Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 13


__ADS_3

Varya sedang termenung di bak mandinya. Ia sedang mencerna kejadian yang mereka alami tadi siang. Penyerangan di perbatasan daerah Astra adalah hal tak terduga, karena di kehidupan yang lalu tak ada hal itu. Ia juga pernah pergi ke Ferlya bersama Dirto waktu itu tetapi tak ada penyerangan terjadi pada mereka.


Finix mengatakan itu adalah perampok, tetapi Varya menduga bahwa mereka adalah orang suruhan. Kira-kira siapa yang berani melakukan hal itu padanya? Jika itu Dirto, ia tak mungkin membiarkan Varya sekarang di saat Varya sedang tidak ingin menemui nya.


Varya memiliki kecurigaan terhadap Duke Lawrence, bisa saja ia mengirim orang-orang itu hanya untuk membuat Varya terluka, bukan untuk membunuhnya.


Kejadian itu benar-benar menakutkan bagi Varya tapi kedepannya ia akan menghadapi hal yang lebih dari itu. Varya belajar untuk melatih mentalnya dari kejadian ini. Dia tak ingin menjadi pengecut lagi dan menjadi beban untuk Finix.


Mengingat Finix, wajah Varya merona. Ia masih ingat bagaimana ia memeluk erat lelaki itu. Ah, Varya sangat malu sekarang. Dimana ia menaruh martabat nya sebagai seorang putri, benar-benar memalukan.


Varya segera keluar lalu memanggil pelayan yang ia bawa dari istana. Mereka membantu Varya berpakaian serta berdandan. Varya lalu pergi turun ke bawah untuk makan malam.


Mereka tiba sore hari di sebuah penginapan kecil. Varya memutuskan untuk istirahat di sini dan melanjutkan perjalanan ketika matahari terbit nanti. Dan di sini Varya sekarang di meja makan yang dipenuhi makanan. Itu tak membuatnya senang karena Finix hanya berdiri di belakangnya.


"Finix, apakah kau sudah makan malam?" Tanya Varya pada Finix yang ia lihat sedari tadi mengawalnya sejak keluar dari kamar.


"Belum Yang Mulia. Saya akan makan setelah anda"


"Duduklah di kursi depan ku Finix. Ini perintah!"Finix mau tak mau menuruti perintah Varya.


Meski ini bukan pertama kalinya, Finix masih canggung untuk makan bersama majikannya itu. Mereka kemudian makan dan tenang tanpa seorang pun yang tau bahwa saat ini jantung Varya berdetak kencang.


'Ayolah Varya jangan mengingat kejadian itu lagi! Makan lah yang tenang lalu pergi tidur'batin Varya.


Ia sebenarnya sangat malu untuk bertemu dengan Finix tetapi Varya berusaha mengontrol dirinya sebaik mungkin. Ia bahkan masih ingat bagaimana wangi tubuh lelaki itu yang sangat menenangkan. Tidak, Varya tak boleh mengingat itu lagi! Dia harus fokus kepada makanan.

__ADS_1


Sekitar 30 menit Varya selesai dengan makan malam nya. Ia kembali ke kamarnya setelah berpisah dengan Finix. Varya lalu memanggil pelayan untuk mengganti gaun nya dengan gaun tidur.


Itu tak memakan waktu yang lama. Varya segera merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Meski ini penginapan yang kecil tapi kualitas kamar dan pelayanannya tidak diragukan.


Varya mengantuk sekarang matanya terpejam secara perlahan. Saat ia ingin masuk ke alam mimpinya, Varya membuka lagi matanya saat mendengar suara teriakan.


Ia dengan cepat bangun dan mencari asal suara itu. Varya pergi ke arah balkon lalu membuka pintunya. Ia melihat ke bawah sana tak terlihat seorang pun. Apa ini hanya ilusi? Mengapa tak ada orang yang keluar saat mendengar teriakkan itu?


Atau mungkin ini hantu? Sekarang buku kuduk Varya berdiri. Apa benar hantu ada di dunia ini? Varya ingin masuk ke dalam lalu tidur kembali. Sebelum ia berbalik tiba-tiba ia melihat sebuah sinar berwarna hijau dari hutan di belakang penginapan. Sinar itu kecil tak terlalu nampak jika kita tak melihatnya dengan seksama.


Karena penasaran Varya langsung mengambil kain lalu menutup bagian atasnya. Ia segera keluar dari kamarnya yang tak ada seorang pun di sana.


"Yang Mulia!"suara seseorang yang membuat Varya menghentikan langkahnya.


"Aku ingin melihat sesuatu."


"Sesuatu? Di jam segini? Sangat berbahagia bagi seorang gadis untuk keluar sekarang"


"Tenanglah. Aku membawa belati ku" Varya menundukkan belati yang sedang ia pegang.


Finix menghela nafas panjang. Apa yang ia heran kan dengan gadis keras kepala di depannya.


"Baiklah. Izinkan saya menemani anda"Varya mengangguk lalu memberikan persetujuan kepada Finix.


Mereka kemudian keluar menuju hutan yang ditunjuk Varya. Finix siaga dengan pedang nya meski ia sekarang hanya menggunakan kemeja putih saja. Mereka juga tak lupa membawa lentera. Hutan itu sangat gelap, Finix menyarankan Varya untuk memegang lengannya, agar Varya tak terpisah darinya.

__ADS_1


Mereka terus berjalan hingga menemukan kilatan hijau itu. Varya dan Finix segera mendekat ke sana, dan mereka terkejut dengan apa yang mereka temukan.


Ternyata cahaya itu berasal dari liontin seorang gadis yang tak sadarkan diri dari sana. Gadis itu sepertinya pingsan dengan luka-luka di tubuhnya. Varya langsung menyuruh Finix untuk membawa gadis itu ke penginapan.


Saat sudah kembali ke penginapan, Varya memanggil pelayan untuk menghubungi dokter terdekat. Lalu Varya juga menyuruh pelayan untuk membersihkan tubuh gadis yang memiliki warna rambut merah itu.


"Sepertinya dia adalah seorang budak yang berhasil melarikan diri Yang Mulia. Saya mendengar informasi dari bawahan saya bahwa ada sebuah kereta yang membawa banyak manusia singgah tak jauh dari penginapan ini." Jelas Finix setelah mencari tau informasi.


"Apakah kereta itu masih ada sekarang?"


"Saya sudah menyuruh seseorang untuk memeriksanya Yang Mulia" Varya tampak berpikir keras sekarang.


Gadis ini tampak familiar, ia seperti pernah melihatnya entah dimana. Rambut merah termasuk warna yang langka. Varya harus mencari tau hal ini, ia mungkin saja bisa memanfaatkan kesempatan yang datang padanya seperti ini.


Dokter kemudian datang memeriksa gadis yang belum membuka matanya itu. Varya menunggu seksama hasil pemeriksaan.


"Yang Mulia, gadis ini hanya mengalami syok akibat kejadian yang telah ia alami. Luka di tubuhnya bisa sembuh saya akan membuat obat yang terbaik untuk nya Yang Mulia"ucap Dokter itu. Varya mengerti sepertinya gadis itu sangat tertekan dengan apa yang telah ia alami.


Varya memerintahkan Finix untuk mengantarkan dokter itu kembali. Rumah dokter tersebut juga terbilang jauh dari sini. Varya tak ingin terjadi apa-apa padanya.


Varya memandangi wajah gadis itu, dia memiliki paras yang cantik. Jika ia dijual sebagai budak, maka banyak yang akan membelinya. Namun, gadis ini begitu beruntung dapat melarikan diri hingga sampai ke hutan yang gelap itu.


"Cepat lah sadar. Dan katakanlah siapa dirimu. Apakah takdir mempertemukan kita di kehidupan kali ini sebagai musuh atau sekutu?"


...To Be Continued ...

__ADS_1


__ADS_2