Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
18.Pembawa peralatan.


__ADS_3

Tama mengucek kedua matanya, suara mengeong membangunkanya.


"Nek! Si puham lapar Nek!" Tama membalikan tubuhnya terlentang.


Suara si puham menyahuti serunya.


Dengan mata terbuka mengantuk Ia pun bangun dengan duduk di tepi amben.


"Nek!"


Suara si puham yang kembali terdengar.


Dengan malas Ia pun berdiri, melangkah medekati pintu kamar dengan menarik rambut panjangnya ke balakang kepala.


Suara si puham terdengar keras saat pintu kamar Ia buka. Mata yang masih enggan terbuka lebar, harus terbuka lebar melihat si puham dalam dekapan Ginsul.


Ginsul tersenyum lebar.


Tama menggaruk kepalanya, malu.


"Hai! Pagi!"


Tama tersenyum menanggapi.


"Rajin sekali Kau Tama, sudah bangun?"


Dengan rasa malu Tama melihat jam di atas pintu dapur.


"Baru jam sepuluh," ucapnya melihat Ginsul.


Ginsul pun menatap mesra.


"Ohhhhh, Iya. Belum jam dua belas." Ginsul mengelus pelan kepala si puham.


Tama semakin malu, menggeleng pelan dengan tersenyum menundukan wajah.


Harum wangi tercium memenuhi seluruh ruang tamu yanh kecil.


"Apa Aku ingin pergi Gins?"


Tama memperhatikan kaos berlengan panjang yang di kenakan Ginsul dengan setelan celana jeans.


Ginsul senyum mengusap-usap si puham yang mengeong, seperti tidak mendengar suara Tama.


"Iya, Dan Kau akan mengajakmu dengan paksa." Ginsul berbicara dengan si puham.


Tama memperhatikan.


"Masih ada tugas siang nanti," jelasnya pelan.


Suara mengeong bersamaan si puham yang meloncat dari dekapan Ginsul, dan langsung mendekati kaki Tama dengan mengoeng lagi.


Tama segera menggendong Kucing kesayaangan-nya tersebut.


Ginsul menatap sebel ke luar pintu Rumah.


"Aku minta maaf Gins." Tama mengusap kepala si puham.


"Aku tahu Kau akan mengunduh di kebun milik family Kyra!" Ginsul seperti ketus.


Tama melepaskan si puham dari gendongan-nya. si puham langsung berlari ke arah dapur.


Tama kembali masuk ke dalam kamarnya.


Ginsul menolehnya dengan pias kecewa. Cepat melayangkan tatapnya ke arah dapur di mana si puham mengeong.


Tama keluar kamar dengan membawa handuk di lehernya. Mengusap wajahnya lalu menutupi mulutnya, menatap Ginsul.


"Dimana ada buah yang siap di unduh, Aku pun harus berada di sana Gins, " ucapnya di balik handuk yang menutupi mulutnya.


"Gitu?" Ketus Ginsul melihat Tama.


Tama mengedipkan matanya, meng-iya-kan Ginsul.


Tatapan Ginsul kembali ke luar pintu.


Tama berjalan ke pintu Rumah, berdiri dengan menyandarkan bahunya di ambang pintu, melihat perkarangan sempit Rumahnya.


Ginsul melayangkan tatapnya ke arah dapur.


"Malam Kau tugas! Siang pun tugas!"

__ADS_1


Tama terdiam, melihat sofa sobek di dekatnya berdiri.


"Sedang pagi Kau belum bangun Tama!"


Tama tersenyum di balik handuk, melihat lagi perkarangan Rumah yang bertanah dengan Akar-akar pohon Mangga yang tersembul keluar bagai tentakel Gurita.


"Aku harus cari uang Gins," ucapnya tanpa melihat Ginsul.


Tatapan Ginsul terarah padanya.


"Bahkan Kyra rela tidak berangkat sekolah demi menemanimu?"


Tama membalikan tubuhnya menatap Ginsul, menyandarkan punggungnya di pintu.


Ginsul membuang wajahnya ke arah pintu dapur kembali, Jam di atas pintu yang berbentuk bundar yang Ia tatap lekat.


"Aku dan pak Amin tidak mengetahui tempatnya Gins." Jelas Tama. Masih berbicara dengan mulut tertutup handuk.


Tatapan Ginsul tidak tergoyahkan di jarum jam yang bergerak.


"Jadi, Kyra yang mengantarkan kami." Jelas Tama lagi.


"Ke terusan seuz!" Ginsul dengan nada marah.


Tama mendesah pelan, membalikan lagi tubuhnya ke luar rumah.


Suara si puham mendekati.


Tama melihat kakinya yang di elus puham dengan kepala, Ia pun membiarkanya. Menatap kembali akar-akar di luar tanah.


"Seharian dong! Bersama Kyra!" Ginsul dengan nada marah.


Tama berkedip cepat.


"Lokasinya jauh Gins, Kami harus pulang malam."


"Ohhhh! Ke terusan suez rupanya!"


"Asik dong! Mengapa Kau tidak mengajak-ku?" Ginsul melihat Tama yang bediri membelakanginya.


Tama kembali membalikan tubuhnya.


"Kau kan, sekolah Gins?"


Di balik handuk Tama melebarkan bibirnya. Tatapnya ke arah pintu kamarnya.


"Siang nanti, Kami akan mengunduh lagi." Tama seperti ingin memberitahu.


"Gins, Aku hanya bisa membonceng Kyra, sedang Motor pak Amin membawa perlatan."


Ginsul menatap cepat Tama dengan rona pipi yang memerah dan kedua bibir terbuka.


"Jadi, semalam dan berangkat pun Kyra Kau bonceng Tama?" Ginsul dengan mata hampir membeliak.


Tama mengangguk pelan.


"Kyra,takut. Membawa motor, kalau jauh." Jelasnya perlahan.


"Dan Kau tidak takut saat memboncengnya? Kau takut jika menuruti ajakanku, jalan bersamaku?"


Ginsul membuang wajahnya dari tatapan Tama.


"Gins." Tama berjalan mendekati Ginsul.


Ginsul semakin membuang tatapnya ke arah samping, tepatnya di pintu kamar Tama.


"Aku malu Gins, jika jalan bersamamu. bensin dan jajan Kau yang memberi." Tama dengan duduk di sebelah Ginsul.


"Aku harus punya uang sedikit Gins." Tama lagi.


"Sedikit dapat apa?" Ketus Ginsul.


Tama menyandarkan kepalanya dengan terpejam.


"Dapat membelikanmu ciki Gins." Tama meski matanya terpejam.


Ginsul pun menyadarkan kepalanya.


"Di warungku banyak," ucapnya dengan memejamkan mata.


Tama meliriknya.

__ADS_1


Pipi halus Ginsul terlihat menggunakan bedak tipis.


"Lalu kapan Kau punya uang sedikit?"


Tama kembali memejamkan matanya.


Suara si puham mengeong dengan meloncat di perut Tama.


Tama membuka matanya dengan mengelus kepala si puham.


"Aku tidak minta jajan Kok, kalau kita jalan." Suara Ginsul pelan.


Tama tersenyum dengan mengelus-elus si puham. Si puham mengeong lagi.


"Iya, Kau pasti minta naik komedi putar."


Ginsul tertawa kecil, mendorong pundak Tama.


Tama tertawa juga di balik handuk mulutnya.


Ginsul membuka matanya, memiringkan kepalanya menatap Tama.


"Tama, biarkan pak Amin yang membonceng Kyra, iya."


Tama menoleh Ginsul.


"Kau, pembawa peralatan saja." Ginsul menjawab tatapan Tama.


Tama tersenyum mengangguk. Tentunya Karung dan peralatan lainnya yang di maksud Ginsul yang sering di bawanya atau bergantian dengan Pak Amin setiap mendapat tugas dinas.


"Tapi, Gins?"


"Tidak ada kata tapi Tama."


"Jika pak Amin menolaknya?"


Ginsul mengangkat kepalanya dari bersandar.


"Pak Amin yang menolaknya, atau Kau yang tidak ingin?"


"Gins?"


Ginsul cemberut.


"Kalau pak Amin menolak, Aku yang akan membonceng Kyra!" Ginsul semakin cemberut.


Tama menghembuskan nafasnya.


Tiba-tiba si puham kembali meloncat dengan mengeong, suara pintu dapur belakang dari engsel yang berkarat sepertinya yang membuatnya.


"Ginsul!"


Ginsul langsung berdiri.


"Iya, Nek!" Sahutnya melihat Tama.


"Apakah Tama sudah bagun!"


Ginsul menatap Tama dalam.


"Aku mandi dahulu," ucap Tama sebelum Ginsul kembali menjawab Neneknya.


"Dari Tadi Nek!"


Tama dengan berjalan.


"Malas sekali Kau Tama! Apa Kau tidak malu dengan Ginsul?" Nek Imah muncul di pintu dapur.


Tama hampir terkejut olehnya.


Ginsul senyum-senyum Nek Imah melihatnya.


"Malu Nek." Tama dengan melewati Nek Imah.


Nek Imah menatapi Tama hingga masuk ke dalam kamar mandi.


Ginsul tertawa kecil, gigi Ginsulnya terlihat.


Nek Imah menggelengkan kepalanya kepada Ginsul, seperti ingin di minta di mengerti jika prilaku buruk cucunya kurang berkenan di hatinya.


Ginsul tersenyum manis.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2