
Ginsul melayangkan matanya ke arah ruang kelasnya, hati terasa sakit melihat Tawa gembira Kyra dan Kawanan Kyra yang berada di meja tidak jauh darinya dan Alisa duduk.
Seperti tengah merayakan kemenangan mereka dan mengolok dirinya.
"Gins." Alisa setelah menoleh Kyra.
Ginsul senyum kecil, menutupi rasa di hati yang begitu menyiksanya.
Alisa kembali menyeruput jus jambu bijinya.
"Ku lihat Kau tidak bersemangat?" Alisa meletakan gelasnya.
Ginsul senyum lebar. Kyra melihatnya dengan tertawa.
Terdengar tawa sorak Kawanan Kyra.
Alisa langsung menoleh terganggu.
"Apa kalian pikir kantin ini milik kalian saja!" serunya.
Sontak Kyra dan Kawanan Kyra melihat Alisa. Seperti mengejek merekan pun semakin keras bersorak.
Alisa yang akan berdiri, langsung di cegah Ginsul.
"Biarkan mereka Alisa," ucap Ginsul menarik tangan Alisa untuk duduk kembali.
Alisa mendengus marah. Kembali menyeruput isi dalam gelasnya.
Ginsul terdiam memperhatikan.
"Dari semalam Aku perhatikan Kau lebih banyak diam Gins?"
Ginsul senyum lagi, menghindari tatap selidik mata Alisa.
"Ayolahhhh, Gins. Aku temanmu," ucap Alisa lagi.
Ginsul memejamkan matanya cepat, rasa di hatinya ingin membuatnya menangis.
Terlihat Alisa menghembuskan nafasnya.
Ginsul langsung menunduk pilu. Bagaimana Ia menceritakan tentang Tama pada Alisa?.
"Gins?"
Ginsul berusaha tersenyum.
"Ada apa? Apa Kyra ....?"
Ginsul mengeleng pelan.
"Tapi, dari semalam Aku tidak melihat gigi ginsulmu?"
Kali Ini Ginsul tertawa kecil.
Alisa tertawa pula.
"Apa ginsulmu sakit?" Alisa dengan masih tertawa.
Ginsul tertawa tertahan menutupi gigi ginsulnya.
Alisa hampir menoleh lagi mendengar sorak di belakangnya.
Ginsul menatap tajam Kyra dan Kawanan Kyra, setelah melihat Mitos mengeluarkan Rambutan merah dari dalam tasnya. Sepertinya itulah yang membuat mereka bersorak girang.
Hatinya terasa sakit mengingat Tama.
"Apa buah rambutan yang membuat kalian pada hilang akal?" ceplos Alisa kelewat kesal.
"Heeee! jika kalian tidak suka? Boleh menempati meja di ruang guru saja!" Mitos dengan berdiri.
Alisa kembali terduduk.
"Abaikan mereka Alisa," ucap Ginsul menarik kembali tangan Alisa yang akan berdiri.
Namun tatap Alisa tetap lekat di wajah kemayu Mitos.
"Kau saja di tempatmu! Habitat mu bukan dengan kami! kaum hawa!" Ceplos Alisa tidak ketulungan.
Ginsul yang melihat Kyra berdiri, dengan cepat Ia pun berdiri.
Kyra menatap marah ke arah Alisa. Dengan lenggang cepat mendekati.
Ginsul pun beranjak mencegatnya. Menatap Kyra dan wajah berangnya.
__ADS_1
"Gins, Kita memang tengah bersaing Dalam segala hal di sekolah ini! Tapi Aku masih menganggapmu teman! Tapi temanmu ...?"
Kyra dengan nada marahnya.
"Aku minta maaf, jika ucapanya Alisa atas Mitos barusan membuatmu marah."Ginsul pelan.
"Tapi, Kau dan teman-temanmu pun harus menjaga sikap, kalian bukan berada di lapangan olah raga." Ginsul dengan melihat ke sekelilingnya.
Kyra pun melihat wajah-wajah di dalam kantin di setiap meja yang ada.
"Telinga mereka pun punya hak, untuk mendengar dan merasa nyaman di dalam kantin. Setelah tadi fokus di dalam kelas." Ginsul masih dengan pelan.
Kyra mendengus kepada Alisa di belakang tubuh Ginsul.
Ginsul menghela nafasnya pelan, meski jerit di hatinya terasa menggeram kuat mengingat Tama. Tatapan Kyra mulai terasa mengendur dari rasa marahnya.
Kyra tanpa berkata, langsung pergi dengan menepuk pundak Mitos.
Mitos yang mengerti pun langsung mengikuti Kyra, di ikuti Kawanan Kyra tentunya dengan wajah tidak suka kepada Alisa.
Ginsul menundukkan wajahnya menahan gelora hatinya, senyum Kyra di luar kantin membuat lirih yang tajam.
Dengan senyum kecil Ia pun segera kembali ke kursinya setelah tangan Alisa memegang lenganya.
Belum sempat Bibirnya berbicara suara gaduh kembali terdengar di depan kantin.
Ia dan Alisa pun melihat.
Terlihat Para Gins berhambur masuk dengan wajah tegang.
"Gins! Alisa!"
Ginsul nyengir manis, Alisa menyeruput jusnya santai.
"Apa kawanan kyra buat ulah?"
Ginsul hanya menghela nafas segar, melihat satu persatu Para Gins yang sudah memenuhi kursi, Bando-Bando putih yang menghiasi di setiap rambut hitam yang rata-rata melebihi bahu kecuali Ia yang berambut pendek dan hanya bermain voli saja memakai Bando.
"Tenang, situasi terkendali baik." Alisa pun menatap teman-temannya.
Para Gins seperti bernafas lega. Lalu tertawa berhambur ke arah makanan dan minuman berada.
"Ingat iya! Aku tidak meneraktir siapa pun!" seru Alisa melihat teman-temannya seperti tengah berebut makanan gratis.
"Gins."
Ginsul menatap tanya Alisa.
"Semalam Aku melihat mu berbicara pada Tama." Alisa tersenyum.
"Tidak, Tama hanya mengantarkan adiku pulang." Ginsul memainkan jemarinya di sedotan plastik, bekas minumnya.
"Tapi kenapa sedotannya Kau rusak?"
Ginsul tergagap, membuang sedotan yang sudah melingkar kecil ke dalam gelasnya yang turut kosong.
"Gins." Alisa menarik tangan Ginsul.
Ginsul berdiri dan terus mengikuti langkah Alisa.
Tatapnya dan tatap Alisa tertuju pada Para Gins yang tengah tidak sabar menunggu pesanan masing-masing.
"Alisa?" Ginsul menarik pelan tanganya agar Alisa berhenti.
"Biarkan, salah satu mereka pasti ada yang punya uang," bisik Alisa geli melihat bekas makanan dan minumnya diatas meja.
Lalu berlari kecil menarik Ginsul.
Ginsul hanya nyengir, melihat seorang Para Gins tengah melihatnya.
Alisa pun sempat menoleh.
Keduanya tertawa kecil keluar dari kantin. Lalu berjalan santai menuju ke dalam kelas.
"Gins."
Alisa dengan duduk di kursi.
Ginsul duduk di atas meja menatap Alisa.
"Tama bertemu denganku semalam, sebelum menemuimu," Jelas Alisa.
Ginsul tertegun, perlahan duduk di samping Alisa.
__ADS_1
"Aku tidak tahu hubungan kalian? Tapi Tama mencarimu ..."
Ginsul melayangkan tatapnya ke papan tulis.
"Wajahnya terlihat resah menayakanmu?"
Ginsul menunduk.
"Ia hanya bernjanji akan mengatarku," ucapnya lirih. Alisa kian menatap lekat dirinya.
Ginsul senyum memainkan jemarinya di atas meja.
"Berjanji?" Alisa mengerutkan keningnya.
"Aku dan Tama ...."
"Pacaran!" Alisa hampir melongo girang.
Ginsul mengangguk malu.
Alisa melepas bandonya.
Ginsul tertawa risih saat Alisa memakaikan Bando putih di kepalanya.
"Iya ampun! Ginsul! Kau adalah temanku yang terbaik!" Alisa setengah bersorak girang duduk diatas meja.
Ginsul tertawa lebar dengan rona rambutan masak di wajahnya.
Alisa menyentuh kedua pipinya dengan telapak tangan.
"Pantas! Kau jarang keluar warung!" Alisa dengan duduk kembali.
"Manis sekali jus jambu biji yang Ku rasa," ucap Alisa seperti mencium jarinya sendiri lalu melepasnya ke depan kelas.
Ginsul tertawa geli.
"Lantas! Apa kabar senangnya hatimu?"
Ginsul terdiam menatap Alisa.
"Gins?"
"Tapi Tama, selingkuh!" Ginsul dengan memeluk Alisa.
"Apa?" Alisa heran tidak percaya.
Ginsul mengangguk-angguk di bahu Alisa dengan terisak.
"Tapi Gins?"
Ginsul mengusap air matanya, mengangkat wajahnya melihat Alisa.
"Benci! sama Tama!" Ginsul saat Alisa mengusap ulang air matanya.
"Benci atau cinta?" Alisa dengan wajah haru.
"Saat pertama, tapi kok! terasa benc?" Ginsul cemberut.
Alisa tersenyum.
Ginsul menatap heran, sepertinya Alisa tengah menyembunyikan sesuatu padanya.
"Sepertinya Kau pastikan lagi deh!" karena sebelum bertugas Ia membantuku memetik jambu biji di rumahku."
Ginsul semakin heran.
Alisa senyum mengangguk.
"Kau kan, tahu Aku suka jus jambu biji," ucapnya kemudian.
"Tapi?" Ginsul menggaruk di atas telinganya dengan jari telunjuk.
"Tapi Tama sudah ke rumahmu semalam, Kau saja yang keburu pergi." Alisa dengan mencubit pipi Ginsul.
"Jadi sebenarnya Kau sejak tadi sudah ..."
Alisa segera berlari ke luar kelas dengan tertawa.
Ginsul merengut di atas mejanya.
"Payah jambu biji! buat orang usus buntu!" teriaknya melihat Alisa menutup pintu kelas.
Tawa Alisa semakin mengejek di balik pintu.
__ADS_1
...****************...