Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
9. Sinonim.


__ADS_3

"Tama, nanti jemput Aku pulang iya," ucap Ginsul dengan wajah riang.


Tama tersenyum lebar.


"Aku tidak bisa janji, kerena pak Amin mengajak-ku bertugas," jawab Tama menatap wajah Ginsul yang terlihat semakin cantik. Tentunya dengan Gigi ginsulnya.


Ginsul cemberut manja.


Tama meringis, baru kali Ini Ia pun melihat wajah manja Ginsul. Ternyata menggemaskan juga.


Gerbang sekolah telah di tutup, meski tidak di kunci. Pertanda semua Murid telah masuk ke dalam kelas masing-masing.


Ginsul yang tadinya tidak ingin ke sekolahnya karena kakinya masih lagi sakit, harus pergi juga. Tentu dengan satu alasan, agar bisa di antar Tama.


"Oke deh! Kalau begitu." Ginsul seperti kecewa.


Tama langsung membuka pintu gerbang.


Ginsul senyum-senyum seperti seorang ratu.


"Tapi Aku akan menjemputmu, manjatnya dekat Kok,"ucap Tama setelah Ginsul berada di dalam gerbang.


Wajah Ginsul semakin tersulut rasa senang yang tiada tara, tersenyum terang bagai peri di dalam hutan.


Tama tersenyum manis, segera menaiki motornya.


Ginsul membalas senyum Tama dengan lebih manis. Mengamati hingga motor yang membawanya sudah tidak nampak di mata. Rasa di hatinya kini begitu harum dengan banyaknya bunga yang tengah bermunculan. Tiba -tiba pun Ia ingin berlari ke kelasnya jika tidak mengingat kakinya yang tengah sakit.


Terasa ingin cepat kembali pulang, berharap Tama ada di depanya lagi.


Pelan dan tertatih Ginsul berjalan, tapi di bibir senyum tiada henti terukir bagai bebas hambatan.


Sakit kakinya, tapi terasa di hati.


Tiba-tiba langkahnya terhenti, sesuatu tengah mengganjal di kepalanya.


"Tama," lirih hatinya. hatinya tiba-tiba merasa ada yang mengetuk dan terenyus iba mengingat Tama yang tengah memanjat pohon.


Membalikan tubuhnya ke arah pintu gerbang.


Hati terasa sedih. Ia pernah melihat Tama berada di atas pohon.


Ginsul menundukan wajahnya menahan rasa yang seperti merobek hati.


"Bagaimana jika Tama jatuh?" was-was di hati bercampur rasa ngeri.


Perlahan kembali berjalan, kini lebih pelan.


Mengapa hatinya menjadi gelisah dan sakit? Sedangkan kemarin-kemarin tidak lah seperti saat ini?


Pikiranya berjalan seiring gerak kakinya.


Terus berjalan ke arah kelasnya yang berada di tengah-tengah.


Ginsul menoleh lagi gerbang sekolah, seperti berharap Tama muncul kembali.


Suara Bu Warna terdengar dari dalam kelas, seperti tengah menerangkan sesuatu.


Ginsul mengetuk pintu pelan.


Bu Warna yang tengah berdiri di depan ruangan langsung melihatnya, lalu mendekatinya.


"Maaf Bu, terlambat,"ucap Ginsul hormat.


"Bukanya kau sudah izin sakit Gins?"


Bu Warna melihat kaki Ginsul yang memakai sandal.


"Sudah membaik Bu." Senyum Ginsul.


Suara bisik ramai terdengar dari dalam kelas.


Bu Warna memebalikan tubuhnya.


Seketika langsung hening kembali.


Bu Warna kembali melihat Ginsul.


"Ibu senang melihat semangat belajarmu Gins. Masuk, teman-teman mu menunggumu."


Bu Warna berjalan ke tengah ruangan, di ikuti Ginsul yang langsung duduk ke tempatnya. Paling depan namun di dekat pintu kelas.


"Tadi Kau w-a , belum bisa sekolah," bisik Alisa.


Ginsul hanya memberi isyarat dengan wajahnya.


Alisa melihat Bu Warna, menyimak kembali pengajaran yang tengah di terangkan.


Ginsul pun ikut menyimak, meski colekan pelan terasa di pundaknya dari belakang.


Namun tidak seperti biasanya, kali ini Ia merasa sukar sekali berkonsentrasi. Pikiran tertuju pada tama.


Tama seperti bergelantungan di benaknya layaknya Tarzan yang pernah Ia tonton di chanel youtube, terus banyak semutnya.


Ginsul seperti mengaduh dalam hatinya.


"Eh! Gorila!"


Seru Ginsul terkejut.

__ADS_1


Bu Warna yang juga terperanjat kaget, menatap Ginsul.


Ginsul menutup Mulutnya menoleh Alisa yang tadi menoelnya di perut.


Wajah Ginsul merona malu dan takut. Langkah Bu Warna semakin mendekatinya.


Ginsul melihat takut wajah Bu Warna.


Semua yang berada dalam kelas pun terdiam tidak menyangka dengan apa yang baru Ginsul sebutkan. Terdengar tengah memanggil Bu Warna, karena semua fokus memperhatikannya.


"Maaf Bu, Alisa membuat kaget," jujur Ginsul menoleh Alisa kembali.


"Maaf Bu, biasanya Ginsul tidak gelian," terang Alisa.


Bu Warna menatapi bergantian keduanya.


"Ibu berikan kesempatan kalian berdua untuk bercanda di luar kelas, hingga jam pulang sekolah."


Ginsul dan Alisa bertatapan, saling menyalahkan dalam pandangan.


"Apa tidak terlalu lama Bu?" Alisa heran.


"Biar kalian berdua puas bercanda,"jelas Bu Warna.


"Tapi Bu...?"


Ginsul seperti menyesali perbuatanya.


"Tapi sudah Ibu izikan."


Bu Warna menunjuk pintu kelas dengan tangan kanan terbuka.


Kembali Ginsul dan Alisa bertatapan.


Sementara suara bisik ramai terdengar dari Gins cs, di belakang mereka.


Dengan berat hati, keduanya segera berdiri,


Ginsul mendukkan wajahnya, begitu pula Alisa saat berjalan di depan Bu Warna.


Bu Warna memperhatikan keduanya hingga keluar dari pintu kelas.


Alisa memegang tangan Ginsul yang berjalan terpincang.


"Ada apa Gins?"


"Ada apa? Kau Alisa, Ada apa?"


Ginsul balik bertanya.


"Tidak biasanya Kau melamun dalam kelas Gins?"


"Kakiku lagi sakit, jadi Aku sulit untuk konsentrasi," kilah Ginsul melepaskan tangan Alisa.


Alisa melebarkan bibirnya, tentunya dengan alasan Ginsul.


"Lalu kenapa Kau masuk sekolah jika sakit?"


Ginsul terdiam dengan meringis, melihat kakinya yang masih lagi bengkak.


Alisa tersenyum lebar melihat sandal yang di pakai Ginsul.


"Baru Gins?"


Kini Ginsul yang melebarkan gigi Ginsulnya.


"Dari pada lama tergantung di warung," kilahnya.


Alisa tertawa kecil.


Ginsul mengamati gerbang Sekolah.


"Ada apa Gins?Apakah Kau ingin pulang?"


Alisa heran.


"Ah, tidak!" Senyum Ginsul menutupi rasa hatinya. Meski wajah Tama tengah bergelayut di benaknya.


"Kita ke kantin yuk!"


Ginsul menyadarkan tubuhnya di dinding.


Entah mengapa Ia merasa kurang bersemangat menerima ajakan Alisa, rasanya begitu malas untuk sekedar mengunyah pelan di kantin.


Sedari semalam Ia lebih suka ngemil bayang wajah Tama, sampai pagi.


"Hey!"


Alisa menepuk pundak Ginsul.


"Senyum-senyum sendiri? Ajak-ajak jika ada hal membuatmu begitu happy!"


Alisa tersenyum geli.


Wajah Ginsul merona, tertunduk menyembunyikan angan hatinya.


"Aku benar-benar curiga nih! Ada apa dengan mu Gins? Ayolah ceritakan padaku!"


Alisa seperti melihat sesuatu yang berubah dalam diri Gins, mudah melamun tiba-tiba.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa Alisssss! Kaki ku sakit!"


Dusta Ginsul menarik tangan Alisa.


Alisa terkejut, tertawa mengikuti langkah Ginsul yang tertatih.


"Haduhhhh! Haduhhhh! Aku kira hatimu yang sakit Gins!"


Alisa di sela tawanya, mengikuti terus langkah Ginsul. Menyusuri tiap kelas yang tertutup rapat pintu-pintunya menuju belakang sekolah.


Wajah Alisa berubah drastis, tawa riangnya menjadi diam tak menggema.


Bukan kantin yang menjadi sasaran dalam menghabiskan masa hukuman, tapi belakang sekolah yang hanya ada pagar tembok dengan pepohonan di luarnya.


"Gins?" Heran Alisa.


"Kita di sini saja," ucap Ginsul melihat rimbun dedaunan di luar pagar.


"Please deh! Gins! Kita bukan bernostalgia kan?"


"Maksud mu?"


Ginsul tidak mengerti.


"Kalau ingin menunggu pacar, di sudut sekolah! Bukan di belakang! Lagian Gins, Kita kan belum ada yang punya pacar, untuk apa Kita di sini? nunggu di marahin lagi?"


Ginsul hanya menyeringai geli melihat wajah Alisa yang terlihat suntuk.


"Se-sekali kan, boleh Lis!"


Ginsul menanggapi.


"Se-sekali? Kenapa tidak ke ruang kepala sekolah sekalian Gins?" sungut Alisa.


Ginsul semakin geli, wajah Alisa kian kesal.


"Apa Kau lebih suka di tertawakan Kyras?"


Mata Alisa terbuka lebar, seperti mengingat sesuatu. Jika Kawanan kyra, tahu mereka tengah di hukum, bisa jadi pasar dadakan satu sekolah, riuh dan ramai dengan guncingan.


"Kali ini Aku setuju padamu, Aku tidak ingin jadi rebutan mangsa dari isu Kyra dan teman-temanya," ucap Alisa pelan seperti takut ada yang mendengarnya.


"Begitu dong! seharusnya Para Gins!"


"Masa! Kita di tertawakan kawanan kyra!"


Ginsul seperti menggebu.


"Itu benar!"


Telunjuk Alisa bergoyang tegak.


"Kalian semua sama saja!"


Ginsul dan Alisa terkejut.


"Seperti sebuah sinonim! Ginsul dan Kyra, bisa di artikan kutu kantin!"


Ginsul dan Alisa tertuduk tidak berani menatap Bu Warna.


Suara keduanya bagai hilang tertelan air liur sendiri, atau mendadak radang tenggorokan, sulit untuk mengeluarkan suara melihat hijab Bu Warna yang menyala merah padam.


"Apa kalian tidak bisa menggunakan waktu luang untuk belajar? Apa ke kantin saja yang rajin kalian kunjungi? Dan sekarang... ingin buat apa lagi kalian di belakang sekolah?"


Ginsul dan Alisa semakin tertunduk.


"Apa kalian tidak malu pada semut angkrang yang berbaris di pohon?"


Kaca mata Bu Warna ikut bergerak selaras pertanyaanya.


Ginsul dan Alisa saling melihat.


"Malu Bu...," jawab keduanya hampir berbarengan.


"Lalu,mengapa kalian masih di sini?"


Dengan sedikit tergesa, Ginsul dan Alisa segera meninggalkan Bu Warna.


Bu Warna memperhatikan.


"Kalian akan ke mana?"


Ginsul dan Alisa yang baru berjalan, kembali harus melihat Bu Warna.


"Ke kanti Bu,"jawab Alisa yang memegangi tangan Ginsul untuk berjalan.


"Ke kantin?"


Wajah Bu Warna tidak mengira.


"Ke- perpustakaan!"


Menunjuk salah satu gedung sekolah di bagian depan.


"I-ya Bu!"


Ginsul dan Alisa menjawab dengan hampir berbarengan lagi.


Bu Warna menggelengkan kepalanya, melihat prilaku anak didiknya barusan. Melepaskan nafas beratnya dengan melihat ke arah pagar tembok Sekolah, seperti mencari apa yang tengah ke dua muridnya lakukan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2