
Tama mengerang kesakitan dengan memegangi pundak kirinya. Minyak oles yang baru di lumuri oleh Neneknya terasa begitu sakit di tangan kiri yang terkilir.
Nek Imah bagun berdiri.menatapi Tama menghela nafas, menutup botol berukuran sedang dengan memutar pelan.
Tama yang berbaring, meringis terduduk meluruskan tangan kirinya.
"Besok saja Kau mengunduhnya." Nek Imah dengan meletakan minyak oles di meja belajar Tama.
Buku-buku pelajaran Tama selagi masih bersekolah, masih tersusun di atasnya.
"Tapi Nek?" Tama kembali meringis, tanganya terasa lebih sakit dari semalam sehabis terjatuh dari Mobil yang akan membawa Buah Rambutan.
"Beruntung tidak dari pohon Tama." Nek Imah membelai kepala Tama.
"Sebelum Kau bangun, Pak Amin tadi ke rumah. Nenek katakan tanganmu masih sakit." Nek Imah memijat pelan pundak kiri Tama.
Tama meringis.
"Pak Amin berkata apa Nek?" Dengan memegang di dekat lehernya. Menahan rasa nyeri.
"Tadinya Pak Amin ingin tetap Kau bertugas! Tapi saat melihatmu masih terbaring, langsung kembali pulang!"
" Pesan Pak Amin, jika Kau telah sembuh, segera mengabarinya, !" Nek Imah menghentikan pijatanya.
Suara mengeong si puham terdengar, dan terlihat dari balik pintu kamar yang terbuka sedikit. Si puham segera melompat ke atas kasur.
Tama meringis kembali saat kepala si puham mengenai tangan-nya.
"Puham! Kau lapar?" Nek Imah menggendong si puham.
"Suaranya sih, iya Nek," ucap Tama melihat kucing kesayanganya.
Kemudia melihat Jam di dinding kamarnya. Telah melewati waktu istirahat siang seandainya Ia tengah tugas.
"Nek, jam Tama mati?" tanyanya heran. Sepertinya baru saja Ia tertidur.
"Bukan jamnya yang mati Tama. Kau yang pulang pagi dengan tangan sakit." Nek Imah berbarengan dengan suara mengeong si puham.
"Nek!"
Tama hampir berdiri dengan Nek Imah pun melihat ke pintu kamar.
Suara Ginsul dari depan Rumah.
Si puham kembali mengeong.
"Nenek!"
Tama berdiri melihat Neneknya.
"Iya Gins!" Nek Imah begegas keluar menggendong si puham.
Tama salah tingkah, debar hatinya mulai rusuh terasa, membuatnya kembali duduk di atas kasur.
Suara Neneknya dan ginsul begitu akrab terdengar. Kembali melihat jam kamarnya ,detak di jarumnya tidak lebih keras dari degub hatinya.
Hampir copot jantung, melihat Neneknya masuk ke dalam kamar yang Ia kira adalah Ginsul.
"Ginsul sudah pulang Nek?" Tanyanya pelan seperti cemas.
Suara si puham terdengar di luar kamar.
"Sudah, tengah menunggumu di luar." Nek Imah tersenyum, lalu kembali keluar kamar.
Tama meringis tanpa bersuara, berdiri menggendong tangan yang sakit dengan tangan kananya.
Langkah kakinya terasa habis terkilir pula saat mendekati pintu kamar. Tangan-nya pun begitu ragu untuk membuka gorden yang menutupi pintu kamarnya.
Meski di dalam hatinya, begitu senang mendengar suara Ginsul. Namun Ginsul yang tengah marah padanya yang membuatnya ragu untuk menemuinya.
Suara si puham terdengar lagi, Tama langsung melihat kakinya yang di elus-elus kepala kucing yang berwarna putih dan hitam.
Tama memejamkan matanya, seolah berharap agar dapat memberanikan diri mengatakan semuanya kepada Ginsul.
"Tama!"
__ADS_1
Hampir membeliak Tama membuka matanya cepat.
"Iya Nek!" Dengan keluar kamar. Panggilan Neneknya dari dapur seperti jawaban atas harapnya barusan.
Matanya pun langsung beradu oleh Ginsul yang tengah duduk.
Tama senyum kaku, Ginsul memperhatikan dengan wajah cemberut.
"Dari tadi Gins?" Tanya tidak sadarnya.
Ginsul melengos.
Tama tersenyum, menyadari yang baru Ia tanyakan.
"Pulang sekolah atau akan berangkat Gins?" Tama melihat seragam yang di kenakan Ginsul.
Jawab Ginsul hanya tersembunyi di tatap matanya.
Tama meringis, Ia lupa dengan tangan-nya yang sakit. kembali berdiri ditengah pintu kamar setelah bahunya tadi Ia sandarkan di kusen pintu.
Ginsul kembali melengos.
"Aku hanya terkilir, mungkin esok pun Aku sudah bisa tugas lagi." Tama menahan nyeri tangan-nya.
"Aku kesini bukan untuk menemuimu, bahkan Aku tidak tahu Kau jatuh."
Tama tertegun menatap lekat wajah Ginsul. Sepertinya Ia salah mengira, Ginsul masih marah padanya.
Tama meluruhkan tatapnya, lalu masuk ke dalam kamar. Di ikuti tatapan cemberut Ginsul.
Dengan rasa malas dan sakit di tangan Ia pun kembali berbaring terlentang meluruskan tanganya.
Tiba-tiba hatinya lebih sakit dari tangan kirinya, melihat sikap Ginsul barusan. Sedangkan Ia merasa tidak melakukan apa yang Ginsul tuduhkan hingga membuatnya marah.
Dengan kesal Ia memjamkan mata.
Suara langkah terdengar mendekatinya.
"Nek, Tama masih mengantuk," ucapnya dengan mata terpejam.
Tama kembali meringis dengan mata terpejam, saat tangan-nya terasa di pegang.
Suara langkah terdengar menjahuinya, namun lekas mendekat lagi.
"Nek, Tama masih mengantuk."
Kata yang sering Ia katakan jika Neneknya membangunkan-nya.
"Jika Ginsul sudah pulang, pintu kamar Tama tutup Nek," ucapnya lagi.
Namun hanya suara mengeong si puham dari dapur yang menyahutinya.
Tama membuka matanya, melentangkan kembali tubuhnya.
Matanya hampir tebelalak, dan langsung duduk. Lalu meringis sakit memgangi tanganya yang terbentur kayu dipan.
Sambil meringis melihat Ginsul yang duduk di kursi di menghadapnya.
" Tadi, sebelum masuk rumah, Pak Amin lewat dari rumahmu, dan mengatakan Kau terjatuh dari mobil semalam."
Tama tertegun sesaat masih memegang tanganya sendiri.
"Apa kah, parah Tama?"
Tama menggeleng diam. Sepertinya Ia tidak menyangka bahwa Ginsul menjenguknya dengan masih memiliki rasa marah di hati.
"Aku hanya terpeleset." Tama seperti ingin menjelaskan peristiwa semalam.
"Tapi tanganmu tetap terkilir." Ginsul melihat Tanganya.
"Kyra sudah memberikan obat padaku." jelas Tama menunjuk dengan mata ke arah meja belajarnya.
Namun Ginsul tidak melihatnya. hanya memperhatikan Tama tanpa senyum.
Tama menghela nafasnya.
__ADS_1
" Di mana ada yang menyuruh mengunduh Buah-buahan, Aku akan memanjatnya Gins." Tama menatap mata Ginsul.
"Karena itu pekerjaanku, lagi pula Kyra teman kita sekolah Gins, " ucapnya lagi.
Ginsul memalingkan wajahnya.
"Iya, Tama. Kita pun tadinya hanya teman." Ginsul dengan melihat Tama.
"Lalu Aku suka padamu dan sayang padamu. Apakah Kau juga sama Tama?"
Tama mengangguk pelan.
Ginsul tersenyum namun terlihat ranum.
"Lalu kita pacaran kan?"
Tama kembali mengangguk.
Ginsul menghela nafasnya.
"Dan Apakah itu sesuatu yang tidak mungkin di alami Kyra? Sebagai teman Kita Tama."
Tama termangu, tatap Mata Ginsul terasa menusuk hatiya.
"Aku tidak tahu Gins?" Tama melihat ke luar jendeka.
"Yang Aku rasa, saat bersama Kyra dan teman-temanya. Aku merasa gelisah."
Tama mengatupkan bibirnya.
Perlahan kembali terbuka.
"Saat Aku memanjat, Aku hanya mengingatmu. Seperti tengah berhayal." Tama tertawa kecil sendiri.
"Sepertinya Aku bisa memberimu chiki dan naik komedi putar ... Wajahmu seperti sebuah energi bagiku." Tama tersenyum kecil.
"Aku tidak tahu Gins?"
Tama dengan langsung terdiam.
Suara si puham terdengar dari balik pintu dan langsung meloncat ke kasur. Tama pun memegangnya dengan tagan kanan. Menbawa si puham bersandar di kakinya.
"Sedang wajah Kyra yang dekat, tidak bisa membuat tanganku memegang erat bak mobil," ucapnya mengelus kepala si puham.
Tama terus mengelus kepala si puham. Kucing kesayangan-nya seperti manja berbaring terpejam. Tama senyum kecil.
Suara langkah tergesa keluar dari kamar, tanganya pun berjenti mengelus. Melihat gorden kamarnya yang baru di lalaui Ginsul.
Hatinya terasa tergalah rasa sakit dari atas ranting tinggi.
Menghela nafas berat, tanganya terasa sakit kembali.
Dengan perlahan bangkit dari kasur.
Meong!!
Tama berteriak sakit, tangannya tidak sengaja menindih ekor si puham. Beruntung cepat menarik tanganya sebelum si puham menggigitnya, namun terkena cakarnya.
"Tama?"
Nek Imah di pintu kamar.
"Tama yang salah Nek," ucapnya dengan menahan sakit di kedua tanganya.
"Ginsul?"
Nek Imah masuk seperti memeriksa kamar.
"Meong Nek." Tama dengan beranjak keluar kamar.
Nek Imah melebarkan bibirnya, Lalu merapihkan sprei kasur Tama.
Meong yang di maksud Tama tentunya, suara kucing yang meloncat dari kasur dan berlari keluar kamar jika mendengar Tama datang atau suara Nek Imah memasak di dapur.
Meong!
__ADS_1
Suara si puham terdengar.
...****************...