Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
22. Gins, Aku tidak selingkuh!


__ADS_3

Tama mundar-mandir di depan Warung Ginsul yang telah tutup, wajahnya berkeringat resah dan tertutup gelisah dari cahaya lampu di atas Warung.


Banner-banner yang menempeli dinding-dinding Warung tidak luput menjadi pilihanya, selain Pintu Rumah yang tertutup rapat.


Berkali-kali pula, mungkin sampai matanya bosan melihat Handphone, tetap saja Ginsul tidak kunjung keluar.


Dengan rasa putus asa, Ia pun duduk di atas Motor.


Baru saja Ia sampai dari tugas yang di berikan Pak Amin kepadanya, dan langsung ke Rumah Ginsul. Setelah tadi Neneknya mengatakan Ginsul mencarinya.


Setengah menggerutu, Tama melihat malam yang cerah.


"Gins!" panggil di dalam hatinya, melihat pintu Rumah Ginsul.


Namun sepertinya hal itu tidak akan sanggup membuat penghuni Rumah mendengar. Namun jika Ia benar-benar memanggil, seluruh penghuni Rumah akan keluar semua.


Tama memukul kesal stang Motor. Pulsanya pun tidak cukup untuk membuka WA-nya. Hanya kesempatan terakhir tadi yang Ia gunakan untuk mengirim pesan kepada Ginsul.


Melihat kembali malam yang cerah di atasnya.


Tama melepaskan kuncit di Rambutnya, udara terasa membuatnya gerah akan rasa resah di dalam hatinya.


Malam ini Ia telah bebas tugas karena sudah menyelesaikan semua unduhanya. Malam ini juga Ia berjanji akan menemani Ginsul ke pasar malam.


Melihat pintu Rumah lagi yang terlihat tiada berpenghuni, meski lampu ruang tamu masih menyala di dalam.


"Mungkin Ginsul tengah melihat pasar malam bersama Ayah dan Ibu serta adiknya." Sangka di hatinya.


Tama melepaskan nafasnya kesal. Sepertinya Ginsul meninggalkannya karena terlalu lama menunggu.


Tatapanya tertuju pada pintu warung yang terbuat dari lembaran plat besi yang tersusun dan melipat bertumpuk jika di buka.


Seolah ingin bertanya jika Ia harus menyusulnya.


Kembali melepaskan nafasnya kesal.


Berpikir kembali jika memang menyusul Ginsul, tentu nanti Ia akan bertemu keluarganya.


Tama menghela nafasnya, sepertinya Ia belum ingin melihat keluarga Ginsul mengetahui tentang hubungan mereka. Lagi pula Neneknya masih banyak bon belanjaan diwarung. Tama melepaskan gerutunya pada nyamuk yang mengusik telinganya, menepuk dengan kesal.


Tama segera membuka sebuah pesan yang masuk.


Gerutu di hatinya semakin menjadi.


Bukan dari Ginsul yang masuk, namun Raja unduh! Sultan Amin! Yang memberitahukan bahwa esok ada tugas penting.


Tama memasukan Handphone ke dalam Tas pahanya, rasa hatinya bagai mengutuk keras tugas yang membuatnya tidak bisa jalan dengan Ginsul.


Sempat tadi sebelum pulang Ia berkhayal akan menemani Ginsul naik komedi putar atau ke dalam Rumah setan ,atau pun drum setan. Dan Ia pun sudah memacu Motornya agar lekas sampai agar bisa menemui Ginsul, namun Pak Amin yang Kesetanan! Menyuruhnya membawa peralatan ke rumahnya, dan itu cukup membuang waktu tempuhnya.


Tama kembali menguncit rambutnya.


"Sudah menumpang mandi saja tidak boleh." Oceh di hatinya mengingat terburu-burunya Ia mandi di rumah.


Wajah Ginsul yang tadi sempat pula terbayang-bayang saat berada di atas motor untuk pulang, mebuatnya senyum-senyum sediri bagai ojol yang akan membawa penumpang.


Tama kembali melihat Rumah Ginsul, sesaat terpaku.

__ADS_1


Kemudian menghidupkan motornya. Mungkin sebaiknya Ia pulang untuk beristirahat, mengingat tubuhnya terasa lemas dan letih sehabis seharian lebih mengunduh buah, hanya senyum dan gigi ginsul yang tadi membuatnya bersemangat.


Tama segera membawa Motornya dengan berjalan pelan, matanya kembali melihat pintu Rumah Ginsul


Malam ini sebenarnya kesempatan terakhir baginya untuk bisa menemani Ginsul, cuaca cerah dengan bintang dan bulan yang bersinar harusnya menjadi malam yang penuh warna di dalam hatinya melihat wajah dan senyum Ginsul di sisinya.


Sedangkan esok belum tentu Ia bisa pulang sebelum malam.


Tama berdecak kesal. Mengarahkan laju Motornya ke rumahnya.


Hatinya begitu resah, memikirkan Ginsul jika bertemu teman-temannya yang pasti tanpa di temani orang tua masing-masing, melainkan pacar mereka, yang tidak pernah telat untuk melihat Pasar malam.


Tama menghentikan Motornya, bimbang di hatinya untuk pulang atau langsung menuju Pasar malam di lapangan bola.


Tiba-tiba hatinya tergerak meronta untuk di pertemukan dengan Ginsul.


Terbayang sejenak jika Ginsul di tertawakan teman-temanya karena di temani keluarganya.


Tangan Tama cepat bergerak membelokan stang Motor menuju Lapangan Bola.


Namun kembali laju Motornya terhenti, gagang rem pun lekas Ia tekan.


Motor yang sangat Ia kenali, menyalip dan berhenti di depanya.


"Ayyyhh! Tama Ku cari di rumahmu barusan!"


Suara legar dari Pak Amin menyengat telinganya.


Dengan pelan mendekati di samping Pak Amin.


Pak Amin mencopot kupluknya.


Tama melebarkan kesal bibirnya. Bau tidak sedap tercium olehnya."Apa tidak bisa kupluk saktinya di tinggal, barang sejenak?" gerutu hatinya bersedakep melihat dataran tandus kepala Pak Amin.


"Lantas! Mengapa Kau tidak membalasnya?" Pak Amin mengoceh, tentu dengan rimba gelapnya yang tegang dan tambah horor.


Tama mendengus kesal.


"Pak Amin kan, tahu. Jika Aku tidak membalasnya, berarti pulsaku habis Pak." jawabnya resah, melihat cerah malam yang kian beranjak malam.


"Ayyyyy! Alasan saja Kau tama!" oceh Pak Amin mengebat-ngebatkan kupluk ke pahanya.


Tama mencibir kesal. Bisa-bisanya Pak Amin bilang Ia beralasan, bahkan untuk Chat ke Ginsul saja Ia tidak bisa.


"Pokoknya jangan sampai besok Kau kesiangan tugas!" Ancam Pak Amin. Memakai kupluknya.


Tama memperhatikan dengan kesal.


"Iya Pak! Iya!" serunya ingin cepat berlalu dari dekat Pak Amin.


"Memang Kau akan kemana Tama, terburu-buru sekali?"


Tama mengurungkan niatnya untuk memutar kunci kontak.


"Ada bisnis Pak!" Acuhnya kesal. Hati semakin tidak tenang memikirkan Ginsul.


"Ayyhhhhh! Bisnis! Bisnis apa malam begini Tama?"

__ADS_1


Tama benar-benar menggerutu dalam hatinya. "Ingin tahu saja urusan anak muda!" Matanya melihat ke arah samping, membuang tatap curiga Pak Amin padanya.


"Apa Kau ingin bertugas tanpaku?"


Tama melepaskan nafas kesal.


"Iya tidak Pak Amin," jelasnya. Sepertinya tidak mungkin juga Ia harus mengatakan akan menyusul Ginsul pada Pak Amin.


"Jika sudah Pak Amin boleh jalan terlebih dahulu," ucapnya lagi.


"Ayyyyy! Sombong sekali Kau Tama!"


Tama semakin menggerutu, ingin rasanya menjitak kepala gundul Pak Amin yang hanya di tengah-tengah kepala dan sedikit melewati ubun-ubunnya.


"Jika Aku suruh Pak Amin menyusul di belakang, bilangnya Tama tidak sopan! Mendahului orang yang lebih tua!" Tama seperti membatah.


"Ayyyy! Bisa saja Kau menjawab Tama!" Oceh Pak Amin langsung.


"Iya bisa Pak, di belakang Pak Amin bisa! Di depan Pak Amin juga Bisa!" Tanggap Tama lagi.


"Aku akan melihat pasar malam Tama, Apa Kau ingin ikut?" Pak Amin dengan menyulut kreteknya yang mati.


Tama menggeleng pelan tanda tidak menyangkanya.


"Pak Amin lebih dahulu saja, kalau begitu," ucapnya pelan.


"Ayyyy!"


"Urusan tugas kita sama-sama Pak, tapi ke pasar malam harus juga bersama? Buah di sana buat di jual! Bukan di unduh Pak!" kesal Tama menanggapi seruan Pak Amin.


Dengan rasa seperti menahan kedongkolan Pak Amin menghidupkan Motornya.


"Awas saja jika besok kesiangan!" seru Pak Amin dengan menarik tuas gas.


Tama hanya menghela nafas kesalnya. Mungkin lebih baik Ia mendengar klakson keong di motor Pak Amin ketimbang suaranya jika pergi.


Sesaat merogoh tas pahanya.


Senyumnya mengembang menenangkan rasa di hati.


Pesan masuk dari Ginsul.


"Tahu saja jika pulsa pacarnya sudah habis." Suara di hati yang mulai berdendang senang.


Namun bibirnya terkatup layu, saat pesan yang bukan dari WA Ia baca.


Seperti kesetanan Tama langsung memasukan Handponenya dan memutar kunci kontak dengan langsung menarik tuas gas.


Wajahnya berubah tegang, pesan dari Ginsul kembali membuat resah, cemas dan sebaginya yang bergerumun di dahan hati.


Bagaimana tidak? Ginsul menuduhnya selingkuh dengan Kyra.


Tama semakin memutar kuat tuas gasnya saat jalan beraspal mulus di depanya.


"Gins,Aku tidak selingkuh!" Teriak hatinya bersamaan laju kencang Motornya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2