saat ini suasana begitu sepi, tak terlihat satu pun prajurit, bahkan di penjara. Dirto berpikir positif, mungkin mereka sibuk menghentikan pasukan yang menerobos istana.
__ADS_1
Mereka memasuki istana, banyak orang-orang tergeletak dengan bergelimang darah. Dirto menyeringai menyangka bahwa itu adalah prajurit-prajurit istana. Mereka berjalan mengendap-endap menuju ruang singgahsana.
"Dirto, aku ingin memberi tahu suatu" bisik Grace di telinga Dirto.
"Apa itu?" Tanya Dirto namun terus melangkah.
"Varya, sudah menjadi monster kau tau?" Langkah Dirto berhenti.
"Ada apa?" Tanya Duke bingung.
"Grace, apa yang kau katakan? Varya hanyalah seorang gadis lemah" Dirto melanjutkan langkahnya sambil berbisik-bisik.
"Sungguh! Semua orang kita terbantai oleh dirinya sendiri!" Ucap Grace mengingat betapa ngerinya Varya dengan pedang miliknya.
"Ck, berhentilah mengatakan omong kosong, Grace" Dirto tak ingin mempercayai gadis itu, karena hal yang dia katakan sangat tidak mungkin.
Mereka akhirnya tiba di depan ruang itu. Dirto mendorong pintu besar itu dengan keras. Begitu gelap di sana, tak ada penerang. Ia juga merasa tak ada satu orang pun di sana.
Namun, itu hanyalah perasaan Dirto saja. Penerang tiba-tiba menyala, membuat mereka bertiga cukup terkejut. Dirto bersiap dengan pedangnya.
PROK PROK PROK
Suara tepukan tangan berasal di depan mereka, tepatnya di singgasana. Belum cukup keterkejutan yang mereka alami, kini mereka lebih terkejut lagi melihat seorang gadis duduk di singgasana sambil menyilang kan kaki. Gadis berambut dark blue itu menyeringai.
"Selamat datang wahai pemberontak! Apakah kalian siap untuk mati sekarang?"
__ADS_1
...To Be Continued...