Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
7.Warna-Warni Hati.


__ADS_3

Wajah Ginsul cemberut berat dengan mendorong Motor, meski hanya sekedar memegang Begelnya saja.


Sementara Tama mendorong dengan memegang stang motor, begitu malas melihat Ginsul yang sejak tadi menggerutu.


Lagi-lagi, kehabisan bensin seperti sebuah kebiasaan yang sering Tama alami.


"Apa Kau tidak melihat Tama?"


Ginsul bersungut.


Tama seolah tidak mendengar, terus saja mendorong Motornya.


"Indikator di stang motormu?"Ginsul lagi.


"Tama! Apa Kau tuli?"


Ginsul melihat Tama tidak perduli.


"Motor butut,di bawa!" Kesal Ginsul memuncak.


Tama berhenti.


"Sebentar lagi Kita sampai Gins!"


Tama menoleh.


Ginsul melengos pelan, cemberut dalam kerut memerah.


Tama kembali berjalan.


"Sampai? sampai mana?"


"Pertamina masih jauh Tama, sedangkan pertamini pun telah kita lewati lebih jauh lagi!"


Wajah Ginsul seperti ingin menangis.


Membayangkan betisnya jika harus berjalan terus dengan mendorong Motor sampai Ke Pertamina, bisa jadi seperti Atlet lari jarak jauh.


Wajah Ginsul kian muram.


"Rumahnya Kyra, Gins!" Sahut Tama tanpa menoleh.


Bukan kepalang mungkin di rasakan Ginsul mendengar penjelasan Tama, tangannya bergerak seakan ingin mengaruk keras jok Motor Tama layaknya Kucing.


"Rumah kyra kan masih jauhhhhhh!" Seru di hati mengepal keras kedua tanganya.


Tama terus saja mendorong motornya.


Lemas, letih ,lesu langkah Ginsul kekurangan darah.Segar dan manisnya buah Klengkeng yang sempat Ia bayangkan, harus hilang dalam angan-angannya.


Dengan kesal menendang batu di depanya.


Namun sayang, kuatnya ayunan kakinya tidak mengenai, membuat kaki belakangnya tertekuk.


"Aghhhhh!" Serunya terjatuh terduduk.


Tama langsung menoleh kaget.


"Gins?" Dengan menstandarkan Motor.


Ginsul menyeringai berusaha berdiri.


Tama segera membantunya.


Ginsul merasakan kaki kirinya terkilir.


"Aduhhh!" Ginsul memegang pundak Tama.


Tama melihat sekeliling.


Tanpa persetujuan Ginsul Ia pun membopongnya.

__ADS_1


"Tama!" Seru Ginsul kaget.


Tama tidak perduli ronta pelan Ginsul, terus membopongnya.


Meski terasa nyeri di kaki, senyum suka Ginsul akhirnya terurai jua.


Jika di ingat sudah cukup lama Ia memang suka pada Tama, namun karena Tama seperti acuh akan sikap ungkapan hatinya, Ia pun hanya bisa mencukur rambutnya seperti lelaki. Namun lagi, Tama sebaliknya memanjangkan rambut.


"Sudah sampai?"


Seperti lupa karena ke senangan di bopong.


"Memangnya Aku harus membawamu ke Puskesmas terjauh? Kau kan, tahu ... Puskesmas terdekat melebihi pom bensin jauhnya."


Tama memapah Ginsul di bawah Pohon Mangga,dengan onggokan batang kayu sebagai tempat duduk.


Ginsul kembali menyeringai, terlihat gigi ginsulnya.


Tama segera membuka sepatu snakers di kaki kiri Ginsul.


Mengurutnya pelan.


"Tama sakit!"


Ginsul memegang kedua pundak Tama yang duduk memijat kakinya.


Ginsul memperhatikan wajah Tama.Hatinya terasa berdebar pelan di antara Sakit yang terasa dari setiap pijatan lembut di kakinya.


Senyum dan seringainya acap kali terlihat kembang-kempis bagai wajah dalam tokoh pewayangan seribu wajah, seperti bidadari senyumnya dan Harimau seringainya.


"Aku heran padamu? mengapa Kau bisa duduk sembarangan?" Tama masih dengan memijit kaki Ginsul.


"Tama, bukan jempol kakiku yang sakit, tapi pergelangan kaki!" Balas Ginsul melihat Tama menarik-narik ibu jari kakinya.


"Ibunya dulu Gins."


Tama semakin kuat menarik.


"Mengapa Kau menjerit?"


"Sakit Tahu!" Ginsul melihat kakinya.


"Tadi Kau bilang bukan jempolmu yang sakit?"


Tama berdiri.


"Apa kau tidak pernah mendengar ungkapan,yang jika salah satu anggota tubuh kita sakit, maka akan terasa pula semuanya." Kilah Ginsul kembali.


"Bagaimana jika ginsulmu yang Aku copot?"


Tama berdiri.


Ginsul senyum-senyum.


Tama duduk di samping Ginsul.


"Lantas bagaimana?kaki ku sakit! Tidak bisa berjalan," eluh Ginsul memijat sendiri kakinya.


Tama melihat motornya di pinggir jalan.


"Berdoa saja, semoga ada teman Kita yang lewat," ucapnya


"Jika tak ada yang lewat?" Wajah Ginsul mulai was-was.


Tama melebarkan bibirnya sedikit.


"Tenang saja,"ucapnya menoleh Ginsul.


"Kita bisa jalan lagi,"jelasnya kemudian.


Ginsul sedikit melongo, seakan tidak percaya dengan ucapan Tama barusan.

__ADS_1


"Jalan lagi?" ungkap dongkol hatinya seiring keringat di keningnya.


"Tama Aku pulang saja."


"Baiklah jika begitu pintamu Gins."


Tama berdiri, melangkah pelan mendekati Motornya.


Ginsul menyeringai memperhatikan Tama. Kakinya terasa sakit saat di gerak-kan.


Tama mendorong Motornya ke arah Ginsul duduk.


Ginsul senyum menutupi rasa sakit di kakinya saat Tama melihatnya.


"Tama, apa sebaiknya Aku menghubungi keluargaku, agar menyusul kita?"Ginsul berusaha berdiri.


Tama yang telah meletakkan Motornya segera memegang kedua tangan Ginsul.


"Aku pasti kena marah Gins," ucapnya memegang erat Ginsul yang berusaha berdiri.


"Tapi kaki Ku..." Seringai ginsul.


Warna-warni terasa cerah membaluri debar hati saat tanpa sengaja kedua tangan saling berpegangan. Tatap malu keduanya, seolah baru saja saling berkenalan.


"Kaki Mu tetap dua Gins."Tama seperti menyemangati.


Meski bibir Tama merekah tipis tersenyum tertahan, melihat Gins menahan rasa sakit di kakinya.


Wajah Ginsul kembali berselimut semu, bagai senja merah yang tertiup angin segar. Baru kali pertama Tama begitu perhatian padanya, Sampai memapah, girangnya dalam hati tiada ketulungan.


"Akan kemana kita Tama?" Tanyanya malu melihat wajah Tama yang begitu dekat dengannya.


"Iya pulang ke rumah Gins." Tama tanpa mengawasi langkah kaki Ginsul.


"What?" Wajah Ginsul berubah padam.


Tama melebarkan bibirnya.


Selain Ginsul mendadak berhenti berjalan, Kakinya pun terinjak juga.


"Bagaimana kita pulang Tama?"


"Iya jalan," jawab Tama cepat.


Lemah, letih ,lesu seperti kekurangan darah Ginsul mendengarnya.


Ia pikir Tama benar-benar memperhatikan-nya. Jika harus pulang dengan jarak yang kelewat jauh menempuhnya? biarlah Ia lebih baik sekarat menunggu jemputan orang tuanya.


"Masa wanita suruh jalan? di mana rasa kasih dan sayangmu Tama, padaku?"


Suara jerit hatinya, meski kata terkahir begitu pelan berharap.


"Tadi Kau kan, yang berkata ingin minta di jemput keluargamu?"


Langsung bablas rasa kecewa yang baru saja berayun menggelayuti rimba di hati.


Ternyata Tama mendengar pintanya.


"Kita tunggu di pinggir jalan Gins, biar keluargamu melihat Kita," ucap Tama mengajak kembali Ginsul berjalan.


Ginsul senyum-senyum dan bisa di katakan kemana saja melangkah asal kau yang memapahku, aku akan mengikuti. Asal pastikan dulu ada yang menjemputku kemudian.


Ginsul tersenyum lebar, debar-debar hatinya kian terasa saat tubuhnya terasa menempel di tubuh Tama, seperti getar halus yang begitu indah menjalar dalam warna-warni yang terangkum dalam satu warna kasih yang bersih, putih.


Ginsul melihat wajah Tama, desir hati kian membuatnya mencuri tatap ke arah bibir tama yang tipis.


"Tama jadi kan aku pacarmu...please! sekarang! Sekarang juga tam!" Pinta malu di hatinya. Gigi ginsulnya pun terlihat di sela bibirnya bagai taring penghisap darah yang siap menacap dalam di leher Tama.


Mirip serigala jadi-jadian.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2