Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
31. Langsung Smash Saja.


__ADS_3

Tama mengusap-usap Rambutnya yang basah dengan kedua tangamya. Sementara Pak Amin tengah asik menikmati kreteknya, seperti tengah juga menikmati hasil unduhan-nya yang berada di atas bak mobil. Santai melipat salah satu kakinya di atas Jok Motor.


"Tama!"


Tama dengan sigap menangkap Buah Rambutan yang di lemparkan Alisa.


Tama tersenyum melihat warna merah di telapak tanganya.


Alisa berjalan mendekati.


"Ginsul?" Tama melihat ke arah belakang Alisa.


"Sedang mencuci wajahnya," ucap Alisa.


"Ayyyyy! Cepatlah Tama! Hari akan malam!"


Tama dan Alisa sontak menoleh Pak Amin.


"Iya! Pak Amin! Tengah menunggu Ginsul!" Tama menyahuti.


Alisa mengangguk menimpali sahutan Tama.


"Ayyyyyhhh! Kemana Ia?"


"Sedang mencuci muka Pak!" Alisa menyahuti.


"Ayyyyyy!" Pak Amin menghirup kembali Kreteknya.


Tama tersenyum, mengajak Alisa untuk duduk di pondok kecil.


Tama membawa botol minumnya kembali ke Motornya, setelah habis di gunakanan untuk mencuci wajah dan rambutnya.


Alisa duduk dilantai bambu pondok memperhatikanya.


"Ginsul masih marah padaku," ucap Tama mendekati Alisa.


Alisa tersenyum menundukkan wajah.


Tama duduk di samping Alisa.


Alisa melayangkan tatapanya di pohon Rambutan yang besar dan bercabang dari bawah pokok batangnya.


"Sedari tadi Ia hanya diam padaku?" Tama melihat Alisa.


"Sedari tadi Ginsul berbicara panjang lebar tentangmu." Tanpa menoleh Tama.


Tama menghela nafasnya. Melihat kepulan asap kretek di wajah Pak Amin.


"Aku sudah menceritakan pada Ginsul."


Tama kembali menoleh Alisa.


Alisa pun menoleh mengangguk.


"Tapi?" Tama meluruhkan tatapnya dengan melihat kembali Pak Amin.


"Tapi Ginsul ingin Kau yang mengatakannya." Alisa lagi. Melihat pula Pak Amin, bibirnya tersenyum melihat kepala yang baru saja di buka kupluknya.


Tama pun tersenyum.


"Aku baru sadar, ada lapangan lengkap dengan bola volinya."


Tama nyengir mendengarnya.


"Alisa-Alisa." Tama dengan menunduk, Pak Amin melihat ke arahnya dan Alisa.


Alisa senyum-senyum. Membuat kepala Pak Amin seperti menyala sebelum di hidupkan. Belum lagi seringai senyumnya, bagai kelelawar yang mulai berkeliaran mengincar buah rambutan di saat sore.


"Aku sudah menjelaskannya?" Tama tanpa menoleh Alisa. Tatap Pak Amin masih tertuju ke padanya dan Alisa.


"Namun belum kau tuntaskan semuanya." Alisa pun tertunduk. Seperti tidak kuasa pula melihat tatapan Pak Amin yang mulai genit padanya.


Tama menghembuskan nafasnya pelan.


"Kau perlu membuktikanya lagi." Alisa lagi.


Tama mengangkat wajahnya, menoleh Alisa.


"Mengapa Alisa?"


"Apakah tidak cukup dengan sekedar ...."

__ADS_1


"Perlu Aksi Tama! Jika Kau ingin memetik rasa-nya kembali." Potong Alisa cepat.


Tama seperti bedecak di hatinya.


"Beberapa hari lagi Kami akan bertanding voli melawan Kyra." Jelas Alisa.


Tama termangu melihat Alisa.


"Dan Aku rasa? Kau bisa datang untuk menjemputnya."


Tama melayangkan tatapnya dengan menghela nafas.


Pak Amin telah memakai kupluk saktinya lagi. Namun asap kretek belum juga menghilang dari wajah dan kumisnya. Seperti hutan yang tengah terbakar parah.


"Akan Aku usahakan Alisa." Tama seperti ragu untuk menyanggupi.


Alisa melebarkan bibirnya.


"Berarti Kami harus menerima kekalahan lagi." Alisa pesimis. Matanya menatap jauh di puncak pohon rambutan di mana Ginsul tengah memcuci wajah di bawahnya. Mengulas kembali peristiwa yang membuat Para Gins harus kewalahan menerima bola dari Kawanan Kyra.


Ginsul bagai diam di tempat saja hingga Bu Lan meniup pluitnya.


Alisa menghembuskan nafasnya, kembali melihat Tama.


"Aku kok, merasa kurang yakin semua kerena Aku tidak menjemput-nya?" Tama menatap mata Alisa.


"Tentunya." Senyum Alisa.


"Semua karena apa yang tengah Kau usahakan, untuk tidak datang."


Tama mendorong pelan pundak Alisa.


Alisa tertawa kecil.


Tama pun ikut tertawa.


Keduanya langsung menundukkan wajah. Pak Amin kembali memperhatikan.


"Tama, Ginsul sangat menyayangimu," ucap Alisa setengah berbisik.


Tama tersenyum.


Alisa berganti mendorong pundaknya.


"Ayyyhhhiii! Tama! Alisa! Apa yang membuat kalian tertawa?"


Tama dan Alisa segera mengangkat wajah melihat Pak Amin.


"Tidak ada apa-apa Pak Amin! Alisa hanya bertanya, berapa rupiah harga kupluk Pak Amin? Kok! Terlihat wah!wah!"


Alisa langsung mendorong pundak Tama dengan keras dengan bibir menahan tawa.


Tama mengeluh menahan tawa pula.


Bibir Pak Amin mengembang sempurna, berdiri dengan melepaskan kupluknya.


Alisa seperti tidak kuat menahan tawanya, bergelayut di pundak Tama menutupi tawa dan wajahnya.


Tama menahan gelak tawanya.


Bisa-bisanya Pak Amin kembali memamerkan kepalanya.


Tama meremas Buah Rambutan yang masih Ia gengam, sekuat tenaga menahan gelak tawanya terhadap Alisa.


"Pak Amin! Sudah Pak! Alisa hanya ingin tahu saja!" Serunya. Tidak tahan mendengar tawa di bahunya.


Pak Amin kembali memakai kupluknya. Namun langsung mentupi seluruh wajahnya.


Tama langsung terlentang tertawa.


Alisa pun hampir ikut tidur terlentang jika tidak menunjang tubuhnya dengan gerak cepat tanganya.


Kemudian memukul-mukul lengan Tama dengan tertawa.


"Ada ninja pohon Alisa." Tama menutupi dengan menutupi mulutnya.


Alisa seperti takut melihat Pak Amin. Segera menoleh saat melihatnya.


"Pak Amin!"


Tama langsung bangkit melihat.

__ADS_1


Alisa pun melihat cepat.


Ginsul berlari ke arah mereka sembari melempar Pak Amin dengan Buah Rambutan.


Terlihat Pak Amin menghindar dengan berdiri dari motornya.


Lemparan Ginsul hanya mengenai Standar Motornya.


Pak Amin terdengar tertawa mengejek di balik kupluknya.


Alisa yang melihat segera merebut Buah Rambutan di tangan Tama. Lekas berdiri.


"Gins!" Alisa dengan melambungkan Rambutan.


Ginsul yang mengerti maksud Alisa pun segera berlari menyambut Rambutan yang di umpankan padanya.


"Langsung Smash!!" Teriak Tama berdiri.


Ginsul meloncat cepat dan...


"Aduhhhh!" Pak Amin merintih memegangi kepalanya.


Tama dan Alisa melompat keluar pondok bersorak bersamaan dengan mengangkat kedua tangan.


"Ginsul! I love you!" Tama dengan berjingkrak-jingkrak kegirangan.


Alisa terpana dengan perlahan menurunkan kedua tanganya.


Ginsul yang akan bersorak pun menutupi mulutnya dengan jarinya, menatap bersalah pada Pak Amin.


Pak Amin membuka kupluknya dengan meringis.


"Pak Amin, Ginsul minta maaf." Ginsul dengan mendekati.


Pak Amin memegangi kepalanya.


Tama yang tersadar pun segera berhambur bersama Alisa mendekati.


"Pak Amin? Tidak sakit kan, Pak?" Tama dengan melihat kepala Pak Amin yang gundul.


Pak Amin hanya melihat jemarinya.


"Tenang Pak, buah rambutan tidak akan membuat kepala Pak Amin bocor." Alisa dengan merasa bersalah pula.


Ginsul pun mengangguk pelan.


Pak Amin meringis sakit memakai kupluknya. Dengan diam segera menghidupkan Motornya dan tancap gas.


Tama, Ginsul dan Alisa berpandangan.


"Kita semua salah," ucap Tama.


"Pak Amin sepertinya marah?" Ginsul seperti menyesali perbuatanya.


Alisa manggut-manggut.


Ketiganya langsung melihat ke arah Pak Amin yang pergi.


"Tama, Kau yang membonceng Ginsul iya?"


"Ban motorku sepertinya kurang angin." Alisa melihat Motornya di dekat Motor Tama.


Tama menatap Ginsul.


Ginsul terdiam cemberut.


Alisa segera mendekati Motornya. Tama mengkutinya.


Ginsul menoleh ke pepohonan rambutan.


"Tama, langsung smash saja," bisik Alisa.


Tama termangu.


Alisa menoleh Ginsul.


"Jaring Net di hati Ginsul, cukup rendah kok,"


Tama senyum-senyum.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2