Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
40. Pasir.


__ADS_3

"Waka! Waka! Yyyyyyy!!"


Tama menutup telinganya.


Kawanan Kyra yang baru saja bersorak mengelilingi Tama, segera menyingkir sedikit menjauh saat Kyra berjalan di hadapan Tama.


Tama senyum manis, tatapan kedua mata Kyra lebih liar dari biasanya. Seperti pandangan pemangsa atas buruannya.


"Kyra, Aku belum melihat Pak Amin?" tanyanya dengan senyum lebih manis.


"Mengapa Kau menanyakan Pak Amin?"


Tama tersenyum memalingkan tatapnya ke arah Mitos.


Mitos menatapnya sinis.


"Atas perintah Pak Amin Aku bertugas," ucapnya melihat Kyra lagi.


Hampir terkejut. Kyra menarik paksa leher Kaosnya.


Ia pun menarik wajah ke belakang. Wajah Kyra terlalu dekat di wajahnya.


"Kyra, lepaskan," ucapnya memegang tangan Kyra.


Namun Kyra semakin keras menariknya.


"Kawanan Kyra!!" Mitos berseru.


"Waka! Waka! Yyyyyyy!!"


Tama memejamkan kedua matanya mendengar sorak di telinganya.


Ia pun mendorong tubuh Kyra dengan keras.


Kawanan Kyra cekatan menahan tubuh Kyra yang akan terhempas.


"Apa sedikit pun Kau tidak mempunyai rasa malu Kyra?" Tama dengan marah melihat Kawanan Kyra.


Lalu dengan tergesa menghidupkan Motornya.


"Maaf Kyra Aku tidak bisa mengunduh untukmu!" Serunya ke pada Kyra dengan menarik tuas gas.

__ADS_1


"Tama!"


Tama seperti tidak perduli Kyra yang berusaha mengejarnya. Terus saja menjalankan Motornya.


Ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang tadi Kyra lakukan padanya.


Mengusap kesal bibirnya dengan tangan yang lain tetap menarik tuas gas.


"Ginsul." Lirih hatinya. Seakan merasa bersalah dengan yang baru Ia alami.


Keras angin yang menerpa di wajah dan menguraikan rambut panjangnya seperti beribu anak panah yang menghujam.


Hatinya terasa gusar, hatinya terasa mengkhianati Ginsul.


Tiba-tiba Hatinya mulai membenci Kyra yang selama ini Ia lihat dan kenal begitu baik padanya.


Kembali mengusap bibirnya. Seperti ingin membuang rasa yang mengusik hatinya.


Dengan keras menginjak pedal rem. Hampir terlewat pertigaan jalan yang akan menuju tempatnya bersekolah dahulu.


Segera menarik tuas gas kembali setelah berbelok cepat.


Wajah Ginsul bagai membayanginya dengan amarah, hatinya pun semakin gelisah tidak tenang.


"Ayyyyy! Tama! Akan ke mana Kau Tama?"


Tama segera menghembuskan nafas kesalnya, setengah menggerutu di hati.


"Mengapa Pak Amin selalu ada dan muncul saat Ia tengah tergesa? " Melihat asap kretek di wajah Pak Amin.


"Pulang Pak!" Tama dengan menguncit Rambutnya.


"Ayyyy! Bukankah Kau tengah bertugas?" Pak Amin menatap curiga.


Tama menatap pepohonan Rambutan yang telah habis di unduh.


"Aku baru saja akan menyusulmu!" Pak Amin lagi.


"Aku ingin buang air besar Pak!" Tama berdusta. Menghidupkan Motornya.


"Ayyyyy! Selama ini Kau tidak pernah buang air besar saat bertugas?" Pak Amin menatap lebih curiga.

__ADS_1


Tama memainkan tuas gasnya.


"Saat ini Aku merasa mual Pak!" Dengan menarik tuas gas meninggalkan Pak Amin.


"Ayyyyy! Tama!! Arah ke rumahmu bukan ke arah sana!!"


Tama kembali tidak memperdulikan suara seruan di belakangnya. Tancap gas dengan hati yang gelisah.


Wajah Ginsul yang kini ada di mata dan hatinya, seperti berwajah marah padanya. Ia ingin lekas sampai di sekolah, Ia seperti ingin menjelaskan. Bahwa Ia tidak mengkhianatinya.


Tama terkejut.


"Awassss!!" Teriaknya.


Namun semua begitu cepat terjadi. Tubuhnya terasa terlempar ke depan. Sementara Motornya tergeletak di dekat tumpukan pasir yang ada di pinggir jalan.


Tama menggulingkan tubuhnnya dengan berputar seperti Trenggiling yang menekuk tubuhnya saat terancam.


Segera bangkit setelah berputar di rerumputan di pinggir lapangan Sepak Bola.


Tama membalikkan tubuhnya, melihat kedua orang yang yang hampir saja tertabrak olehnya.


Kedua orang yang berboncengan berseragam sekolah tersebut segera berlari menghampirinya.


"Tama!" Seru keduanya hampir berbarengan.


Tama mengelus dadanya, menghembuskan nafas dengan kuat.


Lalu menatap wajah-wajah di depanya dengan Rambut berhias Bando putih.


"Tama, Kami minta maaf!"


Tama melebarkan bibirnya. Sempat terasa kesal di hatinya dengan Para Gins yang keluar tiba-tiba dari Warung di pinggir jalan.


"Tama, Kau tidak ...?" Salah seorang Para Gins mengamati sekujur tubuhnya.


"Aku hanya terkejut saja, karena Aku melamun dalam berkendara." Tama tersenyum kecil.


Para Gins saling berpandangan, lalu membalas senyumya.


"Kalian tidak masuk sekolah?"

__ADS_1


Menatap curiga akan keberadaan Para Gins di yang seharusnya tengah dalam jam pelajaran Sekolah.


__ADS_2