Aku Adalah Kematian Mu

Aku Adalah Kematian Mu
Chapter 22


__ADS_3

Varya tersenyum puas saat membaca pemberitahuan dari Leon. Mereka diundang ke istana untuk membicarakan rencana tempo hari. Akhirnya hari itu datang juga, Varya tentu sudah tau apa hasilnya. Ia sudah menyuruh seseorang untuk mengawasi dan ia mendapatkan laporan yang cukup menegangkan.


"Finix, bersiaplah besok kita akan pergi ke istana. Dan secepatnya kita akan kembali ke Astra, sudah hampir dua Minggu kita di sini. Aku tak mau membuat orang tua ku khawatir" Varya menaruh surat itu di atas meja. Ia bangun dan melihat lautan di balik jendela nya.


Varya tidak yakin apakah dia bisa kembali ke sini atau tidak. Ia takut nantinya orang-orang di sini akan membencinya karena rencananya ke depan. Varya berharap bahwa itu tak terjadi ke depannya, jika pun terjadi yasudah. Tidak ada yang bisa Varya lakukan.


"Yang Mulia apakah kita akan menginap di istana?"


"Tidak. Kita ke sana hanya membicarakan bisnis, bukan untuk berlibur di istana. Kita akan kembali lagi ke sini saat petang. Ada hal yang ingin aku cari tau di ibukota " Finix tak menanyakan apapun lagi karena ia tau apa yang harus ia lakukan.


Keesokan paginya, Varya sudah sampai di istana tepat waktu. Ia hanya mengajak Finix bersamanya, ada tempat yang ingin ia kunjungi dan ia tak mau Reina tau hal itu. Varya langsung disambut oleh pelayan lalu dituntun ke ruang yang di siapkan.


Tak lama mereka sampai, pintu ruangan itu terbuka dan tentu saja Leon selalu menunggu mereka terlebih dulu. Varya memberi salam, ia duduk saat Leon sudah menyuruhnya untuk hal itu. Seperti biasa, pelayan menuangkan teh ke cangkir Varya. Lalu mereka keluar bersamaan dengan Finix. Pembicaraan ini tampak begitu serius hingga menyisakan mereka berdua di ruangan itu.


"Saya tidak suka berbelit Yang Mulia. Mohon untuk ke intinya saja" Leon terkekeh mendengar hal itu, gadis di depannya ternyata tidak sesabar perkiraan nya.


"Aku telah menerima laporan bahwa benar apa yang telah kau katakan. Dan aku akan menuruti kemauan mu Putri. Aku juga sudah menandatangani surat itu" Finix melirik kertas di atas meja. Varya menyeringai melihat kertas itu yang sudah ada stempel dan tanda tangan raja Ferlya di sana.


"Ah, bolehkah saya menambahkan satu penawaran kepada anda Yang Mulia?" Tawar Varya, Leon menyeringai mendengar perkataan gadis berambut dark blue itu.

__ADS_1


"Apakah dengan penawaran itu aku bisa mendapatkan Pelayan Pribadi mu Putri?" Varya terkekeh mengetahui kelicikan lelaki itu.


"Ah~ Saya tak pernah melarang untuk orang-orang saya menemukan kebahagiaan nya tetapi saya tidak boleh menjadikan seseorang yang saya sayangi sebagai penukaran ini Yang Mulia"


"Jika begitu aku tak bisa mendengar penawaran mu Putri, kau pasti sudah tau bahwa aku begitu tergila-gila dengan gadis bersurai merah itu."


"Saya akan memberikan jawaban tentang hal itu saat waktunya tiba Yang Mulia. Sekarang saya hanya ingin membatalkan pertunangan saya dengan orang anda. Itu sudah saya dapatkan, tetapi anda tau bukan? Manusia memiliki sifat serakah. Saya ingin anda melarang Dirto untuk menginjak kan kakinya lagi ke Ferlyia."


"Mana mungkin aku dapat melakukan hal itu kepada orang yang sudah bersumpah setia pada ku Putri"


"Ah~ Dia sangat setia pada anda, hingga membantu anda menghabisi nyawa saudara-saudara anda untuk mendapatkan tahta bukan?" Mata Leon membulat mendengar hal itu, itu adalah rahasia nya dan Dirto saja pada waktu itu.


"Ah~ Terlebih lagi Dirto telah membantu Kakak nya untuk naik ke tahta yang tak bisa ia dapatkan"


Ujung pedang itu kini berada di depan wajah Varya. Tetapi hal itu tak membuatnya takut. Malah ia terkekeh geli, ia sudah berhasil menemukan kelemahan Raja Ferlya sekarang. Ada kemungkinan nya untuk mati sekarang.


"Lebih baik, kau menjaga mulut mu untuk keselamatan nyawa mu Putri. Ini bukan wilayah mu, aku tak takut perang terjadi lagi antara kedua kerajaan ini. Jadi aku bisa membunuh mu sekarang" Mata Leon seolah menyala sekarang menampakkan kemarahannya.


"Anda pasti penasaran darimana saya mengetahui hal ini? Saya juga tak kan mengatakan meski saya terbunuh hari ini. Namun, anda perlu tau saya tidak selemah yang anda bayangkan. Rahasia ini tentu saja dapat semua orang ketahui jika nyawa saya melayang hari ini. Dan jangan anda pikir saya tidak tau rencana lelaki brengs*k itu untuk merebut Astra." Pedang itu semakin mengarah ke leher Varya.

__ADS_1


"Apakah lagi-lagi anda terkejut? Lelaki itu sebenarnya sangat haus akan tahta namun ia tak bisa mendapatkan di Ferlya. Hingga dia bermimpi untuk bertahta di Astra, dia sama sekali tak mencintai saya. Tidak seperti anda mencintai Reina. Saya sudah tau kebusukan kalian, tetapi karena memikirkan Ferlya negara yang luas dan anda memimpin nya dengan sangat baik, saya akan memaafkan anda tetapi tidak dengan dia. Sekarang pilihan ada di tangan anda, anda dapat memilih melepaskan anak haram itu dan tak melihatnya selamanya lagi atau rahasia kebusukan Raja Ferlya akan tersebar ke seluruh penjuru!" Leon menurunkan pedangnya, jika sampai ia membunuh Putri Astra dan rahasia nya tersebar mungkin hakim akan segera menyeretnya ke penjara.


Tetapi ia juga tak bisa melepaskan adiknya yang telah membantunya naik ke tahta, meski dia anak haram raja. Ia juga bisa saja membongkar semuanya.


"Anda tak perlu khawatir bahwa Dirto akan mengungkapkan kejahatan kalian, karena saya sudah menyiapkan sebuah rencana untuk anda. Jika anda setuju tahun depan di musim semi anda boleh menjemput Reina sebagai pasangan anda. Itu janji saya, kita bisa membuat perjanjian rahasia di sini sekarang. Terlebih lagi tidak ada jaminan bahwa Dirto akan selalu setia pada anda bukan? Anda pasti tau bagaimana sikap buruknya" Leon tampak berpikir keras akan hal itu, hingga akhirnya ia mengambil sebuah keputusan.


"Baiklah, tetapi janji anda Putri" Varya tersenyum penuh kemenangan.


"Tentu saya Raja Ferlya~"


___________________________


"Yang Mulia anda baik-baik saja?" Khawatir Finix.


Sekarang mereka sudah berada di kereta, Varya tampak bahagia setelah keluar dari ruang itu. Finix baru menanyakan keadaan nya di kereta karena tak ada yang mengawasi mereka lagi.


"Tentu saja. Jika tidak hanya tubuh tanpa nyawa yang keluar dari sana tadi" Ucap Varya santai.


"Syukurlah Yang Mulia. Saya rencananya akan memaksa masuk jika anda tidak keluar lebih lama lagi" Finix menghela nafas lega.

__ADS_1


"Tenang saja. Mental ku aman, aku sudah mempersiapkannya dari jauh hari. Terima kasih telah bersama dengan ku Finix" Varya tersenyum manis membuat Finix tertegun sesaat. Lalu terjadi keheningan untuk sesaat hingga mereka tiba di tempat tujuan.


...To Be Continued ...


__ADS_2