
Varya menyandarkan punggungnya ke dinding. Malam ini begitu melelahkan, mental nya mungkin sudah aman tapi tubuhnya tetap saja tidak baik. Apalagi ia menjadi pusat perhatian, setelah ini pasti Dirto akan mengincar nya secara terang-terangan. Di sisi lain, banyak lelaki yang kembali mendekati nya karena Varya sudah tak terikat oleh apapun lagi.
"Anda baik-baik saja putri?" Tanya lelaki berambut pirang yang sudah ada di depan Varya.
"Raja Estria? Apakah anda tersesat?" Bingung Varya melihat lelaki itu kini ada bersamanya. Padahal ia sama sekali tak merasakan kehadiran seseorang mengikutinya.
"Tidak, putri. Aku hanya ingin menyapa diri mu. Tetapi saat aku menghampiri mu tadi, kau malah pergi dengan wajah yang pucat. Karena khawatir aku tak sengaja mengikuti mu" jelas Andro.
"Ah, maafkan saya. Benar yang anda katakan saya merasa tidak enak badan. Saya akan beristirahat terlebih dahulu" Varya menguatkan tubuhnya untuk berdiri dengan tegap.
"Apakah aku boleh mengantar mu? Aku takut jika nanti terjadi sesuatu pada mu, di sini pun sangat sepi" Varya menatap laki-laki itu dengan penuh tanda tanya.
Ini hanya perasaan Varya atau memang lelaki itu sengaja ingin mendekatinya. Tak enak juga untuk menolak tawaran seorang Raja. Tetapi Varya juga merasa tak nyaman dengan hal itu, ada perasaan aneh yang masuk ke dalam dirinya.
"Yang Mulia!" Varya menoleh lalu melihat Finix sedang menghampiri nya.
"Finix, ada apa?" Tanya Varya ketika Finix tepat berada di depannya.
"Yang Mulia Raja sedang mencari anda. Saya akan membawa anda ke tempat beliau" Finix melirik Andro yang tersenyum melihatnya.
"Baiklah. Aku tak bisa membuat ayah menunggu. Saya pamit undur diri dulu Yang Mulia"
"Tentu. Semoga kita dapat bertemu lagi putri" Varya dan Finix menunduk hormat, lalu segera pergi dari sana.
.
.
.
.
Saat dirasa sudah aman Varya menghembuskan nafas panjang. Ia melirik Finix yang berada di sampingnya. Varya tersenyum mengingat lelaki itu datang tepat waktu.
"Terima kasih Finix. Walaupun aku tau kau sedang membohongi ku dan Raja Estria tadi" Varya terkekeh kecil, Finix hanya menggaruk kepalanya karena salah tingkah.
"Maafkan saya Yang Mulia" Sesal Finix sudah berbohong.
__ADS_1
Tadi Finix sempat panik kehilangan Varya, ia tau bagaimana trauma yang gadis itu alami. Saat melihat gadis itu berada bersama laki-laki lain dan hanya ada mereka berdua di sana. Finix merasa ada api di dadanya, ia sengaja berbohong untuk memisahkan Varya dari sana.
"Finix, ayo duduk dulu di sana!" Varya menunduk bangku taman. Finix mengangguk, mereka langsung duduk di sana.
Mereka duduk berdua seperti sepasang kekasih. Angin malam menerpa, membuat bulu kuduk Varya berdiri. Finix dengan sigap melepaskan jas nya lalu memakaikan nya pada Varya. Gadis itu hanya tersenyum atas perlakuan hangat itu.
"Kau melakukan pekerjaan dengan sangat baik selama ini bahkan malam ini. Mengapa rasanya hal ternyaman ku ada pada mu Finix?" Kata-kata itu berhasil terlontar dari mulut Varya, mampu membuat Finix mematung sesaat.
'Eh! Apa yang aku katakan?!' Varya baru sadar atas apa yang telah ia ucapkan.
"Saya... Hanya ingin melakukannya untuk anda. Meski saya tidak diberikan imbalan pun saya akan melakukannya untuk anda." Jawaban Finix memberikan rasa aneh bagi Varya. Jantung gadis itu berdetak kencang.
"Karena kau telah berkata seperti itu. Aku akan mengijinkan mu untuk berbicara informal dengan ku... Panggil lah nama ku untuk hadiah malam ini"
DEG DEG DEG
"Baiklah... Varya..." Nama itu lolos begitu saja dari bibir Finix.
"Iya... Finix..." Varya tersenyum manis yang berbeda dari biasanya, dengan tatapan yang sangat hangat pada Finix.
Lampu taman yang menghiasi kegelapan malam. Langit malam yang menghiasi lagit malam. Dan Senyuman Varya yang menghiasi Finix malam ini.
CUP!
Dan benar saja tubuhnya tergerak oleh pikirannya itu. Ia mengecup bibir itu cukup lama, tanpa adanya penolakan dari sang gadis yang menerimanya. Finix menjauhkan wajahnya ketika sadar apa yang ia lakukan. Matanya membulat melihat rona yang terpancar dari wajah gadis di depannya.
"Ah~"
_________________________
Varya membuka matanya, kepalanya sakit mungkin efek alkohol yang ia minum semalam. Ia berusaha mengingat apa saja yang terjadi semalam, dan kejadian bersama Finix kembali terngiang-ngiang di kepalanya.
"Ah! Apa yang terjadi!!!" Varya membenamkan wajahnya di bantal.
Ia tak menyangka hal ini terjadi. Itu adalah pengalaman pertama, ketika masih bersama Dirto mereka tak pernah melakukan nya. Hanya sekedar pelukan saja. Anehnya semalam ia juga tak menolak, entah apa yang merasuki Varya. Sekarang ia tak berani bertemu dengan Finix.
"Huh! Bagaimana ini!!!"
__ADS_1
.
.
.
.
Di tempat lain terlihat Finix sedang mengayunkan pedangnya dengan kasar. Ia tak fokus, bahkan terdapat luka di dahinya. Itu akibat dari semalam ia membenturkan kepalanya ke dinding. Rasa malu dan bersalah menghampiri nya.
"Huff!" Finix menghembuskan nafas kasar. Ia menghentikan aktivitas nya.
Finix meneguk segelas air yang sudah ia sediakan. Di pikiran nya sekarang hanya ada Varya, kejadian semalam membuat nya tak bisa tidur. Bahkan itu begitu terngiang jelas di otaknya.
"Sialan!" Teriak Finix.
Ia merasa harus menerima hukuman karena berani menyentuh putri raja. Apa yang sebenarnya ia lakukan? Itu terjadi begitu saja seperti air yang mengalir.
Semalam setelah kejadian itu, ia mengantar Varya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Keadaan juga sangat canggung malam itu, untunglah tak ada yang melihat kejadian itu. Jika tidak dia mungkin akan dihukum gantung.
Ia rasanya tak mau pergi ke istana lagi. Bagaimana jika Varya membenci dirinya? Ia tak mau hal itu terjadi. Finix adalah orang yang tak pernah lengah bahkan kepada bawahan nya sekalipun. Ia tak pernah melakukan hal bodoh yang merugikan dirinya. Tetapi kenapa sekarang ia berani seperti itu? Apa yang terjadi padanya?
"Aku tak boleh lari! Aku harus menghadapi nya apa pun yang terjadi!"
_________________________
"Yang Mulia, apakah anda sakit?"Tanya Reina pada Varya yang masih di tempat tidur.
"Tidak. Aku hanya lelah" Jawab Varya singkat.
Reina mengerti lalu menyusun sarapan Varya di meja. Varya ingin sarapan di kamar hari ini, ia ingin beristirahat saja. Tanpa pergi kemanapun, sehari saja setelah itu Varya akan kembali mengurus tugasnya.
Varya turun dari kasur dan berjalan ke meja. Saat mendekati Reina yang sedang beraktivitas, pandangan Varya terhenti di leher putih gadis itu.
"Reina. Apakah kau digigit serangga? Ada bercak merah di leher mu?"
"Eh?!"
__ADS_1
...To Be Continued ...