
"Nek, ini dari siapa?" Tama dengan memperlihatkan sepiring sambal teri dari balik tudung Nasi.
Nek Imah baru selesai memcuci piring pun, hanya tersenyum menanggapi.
"Tadi saat Tama lihat belum ada?" Tama seperti mengingat.
Memang saat Ia bangun tidur langsung membuka tudung nasi, perutnya terasa begitu lapar. Namun setelah melihat hanya sepiring nasi putih saja, Ia pun melanjutkan tidurnya lagi sambil menunggu Neneknya pulang dari pasar.
Tapi belum telat lima menit Ia tertidur, mendengar Neneknya memanggilnya. Dan ketika melihat di balik tudung nasi kembali, telah ada Sepiring sambal teri kesukaanya dan Si Puham. Pantas pula Si Puham mengeong terus, pikirnya.
Jika Neneknya yang memasak pastilah Ia mendengar suara penggorengan berdentangan bagai perisai di tangan pelindung pedang. Tentu juga dengan aroma yang bikin batuk saat mengirupnya.
"Masa, Kau tidak tahu Tama?" Nek Imah dengan memberi ikan teri ke pada Si Puham yang bermanja di kaki Tama.
"Enak Nek." Tama setelah menjilat sambal di sendok.
"Mandi dulu Tama! Atau cuci lah dulu muka mu," tegur Nek Imah, memasukan piring yang di pegang Tama ke dalam tudung saji.
"Lapar Nek," ucap Tama nyengir.
"Tapi Aku tidak tahu Nek?"
"Tama!"
Sontak Nek Imah dan Tama menoleh ke arah ruang tamu.
Nek Imah memukul pelan pundak Tama.
Tama pun kaget.
"Itu yang memberi," ucap Nek Imah.
"Pak Amin Nek?" Tama pelan.
Nek Imah memukul kembali Pundak Tama. Tama mengaduh nyengir.
"Suara wanita seperti itu, Kau katakan Pak Amin?"
Tama pun langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi.
"Iya Gins! Masuk!" Serunya dari dalam.
"Tama belum sembuh Nek!" seru Ginsul menyahuti dengan mendekati Nek Imah.
"Aku tidak sakit gins!" balas Tama.
"Rasa malas mu Tama!" sahut Ginsul menanggapi.
Terdengar suara air dari dalam kamar mandi.
Ginsul cemberut tipis.
"Apa kau tidak pernah bermain hujan-nan Tama?" Ginsul mendengar suara gemuruh air.
"Aku buru-buru!"Tama menyahuti.
"Ke-terusan suez!"
"Iya bersamamu!" sahut Tama kembali.
Ginsul senyum mendekati Nek Imah.
"Tama memang seperti itu Gins,malas," ucap Nek Imah menggelengakan pelan kepalanya.
"Ginsul makan bersama Tama iya?" Nek Imah mengambil dua buah piring.
Ginsul tersenyum mengangguk.
"Tapi Tama lama sekali bangunnya Nek," keluh Ginsul memperhatikan Nek Imah yang menyiapkan makan.
Tersengar suara mengeong.
"Puham!" Ginsul langsung menggendongnya.
"Rupanya kau tengah makan puham, pantas tidak terdengar kau mengeong." Ginsul seperti menimang anak kecil.
Tama yang telah selesai mandi, langsung berlari ke kamarnya. Seperti malu terlihat oleh Ginsul dengang hanya memakai kaos dalam dan handuk.
Ginsul yang sempat melirik cepat Tama, hanya mampu menatap Nek Imah dengan rasa malu juga.
__ADS_1
"Ginsul Akan pergi ke mana?" Nek Imah dengan memberi Ginsul kursi.
"Tidak ke mana-mana Nek," jawabnya dengan duduk, sedang Si Puham meloncat ke lantai.
"Biasa Tama, jika hari libur, bangun-nya siang!"
Ginsul tertawa kecil melihat Nek Imah seperti tengah mengoceh.
"Tama! Cepat-lah Tama! Ginsul menunggumu untuk makan!" Seru Nek Imah di tengah pintu dapur, melihat kamar Tama yang berada di dekat ruang tamu di tengah pintu dapur.
"Suruh duluan saja Nek!"
Nek Imah menatap Ginsul.
"Biarlah Nek," senyum Ginsul.
Nek Imah menarik nafasnya.
"Tama!" Nek Imah mendekati kamar Tama.
"Tama!!"
Nek Imah sontak menoleh ke luar Rumah. Suara Pak Amin lebih keras lagi memanggil Tama.
"Tama di mana Nek," tanya Pak Amin seraya berjalan melihat Nek Imah.
Suara pintu kamar terbuka dengan Tama keluar telah berpakaian rapih.
"Tama! Kita ada tugas!" Pak Amin dengan menatapi Tama.
"Akan ke mana Kau Tama? Wangi sekali Kau!" Pak Amin setelah mencium harum parpum dari pakian Tama.
"Ah, tidak kemana-mana, hanya ingin tiduran," jawab Tama nyengir kecil.
Nek Imah tertegun melihat cucunya, sepertinya Ia jarang melihat Tama berpakian rapi saat di rumah apalagi dengan memakai wewangian.
"Ayyyyyyy! Sombong sekali Kau Tama! Tidur saja pakai minyak wangi?" Pak Amin dengan duduk menatapi Tama curiga.
Tama tersenyum lebar.
"Nek terusin masaknya, bilang sama si puham tunggu sebentar makan-nya."
Nek Imah yang mengerti maksud cucunya pun mengangguk. Tersenyum kepada Pak Amin lalu meninggalkan keduanya.
Terdengar suara mengeong.
Tama tertawa kecil melihat Pak Amin.
Pak Amin pun melengos kesal.
"Pak Amin!Pak Amin!" Geli Tama melihat rimbun hitam Pak Amin seperti bergerak-gerak tertiup angin prahara, belum lagi kepulan asap kreteknya, bagai awan putih yang tengah berarak di antara mendung.
"Ada yang memberi tugas kita Tama," ucap Pak Amin seperti ingin menyudahi tawa Tama.
Tama hanya tersenyum menggelengkan kepalanya.
Pak Amin menghirup asap kreteknya dalam.
Tama hanya diam memperhatikan-nya.
Suara mengeong kembali terdengar.
Pak Amin menoleh sebentar ke dapur, lalu berdiri dengan meniup asap kreteknya kuat.
"Iya sudah Tama, Aku tunggu di rumah," ucapnya dengan meninggalkan Tama.
Tama menghela nafasnya pelan melihat langkah Pak Amin.
"Nek pulang!" seru Pak Amin dari luar Rumah.
"Iya Pak Amin!"
Terdengar sahutan dari dapur.
Tama tetap memperhatikan Pak Amin. Lalu menyengir kecil saat Pak Amin melihatnya sebelum tancap gas, meski kepul asap keluar deras dari knalpot dan hidungnya. "Ginsul!" serunya dalam hati dengan segera bergegas ke dapur. Hatinya pun terasa lega melihat Ginsul tetap berada dalam persembunyiannya di bawah meja makan.
Tama langsung menarik tangan Ginsul untuk keluar dengan senyum gelinya.
Ginsul cemberut.
__ADS_1
"Lama sekali mengusirnya!" seru Ginsul.
Tama tertawa geli.
"Memang Pak Amin jin penunggu pohon? harus di usir!" balas Tama kemudian.
"Aku laparrrr! kita makan!" Ginsul dengan duduk dan langsung membuka tudung saji.
Tama pun mengikutinya.
"Ambil sendiri!" Ginsul melihat Tama memperhatikanya.
Tama tertawa kecil.
"Tadinya Aku melihat sambal teri terasa nikmat, tapi setelah pak Amin datang ... Rasanya kok! Hambar ya?" Ginsul seperti malas melihat sambal teri buatan Ibunya.
"Seperti tersangkut pagar saat masuk! Bad mood!" Gerutunya lagi.
"Lewat belakang kan, lebih mudah?" Tama menanggapi.
"Tama."
Tama menjawab dengan matanya, karena mulutnya baru saja tersuap se-sendok Nasi.
"Kenapa Pak Amin tidak memanjat sendiri?" Wajah Ginsul berselimut rasa mendongkol.
Tama menelan pelan kunyah di mulutnya.
"Seperti katamu, pak Amin takut tersangkut pagar!" jawabnya dengan masih sedikit mengunyah.
"Tama!"
Tama nyengir.
"Tama! Jorok ahhhh!" Ginsul melihat mulut Tama.
"Jika pak Amin memanjat sendiri, lantas apa yang Aku kerjakan Gins?"
"Tama, cari kerjaan lain saja Tama." Ginsul memegang tangan Tama.
Tama kembali nyengir.
Ginsul menggoyangkan tangan Tama.
"Aku suka dengan memanjat, kenapa Gins? apa Kau malu?"
"Tidak, Aku hanya ... Aku takut Kau jatuh!" wajah Ginsul terlihat cemas.
"Jika Kau jatuh tersangkut pagar, bagaimana?" cemasnya lagi.
"Pucuk hijau rambutan merah dong!" Tanggap Tama, senyum-senyum."
Ginsul menatap curiga.
"Ada ayang Ginsul yang mengobati!" Tama mengusap rambut tomboy Ginsul.
Ginsul tertawa malu.
"Pucuk hijau rambutan merah!" Ginsul kemudian.
Tama senyum tanya.
"Semalam mimpi, di belai ayang Tama." Ginsul langsung menyuapi mulutnya dengan Nasi dan sambak teri, menutupi rasa malu hatinya.
"Di mana ada rambutan?"
Ginsul dan Tama tanpa sepakat melihat Nek Imah.
Tama tertawa kecil tanpa bersuara.
"Anu, Nek...?" Ginsul melihat Tama,
"Tersangkut pagar Nek!" Tama hampir menyemburkan sisa Nasi kunyahan-nya.
Ginsul nyengir.
"Ohhhhh! Nenek pikir kalian tengah makan rambutan?" Nek Imah dengan kembali ke dalam kamarnya.
Tama dan Ginsul bertatapan, lalu saling menyuapi.
__ADS_1
"Pucuk hijau rambutan merah," ucap keduanya berbarengan.
...****************...