
Wajah Pak Amin terlihat riang, rimba di mulutnya pun bahagia melambai-lambai sayang di sela asap kreteknya yang pekat.
Siul bahagia pun jelas juga terdengar bagai senandung menyambut datangnya pagi yang cemerlang.
Berjalan santai dengan memasukan tangan satu di saku celanya yang masih lecek belum tersetrika, dengan kupluk dekil yang baru kemarin pagi di cuci.
Sepeda motornya sengaja di letakkan jauh di perkarangan Rumah, Kaos barunya menjadi alasan untuk berjalan berlama-lama di dekat kerumunan orang yang tengah berbelanja di Warung Ginsul.
Tama yang melihat dari jendela pun segera berhambur keluar kamar, tampang sok! Kerennya Pak Amin membuat rasa penasaran dan tidak ingin tahunya bergelayut di otaknya.
Suara sorak bak gayung bersambut cemohoan dari luar dan dalam Warung pun keluar dari bibir para gadis yang tidak lagi setinting tunas daun yang baru tumbuh di pucuk-pucuk ranum pohon.
Nyaring berguncing melihat penampilan Pak Amin yang tidak seburuk biasanya.
Pak Amin semakin santai mendekati para ibu-ibu muda dan tua yang tengah berbelanja sayuran, hal dan kebiasaan yang rutin di lakukan setiap paginya.
"Sudah! biasa saja memujinya!" ceplos Pak Amin melihat satu persatu para gadis yang kebanyakan seleting dengannya.
Sontak dan kompak semua yang ada saling memaki dengan ada salah satunya melempar Pak Amin dengan daun singkong yang hampir layu.
"Itu kupluk di lepas Pak Aminnnn! agar terdengar kita semua tengah apa?"
Suara lantang dari seorang bertubuh pendek.
Pak Amin menyeringai.
Rimba rimbun hitamnya terlihat merekah berhawa tak sedap karena bercampur asap kretek yang baru Dia sulut.
Tama yang bengong memperhatikan, kian terbengong saat Neneknya tertawa berjalan mendekati kerumunan yang ada.
"Kece sekali Pak Amin, akan manjat di mana Pak?" Nek Imah sebelum sampai di kerumunan.
Pak Amin tertawa lebar menanggapi.
"Sayang Pak Amin kaos obral di pakai buat manjat! Susah mencucinya jika terkena getah pohon!"
Seorang Ibu muda menimpali perkataan Nek Imah.
Pak Amin semakin tertawa, dengan satu tangan dimasukan kembali ke saku celananya. Seolah takut isi di dalam jatuh, atau pula seolah tengah banyak uang.
Nek Imah berdiri di dekat Pak Amin dengan memperhatikan penampilan aksi pengemudi Tong setannya Pak Amin.
Muter-muter di depan warung memamerkan kaos barunya.
Tama terduduk lemas, menatap langit-langit teras. Seperti mengingat akan tentang mimpi semalam yang mungkin Ia lewati kembali.
Sedang kan kaos yang di gunakan Pak Amin,pernah Ia tawar dalam obralan termurah di pasar, dan itu pun sudah hampir setengah tahun yang lalu, kaosnya pun sudah Ia gunting di bagian lengan dan sering Ia pakai sebagai dalaman saat memanjat.
Ternyata kini Pak Amin memamerkan kaos yang sama kepada para ibu yang tengah berbelanja.
Tama beringsut pelan masuk ke dalam Rumah, Pak Amin sepertinya masih fokus pada kaos nya, jadi sebelum pusingnya kembali menggelayut di rimbun rimbanya yang menyesatkan, ada baiknya Ia pun kembali ke kamar.
"Ginsul! Ginsul!!"
Tama hampir menoleh, benar saja firasatnya.
"Ginsul! katakan kepada para Ibu-ibu yang ada di warung mu!"
"Tunjukkan ke pada mereka dimana kebun buah yang siap di unduh hari ini!"
Tama mendengar terbengong kembali.
"Kebun? Buah?" Seingatnya Ginsul dan keluarga tidak memliki kebun buah-buahan dengan yang di maksud Pak Amin.
Suara seperti orang membuka pintu terdengar di dapur. Tama segera mengurungkan niatnya untuk berpura-pura tidur, mengingat Pak Amin tidak memberitukan padanya jika akan bertugas.
Segera menuju ke dapur. Sementara suara pikuk cemooh masih semakin ramai berkumandang.
Tama kembali harus terbengong.
Ginsul memberi isyarat dengan menutupi bibir dengan satu jari telunjuknya.
"Jangan beritahu kepada Pak Amin jika Aku di tempatmu Tama," ucapnya seperti berhati-hati.
Tama melebarkan bibirnya.
"Semoga saja kebohonganmu lekas terungkap," tanggap Tama pelan.
"Tama, aghhh!"
Ginsul seperti merajuk kesal.
"Aku tidak bermaksud!"
"Tapi Pak Amin menganggapnya serius!"
Tama menatap kesal rona wajah Ginsul.
Ginsul menundukkan wajahnya, seperti ada sesuatu yang Ia sesalkan.
Tama dan Ginsul terkejut, terlebih Ginsul. Suara keras memanggilnya kembali terdengar.
"Tama, sembunyikan Aku!" Ginsul dengan menarik-narik tangan Tama.
"Di saku celana?" Tama melepaskan tangannya dari Ginsul.
Ginsul semakin tidak tenang.
__ADS_1
"Terserah Kau saja!"
Tama melepaskan nafas kesalnya.
"Tamaaaaa!!"
Tama hampir meloncat, termasuk Ginsul.
Pak Amin kini memanggilnya.
Sesaat melihat Ginsul yang tegang, Kemudian menggandeng tanganya bergegas ke dalam kamar.
"Naik lah," ucap Tama.
Ginsul melihat Tama dengan rasa tidak percaya.
Tama tersenyum memegang selimutnya.
"Tamaaaaa!"
Ginsul langsung naik ke atas Dipan, Tama pun segera menutupi tubuhnya dengan selimut. Tubuh Ginsul kini terlihat seperti sebuah bantal guling.
Tama langsung merebahkan tubuhnya dengan memejamkan matanya, sebelum namanya kembali di panggil.
Alamat! Murka Pak Amin kian menjadi jika sampai panggilannya tidak di sahuti.
"Tamaa! Tamaaa!!"
Tama semakin memaksakan matanya terpejam, debar hatinya mendengar langkah kasar mendekati kamarnya.
"Ayyyyyy!!"
Tama hampir membuka matanya mendengar suara tak enak yang masuk memenuhi seisi kamarnya.
"Bantal guling saja yang Kau peluk Tama!"
"Apa Kau tidak mendengar kokok rezeki telah lewat sedari tadi!"
Tama menahan nafasnya yang semakin menderu gelisah.
Bukan hanya kupluk Pak Amin yang sering penuh dengan debu, tapi juga bibirnya di penuhi debu angkara murka.
Tama berpura menggeliat, ketika tangan Pak Amin kasar membalikan tubuhnya.
Berpura kaget langsung duduk dan mengucek ke dua matanya.
"Ada apa Pak Amin?"
"Ayyyyyyy! Malas sekali kau Tama!"
"Hari ini kan, tidak ada tugas Pak?"
Tama menguap dusta.
Bibir Pak Amin bergerak-gerak, tentunnya dengan kembang-kempis hidung dan rimbun hitam yang tidak enak di pandangi.
"Coba Kau lihat lagi! pesan yang ku kirim!"
Tama kembali menguap, jelas sekali dusta Pak Amin di rimba sesatnya.
Jelas-jelas dan baru saja Ia meletakkan Handphone, sebelum Pak Amin datang. Masih mengaku telah mengirim pesan padanya.
Tama melihat Handphonenya, berpura-pura melihat Chat di Wa-nya.
Jelas tertera jam pengiriman pesan.
"Iya Pak, Maaf. Handphone-nya Tama matikan dari semalam,"ucapanya karena memikirkan Ginsul di sisinya.
"Ayyyyhhhhyyyy! Tama-tama! cepatlah Kau bagun Kita akan bertugas kembali!"
Pak Amin dengan meninggalkan kamar.
Tama mengurut lega dadanya, melihat tubuh Ginsul yang masih lagi terbungkus selimut.
Mendadak ragu untuk menyentuh Ginsul.
Pikiranya sejenak memanjat pelan angan, Mengapa Ia tadi berani memeluk Ginsul?
Tama mengusap pelan rambut panjangnya, dan memukul cukup keras kaki Ginsul.
'Aduhhh!Tama!"
Tama loncat dari Dipan.
Ginsul duduk dengan meringis memegangi kaki yang terbalut minyak oles.
Tama sedikit termangu, sepertinya tadi Ia tidak memperhatikan kaki Ginsul yang bengkak.
Tama langsung menutupi kembali kepala Ginsul dengan selimut, suara langkah yang Ia hafal kembali mendekati kamar.
"Ayyyyyy! Tama-Tama!"
Wajah bengis Pak Amin kian sadis melihat Tama seperti tidur terduduk memeluk guling.
"Bangun lagi Tama! Apa Kau tidak mendengar suara Ginsul memanggilmu?"
Tama berpura kaget dengan mengucek kembali matanya.
__ADS_1
"Maaf Pak Amin, masih mengantuk," ucapnya menguap dusta.
"Lagi akan mengganti sarung guling, ehhh! Ketiduran lagi." Tama seolah bersalah.
"Ayyyyyyyyy!!"
"Cepatlah! Aku tunggu di warung Ginsul!"
Pak Amin dengan bergegas keluar kamar.
Untuk kedua kalinya Tama mengusap dadanya.
"Gins, Apa Kau dengar?"
Tama segera berdiri.
"Aku salah kirim Chat," pelan Ginsul melihat pintu kamar yang tertutup gordeng.
Tama menguncit rambutnya dengan kesal.
"Apa Kau tidak bisa melihat, rambutku dengan kumis Pak Amin?"
Tama melihat ke luar jendela.
Ginsul pun berdiri tertatih.
"Sama kucelnya!" bisik geram Ginsul.
"Apa rasa takutmu mengalahkan rasa sakit di kakimu?"
Tama melihat kaki Ginsul, yang jelas tadi tidak melihat Ginsul berjalan timpang.
Ginsul melebarkan bibirnya.
"Aku pun heran? mendadak kembali sakit," dalihnya dengan mata mengintip di sela jendela.
"Katakan padaku di mana letaknya buah khayalan mu? yang Kau umbar ke pada Pak Amin," tanya Tama langsung di tengah pintu kamar, menghalangi Ginsul yang akan segera keluar.
Ginsul memperhatikan wajah Tama dengan bingung untuk menjawab.
Mata Tama kian meneliti bebas di gigi Ginsul yang mulai tersenyum.
"Aku butuh jawaban ... Bukan senyuman," jelas Tama.
Ginsul menatapi Tama.
Tama salah tingkah.
"Aku sudah memberi jawaban, dengan senyumku,"
"Jika Kau meminta jawaban."
Ginsul dengan menyerobot keluar kamar dengan memegangi kakinya.
Tama terpaku, melihat seluruh isi kamarnya.
"Oh iya,Tama."
Tama membalikan badannya.
"Semalam Aku bermimpi tengah memanjat bersamamu, tapi Aku tidak tahu Kita tengah memanjat apa?"
"Tapi karena terburu-buru, pak Amin yang kukirim," jelas Ginsul tersipu.
"Buah yang ku maksud ada ...."
Wajah Ginsul semakin merona, kini dengan menundukan wajah dari sorot mata Tama.
Tama menahan debar di hatinya.
"Di dalam hatiku," ucap Ginsul menatap kembali Tama.
"Jika Kau ingin memanjat dan memetiknya, Aku sudah memberimu jawaban."
Ginsul langsung bergegas ke arah dapur.
Tama terpana tanpa bisa tersenyum, menatapi langkah Ginsul yang berlalu.
Tama mendekati kursi,duduk perlahan dengan mendongakkan wajahnya ke langit- langit Rumah.
Hati berdegub kencang.
Sepertinya semua pohon buah sudah pernah Ia panjat, hanya pohon cinta yang belum Ia panjat.
Sebenarnya pula Ia pun suka kepada Ginsul.
Mendadak namun pasti, bibir Tama bergerak. Sebuah senyum terukir dari hatinya.
Sepertinya Ia harus mencobanya, dan kini saatnya merasakan memanjat pohon yang banyak di bicarakan teman-temannya sewaktu di sekolah.
Ia akan memanjatnya, karena sang pemilik pun telah mengijinkan-nya.
"Manjat cinta!!"
Sorak di hati, memenuhi langit-langit di dada.
...****************...
__ADS_1