Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
33. Mbak Mala


__ADS_3

Tama bergegas masuk kedalam, suara Pak Amin seperti tengah mengerang yang menyahuti panggilan-nya.


Sudah sejak pagi Ia menunggu Pak Amin untuk bertugas, namun hingga mengantuk di atas Pohon Rambutan. Kupluk hitam nan sakti Pak Amin tiada terlihat mendekati dari kejahuan. Membut Ia pun harus memutuskan menyusul ke rumahnya, setalah Chat WA pun tidak juga kunjung di balasnya.


"Pak Amin?" Tama hampir terperangah. Melihat rimba kumis Pak Amin saja yang terlihat. Sedangkan sekujur tubuhnya berselimut tebal hingga ke bibirnya. Kupluk saktinya di pakai terbalik menutupi mata dan ujung hidungnya.


Tama duduk bertumpu tumit, mengamati di atas rimba Pak Amin yang terlihat seperti dua lubang gua yang gelap.


"Pak Amin sakit?" tanyanya. Tanganya hampir membuka kupluk yang menutupi mata Pak Amin.


Suara erangan terdengar.


Tama segera berdiri kembali. Melihat anggukan yang terlontar dari kepala Pak Amin.


"Sakit apa Pak Amin?" Tanyanya lagi. Tanganya pun memegang lengan atas Pak Amin yang tiduran miring meringkuk.


Pak Amin kembali mengerang sakit.


Tama memperhatikan kaki Pak Amin yang bergerak ke luar dari selimut. Terlihat kedua kakinya mengenakan kaos kaki yang berbeda warna. Hitam dan abu-abu.


Tama melebarkan bibrinya kesamping.


"Sudah di minum obatnya Pak Amin?" Tama lagi.


Geleng kepala Pak Amin di sertai erangan yang menyahuti.


"Kenapa tidak di minum Pak Amin?" Tama melihat kursi kayu tanpa meja. Terlihat gelas dengan Air minum yang tersisa setengah dan mangkuk berisi mie instan yang belum habis di makan. Namun tidak terlihat bungkus obat di antara kedua benda tersebut.


Tama memegang rambut yang di kuncirnya.


Namun lekas melepasnya, Pak Amin menaikan kupluk hingga terlihat kedua matanya.


"T-a-ma."


Tama terpaku, Pak Amin bagai sulit menyebut namanya. Sedangkan kumis tebalnya tidak terlihat mengganjal bibirnya.


"I-ya, p-ak." Tama seperti latah mengikuti suara Pak Main.


"Ay-yyy-yyyyh."


Tama menutup mulutnya dengan telapak tangan. Pak Amin masih saja dengan berseru yang biasa di lontarkannya sebelum berbicara. Tapi kini terbata pelan dengan kedua mata tertutup.


"Kenapa Pak Amin?" Tama setelah melepaskan telapak tangan di mulut.


Pak Amin mengerang.


"Beli-kan, A-ku, o-bat Ta-ma," ucapnya seperti menahan sakit yang terasa.


Tama menghela nafasnya.


Pantas saja Pak Amin belum meminum obat, karena memang tidak ada yang bisa disuruh. Sedang di rumahnya Pak Amin hanya sendiri.


Tama tersenyum kecil, melihat pakain Pak Amin yang berbaris tergantung di setiap paku yang tertancap di dinding kamar dan pintu.


"Obat apa Pak?" Tanyanya lagi. Karena memang Ia pun tidak mengetahui penyakit yang saat ini di alami Pak Amin, sekaligus obat warung yang biasa di konsumsinya ketika sakit.


"Ma-la ...."


Tama hampir terbengong. Sepertinya obat yang Pak Amin sebutkan terlalu tinggi dosisnya.


"Mala kan, Kakak perempuanya Mitos," ucap di hatinya.


"Sukar mencarinya Pak Amin. jam-jam seperti ini tengah menjemput Mitos pulang sekolah." Tama dengan mengingat wajah Mitos yang juga tetangga terdekat Pak Amin."


"Ay-yyy ...."


Tama hampir meneneruskan suara Pak Amin yang tidak sekeras biasanya. Berseru terputus dengan mengerang.


"Mungkin lebih baik Kita tunggu hingga Mala pulang Pak." Tama menanggapi erangan Pak Amin padanya.

__ADS_1


Pak Amin membuka kedua matanya.


Tama senyum dan nyengir.


"Oke! Pak! Oke!" Tama segera bergegas keluar Pak Amin. Tidak menggubris suara Pak Amin yang mengerang lumayan keras.


Tama setengah berlari langsung kearah samping Rumah.


Langsung mengetuk pintu Rumah Mitos yang juga membuka warung, namun berada di dalam rumah. Tepatnya runangan samping, karena Rumah Mitos seperti berbentuk seperti huruf L.


Tama mengulangi ketukan di pintu. Sudah Ia terka Mbak Mala pasti tidak ada di rumah, terbukti tiada sahutan dari dalam Rumah. Kalau pun ada tentu Ibunya.


Benar terkanya.


Saat pintu di buka.


"Bu," Sapanya pelan.


"Ada apa?"


Tama senyum kecil. Suara Ibu Mitos memang serak.


"Ingin membeli obat Bu," jawabnya pelan. Melihat barang dagangan yang tergantung di Jendela Rumah.


"Aduh, Nak! Ibu tidak tahu harganya? Mala dan Mitos yang tahu." Ibu Mitos menjelaskan.


Tama kembali senyum. Sudah Ia terka sebelumnya.


"Tapi Pak Amin kesakitan Bu," terangnya.


Ibu Mitos yang telah terlihat uban di sebagian rambutnya terdiam, seperti berfikir.


"Obat Apa Nak?" tanyanya kemudian.


"Pak Amin hanya mengerang, berselimut Bu." Tama menjelaskan yang baru saja Ia lihat.


Ibu Mitos manggut pelan.


"Biasanya Pak Amin meminumnya."


Tama melihat obat berbentuk kapsul yang di berikan kepadanya.


"Tapi Bu?" Tama merasa heran dengan obat yang Ia pegang.


"Itu, untuk mencegah cairan yang keluar terus-menerus!"


Tama terbengong kecil. Sedangkan tadi Pak Amin mengerang seperti menggigil.


"Tidak salah Bu?" tanyanya lagi merasa tidak yakin jika Pak Amin buang-buang air besar.


"Setahu Ibu, Pak Amin sering membelinya!"


Tama tertegun tidak percaya, mengamati lagi kapsul yang masih terbungkus rapat.


Suara Motor mendekati membuatnya dan Ibu Mitos melihat.


"Tama! Membeli apa?"


Tama langsung tersenyum lebar, menunjukkan lempengan obat yang Ia pegang ke Mbak Mala yang baru datang.


"Apa Kau ..."


"Pak Amin Mbak!" Senyum Tama melihat pirang di sebagian Rambut Mbak Mala.


Mbak Mala meliahat kembali lempeng obat di tangan Tama setelah dekat dengan Tama.


"Iya benar, ini kesukaan Pak Amin."


Tama nyengir, mendengar Mbak Mala berucap dengan masuk ke Warung. Sedang Ibunya kembali ke dalam ruangan.

__ADS_1


"Tapi Pak Amin kok, mengerang?" Tama seperti ingin memastikan. Jika memang obat di tanganya yang Pak Amin butuhkan.


"Iya, karena Pak Amin menahan sakit perutnya dan malas untuk mundar-mandir ke kamar mandi!"


Tama hampir melepas kucir rambutnya mendengar penjelasan Mbak Mala.


"Sultan Amin! Sultan Amin!" Gerutu di hatinya. Masih juga malas untuk ke kamar mandi meski sakit di perutnya?


"Iya sudah Mbak, Kalau sudah sembuh Pak Amin saja yang akan membayar." Tama dengan akan segera bergegas.


"Tama tunggu!"


Tama pun urung berjalan. Menoleh kembali Mbak Tama yang mendekatinya.


"Katakan pada Pak Amin! Jangan terlalu lama kalau kasbon! Warung Mbak kan, kecil!"


Tama mengangguk patah. Nyengir dengan segera berjalan sebelum Mbak Mala lebih marah lagi kepadanya.


Dengan setengah menggerutu kembali, Ia pun berlari kecil menuju Rumah Pak Amin.


"Ayy-yyh."


Tama hampir tersentak.


Pak Amin sudah terduduk memeluk selimutnya di kursi tamu.


Melangkah pelan mendekati Pak Amin.


"Ini, Pak obatnya." Dengan duduk di depan Pak Amin.


Pak Amin manggut meringis sakit. Mengambil obat yang Ia letakkan di atas meja.


Tama langsung menutupi hidungnya.


Bisa-bisanya Pak Amin mengerang atas bawah tubuhnya sekaligus.


Tama membuka Rambutnya yang di kuncir, untuk menutupi hidungnya. Kebetulan pagi tadi Ia baru mencuci rambut dengan shampo.


"Aku kira Pak Amin malaria Pak?" ucapnya melihat Pak Amin meminum obat.


Kembali Pak Amin mengerang dari bawah tubuhnya.


Tama berdir kesal.


"Pak Amin sebaiknya cepat ke kamar mandi Pak!" Gerutunya.


"Ayyy." Pak Amin kembali memeluk selimutnya.


Tama melebarkan bibirnya, melepas Rambutnya dari hidungnya mendekati pintu Rumah.


"Sudah ... K-au, bayar Ta-ma?"


Tama menghembuskan nafas sesak akan aroma yang sangat menyiksa hidungnya barusan. Menghirup udara di luar pintu.


"Sudah Pak! Nanti saja!" Jawabnya dengan mengeluarkan kunci kontak Motor.


"Mala,tidak, menga-takan apa-apa?"


Tama mengangguk.


"Mala, Marah ria Pak!"


Pak Amin terlihat seperti ingin bergerak berdiri.


Tama segera menghidupkan Motor-nya.


"Pak.Amin! Mala berpesan juga. Agar Pak Amin segera menemuinya!" Tama menarik tuas gas.


Suara mengerang kembali terdengar seiring langkah Pak Amin yang tergesa menuju kamar mandi.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2