Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
38. Kedip.


__ADS_3

Ginsul menelan ciki terakhir di mulutnya. Menatap hampa halaman depan Rumah yang gelap, sedang lampu teras di atas kepala tidak cukup menerangi akar-akar Pohon Mangga di depanya.


"Ginsul."


Ginsul cepat menoleh.


"Iya Nek." Senyumnya kecil.


"Apa tidak sebaiknya Kau pulang saja? sejak sore Kau menunggu Tama." Nek Imah melihat halaman Rumahnya.


Menghela nafas kembali melihat Ginsul.


"Tidak apa-apa Nek." Ginsul tersenyum lebar.


"Mungkin sebentar lagi Tama pulang, Nenek di tidur saja dahulu," ucapnya lagi. Sejak sore tadi Nek Imah menemaninya berbincang menunggu Tama.


Terlihat Nek Imah menghela nafasnya.


"Benar, tidak apa?"


Ginsul mengangguk pelan.


"Iya sudah, Nenek ke dalam dahulu."


Ginsul kembali mengangguk terseyum, Nek Imah membelai kepalanya.


Memperhatikan langkah Nek Imah hingga tidak terlihat di balik Gordeng kamar.


Wajahnya kembali terarah ke depan. Sementara tangan-nya meremas bungkus chiki yang telah kosong.


Beberapa deret bungkus ciki yang juga kosong tergelatak di dekat kakinya.


Hampa matanya menatap kegelalapan di halaman Rumah, seperti ingin menembusnya untuk mengetahui keberadaan Tama yang belum juga kembali.


Angan-nya pun tertuju kepada Batang besar Pohon Mangga.


Rasa di hati yang sejak tadi begitu gelisah dan kecewa, seperti terlukis di batang besar tersebut.


Namun juga ada rasa rindu yang memanjat pelan hingga ke pucuk rantingnya.


Angan-nya pun terasa mulai berharap. Mendegar teriakan di kejauhan, teriakan yang sangat Ia kenali dan membuat matanya berbinar menanti suara yang kian mendekat. Terus mendekat bersama dahan dan daun yang bergerak-gerak. Lalu dengan sekali ayunan sesosok tubuh melompat dan berdiri di depanya. Seperti Tarzan yang menemui pacarnya.


Ginsul membuang bungkus ciki di tanganya, menghela nafasnya.


Deduanan Pohon Mangga di depanya seperti tiada satu pun yang bergerak bahkan oleh angin malam.


Matanya pun melihat di mana Tama sering memarkirkan Motor jika baru datang setelah bertugas.


Namun hanya gelap.di atas tanah kering yang terlihat olehya.


Ginsul mengembuskan nafasnya kesal. Melihat di pergelangan tanganya, dimana jam mungil melingkarinya.


Janji yang Ia buat bersama Tama telah melewati batas yang telah di sepakati berdua. Sedangkan Tama belum juga kembali.


Suara getar dan dering di tas kecil membuatnya hanya menatap lagi batang Pohon Mangga, seperti malas untuk melihat Handphone-nya. Sejak tadi Adiknya menyuruhnya pulang melalui chat WA atau pun Callingan.


Perlahan berdecak lirih, menyandarkan kepalanya ke sopa..Menatap gelisah dan kecewa.


Banyang wajah Kakek dan Neneknya yang menunggunya pun seperti ikut mengusik di mata gelisahnya.


"Sudah Nenek buatkan makanan dan minuman untuk Kalian."


Suara Neneknya di telinga saat Ia menelpon untuk memberitahukan akan kedatangan-nya bersama Tama sore tadi.


Namun sepertinya Kakek dan Neneknya telah tertidur saat ini.


Ginsul menutupi jam di tanganya dengan jemari tangan kanannya. Menutupi akan jarum mungil yang berdetik semakin malam.


Perlahan memejamkan matanya, mengusir rasa di hatinya yang terganggu wajah-wajah jahat prasangka tidak baiknya terhadap Tama.


Ia hanya ingin percaya akan cinta di dalam hatinya yang bersuara di tengah rasa gelisah, bahwa Tama tengah bertugas saat ini.


Dan akan segera kembali pulang.


Wajah dan kedip genitnya Tama terbayang di kedua kelopak matanya yang terpejam.


Terasa begitu menyenangkan hati, terasa genit membahagiakan perasaan hatinya.

__ADS_1


"Ginsul."


Ginsul membuka matanya terkejut.


"Apa tidak sebaiknya Kau menunggu di dalam?"


"Tidak Apa Nek, Ginsul di sini saja." Ginsul seperti tidak menyangka Nek Imah menemuinya lagi.


"Nenek beristirahat saja Nek," ucapnya melihat rasa kantuk di wajah Nek Imah.


Nek Imah menghela nafasnya.


"Iya sudah, jika Kau akan pulang tutup saja pintunya dari luar." Nek Imah tersenyum dengan kembali ke kamarnya.


Ginsul mengikutinya dengan senyum dan tatapan.


Lalu kembali menyandarkan kepala, menatap besar batang Pohon Mangga. Jauh di dalam hati dan pikiran-nya berharap Tama lekas terlihat dari baliknya.


Perlahan melihat jam di tanganya, dengan menutupi mulut yanga akan menguap. Matanya pun berkaca-kaca setelah menguap.


"Tama, dimana saat ini Kau Tama?" Tanya sedih dihatinya. Wajahnya tertunduk resah.


Segera memungut bungkus-bungkus di dekat Kakinya, lalu memasukan ke dalam satu bungkus ciki yang kosong. Lalu memegangnya dengan berdiri.


Melangkah mendekati Pohon Mangga. Matanya melihat ke atas dan sekelilingnya. Hatinya terasa takut dengan gelap yang ada. Dengan cepat memasukan bungkus ciki ke dalam karung sampah di balik Pohon Mangga, yang sore tadi di letakkan Nek Imah saat selesai menyapu halaman.


Dengan sedikit berlari kembali terduduk. Menoleh kedalam Rumah.


Segera berdiri, suara Motor terdengar mendekati. Gigi Ginsulnya pun terlihat menyambut. Namun kembali masuk kedalam bibirnya.


Suara Motor yang mendekat, suara Motor Pak Amin.


Ginsul berdiri memegang Tas kecil pundaknya di depan tubuh, dengan wajah tegang berharap Ia salah mendengar suara dari Knalpot yang nyaring mendekati.


Sinar buram di dalik Pohon Mangga terlihat.


Wajah Ginsul yang tegang berubah muram, Bukan Tama yang datang seperti yang baru di harapakan hatinya.


Tapi jelmaan Ninja Pohon yang tersasar datang.


Ginsul melihat pintu Rumah, lalu segera menutupnya. Tiba-tiba Ia pun kepikiran ingin segera pulang.


"Tama!"


"Apakah Tama belum pulang Ginsul?"


Pertanyaan Pak Amin semakin membuatnya gelisah dan curiga. Bukankah Pak Amin bersama Tama seharian?.


Rasa di hatinya pun bertambah geram melihat ringis di bibir Pak Amin.


"Pak Amin bagaimana? Seharusnya Tama bersama Pak Amin?" Ginsul menatap gelap di kumis Pak Amin. Rimba hitam Pak Amin terlihat seperti kelelawar yang tengah terbang, membuatnya bergidik takut dan ingin sekali menimpuknya.


"Ayyyyy! Tama sudah sejak sore kembali! Kami menunda mengunduh karena hujan."


Ginsul menatap tidak mempercayai.


"Aku kemari untuk memberitahukan padanya, agar esok untuk tugas lebih pagi!" Jelas Pak Amin lagi.


"Tapi Pak?" Ginsul melihat sofa di mana Ia tadi duduk. Seperti menjadi saksi yang sejak tadi Ia tengah menunggu.


"Ayyyyy! Bermain kemana lagi Dia?" Pak Amin seperti menggerutu.


Ginsul mengatupkan kembali kedua bibirnya yang akan kembali bertanya, suara Motor mendekat.


"Tama!" serunya senang.


"Ayyyy! Tama!" Pak Amin berseru seperti ikut menyambut.


Tama menghentikan Motor di depan Ginsul.


"Tama?" Ginsul menatap cinta wajah yang sejak tadi Ia tunggu.


"Kemana saja Kau Tama?" Pak Amin menyulut Kreteknya.


Tama tersenyum dengan keduanya.


"Motorku mogok Pak," ucapnya dengan turun dari Motor.

__ADS_1


"Ayyyyy!" Pak Amin seperti tidak percaya.


"Aku sudah mengirimkan pesan padamu," ucap Tama ke pada Ginsul yang menatap curiga dan cemberut.


"Apa?" Ginsul dengan membuka Tas kecilnya.


Tama melebarkan bibirnya.


"Tama!"


"Iya, Pak! Aku sudah membaca pesan Pak Amin!" Tama menatap wajah Pak Amin yang berasap Kretek.


Pak Amin mengisap kembali Kreteknya. Tama pun segera menarik tangan Ginsul untuk berjalan ke teras Rumah.


"Ayyyyy!" Pak Amin seperti mencibir. Menghidupkan Motornya.


Tama dan Ginsul menoleh, suara klakson keong terdengar menyayat telinga.


"Hujan deras Gins, Aku baru bisa mengirim pesan ke padamu tadi," jelas Tama melihat wajah Ginsul yang di terangi layar Handphone.


"Aku pikir Adikku tadi," jelas Ginsul pula. Menyesali sikapnya.


Ginsul mengamati wajah Tama dengan Rambut terurai.


Tama tersenyum manis.


Ginsul menundukkan tatapnya, pipinya terasa di sentuh jemari.


"Sejak tadi Aku menunggumu," ucapnya dengan rasa rambutan masak di hati. Senyumnya pun mengembang syahdu di gigi Ginsulnya.


"Sejak tadi pula Aku merasa gelisah memikirkanmu Gins," ucap Tama menyentuh pipi Ginsul yang lain dengan satu tanganya lagi.


Ginsul menatap perlahan. Senyum Tama terlihat begitu manis menambahkan rasa di hatinya. Hatinya berdegup pelan, berdesir indah .


"Andai Kau melihat gelisahya Aku duduk di sofa, Tama?" Bibirnya hampir bergetar berucap.


Matanya pelahan terpejam, wajah Tama kian mendekati wajahnya.


Keduanya terkejut.


Tama melepaskan kedua jemarinya dari pipi Ginsul.


Ginsul langsung melihat Handphone.


Lalu melihat Tama.


"Tama Aku harus pulang," ucapnya seperti akan tergesa-gesa.


"Iya Gins, sudah hampir larut." Tama seperti mengerti.


"Aku akan ...."


"Jangan Tama, Ayahku menungguku di belakang rumah," Jelas Ginsul. Melepas tangan Tama yang akan mengantarkan-nya pulang.


Tama nyengir.


Ginsul senyum manis.


"Aku pulang Tama," ucapnya pelan.


Tama tersenyum mengangguk.


"Gins." Tama sedikit melangkah.


Ginsul Balik badan grak!.


Tama mengedipkan mata kanan-nya.


Ginsul tertawa kecil, dengan membalas mengedipkan sebelah matanya.


Lalu berlari riang meninggalkan Tama.


Tama menghela nafas yang sempat mendebarkan dadanya tadi.


"Tama!"


Lekas menoleh, dan langsung tergesa masuk ke dalam Rumah.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2