Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
6. Kyra-kira Dong Agresipnya.


__ADS_3

Tama melepaskan Si Puham dari gendongan-nya. Senyum kikuk bercampur malu menghiasi bibirnya yang merah.


Suara Puham terdengar sudah berada di dapur belakang.


Tama menoleh, mengalihkan tatapan bulat mata di depanya.


"Tama, sombong!"


Tama langsung melihat kembali pemilik mata yang indah di depan-nya.


"Kyra."


Senyum Tama meski terlihat canggung.


Kyra adalah teman sekolahnya hanya berbeda kelas. Rambut nya berpoles warna coklat emas dengan mengikal bergulung mendekati ujung rambutnya yang sepundak.


Putih mirip orang bule.


"Aku dari tempatnya Gins."


Kyra dengan menunjuk ke arah warung Ginsul.


"Apa Aku tidak boleh masuk?" Tersenyum dengan tatapan indah.


Tama semakin kikuk.


"Iya boleh, boleh dong!" Kikuknya seperti sadar juga tengah berbicara di depan pintu.


Tama langsung memukul-mukul kursi kayu dengan alas busa bermotif seperti Batik.


Kyra tersenyum manis.


"Seperti orang yang tengah menanyakan alamat saja."


Kyra dengan duduk.


Tama tersenyum malu.


"Iya maaf, Aku sempat heran tadi." Tama ikut duduk.


Salah juga memang Ia tadi. Salah berlama-lama terkesimanya, hingga lupa menyuruh masuk.


"Sombong sekali sih, Kau Tama? bahkan chat wa-ku pun tidak pernah kau balas?"


Tama menahan rasa bengongnya.


Kyra yang ternyata membuat Chat-chat manis untuknya. Dari yang, P! Sampai yang Goodnight!.


"Kyra sih! Pakai photo gorila, jadi Aku tidak paham."


Tama tertawa pelan.


Sebuah pukulan tak sampai terarah ke pundaknya.


"Habis Kau mirip dengan Tarzan!" Balas Kyra


"Tarzan yang cantik." Lanjutnya dengan ikut tertawa pelan.


Suara mengeong terdengar.


Tama dan Kyra tertawa berbarengan.


Tama melihat senang wajah Kyra.


Kyra dan teman-temanya di sekolah sering sekali ke Rumahnya, apalagi setelah Ia putus sekolah. Tapi karena rasa malu Ia jarang menemui mereka, hingga jarang pula mereka untuk datang bertandang lagi.


"Gins bagaimana ya? masa pulsanya tidak masuk-masuk?" Kyra melihat Handphone-nya.


Tama terpaku menatap. Sebuah merek Buah ternama keluaran terbaru terlihat di Handphone Kyra.


Perlahan menarik nafas dalam.


Sepertinya, berkarung-karung buah yang pernah Ia unduh. Belum pernah Ia mendapatkan satu buah seperti di Handphone Kyra. Terlihat bekas, bekas ada yang memakan.


"Gangguan mungkin Kyra?"


Tama masih melihat Handpohe di tangan Kyra.


"Sinyal-nya penuh?" Melihat Tama.

__ADS_1


"Tunggu saja, mungkin Gins belum mengirim pesananmu." Tama lagi.


Tama tertunduk mata indah Kyra membuka lagi sebuah rasa.


Rasa naksir pertama kali melihat Kyra jadi rebutan teman-teman sekelasnya bahkan seantero sekolah.


Dari Kaka kelas yang berbondong-bondong pada ikut ambil bagian dalam persaingan memperebutkan No Handphone Kyra, yang ujung-ujungnya meraih rasa simpati kemudian rasa terpikat dan menjadi gebetan di akhir kompetisi.


Pada over! semua. saling terbuka dengan kepiyawaian mengutak-atik jari di atas keybord untuk setatus di dunia maya.


"Nah! ini baru masuk." Bibir Kyra bergurat senang.


Tama nyengir kecil.


"Tidak ada minuman nih?" Kyra melihat dengan mata atasnya.


"Oooohhh! Iya!"


Tama segera bangkit dengan tersenyum lebar.


Kyra memang selalu berbicara tanpa basa-basi, seperti yang Ia kenal.


Terdengar Suara Puham mendekati.


Tama segera menggendongnya dengan membawanya kembali ke dalam dapur.


Kyra menatapinya dengan tersenyum.


"Hanya ada air putih, dengan pendingin alami. Dingin sendiri."Tama membawa segelas Air putih.


Si Puham kembali mengeong.


"Tenang! Gins kan, dekat. Titip sebentar saja di pendingin minuman di warungnya," ucap Kyra menanggapi.


"Kyra-kira dong!"


Tama tertawa kecil.


Kembali Kyra memukul tak sampainya saat Tama menaruh segelas air putih di meja.


Tama seperti orang tengah menghindar.


Tama dan Kyra saling berpandangan, senyum malu keduanya dengan saling membuang pandang.


"Tama, Kau tidak berubah? sama seperti dahulu."


Kyra menatap malu kembali.


Dari sejuta umat di sekolah, seingatnya memang Tama yang tidak pernah mengucapkan kata Suka! atau kata-kata yang berindikasi Nasksir berat! hingga saat kini.


"Semua orang berubah-lah, hanya mungkin Kau yang tidak suka memperhatikan," sangkal Tama pelan.


Kyra memperhatikan Tama.


"Bukan seperti itu juga!" Kesal bercampur risih tiada tara Tama diperhatikan sedemikian rupa.


"Ada loh, cowok di perhatikan cewek kok, tidak suka?"


Kyra mencibir.


Suara mengeong terdengar.


"Bagus!" Seru Kyra girang.


"Sepertinya kucingmu setuju denganku," ucapnya lagi.


Tama melihat ke arah Puham yang menghilang.


Lalu tersenyum.


"Kucing kalo lapar ya, mengeong! Kyra-kira dong." Tama menanggapi.


"Masa! Tarzan kurang mengerti bahasa hewan-nya?"Kyra sembari melihat Handphone bermereknya. Sejak kapan Tarzan melihara Kucing? Tama tersenyum sendiri memperhatikan Kyra.


Dahulu sempat Ia berusaha juga untuk ikut-ikutan ajang memperebutkan Kyra, meski tidak terlalu terlihat seperti kebanyakan teman-temannya.


Namun sepertinya Ia pun harus memisahkan diri dari kerumunan hati yang tengah berebut pesona, layaknya sebuah Festival.


Anggap saja Ia kalah sebelum berperang.

__ADS_1


Intinya! Ia malas bersaing.


bertekuk lutut dengan hanya menjadi penonton dalam pesaingan.


"Tama!"


Tama senyum listrik tersentak kejut gitu!


"Aku di sini Tama, jadi tidak usah deh, pikir yang lain."


Kyra mendekati Tama, duduk manis dengan senyum.


Tama cengar-cengir tidak karuan.


Karuan Si Puham yang tengah mengeong.


"Kyra-kira lah!"Kilah Tama menutupi debar di hati.


"Sudahku perkirakan kok!" Balas Kyra memegang tangan Tama.


Tama tertegun.


Sungguh Ia tidak mengerti dengan pegangan di tangan-nya, namun sekarang Ia tahu ternyata Kyra-kira dong agresipnya!


"Kyra,lepaskan Aku," ucap Tama memegang tangan Kyra.


Bukannya merasa malu atau merasa terlalu, Kyra menumpuk lagi tanganya di atas Tama.


"Bagimana Aku melepasmu? Kau sendiri yang memegangku." Kelaknya manis.


"Apa iya?" Tama dengan menarik pelan tanganya.


Namun sepertinya Kyra tidak mau melepasnya.


"Kyra, jangan gitu? Ada uangnya loh, di tangan ku."


"Paling go...." Kyra tetap menahan tangan Tama.


"Go-go!goooooo!"


Tama menarik keras tanganya.


Kyra cemberut berat.


Tama menatapi dengan nyengir kecil.


Selama di sekolah Ia jarang melihat Kyra dalam keadaan cemberut seperti senang-ceria saja, mungkin karena banyak siswa yang mengidolakan-nya? atau Ia yang kurang fokus?


Tama tersenyum.


Dan baru kali ini juga Ia bisa memegang tangan Kyra.Jika masih di sekolah, jangankan memegang melihat saja sudah di dahului para pemujanya jadi: Suntuk mending tidur! tapi kini...


"Ternyata, Kyra?" Girang-girang sedikit di hati.


Tama terpana sesaat, tatap mata Kyra seperti gempa kecil di hati, menggetarkan rasa yang ada. Sesaat muncul juga rasa penyesalan di hati, kenapa Ia lepaskan tanganya dari tangan Kyra,"Akhhhhhkh!kapan lagi?" kata hati terasa mulai mengusik.


"Tama, sebenarnya Aku kemari ingin minta bantuanmu," ucap Kyra kembali duduk di tempat semula.


"Buah klengkeng di Rumahku, sudah waktunya di unduh."Kyra lagi.


Tama tersenyum geli.


Pohon Klengkeng di Rumah Kyra sangatlah pendek, karena Ia pernah melihat dan mengambil buahnya bersama Ginsul saat bermain usai pulang Sekolah.


Tidak perlu memanjat pun masih bisa di petik, jika kini Kyra memintanya untuk mengunduh buahnya pasti ada sebuah alasan yang tersembunyi di permintaanya.


"Oke! pokoknya Aku tunggu besok!"


Kyra bangkit, langsung pergi.


Tama terbengong kembali. Rasanya Ia belum memberikan jawaban atas permintaan Kyra.


Lagi-lagi tanpa basa-basi terabas bebas tanpa permisi lagi.


Tama berdiri mendekati pintu, berdiri di tiang pintu menyandarkan pundaknya melihat Kyra yang sempat membalikan wajah tersenyum riang kepadanya.


"Kyra-kira,"gumamnya pelan.


*******

__ADS_1


__ADS_2