Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
37. Akar Gantung


__ADS_3

"Aduhhhh!'


Tama memegangi bagian belakang bawah tubuhnya dengan berdiri di atas cabang Pohon.


"Pak Amin!" Serunya lagi. Melihat Galah bambu di tangan Pak Amin yang dipergunakan untuk menyogoknya.


Kupluk sakti yang menutupi seluruh wajah begitu rapat menyembunyikan rimba hitam kumisnya yang mengembang karena tertawa.


Tama mendengus kesal.


Rambutan yang Ia pengang terjatuh karena terkejut, bahkan yang berada dalam mulutnya.


Pak Amin membuka kupluknya.


Tama menghela nafasnya dalam dan cepat menghembuskannya. Jelas sudah terlihat bagai Kulit rambutan layu diatas bibir Pak Amin dalam tawa suka atas kelaukan sengajanya.


"Tama! Apa yang tengah Kau pikirkan?" Pak Amin seperti mengejek.


"Apa Kau berhayal menjadi juragan buah?"


Tama melebarkan bibirnya. Lalu gergelayut turun.


"hup." Di depan Pak.Amin.


Pak Amin menyulut kteteknya.


"Aku hanya berpikir, mengapa Kita harus menunggu pemilik pohon Pak?" Tama mengeluh. Berjalan mendekati Motornya.


"Hampir jam makan siang!" Duduk di atas jok Motor.


Pak Amin seperti orang yang benar-benar sakti yang bisa mengeluarkan asap dari seluruh wajahnya hingga ke ubun-ubun.


Tama membuang wajah kesal.


Pak Amin kembali tertawa setelah meniup asap dari mulutnya.


"Sabarlah Tama!"


Tama langsung mencibir di dalam hatinya.


"Pemilik pohon tengah di pasar, mungkin sebentar lagi?"


Tama membuka Kuncir rambutnya.


Rambut panjangnya terurai terkena angin. Melihat beberapa Pohon rambutan yang berbuah sangat lebat. Sedang Ia telah berjanji akan menemani Ginsul sore hari ke rumah Kakek dan Neneknya.


Namun melihat tugas yang belum lagi di mulai membuatnya mulai terlilit rasa gelisah.


"Mungkin malam baru bisa selasai Tama!"


Tama semakin menahan rasa gelisahnya, tamat sudah janjinya sore nanti, mendengar penjelasan Pak Amin.


Menatap lekat wajah Pak Amin yang terlihat senang, mengipas-ngipaskan kupluk ke wajahnya. Sedangkan cuaca tengah mendung.


"Pak, sepertinya akan turun hujan." ucapnya dengan melihat awan di sela Daun rambutan.


"Ayyyhhh! Tenang saja Tama! Tidak akan hujan!"


Tama kembali menggerutu di dalam hati, ucapan Pak Amin seperti pawang hujan saja.


"Tugas hari ini, harus Kita selesaikan sebaik-baiknya!"


Tama mencibir kembali di dalam hati, mengingat peristiwa di mana Ia dan Pak Amin terjatuh saat tengah mengunduh Buah duku di saat hujan.


"Ayyyyy! Tama! Tugas-tugas! Tapi Kita harus memperhatikan keselamatan Kita, jika hujan lebih baik Kita tunda saja!" ucap Pak Amin padanya saat itu.

__ADS_1


Namun kini ucapapan-nya seperti tidak mengenal waktu dan cuaca.


"Lebih cepat selesai, lebih cepat cuan yang mengalir Tama!"


Tama segera kembali mendekati Pohon rambutan mendengar suara Pak Amin membuyarkan lamunan-nya.


Menyandarkan punggungnya di pokok batang Pohon. Bersedakep menatap Pak Amin.


"Jika saja sejak tadi Aku memanjat, mungkin sudah setengah jalan dari tugas Kita?"


Tama dengan rasa gelisah. Ingatanya tertuju pada Ginsul.


"Ayyyy! Tama! Tumben sekali Kau ingin cepat bertugas?"


Tama bedecak pelan. Pak Amin seperti tidak mengerti akan perasaan anak muda saja?


Tama menggaruk kesal rambut di atas keningnya.


Perlahan mendongak ke atas kepalanya. Bersuara di dalam hatinya, berharap agar hujan benar-benar turun dengan lebat hingga sore, agar bisa diteruskan esok hari. Dari pada Ia harus menunggu lama tanpa kepastian dan juga rasa gelisah.


"Tama!"


Tama lekas melihat Pak Amin yang tengah melihat jam di Handphone-nya.


"Sudah masuk jam istirahat, tapi mengapa Aku belum merasakan lapar?"


Tama melebarkan kesal bibirnya. Kata yang selalu Ia dengar jika belum melakukan tugas. Pak Amin pasti akan menunda makan siang hingga melihatnya tengah bertugas.


"Nanti saja Pak Amin," ucapnya melihat Pak Amin menarik dompet dari saku celananya. Seperti biasa Pak Amin akan memeriksa isi dompertnya sebelum mencari Nasi untuk makan siang.


"Ayyhh! Tama! Benar sekali apa yang Kau katakan!"


Tama melebearkan bibirnya kesamping, menatap Pak Amin melihat ke atasnya. Lalu melayangkan tatapnya saat Bibir Pak Amin mengembang hitam.


Sebuah Pohon Rambutan yang berbuah lebat dengan Pohon Pisang Raja yang tumbuh begitu dekat, hingga cabang dan ranting bahkan buahnya mengenainya. Sepeti Pohon Pisang yang berbuah Rambutan.


"Tama!"


Ia pun terkejut melihat Pak Amin yang memanggil dengan memakai kembali kupluk saktinya.


"Iya, Pak!" Seperti malas untuk menyahuti.


"Aku rasa tidak akan hujan?"


"Iya, Pak!" Sahutnya lagi dengan melihat ke atasnya.


Mendung terlihat semakin hitam, perkiraan-nya sebentar lagi pun akan segera turun hujan.


Dengan rasa malas kembali melihat dahan kering dedauan pisang.


Namun tatapanya terusik dengan sesuatu yang terasa mengenai tanganya.


Tama tersenyum melihat Pak Amin yang santai melihat -lihat Handphone.


"Pak! Apakah ada pondok di sini?" Tanya-nya dengan memperhatikan sekelilingnya.


"Ayyyy! Nanti Kita makan di bawah pohon saja Tama!" Pak Amin acuh.


"Kebasahan Pak Amin!" Serunya melihat ke atas langit.


"Ayyyyh! Seperti kehujanan saja Tama!"


Tama senyum-senyum mendengar jawab Pak Amin. Lalu perlahan mendekati Motornya.


Matanya kembali tertuju pada Pohon Rambutan dan Pohon Pisang. Rasa hatinya seperti ingin bergelayut di daun pisang yang kering, layaknya akar gantung untuk berayun dari pohon ke pohon yang lain. Meninggalkan Pak Amin sendiri di tengah Kebun Rambutan menunggu pemilik kebun dengan kebasahan. Sementara Ia tengah bersama Ginsul.

__ADS_1


"Tama!"


Bibir Tama yang baru tersenyum lebar, harus kembali ke sedia kala. Sultan Amin mengagetkan-nya lagi.


"Sebaiknya Kita mencari tempat berteduh dahulu, sepertinya akan hujan?"


"Sultan Amin! Sultan Amin!" Gerutu hatinya. Rintik yang jatuh dari balik dedaunan rambutan dan bukan lagi menandakan akan turun hujan, melainkan telah turun. Ia pun dengan sedikit kesal memutar kunci kontak motornya.


Setelah Pak Amin terlebih dahulu menghidupkan Motornya.


Segera mengikutinya dari belakang.


Tama segera menarik Tuas gas lebih kuat, hujan turun dengan deras. Sementara Pak Amin pun melakukan hal sama. Namun laju Motor Pak Amin mengahalangi laju Motornya.


Tama pun segera menyalip dari samping Pak Amin dan langsung meniggalkan.


"Ayyyy! Tama! Kurang sopan Kau Tama!"


"Hujan Pak!" Sahutnya dengan lebih cepat.


"Ayyyyyy!!" Pak Amin seperti marah.


Deras hujan yang turun membuat pandangan dan wajah terasa sakit saat terkena Air hujan yang jatuh.


Tama segera membelokkan Motornya, melihat pondok kecil hampir saja terlewatinya.


Segera masuk ke dalam pondok dengan mengusap wajahnya. Bibirnya hampir terbuka.


Pak Amin seperti tengah kesetanan Bablas! melewatinya. Hanya suara Ngebacot dari knalpot motornya yang singgah di dalam pondok.


Tama hampir menggaruk heran Rambut dengan melepas kucirnya.


"Apa deras hujan yang membuat Pak Amin tidak melihatnya?" Tanya di dalam hatinya dengan mengusap Rambut.


Suara Knalpot yang nyaring terdengar mendadak hilang, hanya terdengar deru angin dan air hujan yang jatuh.


Tama melihat kemana tadi Pak Amin membawa Motornya, namun deras hujan seperti menghalangi pandangan-nya.


Melihat balai pondok yang terbuat dari Bambu, membersihkan dengan tanganya. Lalu duduk melihat Motornya yang kebasahan.


Hampir berdiri kembali.


Suara knalpot Motor terdengar dan semakin jelas menuju ke arahnya berteduh.


Ia pun berdiri.


Pak Amin berlari masuk ke dalam pondok, meinggalkan Motor di dekat Motornya.


"Ayyyy! Tama!"


Tama langsung menjaga jarak tubuhnya melihat basah kuyup seluruh tubuh Pak Amin.


"Pak Amin hujan-hujanan?" Tanyanya melihat Rona marah di wajah Pak Amin.


"Ayyyyy! Apa Kau tengah mengejek-ku Tama!" Pak Amin memeras kupluknya.


Ia pun memalingkan wajah menahan senyum.


"Iya tidak lah, Pak Amin!" Dengan melirik Pak Amin.


"Aku pikir tadi, Pak Amin berteduh di pondok depan?" Tama melihat Pak Amin yang tengah menjemur kupluk di atas balai.


"Itu bukan pondok Tama! Itu tumpukkan kering ranting dan daun rambutan yang habis di tebang!"


Mustahil? Tama terheran memperhatikan rimba rimbun yang basah. Pastinya tadi Pak Amin baru melakukan Manuver Apik dengan cepat, dan sepertinya suara knalpot yang mendadak hilang dari telinganya tadi di sebapkan Pak Amin menerobos masuk ke dalam tumpukan dedaunan.

__ADS_1


Tama segera memalingkan wajah, mengigit pelan bibirnya. Sekuat hati menahan tawa dengan melihat derasnya hujan.


...****************...


__ADS_2