Aku Bukan Tarzan

Aku Bukan Tarzan
20. MITOS


__ADS_3

Tama tersenyum melihat chat di WA-nya. Ginsul menayakan keberadaanya. Matanya pun berbinar melihat gelapnya sekeliling Rumah, sementara suara dengkur Pak Amin terdengar mengalahkan suara binatang malam. Meski kupluk saktinya Dia tutupi di mulutnya.


Bagaimana tidak sakti? Setiap di kebatkan ke benda atau kakinya pasti mengeluarkan debu dan bau yang menyengat.


Tama tersenyum geli, menoleh Pak Amin lagi yang tertidur di atas tikar.


Sepertinya Pak Amin sangat kelelahan.


Tama melayangkan tatatpnya di Mobil yang terpakir jauh di luar pintu pagar bertembok. Hasil tugasnya dengan Pak Amin tertumpuk di Bak Mobil, yang esok akan di bawa ke pasar.


Kembali tersenyum melihat Handpone, kembali mengetik sesuatu.


Dengkur Pak Amin terdengar.


Tama menutupi mulutnya yang menguap, terasa mulai mengantuk.


"Tama."


Tama segera memasukan Handphone ke tas pahanya.


"Kyra, buat kaget saja," ucapnya bergeser duduk.


Kyra tersenyum manis,dengan duduk di dekat Tama.


Suara dengkur Pak Amin terdengar.


Kyra pun melihatnya.


"Aku tidak bisa tertidur," jelasnya.


Tama melihat Pak Amin.


"Pak Amin memang seperti itu jika tidur." Jelas Tama.


Kyra tersenyum lebar.


"Bukan Itu ...," bisiknya.


Tama menutupi mulutnya yang akan tertawa karena malu.


"Aku kira,karena dengkur pak Amin." Pelannya.


Keduanya melayangkan tatapan ke luar pagar, Pak Amin molet, tanganya menarik kupluk yang menutupi mulutnya.


Tama dan Kyra hampir tertawa berbarengan melihat di balik kupluk sakti Pak Amin.


"Bayangkan Kyra, jika kumis itu menusuk pipimu?" Tama dengan menahan tawanya.


Kyra menahan tawanya dengan menunduk.


Rimba lebat dan hitam Pak Amin begitu jelas mengembang di bibirnya yang juga hitam dan tengah terbuka.


Kembali suara dengkur terdengar.


Kyra semakin menahan tawanya, Tama menutupi mulutnya yang juga tertawa.


"Setiap bulunya, bagai seribu jarum di puskesmas." Kyra dengan wajah memerah menahan keram di perutnya menahan tawa.


Tama yang telah mampu menahan tawanya, harus terpingkal dengan wajah Ia benamkan di lantai yang bertikar.


Kyra menepuk-nepuk punggungnya.


"Tama,Tama, kualat Kita nanti," ucapnya di sela tawa yang di tahan.


Tama kembali duduk.


Dengkur Pak Amin terdengar lagi.


Tama dan Kyra sama-sama mengatur nafas dari tawa yang membuat perut terasa keram. Seperti orang yang tengah yoga.


Sementara dengkur Pak Amin semakin senter tiada teratur.


Kyra kembali menahan tawa dengan kedua bahu bergerak-gerak.


Tama senyum-senyum.


"Aku tidak bisa konsentrasi," ucap Kyra geli.


Tama yang masih merasa geli, melihat gerak di bibir Pak Amin. Lalu menghela nafas dalam.


"Mungkin sebaiknya Kau melihatnya, dari pada harus mendengar dengkurnya." Tama menoel pundak Kyra.


Wajah Kyra terangkat namun tanganya menutupi tawanya.

__ADS_1


Kembali tertunduk geli.


"Aku tidak kuasa Tama," ucapnya geli.


Tama melayangkan tatapnya ke arah mobil yang memuat Buah Rambutan, tentu dengan menahan senyum lebarnya.


"Kalau Aku sebenarnya sudah biasa,"jelasnya tanpa melihat Kyra.


" Biasanya ingin mencukurnya?" Kyra semakin geli.


"Iya, dengan parang."


Kyra tertawa ngakak.


Pak Amin langsung terbangun gelagepan.


Tama pun langsung berdiri, berjalan menuju samping Rumah.


Kyra pun mengikutinya dengan ngakak yang sekuat hati di tahan.


Pak Amin melongo, melihat kesekelilingnya.


Lalu menguap lebar, kupluk saktinya Dia pakaikan di kepala. Dan kembali berbaring.


Tama yang mengitip dari sudut dinding Rumah segera menoleh Kyra di belakangnya mengekor.


"Kau sih!" Tama seperti menyalahkan Kyra


Kyra memukul pundak Tama kesal.


Tama melihat kembali Pak Amin.


"Tama, apa benar kata Mitos tentang kupluk dan kumis Pak Amin?"


Tama ngakak, menutupi mulutnya.


Pak Amin molet lagi, mendengkur lagi.


"Tama?" Kyra menepuk punggung Tama lagi.


Tama menghela nafasnya menahan geli hatinya. Melihat Kyra.


"Jika warna kupluk Pak Amin dan kumisnya berbeda, biasanya akan sial Kyra," ucap Tama menahan geli.


Tama melihat kembali Pak Amin.


"Tama?"


"Bisa berhari-hari tidak dapat tugas Kyra." Tama lagi.


Kyra mengangguk-angguk. Lalu dengan berhati-hati mengintip di sudut dinding rumah. Melihat Pak Amin yang mendengkur.


Kembali beringsut ke belakang Tama.


Tama senyum-senyum.


"Jika kumis pak Amin di cukur?"


"Pakai apa?" Tama dengan melebarkan kedua tanganya.


Kyra melihat tidak mengerti.


"Perlu sesuatu yang lebih tajam dari sebuah gunting cukur." Tama lagi seperti mengeluh.


"Silet atau yang sejenisnya?"


Tama nyengir monyet.


"Lebih keras dan kaku dari seling baja," bisik Tama.


Kyra menutupi mulutnya.


"Jika Kau tidak percaya? Pegang saja." Tama seperti ingin meyakinkan.


Kyra menepuk pundak Tama pelan. Suara dengkur Pak Amin jelas menyahuti.


"Tuh! Kan!" Tama hampir tertawa lagi.


Kyra cemberut kesal.


"Lebih baik Aku menyentuh kotoran gajah," ucapnya bergidik.


Tama ngakak pelan.

__ADS_1


"Yang Aku heran Pak Amin kok, tidak risih dengan tebal kumisnya?" Kyra setelah melihat Pak Amin.


"Kyra-kyra dong! Kalau bisa itu kumis menutupi hingga ke bawah bibirnya." Tama menanggapi.


Kyra menahan tawanya.


Suara dengkur Pak Amin masih lagi terdengar. Dan seperti telah mulai terbiasa keduanya hanya menghela nafas bersamaan.


"Bagaimana Mitos bisa tahu?" Tama di sela senyum Kyra.


"Rumah Pak Amin kan, berdekatan dengan Mitos."


"Oh Iya, pantas! Kau sering ke rumah Mitos."


Kyra langsung memukul lengan Tama dengan wajah cemberut.


Tama menghentikan tawa kecilnya, Kyra memegang tanganya sehabis memukul.


Tama menatap mata Kyra yang menatapnya mesra.


"Ada nyamuk!" Tama segera melepaskan tangan Kyra. Dan berpura menepuk tangannya sendiri.


Suara dengkur Pak Amin masih terdengar.


Kyra masih lagi menatapnya.


Suara beberapa Motor terlihat mendekati.


Tama dan Kyra tetap terpaku di sudut dinding Rumah, hingga sinar lampu motor berada dekat di depan mereka.


Tama bedecak pelan.


Kawanan Kyra rupanya yang datang.


"Mitos!"


Kyra hampir berseru senang. Tama mengusap pelan kuncir rambutnya, melihat cowok yang sering bersama Kyra dengan sikap kewanitaan-nya.


"Maaf Kyra, Kami baru bisa menemanimu larut malam," ucap Mitos.


Kompak Kawanan Kyra berseru meng-iya-kan.


"Sedari tadi Aku menunggu kalian." Kyra seperti marah.


"Iya maaf!"" Hampir kembali berbarengan Kawanan Kyra menjawab.


Tama senyum-senyum saat semua yang ada memperhatikannya.


"Bagaimana Nih? Santap malam kita?" Mitos seperti menjadi pembicara Kawanan Kyra.


"Sudahku sisihkan." Kyra melihat ke arah Pak Amin dengan tatapan-nya.


Kawanan Kyra saling bertatapan, suara dengkur Pak Amin mengalahkan suara ramai mereka.


Tama tersenyum lebar.


"Maksudku di dalam rumah," jelas Kyra.


"Bagaimana Kita melewati rintangannya?" Mitos melihat Pak Amin.


"Lengkahin saja," bisik Kawanan Kyra yang lain.


Tama yang mendengar menahan tawanya, "Bisa terkena kutuk kalian!" Pikir geli hatinya.


"Melangkahnya pelan-pelan saja, perhatikan! Jangan sampai satu helai kumisnya menyentuh kulit kalian." Kyra seperti menjelaskan sebuah permainan.


Dan yang membuat Tama menatap lepas langit malam, Kawanan kyra seperti mufakat serius dan mengangguk seolah mengerti dengan yang baru di jelaskan oleh Kyra.


"Mitos Kau duluan!" salah satu Kawanan Kyra kembali berbicara.


Mitos dengan cepat menggerakan tubuhnya layaknya penari wanita.


"Aku takut," ucapnya dengan cemberut.


Kawanan Kyra berseru bersamaan.


Suara dengkur Pak Amin langsung menghilang.


Semuanya pun langsung bersembunyi di balik dinding Rumah, seperti berbaris menyamping. Seperti di dahului Tama lalu Kyra, Mitos dan Kawanan Kyra yang lain.


Hanya Pak Amin yang duduk terbangun melihat kesekelilingnya, menguap lalu terlentang kembali.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2