
"Reina... Terima kasih, aku akan membawa mu bersama ku kali ini. Aku bersumpah, akan menjadi penyelamat mu bukan dia" Reina menatap wajah Varya dengan tampang yang bingung.
Ia mencerna begitu lama hingga ia teringat melihat seorang gadis berambut dark blue di mimpinya. Gadis itu menyambut Reina dengan senyuman yang hangat, Reina juga kemari karena firasat nya yang menuntunnya untuk menemui gadis itu.
"Kau? Aku sudah mengingat diri mu. Apakah kau benar-benar menjadi penyelamat ku?" Reina menggenggam tangan Varya.
"Tentu saja. Aku sudah mengatakan hal itu tadi bukan?" Varya tersenyum hangat membuat Reina meneteskan air matanya.
"Terima kasih... Aku... Sudah lama mencari diri mu..." Ucap Reina haru, ia terus menunggu kapan tiba saatnya gadis itu membawa dirinya dari kehidupan yang mengerikan.
"Reina... Sekarang istirahat lah. Kita akan pergi ke Ferlya besok. Makan lah yang banyak, kau butuh nutrisi yang cukup untuk tubuh mu" Varya iba melihat tubuh kurus Reina.
Reina mengerti, ia mengatakan pada Varya untuk tidur sebentar lagi. Varya mengerti lalu pergi keluar membiarkan Reina beristirahat. Di luar Finix sudah menunggunya.
"Kau pasti lelah juga. Sekarang istirahat lah Finix" pinta Varya dengan raut wajah yang lembut
"Saya akan istirahat setelah menyampaikan laporan ini kepada anda."
"Kau bisa menyampaikan itu nanti. Lihatlah kantung mata itu, kau begadang semalaman bukan? Istirahat lah sekarang Finix. Kau bisa menyuruh bawahan mu untuk mengantikan pengawalan ku." Pinta Varya, tentu saja tak ada yang bisa membantah kehendak nya.
"Baik Yang Mulia. Saya akan mengirim seseorang kepada anda nanti."
__ADS_1
_______________
Varya sedang berjalan-jalan di sekitar penginapan. Di sana ia menemukan sebuah kebun bunga yang indah. Itu sangat cantik, membuat Varya ingin merangkai bunga-bunga itu.
"Yang Mulia apakah anda sangat tertarik kepada bunga-bunga itu?" Tanya seorang pria yang berjalan di belakang Varya.
Dia adalah pengganti Finix untuk sementara waktu. Varya juga sering melihatnya bersama Finix di perjalanan ini. Apakah dia adalah ketua dari pasukan bayaran yang dia pekerjaan?
"Siapa nama mu?" Tanya Varya pada lelaki itu.
"Nama saya Rey Yang Mulia. Sungguh suatu kehormatan bagi saya memberitahu kan nama saya kepada Yang Mulia Putri. Saya hanyalah seorang anak yatim piatu, maka dari itu saya tidak punya nama belakang"
"Pasti kehidupan ini begitu berat bagi mu. Aku mungkin tak tau apa yang kalian alami karena aku hanya hidup di istana yang dipenuhi dengan kemewahan dan kasih sayang kedua orang tua ku. Bisakah kau menceritakan sedikit tentang kehidupan mu? Aku hanya ingin membuka mata ku lebih lebar tentang dunia ini. Ah, jika kau tidak mau aku tak memaksa" Rey membulatkan matanya, ia tak menyangka akan ada orang yang mau mendengarkan kehidupan nya yang sulit selain Finix.
Rey tampak sangat bersyukur ia bisa bertemu dengan ketua mereka hingga sekarang mereka punya rumah yang sesungguhnya.
"Terima kasih..." Rey menatap bingung Varya karena mengucapkan kata terima kasih padahal ia tak melakukan apa-apa pada Varya.
"Terima kasih telah menceritakan kehidupan mu. Aku sangat menghargai itu, aku mengerti sekarang bahwa kebahagiaan itu adalah mensyukuri apa yang kita miliki sekarang. Aku berjanji, akan mulai melakukan penerimaan kepada orang yang kehilangan arah mereka. Aku akan membangun Astra sebagai mana nanti ia akan dikenal dengan Kerajaan yang tak ada seorang pun mengalami kehidupan di sana." Sambung Varya lalu tersenyum manis membuat Rey terpesona untuk sesaat.
Sekarang Varya mengerti, mengapa ayahnya sering melakukan ekspedisi langsung. Ia salah karena selalu mengurung diri di istana tanpa tau ada rakyat yang kesusahan di luar sana. Bahkan ada yang sulit untuk hidup sedangkan dirinya di penuhi kemewahan. Varya kini lebih yakin ia harus menjadi penerus tahta dan memimpin Astra untuk lebih maju. Varya sudah yakin pada dirinya untuk tidak ada kata mundur dalam rencananya. Ini bukan hanya tentang dirinya tetapi juga tentang rakyat nya.
__ADS_1
Varya melihat bunga-bunga itu kembali, ia teringat Finix. Semalam saat Finix di sampingnya tercium wangi bunga yang menenangkan. Itu hal yang tidak biasa, tetapi Varya belum berani bertanya pada Finix.
Mengenai Finix, Varya tidak pernah bertanya bagaimana kehidupan lelaki itu. Ia merasa takut menyentuh sesuatu hal yang sebenarnya tak boleh dia sentuh. Mungkin Varya akan menunggu sedikit lebih lama hingga Finix terbuka pada dirinya dan Varya juga akan menceritakan tentang dirinya kepada Finix.
Entah mengapa Varya merasa hubungannya dengan Finix akan lebih dari bawahan dan majikan. Takdir apa yang telah menantikan dirinya ke depan? Varya akan segera menuju garis takdir itu. Dengan pelan, namun pasti.
__________________
Finix bangun dari tidurnya ketika matahari hampir terbenam, ia tak sadar begitu kelelahan. Sekarang waktunya ia berganti pengawalan dengan Rey. Saat sedang menuju ke kamar Varya, Finix berpas-pasan dengan lelaki itu.
"Bo-eh maksud ku komandan. Anda sudah bangun? Apakah tidur anda nyenyak?"
"Ya begitulah. Bagaimana dengan Putri? Apakah kau menjaga nya dengan baik?"
"Tentu saja. Selain cantik, putri juga memiliki hati yang lembut. Aku sempat terpesona untuk beberapa saat padanya komandan. Bagaimana jantung anda bisa bertahan bersama nya seharian komandan? Jika saya jadi anda saya mungkin sudah pingsan" Ucap Rey santai namun itu mendapatkan tatapan tajam dari bosnya.
"Jangan terlalu banyak membual Rey. Atau tidak aku akan mengirim mu pulang sekarang" ketus Finix membuat Rey terkekeh.
"Apakah anda cemburu komandan?" Goda Rey sontak wajah Finix memerah.
"Berisik"Finix langsung pergi dari sana meninggalkan Rey. Ia tak boleh menunjukkan kelemahan nya pada bawahan nya sekali pun. Dan ia terlalu malu untuk mengakui hal itu.
__ADS_1
"Hey hey lihatlah gunung es yang mencair itu"
...To Be Continued ...