Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
34. Wagon.


__ADS_3

Tama meloncat ringan dari batang yang Ia pijak ke batang lain dengan kedua tangan berpegangan pada dahan untuk mengayun tubuhnya.


Rambutnya terurai panjang tertiup angin seiring geraknya. Bergelayutan di atas dahan dan cabangnya.


Dengan cekatan pula menjatuhkan Buah-buah Rambutan yang telah terpetik paksa oleh Galah Bambu buatan Pak Amin yang cukup efektif menjangkau di ranting yang jauh dari uluran tangan.


Pak Amin terlihat sibuk memperhatikan setiap Rambutan yang di jatuhkan Tama dari atas Pohon. Dan dengan santai pula meringis senang menikmati kretek dari atas Motornya.


Pak Amin seperti tengah beruntung. Pemilik Pohon menyediakan jaring di bawah, hingga membuatnya tiada sesibuk setiap kali mengambil atau mengumpuli Rambutan dari unjung Galah.


Biasanya Kretek di mulut dan tanganya sama sibuknya, hingga membuatnya terpontang -panting antara mulut yang berasap dan tangan yang meraup ranting.


Tama kian gencar memetik dan menjatuhkan Rambutan. Tanpa memperdulikan Pak Amin yang senyum-senyum kepadanya.


Keringat pun telah mulai membasahi keningnya.


Tama menghentikan tanganya yang akan memutar Galah.


Suara se-seorang tengah berbicara pada Pak Amin.


"Tama!"


Tama yang memang akan melihat ke bawah, langsung tersenyum lebar mengenali wajah yang memanggilnya.


"Bagaimana kabarmu?"


"Iya! Seperti ini!" Tama menyahuti.


"Tama! Apa Kau mengenalnya?"


Tama mengangguk cepat ke pada Pak Amin. Dan tentu Ia mengenal Wagon, pacar Alisa.


Meski Setiawan-lah nama sebenarnya.. Namun karena berambut gondrong, banyak yang menyingkat dan memanggilnya dengan Wagon saja.


Rambutnya yang sekarang panjang pun karena melihat Wagon. Namun kini Wagon telah berambut pendek.


"Seorang idola di sekolahnya Pak!" Tama melihat Wagon.


Wagon tertawa kecil. Pak Amin ikut tertawa manggut-manggut.


"Aku baru tahu jika sekarang Kau seorang pengunduh Buah Tama!"


Tama senyum-senyum menanggapi.


"Tentunya dari Alisa!" serunya kemudian.


"Kau benar Tama!" Wagon setelah menganggukan kepalanya.


Tama seperti baru menemukan sebuah jawaban.


Pantas saja Alisa terlihat tidak ingin kalah dengan Kyra. Sepertinya Wagon adalah sebuah alasan yang sangatlah mungkin.


Wagon pernah menjadi pacar Kyra, sebelum bersama Alisa.


"Tama! Aku sudah menyediakan minuman dan makanan untuk kalian!"


"Iya! Terimakasih!" Seru-nya. Melihat ke arah jemari Wagon yang menunjuk ke teras Rumahnya.


"Aku harus kembali ke sekolah!"


Tama tesenyum mengangguk. Menatap Wagon yang langsung pergi setelah berpamitan pada Pak Amin.


Terus memperhatikan hingga Wagon berlalu dengan membunyikan suara klakson kepadanya dan Pak Amin.


Rimba kumis Pak Amin pun mekar merona menyahuti Wagon pergi.


"Ayyyyyy! Tama! Tunggu apa lagi? Cepatlah!"


Tama tersentak suntuk. Jika bukan karena Wagon tadi, tentuny Ia pun sudah cepat untuk mengunduh.

__ADS_1


"Apa Kau haus! Atau lapar!"


"Akan akan Aku ambilkan sebentar!"


Tama memutar kuat galahnya. Melihat Pak Amin yang berjalan.


"Jangan sebentar Pak! Semuanya!" Seru-nya de ngan menjatuhkan Ke bawah. Sedangka Ia tahu Pak Aminlah yang sebenarnya tengah haus dan juga lapar.


Ia pun segera melintangkan galah di dahan di atasnya. Lalu dengan lincah bergelayut berpindah dahan.


"Tama! Sebaiknya Kau unduh rambutan di atasmu dahulu, sebelum beristirahat!"


Tama hanya melebarkan bibirnya. Seperti telah terbiasa mendengarnya.


Kembali Ia memutar galahnya.


Gerombol demi gerombol Buah Rambutan menjatuhi jaring. Tinggal Pak Amin yang semakin sibuk memenuhi mulutnya dengan makanan yang baru di ambilnya.


Tama seperti tidak memperdulikan Pak Amin, terus mematahkan setiap ranting berbuah yang terlihat olehnya.


"Tama! Ku rasa setengah hari saja, cukup untuk satu pohon ini!"


Tama seperti tidak mendengar.


"Tama!"


Tama melihat ke bawah pohon dengan rasa malas.


"Iya, Pak Amin! Seperti biasa! Sebelum jam istirahat akan selesai!" serunya.


Pak Amin manggut puas.


Tama segera berpindah dahan.


"Tama!!"


Tama yang hendak mengulurkan galah, harus urung melihat asal suara.


"Ayyyyyyyy!" Pak Amin berseru kepada keduanya.


Tama senyum-senyum.


"Pak Amin! Bagimana?" Alisa langsung. Setelah dekat.


Tama senyum manis, Ginsul menatapnya. Namun lekas menoleh Pak Amin dengan cemberut.


Rimba hitam Pak Amin mengembang bagai layar kapal bajak laut yang siap berlayar. Tentunya dengan merompak segala jenis Buah-buahan yang di temui.


"Ayyhhh! Hanya tugas mudah." Sombong Pak Amin. Menyulut kembali kreteknya.


Tama menggaruk keras bibirnya dengan rasa di hatinya.


Alisa senyum ceria melihatnya.


Tama mengedipkan sebelah matanya.


Alisa langsung melihat Ginsul.


"Bu Warna tidak masuk! Jadi Kami kemari untuk menemuimu!"


Ginsul langsung mencubit lengan Alisa.


"Ayyyhhyyyh!"


"Termasuk Pak Amin juga!" Alisa melihat Pak Amin.


"Ayyyyhhhhh!"


"Pak Amin kenapa sih?" Ginsul seperti kesal dengan suara Pak Amin.

__ADS_1


Pak Amin menggaruk kupluk saktinya. Nyengir lebar ke arah Ginsul.


"Kretek-ku habis Ginsulllll!"


Ginsul melengos melihat kepulan asap di bibir Pak Amin.


Tama dan Alisa hanya senyum-senyum.


"Tama! Aku segera kembali!" Pak Amin berseru. Bergegas menaiki Motornya dan tancap gas.


Tama yang melihat langsung meletakkan galah, lalu turun dengan lincah.


Melompat berayun, dan menapak tepat di depan Alisa dan Ginsul.


"Wuwwwwww!" Alisa bertepuk tangan.


Ginsul dengan memalingkan wajah, menyembunyikan senyumnya.


"My hero, tarzan!" Alisa lagi. Menyikut pelan Ginsul.


Tama menarik Bando Alisa gemas.


Alisa tertawa manja memeluk Ginsul.


Ginsul cemberut sedikit berontak.


"Gins, kakimu masih sakit?" Tama melihat kaki Ginsul.


"Masih," ketus Ginsul. Menatap Tama namun cepat melihat Alisa.


"Tapi, Kau ltadi berlari bersamaku Gins?" Alisa mengerutkan keningnya.


Tama tersenyum tertunduk.


"Gins, Aku tidak ingin kalah sebelum bertanding lagi," ucap Alisa lagi.


"Wagon baru saja pergi," ucap Tama menyudahi saling tatap keduanya.


"Kami sempat bertemu di jalan!" Alisa senyum mengembang.


"Alisa ..."


"Semua untuk ginsulku tersayang!" potong Alisa cepat.


"Agar lompatan-nya jauh lebih tinggi!" Alisa segera menghindar dari tangan Ginsul yang akan menarik rambutnya.


Tama tertawa kecil melihat keduanya.


"Gins, Tama sudah melaksanakan apa yang di usahakan-nya. Tapi Kau yang tidak datang!" Alisa dengan bersembunyi di belakang Tama.


"Jika Aku tidak jatuh dari motor! Aku pasti datang!" Ginsul membela diri. Tangannya pun bergerak akan menarik tangan Alisa.


"Apa Kau lupa jalan menuju sekolah? Hingga motornya masuk parit?" Alisa seraya menarik tangan Ginsul.


Ginsul terkejut, Alisa bukannya menghindar justru menariknya.


Tama pun hampir-hampir memeluk erat tubuh Ginsul yang membuatnya terdorong ke belakang.


Ginsul segera menarik tubuhnya dengan memegang kedua pundak Tama.


Keduanya bertatapan.


Warna merah dari Rambutan yang ada di dekat mereka, bagai warna hati yang tengah manis terasa. Debar-debar indah terasa lirih menghinggapi dahan-dahan cinta keduanya.


Hanya Alisa yang mematung masih menutupi kedua bibir dengan jarinya.


Menatap suka Tama dan Alisa. Perlahan kakinya bergerak menjahui keduanya.


Senyumnya mengukir manis di atas Tama dan Ginsul.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2