Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
15. Bu Lan Bukan Bulan


__ADS_3

Hidung Kyra kembang - kempis menahan nafas sengalnya, merah rona pipinya yang mulus tergambar jelas dengan sorot mata tajam.


Tidak bedanya dengan Ginsul yang berada paling pinggir di antara teman-temanya. Memegang pinggangnya dengan nafas turun-naik.


Telah hampir selesai babak pertama Ia dan Para gins menahan imbang Kyra dan kawanan Kyra dalam bermain bola Voli.


Rupanya kawanan kyra benar-benar meluapkan segala daya untuk mengalahkan tim Para Gins, terbukti mereka tidak begitu mudah di kalahkan seperti di pertandingan-pertandingan sebelumnya.


Kyra yang tengah bersiap melakukan servis menatao Ginsul, seperti ingin mengincarnya untuk menerima pukulan bola drinya.


Ginsul pun seperti bersiap, biasanya Kyra akan memberikan bola atas kepadanya.


Ginsul membungkukkan tubuhnya sedikit, siap menanti kerasnya bola yang akan datang.


Kyra melambungkan pelan ke atas.


Priiiiitttttt!!


Semua yang ada di lapangan dan menyaksikan melihat ke arah Bu Lan.


"Pertandingan di hentikan sejenak! Ibu ke kamar mandi dulu!" Seru Bu Lan ke pada semua.


"Huuuuuuu !!"


Sorak semua yang ada menyahuti.


Dengan cuek dan senyum-senyum Bu Lan berjalan tergesa.


Bu Lan, Guru olah raga di kelas Ginsul memang lah sangat berbeda dengan Guru olah raga kebanyakan, tubuh yang bagus karena sering berolah raga. Namun itu tidak akan di temukan Pada Bu Lan, Tubuhnya gemuk dengan pipi yang gemuk pula.


Nama sebenarnya pun Wulan, di panggil Bu Lan oleh semua murid karena tubuhnya dan yang bulat laksana Bulan Purnama, Dan tentunnya pula tidak jauh-jauh juga dari bulatnya bola voli.


Bu Lan pun seperti, oke-oke saja meski di panggil demikan, secuek berat langkahnya saat berjalan.


"Gins!"


Alisa mendekati Ginsul yang berdiri di luar garis hendak meneguk air minumnya.


Ginsul melihat Kyra yang juga tengah minum.


"Sepertinya Kita akan imbang deh Gins."


"Sekali-sekali kawanan Kyra Kita kasih menang lisa." Senyum Ginsul menanggapi.


Alisa merebut botol plastik yang baru saja Ginsul teguk airnya.


Ginsul mengusap keringat yang membasahi di pipi, melihat Kawanan Kyra yang telah siap bermain kembali.


"Bu Lan lama sekali?"


Alisa setelah membasahi tenggorokkan-nya.


"Bumi hanguskan, bombardir!"


Alisa tertawa kecil, menepuk pundak Gibsul.


Ginsul pun tertawa.


"Kau kan, tahu sendiri, Bu Lan jika ke kamar kecil cukup menguras waktu," ucap Ginsul lagi.


"Iya seharusnya, pihak sekolah memberikan kamar besar ke pada Bu Lan," tanggap Alisa.

__ADS_1


Ginsul hampir terkikik geli.


"Pintunya yang kurang besar Lis!" Ginsul lagi.


"Bisa istirahat lama Kita, padahal keringat lagi deras-derasnya bersemangat." Alisa melihat ke arah samping Sekolah.


"Tidak apa, hitung-hitung menaikan stamina baru." Ginsul seperti ingin duduk.


"Mereka tidak haus?" Ginsul melihat Para Gins yang terduduk di tengah lapangan. Begitu pula Kawanan Kyra.


"Pada puasa!" Alisa dengan duduk.


"Apa sebaiknya sembari tiduran saja menunggu Bu Lan?" Ginsul dengan lemas terduduk.


"Ide cemerlang!" Tawa Alisa melihat teman-temannya berbaring di lantai.


"Bu Lan,Bu lan!" Ginsul seperti menggerutu.


"Kenapa Gins?"


Ginsul menunjang tubuhnya dengan kedua tangan di belakang.


"Harusnya sebelum menjadi wasit, Bu Lan jangan Kita teraktir dulu! Jadi seoerti ini hasilnya," jelas ginsul mengingatkan Alisa.


Alisa termangu meng-iya-kan ucapan Ginsul, Lalu melihat Kyra dan Teman-temannya.


"Aku lupa mengingatkan Kyra," ucapnya menoleh Ginsul.


Alisa termangu, mengingat sesal Bu lan yang tadi tengah lahap memakan soto kesukaanya.


"Kenapa Lisa?" Ginsul seperti ingin mengagetkan Alisa.


Alisa menarik nafasnya dalam.


Ginsul tertawa tertahan, kawanan kyra mengawasinya dan Alisa.


Alisa pun menahan tawanya, bukan karena ucapanya sendiri, namun tangan Ginsul yang menarik-narik pundaknya untuk melihat seseorang yang tengah berjalan pelan.


"Purnama kesiangan! Tidak biasanya Bu Lan keluar cepat dari kamar kecil?" Bisiknya kepada Ginsul.


Ginsul hanya menahan senyum, mengalihkan tatapnya dari Bu Lan.


"Gins, yakin tidak sih, Bu Lan itu mantan Atlet?"


Bisik Alisa lagi.


Ginsul menahan tawanya, hal itu membuat tubuhnya bergerak-gerak. Sepertinya Alisa kesal dengan langkah pelan Bu Lan yang sering sekali di utarakan padanya, apalagi jika tengah akan memulai sebuah pertandingan.


"Apa Kita kempesin saja seperti balon, biar gesit melejit! Biar cepat kelar nih, pertandingan!"


Ginsul langsung merebahkan tubuhnya dengan tertawa, memukul-mukul lengan Alisa.


"Bu Lan dahulu tidaklah se-bundar itu Alisaaaa, sekarang aja seperti itu," Jelas Ginsul seperti berbisik.


Alisa melebarkan bibirnya dengan melepaskan nafas beratnya.


Suasana kembali riuh, kawanan kyra dan para gins telah kembali bersiap di tengah lapangan.


Ginsul pun segera bangkit dengan menarik tangan Alisa.


Terlihat pula Kyra tengah menatap ke arah lenggang pelan Bu Lan.

__ADS_1


Ginsul nyengir saat Kyra menolehnya.


Suara sempritan terdengar dari bibir Bu Lan.


Segera semuanya berkumpul. Siap tanpa di perintah semuanya menempati posisi masing-masing.


"Anak-anak dengar semuanya. Berhubung-di hubungkan perut Bu Lan lagi tidak enakan, jadi pertandingannya Kita lanjutkan esok!"


Sontak tanpa di perintah tanpa bersuara, posisi yang telah membentuk formasi pun, langsung terpecah kembali.


Suara sempritan Bu Lan kembali terdengar, dengan langkah pelan, namun sedikit tergesa meninggalkan lapangan Bolavoli.


Seperti sudah terbiasa Para Gins dan Kawanan Kyra melihat atau mendengar guru olahraga mereka melakukan hal yang sama, membuat tiada sorakan yang terlontar, yang sering di lakukan jika merasa kecewa.


"Gins, hari ini kalian masih beruntung!"


"Apa?" Alisa seperti orang yang salah dengar.


Kyra tersenyum sinis.


"Bukanya kalian?" Tegas Alisa ke pada Kyra.


Ginsul melebarkan bibirnya kepada Alisa.


"Bilang saja iya, Alisa," ucapya kepada Alisa. Merangkul kedua pundaknya untuk tidak terlalu menghiraukan Kyra.


Kyra dan Kawanan Kyra berkacak pinggang.


"Tunggu tanggal mainnya!" Seru seorang seperti mewakili Kyra untuk bicara.


"Oke! Manusia setengah duyung!" Balas Alisa membalikan tubuhnya. Menatap tajam seorang cowok berambut pirang namun luwes dalam polah dan ucapan.


Para Gins pun segera mengerubungi Alisa untuk di ajak lebih cepat meninggalkan Kyra dan kawananya.


"Jangan buat rusuh Alisa, kawanan kyra tengah kelaparan," bisik salah satu para Gins.


"Mereka tuh! Yang memancing!" Alisa mendongkol.


"Bisa-bisanya berkata Kita tengah beruntung! bukankah Kita selalu beruntung!"


"Setuju!"


Hampir berbarengan Para Gins berseru.


Ginsul hanya menyeringai lebar.


"Para Gins, selalu dan selalu akan menjadi penguasa lapangan."


Alisa manggut sinis, menoleh ke belakang di mana Kawanan Kyra langsung membalas dengan senyum sinis pula.


Alisa langsung berbalik badan, melompat dengan gaya men-smash bola kearah kawanan kyra, lalu mengepalkan tanganya.


Kawanan Kyra semakin tersenyum sinis, ikut mengacungkan kepal masing-masing.


Ginsul menarik kembali Alisa untuk terus berjalan.


"Biarkan senyum mereka menjadi kemenangan mereka," bisiknya dengan merangkul Alisa.


Alisa senyum-senyum.


Para Gins pun saling merangkul pundak dengan berjalan, seperti ingin pagar yang kokoh yang sulit untuk di tembus Kawanan Kyra.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2