
Tama tersenyum, Ginsul dengan tertatih mendekatinya yang baru saja pulang.
"Tama, malam sekali Kau pulang?"
Tama mengamati kaki Ginsul.
"Kaki mu masih sakit?" Tama balik bertanya.
Ginsul mengangguk.
"Kau bilang akan menjemputku?"
Ginsul seperti mengambek.
Tama tertawa kecil.
"Maaf Gins, pak Amin mendapat callingan lagi,"ucapnya seperti menyesali dengan apa yang telah Ia janjikan kepada Ginsul.
Ginsul melebarkan bibirnya. Sempat marah dalam hati kepada Tama karena menunggunya. Tawaran Alisa dan Para Gins untuk pulang bersama harus Ia abaikan mengingat tengah menunggu Tama yang akan menjemputnya, namun hingga semua yang ada di sekolah pulang dan tinggal Ia sendiri di gerbang Sekolah Tama tidak kunjung menjemputnya.
"Gins?"
Ginsul hanya terdiam menatap Tama.
"Apa Kau tidak percaya?"
Ginsul seperti tergagap akan pertanyaan Tama.
"Percaya, Aku percaya kok," ucap Ginsul memegang tangan Tama.
Tama melihat tangannya yang di pegang Ginsul.
Hatinya terasa ada yang melempar, terasa debar yang mengenai di hati. Begitu terasa...
Tama tersenyum, inikah debar cinta? Gelora hatinya lirih, menatap senyum Ginsul yang kini terlihat begitu menyenangkan hati.
"Jangan melihatku seperti itu,"ucap Ginsul malu.
Tama nyengir kuda, betapa kini hatinya terasa ada menjungkit ke langit untuk dapat melihat dan merasa wajah malu seorang pacar ternyata begitu menyenangkan.
"Seharian Aku hanya melihat buah, mengapa Aku tak beloh melihatmu sepuasku?"
Tama semakin tidak berkedip.
Ginsul salah tingkah, menatap Tama dengan manja.
"Aku malu dengan Nenekmu."Ginsul seperti berbisik.
Tama langsung melihat ke arah Rumah, pintunya memang tengah terbuka namun Neneknya tidak nampak terlihat.
Melihat wajah Ginsul lagi.
"Tidak ada siapa-siapa?" Heran Tama.
"Aku sejak tadi berbincang dengannya," jelas Ginsul melihat ke dalam Rumah.
Tama terpana. Tumben sekali Ginsul ke rumahnya hingga malam?
Tama tersenyum lagi, apakah karena cinta yang baru terjalin?
"Sungguh!" Ginsul menyakinkan. Bergelayut di tangan Tama penuh manja.
"Tanganku pegal, jangan Kau goyang-goyang." Risih Tama melihat kembali ke dalam Rumahnya.
"Nenekmu sudah tidur," jelas Ginsul memperhatikan Tama.
Tama terbengong kecil tidak percaya. Kebiasaan Neneknya jika Ia belum juga pulang, tetap akan menunggunya meski sampai pagi.
"Aku yang menyuruhnya,"jelas Ginsul lagi.
Tama kian bengong. Sepertinya Ia tidak percaya jika Ginsul bisa membuat Neneknya tertidur, tanpa melihatnya pulang terlebih dahulu.
"Iya, Nenekmu tadi mengantuk, jadiku suruh tidur. Biar Aku saja yang menunggumu," terang Ginsul kemudian.
"Sungguhan!"
__ADS_1
Tama sangsi.
"Ahhhh! Tama! bentulaaan!"
Ginsul dengan wajah manja.
Tama mencubit pipi Ginsul gemas.
Ginsul mengaduh manja.
"Tama sakit!"
Tama tertawa kecil, menuntun Ginsul untuk masuk ke dalam Rumah.
"Tama mengapa Kau tidak mencubit pipiku yang satu lagi?" Ginsul meski wajahnya kian bersemu campur senang.
Tama melihat heran senyum Ginsul.
"Tadi Kau mengaduh sakit?"
Ginsul melebarkan senyumnya, terlihat Gingsul di bibirnya.
"Memang sakit." Menatap mata Tama lekat.
"Tapi Aku suka," ucapnya kemudian. Meski debar di hati bagai guncangan yang tiada sanggup Ia redakan, berpijaran bagai kembang api di malam pergantian tahun.
"Mungkin lebih sakit lagi jika ku cubit pakai penjepit paku."Tama kian gemas, meski sebenarnya Ia pun ingin mengulangi lagi mencubit pipi Ginsul. Karena baru pertama kali Ia berani menyentuh pipi Ginsul, Ternyata ! Senang sekali punya pacar! Terasa milik sendiri! .
"Tama? Mengapa Kau senyum sendiri?"
Tama tergagap pelan.
"Ah! Tidak apa-apa,Aku hanya..."
"Hanya apa?"
Ginsul menarik-narik tangan Tama.
Tama menatap dalam mata Ginsul.
"Tama, Ahhh! jangan melihatku seperti itu...."
Ginsul mendekatkan wajahnya ke wajah Tama meski tertunduk.
Tama mengangkat tangannya, niat hati ingin menyentuh pipi di depan wajahnya. Namun kini terasa berat, seperti rasa gemetar di sekujur tubuhya.
Baru kali ini Ia memiliki pacar.
Tangan-nya kembali luruh tiada sanggup memetik ranum di pipi Ginsul.
Tapi, bibir tipisnya semakin maju mendekati garis finish.
Ginsul mematung memejamkan matanya, sementara tanganya memegang kuat kepala kursi, seperti takut akan hempasan yang akan dirasakan-nya.
Suara Motor mengagetkan keduanya.
"Tama! Apa Kau sudah pulang?"
Tama dan Ginsul langsung berubah posisi dengan terburu-buru duduk di kursi.
"Tama!"
Tama dan Ginsul bertatapan risau.
Di dalam kamar, Neneknya memangil. Sedangkan di luar Pak Amin pun memanggilnya.
"Iya Nek! Iya Pak!"
Tama setengah berteriak menyahuti.
"Ayyyyyy!"
"Tam, larut sekali Kau pulang?"
Tama menegok Pak Amin yang langsung masuk kerumah, dan melihat Neneknya yang bediri didepan pintu kamar.
__ADS_1
"Ada Pak Amin, Ginsul belum pulang?"
Nek Imah mendekati Tama dan Ginsul.
"Ayyyyyy! Nek, sudah sejak tadi Tama pulangnya!"
Pak Amin melihat Ginsul.
Ginsul senyum manggut.
"Nek, Tama, Aku pamit pulang ,sudah larut,"
Ucap Ginsul risih di perhatikan Pak Amin dengan kepulan Asap kreteknya.
"Oh Iya, Nenek terimakasih sudah bersedia menunggu Tama pulang."
Nek Imah senyum dan melihat Tama.
Tama segera mengikuti langkah Ginsul keluar Rumah.
Pak Amin semakin dalam menghisap kreteknya.
"Gins, Aku antarkan sampai depan Rumahmu," pelan Tama seperti berbisik.
Ginsul menoleh Pak Amin dan Nek Imah,
Lalu mengangguk melihat Tama.
"Ayyyyyy!!"
Terdengar suara Pak Amin.
Keduanya tersenyum tertahan.
"Tama, apa tadi suara raja rimba?"
Ginsul memegang tangan Tama, setelah yakin Pak Amin dan Nek Imah tidak melihatnya.
Tama menggerakkan tangannya, menandai akan suara Ginsul.
"Bayangkan kalau kumisnya di cukur,pasti lebih mengaum lagi," ucap Tama geli.
Ginsul mengulum senyumnya.
"Gins, apa Kau tidak di marahi orang tua mu?"
Tama melihat Warung ginsul yang telah tutup begitu juga pintu Rumahnya.
"Aku sudah bilang, menemani Nenekmu," jawab Ginsul memainkan tangan Tama seperti tengah latihan baris-berbaris.
"Sampai di sini saja Gins."
Tama berhenti berjalan.
Ginsul mengangguk senang, sekarang pulang ada yang menemani. Senyum senangnya pun seperti terukir di hati.
"Iya sudah, Aku pulang iya, Tama," ucapnya dengan lambai Da-da! nya.
Tama tertawa kecil, menatap riang wajah Ginsul dengan gingsul di bibirnya.
Malam kini terasa begitu menyenangkan hati, benarkah cinta yang baru tumbuh kepada Ginsul yang membuat semua nampak indah.
Tama melebarkan senyumnya. Sebelum masuk ke dalam Rumah Ginsul kembali melambai padanya, tentu juga dengan senyumnya.
Perlahan kembali ke arah Rumah dengan senyum dan nafas ringan, terasa bebas rasa di dalam dada. Wajah Ginsul barusan seolah berada di kelopak mata yang masih jelas terbayang.
Ada rasa lirih mengingatnya.
"Ayyyyyyy!!"
Tama menahan tawanya kembali.
Raja Rimba kembali mengaum dengan suara khasnya tengah menantinya di depan pintu Rumah.
Namun ada yang lebih membuat hatinya bagai berteriak, Ginsul tadi Ah! membuat seperti lupa diri, membuat rasa yang baru kali pertama begitu bersemangat menyambut pagi esok, tentunya bisa kembali melihat Ginsul. Cinta yang kini Ia miliki.
__ADS_1
...****************...